
Sarah dan Alin pun berjalan masuk, dan langsung di susul oleh Gibran serta Nicholas.
Beberapa pria dan Art tampak sibuk meletakan barang-barang sesuai dengan rencana yang telah di musyawarakan sebelum datang ke rumah Ana.
"Apa mama yakin seperti ini Ana akan memaafkan kita?" tanya Alin dengan pandangan terus mengawasi setiap pergerakan Art dan beberapa pria yang juga ikut membantu.
Sarah menatap putrinya dari samping "Kalau mama sih yakin, Ana itu anak yang baik.
Jangankan memberikan kejutan seperti ini, datang saja ke sini terus minta maaf dengan sunggu-sunggu pasti dimaafkan, bagaimana Gibran?" Kata Sarah beralih menatap menantunya yang berdiri di sisi kirinya.
"Ha?" Gibran tidak fokus mendengar percakapan mereka "Maaf ma, bisa di ulangi?, habisnya tadi aku terlalu fokus memperhatikan mereka" lanjut Rangga.
"Kamu yakin, Ana bisa memaafkanku dan papa?" tanya Alin.
Ketiganya kemuadian menatap kearahnya, menunggu jawaban yang akan di betikan oleh Gibran yang merupakan ayah dari Ana.
Gibran menggangguk "Katakan sesuatu!, jangan nggangguk doang" ucap Alin.
"Iya benar, katakan sesuatu kami sanggat membutukan jawaban darimu" lanjut Nicholas.
"Ya, pasti. Pasti Ana akan memaafkan kamu dan juga papa. Tapi.." Gibran menjeda ucapanya.
"Tapi apa?" kata Nicholas.
"Kalau ngomong tuh jangan di potong-potong!, buat orang penasaran saja" tambah Alin.
"Tapi, soal menerima kembali Arsenio, aku tidak bisa menjamin itu" lanjut Gibran.
"Bagaimana kalau kita membantu Arsenio untuk menjelaskan pada Ana?" ucap Alin bergantian menatap suami, ibu dan juga ayahnya.
"Kalau menurutku, masalah mereka biarlah mereka yang menyesaikannya sendiri" ujar Gibran.
"Kenapa seperti itu?, kamu ngak mau ya Arsenio kembali lagi dengan Ana?, Arsenio itu sanggat mencintai Ana. Aku pikir kamu juga tahu itu" ucap Alin dengan nada suara yang mulai tidak bersahabat.
"Gibran.. " pangil Sarah yang membuat Gibran segera menatap mertuanya.
"Apa kamu sudah tidak memberikan izin Ana menikah dengan Arsenio?" tanya Sarah menatap serius Gibran.
Gibran menghela nafas panjang "Bukan seperti itu maksud aku. Kita beri waktu mereka untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri, mereka kan sudah dewasa pastilah bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak baik. Tugas kita disini, hanya memberikan arahan serta saran pada mereka, sisanya biarlah mereka yang mengurusnya" jelas Gibran.
"Tapi... tidak ada salahnya kalau kita membantu Arsenio, agar masalah mereka cepat selesai benar kan pa?" ucap Alin menatap ayahnya.
Nicholas mengelengkan kepalanya "Aku setuju dengan Gibran, kita biarkan saja mereka menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri" sahut Nicholas.
"Mama pun setuju dengan Gibran" lanjut Sarah sementara Alin memilih diam tidak ingin berdebat dengan suami, ayah serta ibunya.
"Maaf tuan, nyonya" ucap salah satu Art yang datang menghampiri mereka, semuanya pun melihat kearahnya.
"Semuanya sudah selesai, silakan dilihat dulu. Kami akan memperbaikinya jika penempatan barang-barang dan beberapa hiasan tidak sesuai" lanjut Art.
"Baik kami akan memeriksannya sekarang" sahut Alin. Mereka pun berjalan mendekati dekorasi yang di buat oleh Art dan bantuan beberapa laki-laki kepercayaan Nicholas.
"Bagaimanan menurut kalian?, kalau aku sih sudah bagus seperti ini" ucap Alin setelah sampai.
"Hmm, papa pun sependapat denganmu" lanjut Nicholas menatap dekorasi tersebut.
"Ya udah kalau begitu seperti ini saja, tidak perlu ada lagi yang di tambahkan dan yang akan di kurangi" ujar Sarah.
Nicholas bergantian menatap Art dan beberapa laki-laki suruhannya "Kerja yang bagus hari ini, sekarang kalian boleh kembali" kata Nicholas.
Di perjalanan.
"Maaf ya Na, tante dan Ana sudah banyak merepotkanmu" ucap Rany yang duduk di samping Kana yang tanpak fokus mengemudi.
"Benar, kami terlalu sering menyusahkanmu. Lihat kamu sampai-sampai tidak masuk kerja karena menjagaku di rumah sakit" lanjut Ana.
Kana bergantian menatap Rany dan juga Ana sebelum ia kembali fokus mengemudi "Alah tante, aku sama sekali tidak meresa di repotkan justru aku sangat senang bisa membantu tante dan juga Ana" ujar Kana.
"Kalau ada sesuatu yang perlu bantuan kami, kamu jangan segan-segan untuk meminta bantuan kami, kami pasti akan membantumu" ucap Rany.
"Siap tante" sahut Kana semangat yang membuat seisi mobil di penuhi dengan tawa.
Mobil terus melaju, melewati jalan yang tampak rame seperti biasanya. Setelah beberapa menit mereka dalam perjalanan, Akhiranya mobil yang di kendarai oleh Kana berhasil memasuki, komplek rumah Ana.
"Siap-siap sebentar lagi kita sampai" ucap Kana.
"Ye.... akhirnya aku bisa pulang kerumah bareng mommy" kata Alvis bersemangat.
"Benar sayang, mommy juga sudah merindukan rumah, ingin cepat-cepat sampai" ucap Ana.
Sementara Rany dan Kana yang berada di depan diam, menatap lurus ke depan "Mobil siapa itu?" gumam Rany dalam hati.
"Loh, itu bukannya mobil tuan Nicholas ya?, ko bisa ada di sini?" pikir Kana.
Kana menghentikan mobilnya tepat di belakang mobil Nicholas "Sebentar ya, aku buka pintu pagarnya dulu" ucap Kana lalu membuka pintu dan turun dari mobil.
Sesampainya di depan pintu pagar Kana di kejutkan dengan pintu pagar yang tidak lagi terkunci bahkan sudah terbuka lebar.
Kana yang penasaran pun melihat ke halaman rumah, ia kembali di kejutkan dengan dekorasi sederhana yang ada di depan rumah Ana, melihat itu Kana secepatnya kembali ke mobil.
"Bagaimana?, sudah ke buka pintunya?" tanya Rany setelah Kana berhasil masuk ke dalam mobil.
"Sudah tante" Kana kembali menjalankan mobil melewati mobil Nicholas, masuk ke halaman rumah dan berhenti di tempat biasanya.
Rany pun keluar dari mobil dan di susul oleh Kana, Ana dan juga Alvis, mereka tampak diam melihat dekorasi yang dibuat sedemikian rupa di depan rumah.
"Siapa yang membuat semua ini?, terus dalam rangka apa mereka membuat dekorasi seperti ini?" ujar Ana yang akhirnya mengeluarkan suara.
"Waw keren, mommy lihat ada banyak balon di sana" ucap Alvis girang.
Mereka pun keluar dari tempat persembunyiannya. "Surprise" ucap Gibran, Alin Sarah dan Nicholas bersamaan.
"Papa, mama, kakek, nenek" ucap Ana secara berurutan.
"Selamat datang sayang, bagaimana kamu suka ngak?. Kami sengaja membuat semua ini untuk kamu" ucap Sarah berjalan menghampiri Ana.
"Buat aku?" Ana menunjuk kearahnya.
"Ya ini semua buat kamu" jawab Sarah.
Ana tersenyum "Terima kasih nek, pa, ma kakek, telah membuat kejutan buat aku" ucap Ana.
Mendengar itu Alin berjalan menghampirinya dan berhenti tepat di depan Ana "Bisa mama peluk?" tanya Alin pada Ana.
Ana menggangguk, tanpa menunggu lama Alin langsung memeluk Ana "Mama minta maaf" bisik Alin.