My Love Story

My Love Story
Bab 108



Sesampainya di luar, semua mata tertuju pada Rangga, Kana dan juga Alvis. Melihat itu Rangga segera melepaskan tangan Kana.


"Memangnya uncle mau ngomong apa sama aunt?, pakai ajak aku segala" ucap Alvis.


"Hmm... " Rangga berpikir keras jawaban apa yang harus di berikan pada Alvis.


"Apa uncle yang di maksud Alvis itu Rangga?, tapi sepertinya ngak mungkin" pikir Sarah yang juga ikut penasaran unle yang di maksud Alvis.


"Hmm, jangan bilang uncle yang di maksud Alvis itu Rangga. Lihat saja sekarang, Alvis bahkan memanggilnya dengan sebutan uncle. Tapi tidak menutup kemungkinan kan Alvis memanggil dengan sebutan ucle pada laki-laki lain🤔" pikir Alin yang masih menatap Rangga.


"Ngapain lihat Rangga seperti itu?" Gibran menepuk pundak istrinya, hal itu membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Ngak ngapa-ngapain ko, hanya heran saja, kenapa Alvis bisa mau sama manusia kulkas itu" sahut Alin.


"Ya biasalah anak-anak, mereka kan tidak memperdulikan hal itu, yang penting mereka merasa nyaman dengan orang itu, pasti mereka akan mau di ajak pergi" ujar Gibran.


"Uncle, jawab yang benar dong!, dari tadi hmm doang yang keluar dari mulut uncle" ucap Alvis.


"Uncle mau ajak Alvis beli es krim mau kan?" kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut Rangga.


"Mau...mau, aku mau uncle" Sahut Alvis girang.


"Tunggu apa lagi?, jum pergi beli" lanjut Alvis.


"Iya...iya kita pergi sekarang" ucap Rangga berjalan melewati Sarah, Nicholas, Rany, Gibran, dan juga Alin, Rangga tampak sedikit menundukan kepalannya sebelum melewati mereka.


"Uncle... uncle tunggu!" ucap Alvis.


Rangga menghentikan langkahnya "Kenapa?"


"Ko Aunt di tinggal sih?" ucap Alvis menatap Kana.


Rangga yang mendengarnya pun menoleh ke belakang.


"Panggil dong auntnya" ucap Rangga.


"Aunt... sini!, ikut aku pergi beli eskrim" ucap Alvis sedikit berteriak.


"Sssstttt🤫, pelankan suaramu!, aunt ngak ikut, kamu aja yang pergi sama uncle ya?" ucap Kana meresa segan pada Rangga.


Alvis yang mendengarnya seketika raut wajahnya berubah, kedua tanganya di lipat di depan dada. Melihat perubahan wajah Alvis akhirnya Rangga memutuskan untuk mengajaknya langsung.


"Ayo, keburu tokohnya tutup!" ucap Rangga.


Sementara yang lainnya hanya bisa menyaksikan drama di depan mereka.


Kana menghela nafas panjang "Baiklah, aunt ikut" ucap Kana lalu berjalan menghampiri mereka.


"Nah gitu dong" ucap Alvis.


Rangga kembali melanjutkan langkahnya setelah Kana berhasil mengimbangi langkah mereka.


Ketiganya keluar dari rumah sakit dan akan menuju toko es krim yang berada tak jauh dari rumah sakit.


"Memangnya toko eskrimnya di mana uncle?, ko aku tidak melihat keberadaan tokonya?" ucap Alvis.


"Ya ialah😑, kita kan masih di dalam halaman rumah sakit, pastilah ngak kelihatan tokonya" pikir Rangga.


"Kita keluar dari sini terus tokonya ada di seberang jalan" sahut Rangga.


"Hmm, ada di luar lingkungan rumah sakit ya?, pantas saja aku tidak melihatnya kan ketutup tembok yang menjulang tinggi" ucap Alvis polos.


"Hmm, kamu benar sekali" ucap Rangga.


Sementara Kana diam terus mengikuti langkah Rangga dari belakang.


Karena toko es krimnya cukup dekat mereka memutuskan untuk tidak membawa mobil.


Setelah bebepa menit berjalan mereka berhasil keluar dari area rumah sakit, dan benar saja dari sebuah toko es krim berada di seberang jalan, hal itu membuat mereka harus menyebrangi jalanan yang cukup ramai kendaraannya untuk sampai di di toko tersebut.


"Wah banyak mobil dan motor yang lewat disini" ucap Alvis.


"Iya, tapi kita harus menyebrangi jalan ini untuk sampai di toko itu" ucap Rangga lalu bergerak melangkah menyebrangi jalan.


"Unle tunggu!" ucap Alvis.


Rangga menatap anak bossnya itu "Ada lagi?" tanya Rangga.


"Auntku di pegang dong tangannya, nanti kalau aunt ketabrak mobil gimana, aku jadi ngak punya aunt lagi" ucap Alvis.


Rangga yang mendengarnya pun segera menoleh ke belakang, ia lupa kalau Kana pun ikut diajaknya.


"Udah pak, aku ngak apa-apa, bisa nyebrang sendiri ko" ucap Kana.


"Jangan aunt!, aku ngak mau mobil-mobil itu menabrak aunt. Tolong aunt dengarin aku kali ini!" ucap Alvis berbicara seakan seperti orang dewasa.


Kana yang mendengarnya berusaha menahan tawanya, ia bisa saja menyembunyikan hal itu pada Alvis namun tidak pada Rangga tapi hal itu tidak di pedulikan oleh Rangga.


"Benar kata Alvis, kau harus mendengarnya kali ini!" ucap Rangga mede cool.


Pada akhirnya Kana tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan keponakannya, diraihnya tangan Rangga, dengan begitu Rangga langsung menggengam tanganya dan bersama-bersama menyebrangi jalan.


Selang beberapa menit mereka pun sampai, Rangga menurunkan Alvis dan membiarkannya memilik es krim yang di sukainnya.


"Ambil saja semua yang Alvis inginkan" ucap Rangga.


Alvia yang sedang memilih beberapa eskrim pun menoleh ke arahnya.


"Alvis boleh beli satu toko?" tanya Alvis.


"Jangan!" ucap Kana.


"Nanti kamu sakit, kalau kebanyakan makan es krim" lanjut Kana.


"Jangankan satu toko, pabriknya pun bisa kamu beli" pikir Rangga.


"Tenang aunt, aku cuma bercanda ko, ngak benar-benar mau beli satu toko" ucap Alvis lalu kembali memilih es krim yang ia sukai.


"Aunt, ngapain diam di situ?, ayo sini ambil yang banyak es krimnya!.Soal bayaran, nanti uncle yang bayar" ucap Alvis.


"Benar, kalau kau mau ambil saja" lanjut Rangga.


"Tuh kan, uncle saja mengizinkan. Tunggu apa lagi ayo!" Alvis menarik tangan Kana untuk segera memilih eskrim yang di inginkannya.


"Hmm, mumpung di belanjain, ambil yang banyak ah" pikir Kana sambil tersenyum licik.


Setelah cukup lama memilih akhirnya mereka memutuskan untuk membawah es krim mereka ke kasir untuk di hitung sekalian di bungkus.


Rangga yang melihat itu pun ikut menghampiri kasir lalu membayar semua belanjaan Kana dan Alvis.


Sementara Alvis dan Kana keluar lebih dulu dari Rangga, keduanya tampak bahagia dengan kresek di tangannya masing-masing yang berisi berbagai jenis es krim.


"Senang kan kalau tiap hari di belanjain es krim?" ucap Alvis.


"Jangan dong, nanti uang uncle habis loh" ucap Kana pelan namun Rangga yang baru saja keluar masih dapat mendengarnya.


"Ehem" Rangga berdehem. Kana dan Alvis yang mendengarnya segera menoleh ke belakang.


"Hahaha, maafkan kami uncle, kami tidak sedang membicarakanmu" ucap Alvis sementara Kana diam tak berani menatap Rangga.


Rangga berjalan menghampiri Alvis "Karena sudah selesai, sekarang waktunya kita balik" Rangga kembali memeluk Alvis.


"Jum balik" ucap Alvis bersemangat.


Tampa basa-basi Rangga kembali meraih tangan Kana memposisikan Kana berada di sampingnya, dan perlahan mereka kembali menyebrangi jalan.


Deg


Jantung Kana berdegup kencang, tanganya terasa dingin dan entah mengapa keringatnya perlahan keluar padahal cuacanya tidak terlalu panas saat itu.


"Duh, aku kenapa sih?. Dan jantungku rasa-rasanya mau copot dari tempatnya" gumam Kana dalam hati.


Kana terus berjalan, berusaha mengimbangi langkah Rangga yang panjang. Setelah beberapa menit mereka pun akhirnya berhasil menyebrangi jalan dan kini mereka memasuki halaman rumah sakit.


Kana mengerutkan dahi binggung, tatapannya tertuju pada tangannya yang belum juga di lepaskan oleh Rangga, Sementara Rangga tampak santai dan terus berjalan melewati koridor rumah sakit.


"Ye... dikit lagi kita sampai" ucap Alvis girang.


"Pak" akhiranya Kana memberanikan untuk memanggil Rangga.


Rangga menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping menatap Kana, begitu juga dengan Alvis yang berada di pelukan Rangga pun ikut melihat kearah Kana.


"Maaf pak, tangan saya?" ucap Kana.


Rangga dan Alvis yang mendengarnya segerah melihat ke arah yang di maksud


Rangga yang beru menyadari itu segera melepas tangan Kana "Maaf" ucap Rangga.


"Hmm, memangnya tangan aunt kenapa?, apa uncle terlalu erat yang menggengamnya makanya tangan aunt jadi sakit" ucap Alvis.


"Ngak ko, bukan seperti itu" ucap Kana cepat.


"Jadi seperti apa aunt?"


"Udah....udah ngak perlu di bahas!, mendingan kita cepat-cepat kembali pasti mommy sudah mencarimu" ucap Kana lalu berjalan lebih dulu dari Rangga.


Alvis bergantian menatap Rangga dan Kana "Lihat uncle!, aunt memang kadang-kadang gitu, suka aneh" ucap Alvis.


Sementara Rangga yang mendengarnya pun tersenyum, namun senyum itu disembunyikannya dari Alvis.


Rangga pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.