
"Kalian diam disini!, jangan keluar ya!" Rany berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Hey lihat dia sudah keluar!" ucap beberapa orang yang melihatnya.
Sementara Ana dan Kana hanya bisa menyaksikan lewat jendela.
"Ada apa ya ibu-ibu kesini?" tanya Rany berjalan mendekat.
"Hey, mendingan kamu secepatnya suruh anakmu itu segera pindah dari sini!, kami tidak sudi tinggal berdampinggan dengan orang yang tukang selingkuh, benarkan ibu-ibu?"
"Benar, kami tidak mau nantinya anak kami akan terjangkit virus tukang selingkuh dari anakmu jika dia tetap tinggal disini!" sambung ibu-ibu lainnya.
"Iya benar itu, dia harus segera pergi dari sini!. Masih mudah saja sudah tahu soal selingguh bagaimana jika udah tua, pasti makin menjadi tingkahnya!"
"Cukup!. Anak saya tidak seperti yang kalian tuduhkan, dia anak yang baik" Rany sedikit berteriak.
Sontak membuat semua ibu-ibu tertawa besar.
"hahah anak yang baik?, mungkin maksud kamu dia jadi anak yang baik saat di rumah saja, jika di luar diberubah menjadi anak yang tukang selingkuh benar kan ibu-ibu?"
"Iya betul itu"
"Kami ngak mau tahu kamu harus secepatnya menyuruh anak kamu itu pergi dari sini! Kami tidak ingin anak kami terjangkit virus tukang selingkuh seperti dia"
"Aku tidak akan pernah menyuruh anak saya pergi!. Dia anak yang baik. Toh kami tidak mengganggu hidup ibu-ibu jadi jangan sok tahu dengan kehidupan orang" ujar Rany lalu kembali masuk menutup pintu dengan keras membuat ke dua wanita di dalam kaget.
Rany melanjutkan langkahnya menuju kamar dan kembali menutup pintu kamarnya dengan keras.
Ana yang melihat itu kedua sudut matanya kembali menganak sungai Kana yang melihat itu segera memeluknya.
"Aku anak yang ngak berguna, bisanya hanya membuat mama malu" Ana dengan isak tangsis.
"Kamu jangan bicara seperti itu!. Ngak baik tahu" ucap Kana.
"Kenyataannya memang begitu Na, aku hanya bisa menyusahkan ibu, menyusahkan banyak orang bahkan membuat orang-orang kesayangan aku malu dengan perbuatanku!"
Kana melepaskan pelukannya memegang kedua bahu Ana menatap lekat mata sahabatnya itu.
"Lihat aku!. Kamu tidak melakukan perbuatan apapun, mereka hanya salah paham saja, jika mereka tahu hal yang sebenarnya mereka tidak akan bertindak seperti ini" ungkap Kana serius.
"Kamu tengakan pikiranmu, jangan banyak mikir dulu kasihan anak kamu" sambung Kana melirik perut Ana yang masih rata.
"Kamu harus kuat, ingat kamu ngak sendiri. Ada aku, tante dan juga dede bayi yang akan selelu percaya dan mendukungmu!"
Ana menghela nafas panjang menghapus air matanya menggunakan kedua tanganya.
"Kamu benar, aku harus kuat" ungkap Ana.
"Nah gitu, ini baru Ana yang aku kenal" ucap Kana sambil tersenyum.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya. Aku akan mengantarmu ke kamar" ungkap Kana.
Ana mengagguk setuju, keduanya berjalan menuju kamar, Kana membantu menaikan selimut agar bisa menutupi Ana sapai di dadanya.
"Aku pulang dulu ya? besok aku ke sini lagi Kamu istirahat ya!, sekali lagi kamu jangan banyak mikir dulu biarkan tubuhmu pulih setelah itu kita cari sama-sama jalan keluarnya"
"Iya kamu hati-hati ya?" Kana mengagguk lalu berjalan keluar.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00 Ana masih belum bisa tidur, kata-kata warga sore tadi terus tergiang telinganya.
Ana bangkit dari duduknya, meraih sebuah bingkai foto yang berada di dekat tempat tidur.
"Ma.. maafkan aku. Aku telah banyak menyusahkan mama dan kali ini aku benar-benar membuat mama malu" air matanya mengalir dan jatuh tepat mengenai bingkai foto itu.
Ana menghela nafas panjang lalu kembali meletakan bingkai foto ke tembat semula.
"Benar, aku harus pergi!" Ana bangkit dari duduknya berjalan menuju lemari, mengeluarkan beberapa lembar baju lalu menggisinya di koper secara berurutan di mulai dari baju dan disusul oleh perlengkapan lainnya.
Setelah selesai, Ana berjalan mendekati tasnya lalu mengeluarkan selembar buku lalu menulis pesan di atasnya dan meletakannya kembali di meja dekat tempat tidur.
Ana mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada seseorang, setelah pesan berhasil terkirim Ana berjalan keluar dari kamar. Ditatapnya pintu kamar ibunya yang masih tertutup.
"Ana pamit pergi ma. Mama jangan khawatir aku bisa jaga diri kok" Tanpa sadar air matanya kembali menetes namu secepatnya dia menghapusnya lalu berjalan keluar.
Ana berdiri di depan rumah untuk menahan taksi, setelah berhasil menemukan taksi, Ana dengan bantuan supir taksi membawa masuk kopernya di bagasi lalu taksi pun kembali melaju melewati ramainnya jalan malam itu.
📞"Hollo" ucap Ana.
📞"Hallo nona, maaf telah mengggu waktunya"
📞"Ada apa?" tanya Ana dingin.
📞"Bisakah saya bertemu dengan nona?"
📞"Malam ini saya tunggu di café mawar" sahut Ana
📞"Baik saya kesana sekarang!"
Sambungan telefon pun terputus, Ana kembali menyandarkan kepalanya ke jendela dan kembali menatap jalan.
"Pak, mampir sebentar di cafe mawar!" ujar Ana tanpa meruba posisinya.
"Baik nona"
Mobil melaju menuju tempat yang di maksud. Selang beberapa menit mereka pun sampai.
"Nona kita sudah sampai" ucap supir taksi.
"Bapak tunggu sebentar, saya masuk ke dalam dulu ngak lama ko" ucap Ana.
"Baik nona" sahut supir taksi menatap Ana melelui kaca spion.
Ana turun dari mobil dan berjalan masuk, langkahnya berhenti pandanganya menyapu hampir seluruh tempat duduk, setelah melihat orang yang akan dia temui Ana kembali melanjutkan langkahnya.
"Silakan duduk nona!"
"Terima kasih" ucap Ana lalu duduk.
"Langsung saja, ada hal apa anda menemui saya?" Ana menatap pria di depannya tampa ekpresi.
"Begini nona" sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya.
"Tuan muda ingin nona menandatangani ini" Rangga menyodorkan kertas itu pada Ana.
"Beri saya polpen!" Rangga segera memberikan meletakan polpen di atas meja.
"Apa nona tidak ingin membacanya lebih dulu sebelum menandatanganinya?"
"Tidak perlu!, saya sudah tahu kok apa isinya. Surat cerai kan?" tebak Ana, Rangga yang mendengarnya diam dan hanya bisa menyaksikan Ana menandatangani surat cerai itu.
"Apa masih ada lagi?" tanya Ana.
"Sudah tidak ada nona, terima kasih"
"Baiklah kalau begitu saya pamit" Ana bangkit dari duduknya lalu hendak melangkah. Namun Ana kembali menoleh ke arah Rangga.
"Oh iya, saya melupakan sesuatu" ucap Ana.
"Apa itu nona?" Ana mengeluarkan sebuah kartu lalu meletakannya ke atas meja.
"Saya kembalikan yang bukan menjadi hak saya lagi!" ucap Ana dan berlalu pergi.
Rangga diam menatap punggung Ana dengan binggung.
"Apa dia benaran nona Ana?" batin Rangga.
Namu tak ingin ambil pusing, sekarang tugasnya telah selesai, dia kembali memasukan beberapa lembar kertas ke dalam tasnya lalu beranjak pergi.
"Jalan pak!" ucap Ana setelah masuk mobil.
"Baik nona"
"Maaf ya bapak sudah menunggu lama" ucap Ana dengan tatapan ke arah jalan.
"Tidak apa-apa nona"
Deru kendaraan membawa mereka jauh dari cafe mawar dan akan segera menuju bandara.