
Alin terdiam, mulutnya seakan terkunci, ucapan ibunya ibarat tombak yang menusuk paska hatinya.
"Ana... lagi... Ana lagi, kamu tuh ngak bosan-bosan apa membahas itu, wanita itu tidak pantas di samakan dengan Alin!"
"Wanita itu sudah membuat malu keluarga kita, berselingkuh dengan laki lain, wanita seperti itu yang banggakan?" Nicholas menatap istrinya.
Gibran yang mendengar itu mengepalkan kedua tangan menatap tajam Nicholas.
"Kamu sadar ngak setiap omongan yang kamu keluarkan itu seperti silet, bisa ngak kalau ngomong itu di filter dulu? biar di dengar orang tuh enak" sambung Nicholas.
Diluar Bi Lila dan teman-temannya kembali berkumpul, berbaris yang rapi sambil menundukan kepala.
"Selamat datang tuan" sapa mereka bersamaan.
Seperti biasanya Arsenio diam, dengan ekpresi dingin Arsenio berjalan masuk, tidak menanggapi mereka yang turus menyapanya setiap kali dia pulang ke rumah.
"Dari mana saja kamu?" Arsenio menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap orang yang lagi bertanya.
Alin,Gibran dan Sarah ikut menatap ke arahnya.
"Jangan bilang kamu masih mencari keberadaan wanita itu!, ingat dia telah selingkuh, wanita seperti itu tidak pantas dicintai! dan pula dia bukan istrimu lagi, jadi tidak perlu mencarinya buang-buang waktumu saja!" ucap Nicholas dengan suara sedikit meninggi dari biasanya.
"Biarin saja dia cari!" ucap Sarah, Nicholas, Gibran dan juga Alin menoleh ke arahnya.
"Tidak!, ngapai dia masih mencari wanita yang telah selingkuh itu?, apa untungnya bagi dia yang ada hanya buat malu keluarga" bentak Nicholas.
"Kenapa tidak bisa? Ana kan sedang menggandung anaknya pantulah dia khawatir dan terus mencari keberadaan Ana" sambung Sarah.
"Kamu yakin anak yang di kandung wanita itu merupakan anakmu?, dia telah selingkuh bisa jadi wanita itu menggandung anak dari selingkuhannya" ucap Nicholas kembali menatap Arsenio.
Percayalah saat ini raut wajah Gibran memerah seperti kepiting direbus, karena berusaha menahan emosinya.
Sementara Arsenio diam, tidak merespon apapun dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
"Anak itu benar-benar telah dibutakan oleh cinta, sampai keluarga sendiri di biarkan malu" pekik Nicholas.
Sementara di atas, Arsenio masuk di kamarnya menutup pintu kamar dengan keras, hal itu membuat hampir seisi rumah mendengarnya.
Menjatuhkan tubuhnya di kasur menatap langit-langit kamarnya. Ucapan Kakeknya terus mengema di telingganya berdampingan dengan adegan malam itu seakan terputar kembali dalam pikiranya.
Arsenio terus memikirkannya, sampai-sampai dia kelelahan dan tertidur.
Kampus
Tampak Kana berjalan melewati koridor kampus. Saat ini hatinya cukup tenang, hal itu karena dia tahu Ana baik-baik saja tempat barunya ya walaupun Ana tidak memberitahukan dimana dia sekarang, setidaknya surat pendek yang dikirimkannya berhasil membuat hatinya dan hati tante Rany lega.
"Kana.. " pangil Roby yang berada di belakangnya.
"Ya ampun anak ini, tidak bisakan dia melihat aku tenang?" Kana terus melangkah bersikap seakan tidak mendengar apapun.
"Kana..!, ko malah makin laju langkahnya" Roby berjalan setengah berlari dan pada akhirnya mereka masuk di dalam kelas bersama-bersama.
"Kana, aku sedang memanggilmu loh" ucap Roby. Kana menatapnya sekilas "Aku ngak dengar!" Kana melanjutkan langkahnya menuju tempat duduknya.
"Kamu pasti bohong!, ngak mungkin kami tidak mendenganya, orang aku pangilnya dengan tenaga dalam" ucap Roby terus mengikuti kemana Kana pergi.
"Jangan marah-marah mulu, lagi dapet ya?" Kana memukul bahu Roby yang membuat sang empuh merintih kesakitan "Mai lagi dapet atau tidak, aku tetap seperti ini, marah-marah bawaannya jika bertemu denganmu" sahut Kana semakin kesal.
"Ya jangan gitu dong, aku kan hanya ingin menanyakan apakah sudah ada kabar mengenai Ana?" Kana melirik Roby yang kini sudah ikut duduk disampingnya.
"Ana terus yang Ada di pikiranmu, ngak ada orang lain apa" gumam Kana dalam hati.
"Eh nih orang di tanyain malah bengong" ucap Roby mencubit pipi Kana gemas.
"Aw aw. Kumu apa-apaan sih?, sakit tahu!" Kana menepis tangan Roby lalu memegang bekas cubitan Roby.
"Habisnya aku lagi bertanya kamu malah bengong, tapi kenapa wajahmu jadi merah?. Kamu sakit ya?" Roby menempelkan tanganya ke dahi Kana.
"Isss kamu apa-apaan sih!, stop sentuh-sentuh aku!" Kana dengan cepat menepis tangan Roby yang kedua kalinya.
"Ya maaf, habisnya wajahmu benaran merah loh. Aku khawatir kamu sakit" ucap Roby"
Kana mengerutkan dahi "Kamu khawatir sama aku" Kana menunjuk kearahnya.
"Ya aku khawatirlah, kalau kamu sampai sakit nanti aku tidak bisa lagi bertanya soal Ana sama kamu" sahut Roby, Kana "😑"
"Eh iya soal Ana. Terus sekarang apa kamu sudah mendapatkan info mengenai Ana?, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi ngak ketemu juga. Aku khawatir dia kenapa-kenapa diluar sana" ucap Roby.
"Ngak ada" sahut Kana.
"Eh Ana belum ketemu juga ya?" tanya Maya yang tidak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Ya seperti itulah" sahut Kana menatapnya.
"Udah biarin saja, memangnya apa pengaruhnya dari hidup kamu, ngak ada kan?, sudah biarin saja dia hilang sekalian saja ngak usah balik-balik lagi!" ucap Clarissa.
Kana bangkit dari duduknya tak lupa memukul meja dengan keras "Eh kalau ngomong itu di kontrol ya!" bentak Kana.
"Sudah-sudah jangan berantem mulu!. Hmm padahal pak Arsenio ikut mencarinya loh, tapi belum juga ketemu" sahut Maya.
"Apa?, pak Arsenio juga ikut mencari?" tanya Roby, Maya menggaguk "Iya benar, kalian tahu pak Arsenio sampai menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk berjaga di bandara loh, yang lebih wow lagi, bukan cuma bandara di kota ini, di luar kota pun ada" jelas Maya.
Kana, Roby dan Clarissa yang mendengarnya pun terkejut.
"Kamu yakin dengan apa yang kamu omongin barusan?" tanya Clarissa tak percaya.
"Tentu saja yakin, aku sendiri yang melihatnya ko. Aku tuh lagi antar tante aku ke bandara makannya aku bisa tahu hal itu. Awalnya juga aku sama kaya kalian ngak percaya, eh tahu-tahunya benaran loh, aku sampai terharu loh" jelas Maya lagi.
"Aku ngak bisa biarin Arsenio menemukan Ana!, aku harus lebih banyak menyebar orang-orang kepercayaanku agar bisa lebih dulu menemukan Ana dan jika itu terjadi, aku tidak akan membiarkan Ana bertemu Arsenio!, Ana adalah miliku dan tidak akan bisa menjadi milik orang lain!" batin Roby.
"Hey, malah bengong. Lagi mikirin apa sih?" Kana menyadarkan lamunan Roby.
"Eh ngak lagi mikir apa-apa!, ya udah aku mau balik ke tempat dudukku" ujar Roby lalu bangkit dari duduknya.
"Udah sana pergi, sekalian jangan balik-balik lagi!" ucap Kana kesal.
"Iddiih jahat banget sih kamu" ucap Roby dan berlalu pergi.