My Love Story

My Love Story
Bab 150



Tiga hari telah berlalu.


Pagi itu, seperti biasanya setelah selesai sarapan Ana membantu Alvis bersiap-siap berangkat ke sekolah.


"Sudah selesai, sekarang waktunya berangkat" ucap Ana.


Ana dan Alvis berjalan keluar dari kamar dan segera menuju ruang tamu, disana tampak pak Surya dan pak Benito sudah menunggu Alvis.


"Selamat pagi nona, selamat pagi dede Alvis" sapa Pak Surya dan Pak Benito bersamaan


"Pagi" jawab Ana dan Alvis sambil tersenyum.


"Pak, tolong di jaga baik-baik anak sayang ya?" ucap Ana pada kedua pria yang bertugas menjaga putranya.


"Baik nona"


"Oh iya, setelah pulang dari sekolah, Alvis langsung di bawah ke rumah omannya ya?, nanti saya yang akan menjemputnya disana" jelas Ana panjang lebar.


"Maaf nona, kalau boleh tahu Alvis pulangnya di oma yang mana ya?" tanya pak Surya.


"Dirumah ibuku" sahut Ana.


"Baik nona"


"Alvis menatap ibunya "Mommy Alvis pamit ya mau berangkat ke sekolah" ucapnya.


"Iya sayang, yang rajin ya belajarnya" kata Ana sambil menepuk lebut pucuk kepala putranya. Sementara Alvis terlihat menggangguk sebagai jawaban.


Kedua pria itu bersama-bersama membawah Alvis menuju mobil sementara Ana kembali ke kamarnya.


"Mas" pangil Ana setelah sampai.


"Hmm" jawab Arsenio yang saat ini duduk di sofa dengan ponsel di tangannya.


"Mas lihat hp aku ngak?. Aku mau telefon mama" ucap Ana.


Arsenio menoleh menatap istrinya "Tuh di meja riasmu. Tadi aku yang menyimpannya di situ" jawab Arsenio.


Mendengar itu Ana pun segera berjalan menuju tempat yang di maksud suaminya.


"Bagaimana?, ada ngak hpnya?" tanya Arsenio.


"Ada sayang" jawab Ana yang kini sudah mengengam ponsel miliknya.


Ana pun memulai pangilan telefonnya.


📞"Halo Nak" sapa Rany setelah pangilan telefon terhubung.


📞"Iya halo ma, mama lagi dimana?"


📞"Lagi di rumah nih, hari ini mama ngak masuk kantor" jawab Rany.


📞"Wah pas sekali. Ma, mama boleh kan jagain Alvis?" tanya Ana.


📞"Tentu saja, pas sekali mama sudah sangat merindukan dia. Nanti mama yang akan menjemputnya" ucap Rany.


📞"Ngak usah ma, tadi aku sudah beritahu pak Surya dan Pak Benito untuk mengantarkan Alvis ke rumah mama. Jadi mama tunggu saja di rumah" ucap Ana.


📞"Baiklah, uuu sudah ngak sabar nih mau ketemu dia" ucap Rany semangat.


📞"Mama kalau mau ketemu Alvis bilang saja sama aku, nanti pak Surya dan pak Benito yang akan mengantarnya ke rumah mama atau aku yang akan mengantarnya" ucap Ana.


📞"Bagaimana kalau setiap hari sabtu, mama akan menjemput Alvis?, kan dia sekolahnya hanya sampai hari jumat, nah nanti hari minggu baru deh dia bersama kalian" ucap Rany.


📞"Boleh ma, nanti diingatin ya ma, takut aku lupa" kata Ana.


📞"Udah dulu ya ma, nanti aku akan menelfon kembali jika Alvis sudah mau otw ke rumah"


📞"Oke sayang"


Sambungan telefon pun terputus.


Ana berjalan menghampiri suaminya dan duduk tepat di sampingnya.


"Bagaimana?, apa mama ngak keberatan Alvis tinggal disana?" tanya Arsenio menatap istrinya.


Ana mengeleng "Justru mama sangat senang, katanya dia sangat merindukan Alvis" ucap Ana.


"Kalau begitu, sering-seringlah membawah Alvis main ke sana" kata Arsenio.


"Oh iya, kata mama setiap hari sabtu dia akan menjemput Alvis kesini dan membawahnya ke rumah. Boleh kan mas?" tanya Ana.


"Boleh sayang, Apa sih yang ngak boleh untuk mertuaku" ucap Arsenio yang membuat Ana tersenyum saat mendengarnya.


"Terima kasih sayang" Ana memeluk suaminya dan langsung dibalas oleh Arsenio.


"Apapun yang membuatmu senang aku akan melakukannya untukmu" ucap Arsenio lalu mengecup lembut alis istrinya.


Ana melepaskan pelukannya saat ponselnya berdering.


"Siapa?" tanya Arsenio.


Ana menatap layar ponselnya "Kana mas" jawabnya.


"Ya udah, anggkat dong!"


"Iya" Ana pun menekan tombol hijau lalu meletakan ponselnya ke telinga.


📞"Halo An" ucap Kana setelah sambungan telefon terhubung.


📞"Ya, kamu sudah siap ya?" tanya Ana to the poin.


📞"Bukan lagi siap, nih aku sudah ada di depan rumahmu" ucap Kana.


📞"Ha?, serius kamu?" Ana bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela dan melihat Kana dari atas.


📞"Ah benar, ya udah aku turun sekarang!" ucap Ana.


📞"Ya aku tunggu!"


Pangilan telefon pun berakhir Ana kembali menghampiri suaminya.


"Mas, aku pergi ya, Kana sudah menunggu di depan" ucap Ana.


"Iya sayang, Oh iya nanti kabarin aku kalau Kana sudah memutuskan gedung mana yang akan di pakainya" ucap Arsenio.


"Okley" jawab Ana hendak beranjak pergi.


"Suaminya ngak mau di cium dulu?" ucap Arsenio.


Ana menoleh lalu tersenyum "Maaf, di lupa" ucap Ana dan berjalan mendekati suaminya.


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir suaminya "Lunas ya?" Arsenio menggagguk.


"Hati-hati sayang" ucap Arsenio sedikit berteriak karena Ana kini sudah berada di depan pintu kamar.


"Oke" jawabnya lalu pergi.


Beberapa menit kemudian, Arsenio pun beranjak dari duduknya dan segera keluar dari kamarnya.


"Pagi tuan" sapa Rangga yang kini berdiri di hadapannya.


"Pagi. Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Arsenio.


"Sudah tuan, tinggal menunggu gendungnya saja" jawabnya.


Arsenio dan Rangga berjalan menuju ruang tamu.


"Mereka sudah pergi untuk melihat beberapa gedung yang sudah saya siapkan" ucap Arsenio di selah-selah langkah mereka.


"Ya, saya tadi berpapasan dengan mereka di depan" ucap Rangga.


"Ini, aku sudah mengumpulkan berbagai macam butik, kamu tinggal memilihnya butik mana yang akan kalian tujui" Arsenio duduk di sofa lalu menunjukan brosur yang ada diatas meja.


Sementara Rangga pun ikut duduk dengan posisi berseberangan dengan Arsenio.


"Menurut tuan, manalah butik yang paling bagus?" tanya Rangga sambil melihat-lihat brosur.


"Jika kamu meminta saranku, tentu saja saya memilih butik Young. Karena butik itu memiliki gaun yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya" ujar Arsenio.


"Kalau begitu, saya pilih butik Yong saja tuan"


"Terus kapan fitting baju, kita tinggal mempunyai waktu dua hari sebelum menuju Hari H" ucap Arsenio.


"Bagaimana kalau malam ini tuan?"


Arsenio diam sejenak seperti sedang berpikir "Boleh. Kamu tinggal hubungi saja pihak butiknya agar tidak menerima tamu selama proses fitting baju. Saya ingin di sana hanya ada kamu, Kana, saya, Ana dan tentu saja pegawainya!" ucap Arsenio.


"Baik tuan" jawab Rangga.


Kedua pria itu tampak sibuk menyiapkan acar pernikahan yang akan di selenggarakan tiga hari lagi.


Acara tersebut disiapkan untuk Kana dan juga Rangga.