My Love Story

My Love Story
Chapt | 039



"Semua orang di dunia ini memang sama saja! Mereka senang melihat aku bersedih! Semua orang di dunia ini tega melihat aku menangis! Sudahlah, Kak, tidak ada gunanya aku hidup! Sekarang aku mau mati saja! Asal Kak Ran tahu, sekarang aku sudah berada di gedung tinggi sebuah apartemen, sebentar lagi aku akan sampai di lantai terakhir gedung ini. Kak Ran tunggu saja berita televisi tentang seorang pemuda yang mati bunuh diri setelah terjun dari lantai sembilan sebuah apartemen," ratap Akira. Nada bicaranya semakin pilu.


Anggaplah saat ini Akira baru saja kehilangan kaki kanannya, sehingga ia tidak bisa bermain sepak bola. Pasti lah ia menangis sejadi-jadinya, meratap sepanjang siang dan malam, tidak doyan makan ataupun minum.


tinggal ya, Kak!" kata Akira, lemah. "Aku mau bunuh diri."


"Heiii!!!" bentakku, mulai panik. Aku benar-benar panik, panik kalau-kalau Akira serius bunuh diri. "Kau ini apa-apaan, Akira? Kau jangan main-main!"


Di ujung, Akira diam tak menjawab. Aku semakin


panik.


"Akira!!!" pekikku, terkena sindrom panik. "Kau jangan gila!!!"


Akira masih diam. Kubayangkan hal-hal buruk yang menimpa adikku itu. Mungkin dia kalah taruhan, mungkin dia patah hati, mungkin dia kena marah sama ayah ibu kami, atau... mungkin dia kalah bertanding sepak bola? Aduh, bagaimana kalau Akira detik ini sedang berada di gedung tinggi sungguhan?


"Baiklah, maafkan Kakak, ya? Sekarang katakan, kau ada di mana? Biar Kakak yang akan menyusulmu! Kau diam saja di situ, ya?" kataku mengalah.


Aku segera beranjak dari lantai sembilan apartemen ini, aku harus menyelamatkan Akira, Aneh, kenapa sekarang justru terbalik? Tadinya, aku yang akan bunuh diri. Kenapa sekarang aku justru mengurungkan niat itu dan sibuk menolong Akira? Ah, sudahlah, sekarang yang terpenting adikku selamat.


"A-Akira?" desisku lemah, sepasang bibirku terpe longo.


Betapa terkejutnya diriku ketika melihat Akira berdiri di tepian gedung ini, ia menghadap ke arah matahari terbenam


Cekatan, aku memacu langkah menuju tempat di mana Akira berdiri. Aku tidak boleh terlambat satu detik pun, Karena jika hal itu terjadi aku akan menyesal seumur hidup, Akira bisa saja melompat terjun saat ini.


"Kau jangan gila, Akira!" sentakku hati-hati. Kini, aku semakin yakin anak laki-laki yang berdiri di tepian gedung itu memanglah Akira. Dalam posisi memunggungiku begini, sulit bagi Akira mengetahui kedatanganku. Namun aku masih tidak percaya, kenapa Akira bisa berada di apartemen ini? Di Jepang, di Tokyo pada khususnya, banyak sekali apartemen. Namun, kenapa dia harus datang ke apartemen ini untuk bunuh diri?


"Aku tidak peduli, Kak Ran! Aku ingin mati saja! Kau tidak perlu menghalangiku seperti itu! Bukankah tadi kau bilang aku boleh bunuh diri?" Hilang sudah kesabaran Akira. Dan, aku pun menyesal karena tadi sempat mengacuhkan dirinya. Tapi..., aku pikir tadi Akira hanya main-main, tidak serius ingin bunuh diri. Ya Tuhan! Selamatkan Akira.


"Kakak mohon, Akira...," pintaku semakin panik, aku takut Akira benar-benar terjun bunuh diri. Oh, tidak! Apa kata ayah ibuku jika hal itu sampai terjadi? Tentu ayah dan ibuku bakal marah habis-habisan dan menghukumku tidak boleh keluar rumah serta uang jajan dipangkas sekian persen! Tidak, tidak! Aku tidak mau hal itu terjadi.


"Kakak mohon jangan berbuat nekat begitu. Akira, semua masalah ada jalan keluarnya. Kau tenanglah dulu, pasti kita bisa menyelesaikan masalah itu. Percayalah sama Kakak. Kakak janji akan membantu menyelesaikan masalahmu. Sekarang kau tenang, ya?"


Dan langkahku semakin dekat dengan Akira, kini aku


berjalan dengan sangat hati-hati.


"Terlambat, Kak Ran! Semua sudah terlambat! Kuucap kan selamat tinggal untukmu, Kak Ran!" ancam Akira tidak main-main, dan aku semakin gemetaran dibuatnya.


"A. Akira!!" pekikku seraya membekap mulut sendiri. Air mataku berjatuhan. Tak ingin hal terburuk terjadi pada Akira, aku pun memacu langkah. Dekat..., dekat..., dan semakin dekat dengan Akira. Hingga detik ini, Akira belum mengetahui kedatanganku di belakangnya. Kulihat, Akira bicara di telepon seraya mencangah ke atas langit, tangan kanannya memegangi ponsel yang ditempelkan di telinga. Aku ingin menubruknya dari belakang, memeluknya erat erat, dan menjaganya sebagai sesuatu yang berharga dalam hidupku.


"Pada hitungan ketiga, teleponmu ini akan mati, sazt itulah aku terjun bunuh diri. Kau tak perlu menangis begitu, Kak Ran. Sampaikan maafku kepada Ayah dan Ibu.


Maaf..., aku lemah sehingga harus menempuh jalan bunuh diri untuk mengakhiri hidupku," tutup Akira.


Telepon pun dimatikan. Kini, kulihat Akira menurunkan tangannya daritelinga. Lantas, dengan gerakan sangat malas, ia menjatuhkan ponsel itu dari tangannya. Kedua bahu Akira terlihat begitu lemas. Kutahu ia baru saja kehilangan mimpi yang paling berarti dalam hidupnya, mungkin pacar, mungkin hal yang terkait dengan sepak bola.


"Akira..., stop, Akira!!!"


"Stop, please! Kakak mohon jangan nekat seperti ini," pekikku panik dan parau saat berada satu langkah di belakang Akira. Kulihat ia mulai merentangkan kedua lengannya, menyerupai winglet pesawat terbang.


Akira menurunkan lengan-lengannya. Pelan sekali. Gerakannya persis serupa balerina yang sedang show di atas pentas. Masih dalam posisi memunggungiku, Akira menyebut namaku dalam isak tangis.


"K...Kak Ran?" Suaranya begitu lirih, namun masih sanggup kudengar. "Kaukah itu, Kak Ran? Kau...." Kalimat nya terpotong tak berlanjut. Kutahu ia tidak menyangka aku berada di apartemen ini. Dunia memang sempit dan takdir Tuhan memanglah aneh.


kar


lahnya


hidup.


"Akira, kemarilah sayang?" kataku merayu dan me mohon.


"Aku ingin mati saja, Kak Ran," tutur Akira tanpa me nolehkan wajah. "Rasanya..., percuma aku hidup. Tidal: ada orang yang sayang padaku, semua orang tega menya kitiku."


Sungguh, aku ingin menyentuh pundak adikku yang berdiri satu langkah di depanku. Begitu pelikkah masalah yang sedang dihadapinya sampai-sampai ingin bunuh diri?


"Akira, kau jangan membuat Kakak semakin sedih," balasku, disertai isak tangis. Air mataku jatuh bercucuran. "Kau tahu? Kakak baru saja patah hati karena ternyata Hajime sudah memiliki calon pendamping hidup? Kalau kau berbuat nekat begini, Kakak jadi bingung dan sedih."


Aku menunduk seraya menahan tangis. Lagi-lagi aku teringat Hajime dan gadis itu, gadis yang mengaku akan menikah dengan Hajime.


"Padahal, baru saja aku bangkit dari keterpurukan akibat ditinggal oleh Kamazaki ke Manchester," lanjutku meratapi nasib. Air mataku masih terus jatuh bercucuran.


"Dan kau telah menguatkanku. Kau mendukung agar aku bangkit dari keterpurukan. Kau memintaku mencari pengganti Kamazaki, meskipun orang yang kau sarankan itu ternyata sudah memiliki calon pendamping hidup. Tapi, over all, semua karena kamu. Aku ingin move on dan bangkit dari keterpurukan karenamu. Tapi, kenapa kau justru lemah begini?"


Akira tak menjawab, ia hanya diam sambil terisak.


"Kau tidak boleh putus asa, Akira," tandasku.


Dengan gerakan sangat pelan, wajah yang ditekuk, pipi yang sembab tangis, dan suara yang terisak, Akira berbalik badan.


"Kak Ran..., rengeknya, seperti anak kecil.


Kuingat kembali masa-masa ketika kami berdua kerap terlibat keributan kecil gara-gara berebut permainan Nintendo. Akira menyukai Mario Brothers, sementara aku ngotot dengan karakter lucu Pokemon. Kalau kuingat lagi masa kecil itu, rasa-rasanya aku memiliki segalanya, dan dunia pun menjadi lebih lebar. Maksudnya, di dunia ini tidak hanya Kamazaki atau Hajime. Masih banyak pria lain yang lebih dari mereka, dan aku masih berhak untuk bahagia, meskipun tanpa kedua orang itu.


_____________________________________


Bersambung~