
"Maaf tuan, di luar ada nona Clarissa. Nona Clarissa menyaksikan langsung nona Ana keluar dari ruangan tuan bahkan nona Ana dan Nona Clarissa sempat bertengkar" ucap Rangga pada Arsenio.
"Apa kau mendengar pertengkaran mereka?" Rangga menggangguk "Ya tuan, maaf" jawabnya lalu menundukan pandanganya.
"Apa yang mereka bicarakan?" Rangga kembali menatap tuannya "Nona Clarissa mengatakan kalau nona Ana.. maaf, wanita m*r**an. Hal itu berhasil memancing amarah nona Ana yang membuatnya menampar nona Clarissa" jelas Rangga.
"Istr eh maksudnya Ana menampar Clarissa?" Rangga menggangguk "Benar tuan bahkan nona Clarissa sempat membalas menampar non... "
"Maksud kau Clarissa menampar Ana?, dan kau yang melihat itu hanya diam saja tanpa mencegahnya!" ucap Arsenio bangkit dari duduknya.
"Ya ampun tuan aku belum selesai ngomongyaš"
"Saya mencegahnya tuan" ucap Rangga.
"Hmm bagus" ucap Arsenio lalu kembali duduk.
Bruk...
Clarissa membuka pintu dengan keras, berjalan masuk dan segera menghampiri Arsenio.
"Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?" ucap Clarissa.
"Kalau mau masuk itu pintunya di ketuk dulu!"
"Aku gak peeduli soal itu, cepat jawab pertanyaan aku barusan!, apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?" Clarissa dengan suara tinggi.
"Kami hanya berciuman tidak lebih dari itu!" jawab Arsenio santai. Clarissa yang mendengarnya pun membulatkan matanya.
"Tuan sanggat jujurš" pikir Rangga menatap Clarissa yang telah tersulut emosi.
"Dasar perempuan m**a*h, pasti dia kan yang merayumu?, aku pasti akan membuat perhitungan denganya"
Arsenio mengelengkan kepalanya "Tidak!. Aku yang memaksanya untuk berciuman denganku, mungkin ke depannya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih dari itu" sambung Arsenio.
Clarissa meremas jari-jemarinya, wajahnya memerah, tatapan tajam ditunjuhkan pada Arsenio "Maksud kamu apa ngomong begitu?, aku ini calon istrimu loh!. Kamu harus ingat dia hanya mantan istrimu sementara aku, aku adalah calon istrimu. Jadi mohon kamu menjaga jarak denganya!" ucap Clarissa sedikit berteriak.
"Yang mengganggapmu calon istriku itu hanya dirimu, keluargamu mama dan kakekku, namun tidak dengan aku!" ucap Arsenio tegas.
Clarissa yang mendengarnya seketika hatinya remuk, tanpa sadar air matanya menetes, berlahan-lahan terus mengalir lebih banyak, membasahi hampir seluruh wajahnya.
"Semua ini karena Ana!, akan aku pastikan kamu merasakan sakit seperti yang aku rasakan saat ini!" pikir Clarissa.
Tampa berbicara lagi, Clarissa berjalan keluar, menutup pintu dengan keras hal itu menarik perhatian para karyawan, namun kini ia tidak memperdulikannya terus berjalan memasuki lift dengan air mata yang masih terus menetes.
Di saat yang sama, tampak Kana melajukan mobilnya membawah mereka jauh dari halaman perusahaan Arsenio, Kana tampak sesekali melirik Ana yang terus diam menatap lurus ke jalan.
"Maafkan aku An, ini semua salahku karena tidak menjaga Alvis dengan baik" batin Kana.
Mobil terus melaju membelah keramaian jalan siang hari. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai.
Ana, Alvis dan Kana pun turun dari mobil, di depan rumah tampak Rany sudah menanti kedatanggan mereka.
"Oma.... "pagil Alvis berlari dan langsung memeluk Rany.
"Kamu ngak apa-apa kan nak?, apa mereka menyakitimu?" Rany bertanya, "Oma tenang saja mereka tidak berani menyakitiku" jawab Alvis.
"Syukurlah kalau begitu, oma tadinya sangat khawatir mereka melukaimu" ucap Rany, Alvis yang medengarnya menepuk lembut bahu Rany "Oma jangan khawatir, aku pasti aman, kan ada Opa yang selalu mengawasi aku dan mommy"
Seketika Ana membulatkan matanya, mereka saling bertukar pandangan dengan Kana.
"Opa?" tanya Rany curiga, "Mama jangan dengarin dia, terkadang Alvis sering ngaco kalau lagi ngomong" ucap Ana.
"Aku ngak gitu ko, Oma percaya kan sama aku?" Alvis menatap Rany. Rany melirik Ana dan Kana yang tampak tegang "Oma percaya ko. Oma boleh tahu siapa yang terus memgawasi kamu dan mommymu?"
Alvis menggangguk "Opa, dia akan menyuruh orang-orang yang pakaiannya serba hitam untuk menjaga aku dan mommy" jawab Alvis.
Rany berganti menatap Ana, sementara Ana dengan susah paya menelan salivanya.
"Mama ingin bicara empat mata denganmu!. Kana tolong bawah Alvis masuk!"
"Iya tante" jawab Kana lalu berjalan menghampiri Alvis. "Kita masuk duluan ya sayang" ucap Kana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alvis.
Keduanya pun berjalan masuk, sementara Rany menarik tangan putrinya membawahnya ke taman.
Sesampainnya di taman Rany melepaskan tangan Ana lalu berbalik menatapnya "Apa Opa yang di maksud Alvis adalah ayahmu?" tanya Rany.
"Ya ampun, aku harus jawab apa?, mama pasti sudah tahu apa jawaban dari pertanyaannya, mama hanya ingin mendengar jawaban dariku saja, tapi sunggu aku belum siap jika mama mengetahui hal ini" pikir Ana.
"Kenapa diam?, ayo jawab!" ucap Rany dengan suara yang mulai tinggi.
"Maafkan aku ma..." Ana meraih tangan ibunya.
"Ok cara menghadapi ini hanyalah meminta maaf dengan tulus" batin Ana
Rany dengan cepat menepis tangan Ana, wajahnya memerah karena berusaha menahan emosinya "Jadi selama 4 tahun kamu menghilang hanya Ayahmu yang mengetahui kemana kamu pergi?. Sungguh kamu benar-benar menyakiti hati mama!" ucap Rany.
"Ma, maafkan aku ma. Aku tidak bermaksud menyakiti hati mama... "
"Tidak bermaksud nyakitin hati mama?, lalu apa yang kamu lakukan 4 tahun lalu?, kamu mengilang begitu saja, kamu tahu seberapa khawtirnya mama?, terus mencari kamu di setiap harinya sampai makan pun mama sering melewatkannya, meminta Kana agar ikut serta mencarimu sampai-sampai Kana hampir saja terancam DO, apa kamu tahu itu semua?, oh tentu saja tidak!" ucap Rany emosi.
"Kamu kan sudah dalam pengaruh ayahmu, mana sempat memikirkan keadaan mama!" lanjut Rany.
Ana yang mendengarnya terdiam, ini kali kedua Ana melihat ibunya semarah ini, dia benar-benar menyesal tidak memberi kabar pada ibunya, rasa bersalah kini mulai mengantui dirinya.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu!" ucap Rany dan berlalu pergi.
"Mama...aku benar-benar minta maaf" ucap Ana dengan isak tangsis di depan pintu kamar ibunya.
Entah sudah berapa kali Ana terus mengulangi kata yang sama namun tidak ada respon dari ibunya.
Kana yang melihat itu berjalan menghampiri Ana "Tidak ada gunanya jika kamu terus bermohon seperti ini, tolong beri ibumu sedikit waktu" ucap Kana.
"Berhentilah menanggis, nanti kalau Alvis lihat gimana?, pasti dia akan ikutan sedih melihatmu seperti ini" lanjut Kana.
"Kana benar, aku harus beri mama sedikit waktu, setelah mama tenang aku akan mencoba meminta maaf lagi" pikir Ana.
Kana pun berjalan membawa Ana ke kamarnya. "Kamu juga harus istirahat, soal Alvis dia sudah tidur di kamarnya"
"Makasih ya Na, maaf selalu merepotkanmu" ucap Ana.
kana menggangguk "Ya udah aku pamit pulang dulu, mungkin besok aku belum kesini karena besok sudah waktunya masuk kerja" pamit Kana.
"Kamu hati-hati ya!" Kana pun menggangguk sebagai jawaban lalu berjalan keluar, kembali masuk ke dalam mobilnya dan Mobilnya melaju menuju rumahnya.
**
Keesokan harinya, Ana tampak bersiap-siap mengantarkan Alvis ke sekolah, pandanganya tertuju pada kamar ibunya yang belum juga terbuka sejak malam.
"Mommy, Oma belum bagun ya?" tanya Alvis yang juga ikut melihat kearah yang sama.
"Iya sayang, mungkin Oma lagi capek jadi masih tidur. Ya udah kita berangkat ya?" Alvis menggangguk sebagai jawaban.
Keduanya sama-sama keluar dan masuk ke dalam mobil. Mobil menuju sekolah baru Alvis.
"Kamu jangan nakal ya sayang, yang rajin belajarnya biar jadi anak pintar" ucap Ana sesekali menatap Alvis.
"Siap mommy" jawab Avis, Ana yang mendengarnya pun terseyum.
Setelah beberapa menit mereka pun sampai di sekolah Alvis, Alvis tampak dibawah masuk oleh salah satu guru di sana.
"Bu tolong di jaga anak saya, sebentar saya akan menjemputnya" ucap Ana pada salah satu guru yang bertugas menjemput siswa-siswa di depan pagar.
"Baik bu" jawab guru tersebut sambil tersenyum.
Ana pun berpamitan untuk kembali.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 10.00, Arsenio tampak menatap jam tangannya.
"Bukankah mama sudah memintamu mengosongkan jadwalmu hari ini?" ucap Alin menatap Arsenio yang sesekali terus menatap jam tangannya.
"Kamu tuh sudah membuat kesalahan dan kesalahan itu membuat Clarissa sakit hati, sebaiknya kamu harus minta maaf padanya, dia kan calon istrimu" lanjut Alin.
"Kakek mau acara pernikahan kalian di percepat" ucap Nicholas, Arsenio yang mendengarnya pun menatap Nicholas lalu tatapannya beralih pada Clarissa yang duduk bersampingan dengan Alin.
"Ini semua pasti ulah wanita itu" pikir Arsenio.
"Kamu dengar ngak apa yang di katakan kakekmu?" tanya Alin melihat Arsenio belum juga merespon apapun dari tadi sementara Sarah juga demikian memilih diam dan hanya bisa mendengarkan ucapan Anak dan juga suaminya.
"Aku mendengarnya" jawab Arsenio sambil bangkit dari duduknya.
"Mau kemana kamu?" Alin menatap putranya yang kini sudah berdiri.
"Ada sedikit urusan" jawab Arsenio.
"Loh kamu harus temani Clarissa, kalian bicarakan kesalapahaman kemarin" ucap Alin.
Arsenio menoleh kearah Clarissa "Mama saja yang temani dia!, aku gak punya waktu!" ucap Arsenio lalu melangkah pergi.
"Anak itu benar-benar ya!, selalu berhasil membuat orang emosi" ucap Nicholas menatap lurus cucunya.
"Sayang jangan di masukin ke hati kata-kata Arsenio tadi ya!, dia mang orangnya seperti itu" ucap Alin pada Clarissa.
"Iya ma aku juga tahu itu" ucap Clarissa sambil berusaha tersenyum.
"Ini semua karena Ana!, wanita itu harus di dikasih pelajaran biar kapok!" pikir Clarissa.
Selang beberapa menit Gibran datang, dan juga ikut bergabung bersama mereka, mereka sesekali terlihat tertawa di selah-selah obrolan mereka.
Satu jam telah berlalu, mobil Arsenio berhasil parkir di depan rumah, para pelayan lainnya telah siap menyambutnya.
"Selamat datang tuan" sampa bi Lila dan beberapa pelayan lainnya.
"Hmm" sahut Arsenio.
Arsenio tampak mengelilingi mobil dan membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya.
Bi Lila dan pelayan lainnya pun terkejut saat seseorang turun dari mobil.
"Kita masuk dulu ya!" ucap Arsenio yang langsung mendapat anggukan kepala dari orang itu.
Arsenio melangkah masuk meninggalkan ARTnya yang masih terkejut.
"Waah rumahnya sangat besar"
"Kamu suka?" tanya Arsenio
"Ya, aku sangat suka" jawabnya dengan tatapan terus menyapu hampir seisi rumah.
Arsenio berjalan menghamiri keluarganya yang berada di ruang keluarga. Kehadiranya dan juga orang yang ikut bersamannya berhasil mengejutkan semua orang di sana termasuk Clarissa.