
Suasana di dalam mobil kembali hening, Arsenio tanpak menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan matanya.
"Kenapa mimpi itu seperti nyata?" gumam Arsenio dalam hati.
Di waktu yang bersamaan tanpak Gibran dan Sarah merapikan beberapa barang yang akan di bawah pulang.
"Kemana perginya anak itu?, apa dia lupa kalau hari ini ibunya akan pulang" gerutu Nicholas.
"Aku sudah memberitahukan Rangga untuk mengiggatkan dia, mungkin sebentar lagi mereka akan datang" ucap Alin.
"Semuaya sudah selesai!" ucap Sarah setelah selesai merapikan beberapa barang yang akan di bawah pulang.
"Gibran cepat bantu istrimu, kita pulang sekarang! " ucap Nicholas lalu bangkit dari duduknya.
"Iya pa" sahut Gibran berjalan menghampiri istrinya.
"Tunggu sebentar!, Arsenio kan belum datang" ucap Alin.
"Ngapain menunggu orang yang belum tentu datang ke sini?" ucap Nicholas sambil menatap putrinya.
"Aku yakin pa, dia akan datang!. Mohon tunggu sebentar" ucap Alin.
Nicholas mendengus kesal lalu kembali duduk.
"Kita tunggu sampai sepuluh menit, jika dia tidak datang udah tinggalin aja!, dia juga tau jalan pulang" ucap Nicholas kesal.
"Udah, jangan marah-marah mulu!. Kita tunggu aja sebentar" ucap Sarah yang juga ikut duduk di samping suaminya.
"Ana tuh membawah pengaruh buruk pada Arsenio!. Semenjak Arsenio menikah denganya, Arsenio sudah pandai membantah dan tidak lagi memperdulikan kesehatan ibunya" ucap Nicholas menjeda ucapannya.
"Lihat saja semalam!, dia ngak pernah tuh memunculkan batang hidungnya ke sini. Entah apa yang di buat Ana pada dia, sehinga dia berubah seperti ini" sambung Nicholas.
"Ana tuh tidak membawah pengaruh buruk pada Arsenio, justru Ana hadir membawah pengaruh baik dan Arsenio tuh ngak berubah. Hanya saja pikirannya sudah terbuka" jelas Sarah.
"Pikirannya sudah terbuka?, maksudnya apa?" tanya Nicholas menatap istrinya dari samping. Sementara Gibran dan Alin pun ikut menatap ke arahnya.
"Dia sudah tau mana yang harus dia ikuti dan mana yang ngak harus Dia ikuti!. Dia juga punya pilihan sendiri dalam menjalani hidupnya, Bukankah kita terlalu egois, jika menentukan jalan hidupnya?" ucap Sarah menjeda ucapannya, bergantian menatap Alin, Gibran dan Nicholas.
"Ngak!. Sebagai orang tua, kita juga harus menentukan apa yang harus di pilih anak kita, semua itu kita lakukan untuk kebaikan mereka juga. Mana ada orang tua yang rela jika anaknya punya jalan hidup yang berantakan, itu sebabnya kita harus ikut menentukan jalan hidup mereka" ucap Nicholas membanta apa yang di ucapkan istrinya.
"Arsenio menikah dengan Ana adalah suatu kesalahan. maka dari itu kita harus memperbaiki kesalahan itu dengan cara memisahkan mereka!" sambung Nicholas serius.
Sarah tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya yang tidak sependapat denganya.
"Bukankah dulu kita sudah menentukan jalan hidup Alin?, dan apa yang di dapatnya sekarang?, bukan kebaikan yang di dapatnya numun hanya sebuah trauma yang di dapatnya. Apa papa akan mengulangi hal yang sama pada cucu papa dengan terus menentukan jalan hidupnya?" ucap Sarah tak kalah serius.
Semuanya tanpak diam mendengar ucapan Sarah.
Cekrek.
Suara pintu memecahkan keheninggan, Alin, Gibran, Nicholas dan Sarah secara bersamaan melihat ke arah pintu.
Arsenio masuk lebih dulu dan di susul oleh Rangga.
"Maaf sudah menunggu lama, di jalan sedikit maset" ungkap Arsenio lalu berjalan menghampiri ibunya.
"Bagaimana?, mama sudah merasa baikan?" tanya Arsenio setelah sampai.
Alin menatap putranya lalu mengganguk.
"Sudah nak, kita pulang sekarang ya!" ucap Alin.
"Baiklah, biar aku bantu!" ucap Arsenio sambil membantu ibunya turun dari hospital bed.
Berjalan keluar lebih dulu, dan di susul yang lain. Seperti biasanya Rangga berjalan lebih dulu dan membukakan pintu untuk nyonya dan tuannya.
Setelah semuanya masuk mobil, Rangga pun ikut masuk dan berlahan melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Saguna.
Suasana di dalam mobil kembali hening. Rangga yang menyadari itu, bergantian melirik mereka satu-persatu, semuanya tanpak diam, beraduh dengan pikirannya masing-masing.
"Kenapa suasananya jadi canggung begini sih?" batin Rangga lalu kembali fokus menyetir.