
Di malam hari, tampak Ana berbaring di atas tempat tidur, pandanganya lurus menatap langit-langit kamarnya, salah satu tanganya diletakan ke atas perut yang sesekali masih terasa kram.
Pandanggannya beralih pada ponsel miliknya yang sengaja dia letakan tidak jauh darinya, mengambil ponselnya lalu menekan salah satu tombol yang membuat layar ponselnya menyala. Berlahan tanganya menari di atas keyboard menakan beberapa angka yang telah di hafalnya lalu meletakan ponselnya ke telinga untuk melakukan pagilan.
Di tempat yang berbeda Kana menatap layar ponselnya, benda itu mengeluarkan bunyi membuat keributan di dalam kamarnya, tampa menunggu lama Kana segera mengambil ponselnya menekan tombol berwarna hijau lalu meletakan ke telinganya.
π"Iya hallo An?" ucap Kana
π"Kamu sibuk ngak?"
π"Ngak nih, ada apa ya?"
π"Aku mau ngomong sesuatu"
π"Ya udah ngomong aja, pakai izin segalaπͺ"
π"Tapi kamu jangan marah ya? dan tolong jangan beritahu dulu soal ini pada ibuku, aku masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini padanya"
π"Iya... iya mau ngomong apa sih?, buat penasaran saja"
π"Jadi gini.. "
Ana pelan-pelan memberitahukan kebenaran soal kehamilannya pada Kana, hal itu sontak membuat Kana terkejut.
π"Lah aku sudah membeli perlengkapan bayi sebagai hadiah ulang tahunmu besok. Mana banyak lagiπ€¦"
π"Maafkan aku Na, aku tadinya sudah mau ceritakan hal ini padamu tapi...."
π"Udah ngak apa-apa, aku mengerti ko. Sekarang tugasmu bantu aku berpikir soal perlengkapan bayi yang telah aku beli, mana mungkin kan aku simpan di rumah terus?. Kan jatuhnya kasihan ngak ke pakai"
π"Eh, tapi kamu yakin ngak benaran hamil?"
π"Ya ialah Na, ngak mungkin kan aku hamil?"
π"Dugaan macam apa ini?, kamu kan punya suami tentu saja ada kemungkinan kamu hamil. Kecuali... "
π"Kecuali apa?"
π"Ya kecuali kamu tidak pernah melakukan hubungan intim dengan suamimu"
Ana terdiam, raut wajahnya berubah merah madam. Kejadian malam itu kembali terlintas diingatanya, terlihat sangat jelas seperti halnya sebuah kaset DVD yang di putar kembali.
π"Aku pun pernah membaca sebuah artikel tanda-tanda seorang sedang hamil dan dari sekian banyaknya tanda-tanda ada dua tanda yang saat ini kamu alami" sambung Kana.
π"Hallo An...?"
π"Ah iya Na, maaf bisa di ulangi?" ucap Ana tersadar dari lamunanya.
π"Iss kamu lagi ngelamun ya?"
π"Iya maaf"
π"Udah besok saja di kelas aku beritahu, aku mau keluar sebentar"
π"Loh mau kemana kamu malam-malam gini?"
π"Cari kado baru buat sahabatku" sahut Kana.
π"Hmm maaf, kamu jadinya dua kali keluar uang" ucap Ana merasa bersalah.
π"Santailah, rupa ngak kenal aku saja"
π"Ok sampai ketemu besok!"
π"Okley"
Sambungan telefon pun terputus, Ana meletakan kembali ponselnya di tempat semula, ucapan Kana kini memenuhi pikiranya. Semenit kemudian Ana segera menepis kecurigaan Kana dari ingatanya.
"Iya, aku ngak mungkin hamil, toh kami melakukannya hanya sekali" raut wajah Ana berubah merah padam mendengar ucapanya sendiri.
Ke esokan harinya.
Seperti biasanya Ana bersiap-siap berangkat ke kampus, mengambil tasnya lalu berjalan keluar kamar.
"Selamat ulang tahun sayang" Rany berdiri di depan pintu kamar Ana sambil memegang kue ulang tahun yang di atasnya terdapat angka 20.
Ana yang mendapat kejutan itu, seketika kedua sudut matanya sudah menganak suangai, Ana segera memeluk erat ibunya, menghambur beberapa ciuman di wajah ibunya.
"Terima kasih ma" Ana melepaskan pelukannya. Sementara Rany terlihat mengagguk, senyum manis setia menghiasi wajahnya.
Ana yang mendengarnya memejamkan matanya menangkupkan kedua telapak tanganya menjadi satu diletakannya di depan dada lalu membuat permohonannya.
Selang beberapa menit Ana menyudahi permohonanya lalu meniup lilin yang berbentuk angka 20.
"Mau cicipi kuenya?, mama akan memotonya untukumu!"
Ana mengangguk lalu menjawab.
"Boleh" Ana melontarkan senyum indahnya pada ibunya.
Keduanya terlihat berjalan mendekati meja makan, di atas meja telah tersedia piring kecil dan juga pisau. Rany segera memotong sebagian kue lalu meletakannya ke piring kecil.
"Mama suap ya?" Rany mendekatkan piring kecil berisi potongan kue lalu menyuapi Ana satu sendok kue dan berantian, kini giliran Ana yang menyuapi ibunya.
Keduanya terlihat bahagia, dengan perayaan ulang tahun yang sedehana ala mereka.
Setelah beberapa menit Ana berpamitan berangkat ke kampus.
"Ana pergi ya ma"
"Hati-hati nak, ingat bawah mobilnya pelan-pelan!" Rany sedikit berteriak.
Ana yang mendengarnya menoleh ke belakang lalu mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil.
Tring..
Suara notifikasi berhasil membuat Ana yang tadinya sudah menyalakan mobilnya kembali mematikan mesin mobil, meraih tasnya mencari keberadaan ponselnya.
Setelah berhasil dia temukan Ana segera memeriksa pesan yang baru saja masuk.
"Lihat!, aku tidak akan pernah menandatangani surat cerainya!"
Ana menatap sebuah foto yang dikirimkan untuknya, tampak sebuah kertas yang tidak lain adalah surat cerai yang telah dia tanda tangani telah menjadi sobekan-sobekan kecil.
"Apa sih sebenarnya maunya?, dia tidak mencintaiku tapi dia selalu saja menolak untuk menandatangani surat cerainya"tidak bisa di pungkiri ada perasaan lega saat membaca isi pesan itu.
"Udah terserah dia saja, mau dia tanda tangan atau tidak itu bukan urusanku yang terpenting aku telah selesai menandatanganinya" Ana kembali memasukan ponselnya ke dalam tas dan kembali menyalakan mesin mobilnya.
Mobil melaju membawahnya jauh dari pekarangan rumahnya.
Setelah menempuh jarang yang cukup jauh, mobil yang di kendarai Ana memasuki halaman kampus dan berhenti di tempat basanya dia memparkir mobilnya.
Mematikan mesin mobilnya, meraih tasnya lalu beranjak keluar dari mobil.
"Maaf, apa benar dengan nona Ana?" seorang mahasiswi berjalan menghampirinya.
"Benar, saya sendiri" sahut Ana.
"Ini buat nona" mahasiswi itu memberikan setangkai bunga mawar merah.
"Ini buat saya?" Ana menerima bunga mawar merah dengan raut wajah binggung.
"Benar nona" sahut mahasiwa itu lalu pergi.
Ana menatap bingung setangkai bunga mawar merah di gengaman tangan kananya.
"Siapa yang memberikannya?"
Ana kembali menatap mahasiswi itu namun tidak dia temukan di depannya.
"Ya ampun dia sudah pergi, aku lupa menayakan siapa yang menyuruhnya memberikan bunga ini padaku"
Setelah cukup lama berpikir Ana memutuskan untuk masuk ke kedung kampus. Di perjalanan menuju kelas lagi-lagi seorang mahasiswi menghentikan langkahnya lalu memberikan setangkai bunga yang sama.
Selanjutnya diseriap langkahnya ada mahasiswi yang berbeda-beda terus memberinya setangkai bunga yang sama, hal itu membuat Ana bertambah binggung.
Sampai ketika dia berhasil mengumpulkan 100 tangkai bunga mawar merah hal itu membuatnya kesulitan membawah bunga-bunga itu.
Ana menghentikan langkahnya memperbaiki cara dia memegang bunga-bunga itu.
"Ulah siapa ini?" gerutu Ana dalam hati.
Pandanganya menyapu sekitar tempat dia berdiri, tampak semua orang menatap ke arahnya.
"Awas saja Kana!, jika kamu yang membuat semua ini, akan ku tarik telinggamu hingga telinggamu memerah!" gerutu Ana lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.