
Setelah beberapa menit, metting pun selesai. Klien satu-persatu keluar dari ruangan, sementara Kana, Lastri dan juga Fino terlihat merapikan beberapa berkas di atas meja.
Lastri menatap Kana dari samping "Na, selesai dari sini, kita makan ya?. Aku yang belanja" ucap Lastri pelan karena masih ada pak Reza di ruangan itu.
"Boleh, mau makan di mana kita?" tanya Kana.
"Kana" ucap Reza sambil bangkit dari duduknya.
"Iya pak" sahut Kana, sementara Fino dan Lastri ikut menatap Reza.
"Ikut keruangan saya!. Saya ingin bicara" ucap Reza lalu berjalan keluar.
"Baik pak" jawab Kana yang masih di dengar oleh Reza.
"Lah, ngak jadi makan siang bersama dong" ucap Fino.
"Iya nih, padahal udah lama kita ngak makan siang bersama" kata Lastri.
"Kalian tunggu aja sebentar, aku ngak akan lama ko" ucap Kana.
"Tunggu ya!, jangan kemana-mana aku akan kesini lagi!" ucap Kana lalu berjalan keluar menyusul Reza.
Lastri menatap Fino "Ada hal apa pak Reza manggil Kana ke ruangannya?" tanya Lastri.
Fino yang mendenganrnya pun mengangkat kedua bahunya "Mana aku tahu" jawab Fino dengan pandangan ke layar ponselnya.
"Kalau Kana lama, kita makannya masing-masing aja ya, ngak mungkin kan kita makan berdua aja?" ucap Lastri.
"Memangnya kenapa?, takut ya?, taku pacar kamu marah?" ucap Fino menatap Kana.
Plak.
Satu pukulan melayang ke bahu Fino.
"Aw, sakit tahu!" gerutu Fino memegang bahunya.
"Kamu sih, sudah tahu aku ngak punya pacar masi aja bilang begitu, kamu lagi ngejekin aku kan? " ucap Lastri.
"Ow, jadi kamu benaran ngak punya pacar ya?. Baguslah kalau begitu" ucap Fino kembali menatap layar ponselnya.
"Iss, ini anak lama-lama ngeselin juga" ujar Lastri sambil merapikan beberapa sisa kertas di meja metting.
Di waktu yang sama, Kana mengetuk pintu ruangan Reza.
Tok... Tok..
"Masuk!" sahut Reza dari dalam.
Mendengar itu, Kana pun meraih daun pintu lalu memutarnya. Pintu perlahan terbuka menampakan hampir seluruh ruangan Reza.
Reza menatap kearah pintu "Ngapain masih berdiri di situ?, ayo sini masuk!" ucap Reza.
"Ah iya pak, saya masuk sekarang" ucap Kana.
"Duh, dia mau ngomong apa sih?. Bikin gugup aja" Pikir Kana berjalan masuk dan berhenti tapat di depan meja kerja Reza.
"Tunggu sebentar!, kamu bisa duduk dulu di sofa nanti saya nyusul ke situ" ucap Reza menatap Kana.
"Baik pak" Kana berjalan menghampiri sofa dengan perasaan tak tenang.
Setelelah beberapa menit, Reza pun berjalan menghampiri Kana yang saat ini asik cattingan bersama Kana.
"Ehem" Reza berdehem, Kana yang mendengarnya segera menoleh ke arahnya.
"Eh bapak, maaf pak. Saya ngak tahu kalau bapak sudah berada disini" ucap Kana sambil meletakan ponselnya di atas meja.
"Habis cattingan sama siapa?, kelihatnya seru amat. Sampai-sampai ngak menyadari kedatanganku" ucap Reza.
"Oh itu pak, Ana teman saya" sahut Kana.
"Owch, kirain siapa" ucap Reza.
"Oh iya pak, bapak mau ngomong apa ya?" tanya Kana.
"Maksud saya memangilmu kesini hanya ingin memastikan sesuatu" ucap Reza serius.
"Apa itu pak?, apa masalah pekerjaan?" tanya Kana.
Reza mengelengkan kepalanya "Bukan. Ini menyangkut dirimu dan juga saya" sahut Reza.
Kana yang mendengarnya diam, melihat itu Reza kembali berbicara.
"Apa benar kamu dan laki-laki itu berpacaran?" tanya Reza to the point.
"Saya sangat membutuhkan jawaban pasti darimu" lanjut Reza.
"Ya tuhan apa maksudnya ini?, terus aku harus jawab apa?" pikir Kana.
"Saya pikir kamu sudah tahu maksud saya bertanya seperti itu padamu" Kana mengangkat kepalannya menatap Reza.
"Saya menyukaimu Kana!"
Deg
"Ya tuhan, apa aku sedang bermimpi?, Jika benar maka tolong bangunkan aku dari mimpi indah ini!, aku ngak mau terjebak dalam keindahan didalam mimpi" gumam Kana dalam hati.
"Kana?"
"Ah iya pak" sahut Kana tersadar dari lamunannya.
"Tetus apa jawabanmu?" tanya Reza.
"Ha?"
"Kenapa terlalu terburu-buru sih?, aku kan jadi ngak siap" pikir Kana.
"Aku menyukaimu Kana!, terus apa tanggapanmu mengenai perasaanku?" tanya Reza.
"Aaa... itu pak" ucap Kana gagap.
"Santai aja, jangan terlalu tegang!" ucap Reza sambil tersenyum.
"Bagaimana bisa santai pak?, jantungku sudah mau copot dari tempatnya karena ulah bapak" gumam Kana dalam hati.
"Bisa beri saya waktu untuk memikirkannya?" kata itulah yang pada akhirnya keluar dari mulut seorang Kana.
Reza bangkit dari duduknya "Baiklah, aku akan memberimu waktu tiga hari. Saya harap, akan mendengar kabar baik darimu" ucap Reza.
"Ya" ucap Kana.
"Kalau begitu, saya permisi pak" lanjut Kana langsung buru-buru keluar dari ruangan Reza tak lupa menutup kembali pintunya.
"Huufff" Kana menghela nafas panjang dengan kedua tanganya memegang pipinya.
"Gila, aku baru saja di tembak pak Reza. apa ini benar-benar nyata? " gumam Kana dalam hati.
"Kana sini" pangil Lastri yang sudah menunggunya tak jauh dari ruangan pak Reza.
"Kana tenang, jangan sampai mereka tahu kalau aku.. "
"Ayo Kana, aku sudah lapar nih" ucap Fino.
"Iya.. iya aku kesana sekarang!"
"Is belum juga selesai ngomong" gerutu Kana berjalan menghampiri Fino dan juga Lastri.
"Lama sekali!, kita udah lapar loh" ucap Fino setelah Kana sampai.
"Ya maaf, aku kan ngak tahu kalau selama itu. Jika aku tahu pasti aku sudah menyuruh kalian makan aja duluan" ucap Kana.
Lastri menatap benda kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya "Waktu istirahat tingga beberapa menit, jika kita makan di luar pasti ngak sempat" ucap Lastri.
"Ya udah, makan di kantin kantor aja" ucap Fino.
"Hmm, boleh lah" ucap Lastri.
Ketiganya pun berjalan menuju kantin kantor, setelah beberapa menit mereka pun sampai dan memilih duduk di dekat jendela.
"Kalian mau mau makan apa?, biar aku pesanin" ucap Fino.
"Aku nasi goreng dan es teh aja" sahut Lastri.
"Kamu Na?"
"Sama aja dengan Lastri" jawab Kana.
"Ya udah, kalian tunggu sebentar aku pesannin dulu"
Fino pergi memesan makanan sementara Lastri dan Kana asik ngobrol bersama.
"Oh iya Na, mengenai pak Reza" ucap Lastri Kana yang mendengarnya pun antusias untuk mendengarnya.
"Ada apa dengan pak Reza?" tanya Kana.
"Kamu ngak mencium wangi bedak bayi saat pak Reza datang?" tanya Lastri pada Kana sementara Kana mengelengkan kepalanya
"Ngak tuh, memangnya kalian ada ya?"
"Tentu saja, baunya itu loh, sanggat harum. Mana mungkin kita tidak menciumnya" ucap Fino sambil menarik salah satu kursi lalu duduk.
"Benarkah?" tanya Kana tak percaya.
"Benar Na, bukan cuma aku loh, Fino juga bisa menyium wanginya bedak bayi itu" ucap Lastri berusaha meyakinkan Kana.
"Wangi itu ada bersamaan dengan kedatangan pak Reza loh" ucap Fino menjeda ucapanya.
"Atau jangan-jangan pak Reza sudah menikah dan punya baby" Lanjut Fino.
"Finooo!, ngomong apa sih kamu?" ucap Lastri.
"Eh maaf Kana, bukan maksud mau ngomong gitu" ucap Fino.
"Hmm, kenapa minta maaf?, aku kan ngak ada hubungan apa-apa dengan pak Reza" ucap Kana.
"Iya, tapi kamu kan mengidolakannya kan?"
"Finooo, bisa diam ngak sih!" ucap Lastri.
"Ah iya, maaf.. maaf, aku diam sekarang" ucap Fino.
Sementara Kana yang mendengarnya tak merespon ucapan Fino.
"Kana" pagil Lastri.
"Hmm" Kana menatap Lastri.
"Jangan dengarin apa kata Fino, dia orangnya suka gitu" ucap Lastri.
"Ya aku tahu" ucap Kana malas.
"Apa benar, mereka menghidu aroma bedak bayi?" pikir Kana.
"Kanaaaa" pangil seseorang yang membuat Kana, Lastri dan Fino melihat ke arahnya.
"Ya ampun ternyata kamu di sini. Aku sudah mencarimu kemana-mana loh" ucap seorang wanita lalu berjalan mendekati meja dimana Kana, Lastri dan Fino duduk.
"Tumben loh cari Kana" ucap Fino setelah Fisya sampai.
Fisya adalah teman kerja mereka namun sangat jarang ikut gabung bersama mereka, karena Fisya punya geng sendiri.
"Sewot aja loh, aku tuh kesini mau cari Kana bukan kamu😏" ucap Fisya.
"Udah...udah, jangan berantem mulu" ucap Lastri.
"Tuh, dia yang duluan" ucap Fisya.
"Loh ko aku sih?"
"Terus siapa?, memang kamu yang duluan" ucap Fisya.
"Sudah selesai berantemnya?" tanya Kana.
"Sudah" sahut Fisya dan Fino bersamaan.
"Terus, ada apa kamu mencariku?, ngak biasanya kamu mencariku" ucap Kana menatap Fisya.
"Aku kesini itu, hanya ingin memberitahumu kalau ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, tuh dia lagi menunggumu di lobi" ucap Fisya.
"Siapa?" tanya Kana, Fino dan Lastri bersamaan. Sementara Fisya terkejut melihatnya.
"Bisa ya bersamaan gitu?"
"Udah ngak usah di bahas itu, ngak penting. Sekarang aku mau bertanya siapa orang itu?" ucap Kana.
"Ya mana aku tahu🤷. Intinya dia itu pria dan sangat tampan orangnya, kalian tahu?. Aku sampai terpesona melihat ketampanannya"
"Alay lu" ucap Fino.
"Iss, lo belum lihat sih orangnya😏, kalau cuma loh?, kalah jauh😌" ucap Fisya.
"Siapa ya?" pikir Kana.
"Udah, jangan kebanyakan mikir. Ayo dia sudah menunggu lama loh" Fisya menarik Kana agar segera berdiri dari duduknya.
"Kalian makan aja duluan, jika aku lama. Fino tolong makan bagianku!" ucap Kana sebelum pergi.
"Isss, ada-ada saja gangguan saat ingin makan bersama😑" ucap Lastri.
"Ngak apa-apa sayang, kan ada aku yang menemanimu makan siang" ucap Fino.
"Stop bicara! atau aku pukul nih?" acam Lastri.
"Iya.. iya aku diam" ucap Fino