
Rany mengemudikan mobil, melewati jalanan yang ramai sore itu, suasana di dalam mobil senyap, Ana diam menatap lurus ke jalan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu sedang hamil?" Rany menatap Ana sejenak lalu kembali menatap jalan.
"Maaf" tidak tahu harus berkata apa, satu-satunya yang bisa dia katakan adalah maaf.
"Ini semua karena ma Arsenio, aku juga harus ikut-ikutan berbohong".
Suasana di dalam mobil kembali hening, yang terdengar hanya suara kendaraan yang memecah kesunyian saat itu.
Mobil yang dikendarai Rany memasuki halaman rumah dan berhenti di tempat Rany biasa memarkir mobilnya.
Rany turun dari mobil lebih dulu dari Ana, masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di sofa.
Sementara Ana masuk dan duduk di dekat Rany.
"Kamu kan hanya punya mama, kenapa kamu tidak memberitahuku sesuatu yang penting seperti ini?. Jika mama tahu hal ini dari awal, kita tidak perlu menerima ajakan mereka lagi!".
"Maaf, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini pada mama. Aku hanya butuh waktu untuk menyampaikan hal ini pada mama" ucap Ana sambil meraih tangan ibunya dan menggenggamnya.
Rany langsung menepis tangan putrinya, berpindah posisi duduk dan menatap lurus ke arah putrinya.
"Tolong jawab pertanyaan mama dengan jujur! Apakah kamu mencintai Arsenio?" tanya Rany serius.
Ana yang mendengar pertanyaan itu terdiam.
"Katakan pada mama jika kamu mencintainya atau beri tahu mama jika kamu tidak mencintainya!. Jawabanmu menentukan langkah selanjutnya yang harus kita ambil".
"Aku juga tidak tahu, apakah perasaan ini adalah bentuk cintaku kepada Mas Asenio atau hanya sekedar mengaguminya"
Melihat Ana diam, Rany mengangguk mengerti.
"Sepertinya benar, kamu sudah mencintainya" ungkap Rany sebelum Ana menjawab pertanyaannya.
Rany bangkit dari tempat duduknya, Ana yang melihatnya langsung menghentikannya, memegang tangan ibunya dan bangkit dari tempat duduknya juga.
"Mama mau kemana?".
Bukannya menjawab, Rany langsung melepaskan tangan putrinya dan masuk ke kamarnya.
Sementara Ana diam, hatinya goyah. Ada perasaan bersalah telah membohongi ibunya.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00, Tampak Ana duduk di meja makan sambil menatap pintu kamar ibunya. Semenjak mereka pulang ibunya tak kunjung keluar kamar.
"Apa aku terlalu egois dalam masalah ini?" gumam Ana dalam hati.
Tring.
Suara nontifikasi ponselnya berhasil menggalihkan perhatiannya. Diraihnya ponsenya lalu membaca pesan yang baru saja masuk.
"Temui aku di apartemen Rangga sekarang!"
Pandangan Ana beralih, kembali menatap pintu kamar ibunya.
"Aku akan segerah menyelesaikan masalah ini, semoga keputusanku kali ini adalah yang terbaik" ucap Ana.
Ana bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas.
Selang beberapa menit Ana pun keluar dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju melewati keramai jalan malam itu.
Setelah sampai, Ana berjalan mendekati resepsionis.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis sambil tersenyum.
"Saya Ana, saya ingin.. ".
Hal itu membuat Ana dan resepsionis melihat ke arahnya.
"Selamat malam tuan" sapa resepsionis sambil tersenyum.
Arsenio mengganguk lalu berjalan mendekati Ana.
"Dia Ana istri saya" ucap Arsenio meperkenalkan.
"Maaf tuan, saya tidak mengenal kalau perempuan di depan saya adalah nona Ana" ucap resepsionis.
"Tidak apa-apa" ucap Arsenio lalu menarik tangan Ana untuk ikut denganya.
Keduanya masuk ke dalam lift yang akan membawah mereka ke apartment Rangga.
Setelah sampai, Arsenio segera mengeluarkan kartu akses lalu menempelkanya ke Platfrom magnet. Pintu pun terbuka, keduanya pun melangkah masuk.
"Pak Rangganya ada?" tanya Ana membuka topik pembicaraan.
"Tidak ada!" sahut Arsenio lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Ana menatap sekeliling tatapannya terhenti di salah satu kamar, sekilas terlintas diingatanya adegan malam itu.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Arsenio yang juga ikut menatap ke arah yang sama.
"Tidak lihat apa-apa" jawab Ana cepat dengan raut wajah merah padam.
Ana berjalan menuju sofa dan memilih duduk bersebrangan dengan Arsenio.
"Ada hal apa mas menyuruh saya kesini?" tanya Ana berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Apakah aku harus punya alasan ketika ingin bertemu dengan istriku?" ucap Arsenio dengan nada kesal.
Ana diam, tidak berani menatapnya.
"Sepertinya kamu masih bicara formal denganku, apakah aku begitu asing di matamu?" ucap Arsenio menatap Ana.
Ana yang mendengarnya mengerutkan dahi bingung.
"Bukankah aku selalu seperti itu ketika berbicara denganya?. Kenap nanti sekarang baru di permasalahkan?" gumam Ana dalam hati.
"Aku adalah suamimu, jadi bicaralah santai dengaku!" ucap Arsenio sebelum Ana merespon ucapanya.
Ana yang tidak ingin memperpanjang masalah, segerah menuruti keinginan suaminya.
"Iya mas, saya eh maksunya aku. Aku akan mencobanya" sahut Ana terbata-bata.
Suasan ruangan kembali hening, keduanya tanpak diam. Suara notifikasi berhasil mencuri perhatian mereka. Ana segerah memeriksa ponselnya.
"Dari siapa?" tanya Arsenio curiga.
"Mama" jawabnya lalu membuka isi pesan.
"Kamu dimana?, mama tidak menemukanmu di kamar".
Ana segera membalas pesan ibunya.
"Lagi di luar ma, sebentar lagi aku pulang" pesan terkirim.
Ana meletakan kembali ponselnya, memberanikan diri menatap suaminya.
"Mas, ayo bercerai!" ucap Ana serius.