My Love Story

My Love Story
Bab 76



Kediaman Keluarga Saguna


Mobil yang di kendarai Rangga memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan rumah.


Rangga keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil buat tuannya.


"Kau bisa pulang!" ucap Arsenio turun dari mobil dan melangkah masuk.


"Baik tuan" Rangga kembali masuk lalu melajukan mobil menjauh dari halaman rumah keluarga Saguna.


"Selamat datang tuan" sapa Bi Lila dan beberapa pelayan lainnya.


Arsenio melewati mereka begitu saja tanpa menjawaab sapaan mereka.


"Dari mana saja kamu? tanya Alin bangkit dari duduknya.


Arsenio menghentikan langkahnya tanpa berbalik menatap ibunya "Kantor" Arsenio kembali melanjutkan langkahnya.


"Kamu pikir mama tidak tahu!, kamu baru saja mencari Ana kan?" ucap Alin yang membuat Arsenio kembali menghentikan langkahnya, kali ini Arsenio menoleh ke belakang.


"Itu mama tahu, terus kenapa mama masih bertanya padaku?" Arsenio menatap ibunya.


Alin meremas jari-jemari raut wajahnya memerah "Dia hanya mantan istri, kamu tidak punya hak untuk mencarinya!" bentak Alin.


"Ada apa sih ribut-ribut?" Sarah berjalan mendekati mereka tidak lebih tepatnya mendekati Alin.


"Mama lihat! Arsenio baru saja mencari wanita itu, Clarissa akan kecewa jika mengetahui hal ini" jelas Alin.


Sarah berganti menatap Arsenio "Apa sekarang kamu sudah menyesal?" ucap Sarah.


Arsenio diam, memili menatap keramik lantai.


"Mama ngomong apa sih?. Dia sudah punya Clarissa yang jauh lebih baik dari wanita itu, tentu saja dia tidak akan menyesal setelah meninggalkan wanita itu" ucap Alin menatap ibunya dari samping.


"Aku bisa ngomong seperti itu karena sikapnya yang terus mencari keberadaan Ana itu sudah sangat jelas menunjukan bahwa dia telah menyesal mengambil keputusannya pada empat tahun lalu" jelas Sarah.


Arsenio mendengar itu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya meninggalkan ibu dan juga neneknya yang terus saja bertengkar.


Menjatuhkan tubunya di atas tempat tidur pandanganya menatap lutus langit-langit kamarnya "Apa aku menyesal? atau hanya sekedar meminta kepastian mengenai kehamilannya" tanya Arsenio pada dirinya.


Dering ponsel berhasil mencuri perhatiannya, dikeluarkanya benda kecil itu dari saku jasnya, tanpa melihat nama yang terterah di depan layar ia pun segera menggangkatnya.


📞"Halo tuan"


📞"Hmm"


📞"Kami sudah menemukan keberadaan nona Ana" ucap seseorang dari seberang.


Arsenio yang mendengarnya segera bangun


📞"Katakan dimana dia sekarang!"


📞"Nona Ana pulang ke rumahnya" sahut pria itu.


📞"Terus awasi setiap gerak-geriknya dan laporkan!"


📞"Baik tuan"


Sambungan telefon terputus.


"Kali ini kamu tidak akan bisa lepas dariku!" Arsenio dengan tatapan serius.


Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00, Ana tanpak mendapat pangilan telefon, Ana berlari keluar dan menjawabnya.


"Siapa yang menelfon?, kok sampai keluar segala?" Rany menatap Ana binggung.


"Kana juga ngak tahu tante" sambung Kana yang juga ikut melihat Ana.


"Oma.. " pagil Alvis


"Iya sayang ada apa?" Rany menatap cucunya yang berada di pangkuannya.


"Mau lagi" Alvis menunjukan sebuah kemasan snack pada Rany.


"Alvis mau lagi?, ayo kita ambil di lemari!" Alvis mengaguk setuju lalu turun dari pangkuan neneknya.


"Rany tunggu sebentar ya!, tante mau ambilin Alvis snak" ucap Rany sebelum pergi.


"Iya tante" jawab Kana.


Setelah melihat Rany dan Alvis pergi Kana segera berdiri dari duduknya berjalan mendekati pintu tidak lebih tepatnya mendekati Ana.


📞"Papa ngak perlu khawatir, aku dan Alvis baik-baik saja"


📞"......"


📞"Oke pa, sampai bertemu nanti"


Sambungan telefon terputus, Ana berbalik hendak masuk pun terkejut dengan kehadiran Kana di belakangnya.


"Is bikin kaget saja" ucap Ana sambil memasukan ponselnya di saku baju tidurnya.


"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" ucap Kana.


"Ayo kita bicara di sana" Ana menarik tangan Kana membawahnya menuju kursi yang ada di halaman rumah dekat dengan tanaman-tanaman bunga milik ibunya.


"Aku ingin mendengar semua dari awal, di mulai dari kamu memutuskan untuk pergi" ucap Kana setelah mereka sampai.


"Baiklah, tapi mohon simak baik-baik aku ngak mau mengulanginya cape tahu!" Kana menggangguk "Iya aku pasti mendengar dengan serius. Ayo jangan buat aku penasaran.


Ana tampak menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya.


Part Ana.


"Jadi gini. Waktu itu setelah kamu pulang dan berjanji akan kembali besok, mungkin sekitar 10 menit - 20 menit kepergianmu, hp ku berdering ada pangilan dari nomor tak di kenal, awalnya aku ragu mengangkatnya namun hp ku terus saja berdering dan aku memutuskan untuk menerima pangilan telefon itu"


"Aku terkejut saat mendengar suara yang cukup familiar, kamu tahu siapa orang yang menelfonku?, ya dia adalah mertuaku sekaligus ayahku"


"Dia terus meminta maaf atas kesalahannya 19 tahun yang lalu meninggalkan aku dan ibu namun sebenarnya saat dia meninggalkan mama, ayahku tidak mengetahui jika ibuku sedang mengandung aku. Namun setelah pertemuan kami di rumah mertuaku, dia memutuakan untuk bertemu mama dan bertanya soal aku, tapi mama bemberitahunya kalau aku ini bukan anaknya"


"Tentu saja ayahku tidak percaya semuda itu, dengan kemampuan uang menyuruh orang kepercayaan menyelidiki semua identitas aku dan akhirnya ayah tahu kalau aku adalah putrinya"


"Dan saat membaca artikel di berbagai sosial media tentang kesalahanku, hatinya begitu sakit saat melihat komentar-komentar orang tentang diriku. Sekaligus dia sanggat merasa bersalah karena tidak bisa melindunggiku"


"Maka dari itu dia memutuskan untuk menelfonku dan memberikan tawaran agar aku untuk sementara waktu pergi dari rumah sampai berita mengenaiku menghilang"


"Dan ayahku berjanji jika aku mau, dia akan menyiapakan segalannya, mulai dari tiket pesawat, rumah bahkan biaya kuliah pun semua di tanggung ayah"


"Ayah juga berjanji akan selalu menjaga mama selama aku tidak bersamannya, bahkan ayah berjanji bukan hanya menjaga mama tapi dia juga akan menjaga kamu satu-satunya sahabat aku"


"Setelah memberitahuku akan maksudnya menelfonku, dia memberi aku waktu beberapa jam untuk berpikir"


"Hingga tiba dimana aku merasa tawaran ayah patut aku terima, dan malam itu juga aku memutuskan untuk menelfon kembali Ayah dan memastikan semua yang dikatakannya akan dia lakukan termasuk menjaga ibu dan juga kamu"


"Dan malam itu juga aku merapikan semua baju, barang-barang keperluanku dan memasukannya ke dalam koper. Membawah koper aku keluar dan memesan taksi"


"Di perjalanan menuju bandara, Rangga asistenya pak Arsenio menelfonku dan meminta waktu untuk bertemu dengannya, saat itu juga aku mengiakannya. Aku tahu benar apa maksud pak Rangga ingin bertemu denganku"


"Dan benar saja dugaanku, Rangga bertemu denganku membawa surat cerai yang perlu aku tanda tangani. Saat itu juga aku menandatangini surat cerai yang telah di buat pak Arsenio. Setelah itu aku langsung pamit karena harus ke bandara"


"Sesampainya di bandara ayah datang menghampiriku memberikan aku tiket pesawat, hp baru dan juga sebuah kartu ATM"


"Ayah merubah semua identitasku saat aku pergi, Ayah lakukan itu agar aku tenang hidup disana tampa gangguan orang lain"


"Singkat cerita, selama aku berada di sana ayah selalu datang menjengguk aku bahkan ayah yang menemani saya saat aku lahiran"


"Ayah memenuhi semua janjinya, termasuk menjaga kamu dan juga ibu. Kamu tahu kenapa aku bisa mengetahui semua tentangmu?, itu semua karena ayah. Ayah menyuruh beberapa orang-orang kepercayaannya terus memantau kamu dan ibu dari jauh dan mereka terus melaporkan apa yang mereka lihat kepadaku dan juga kepada ayah"


"Kamu ingat surat yang aku kirmkan, itu benar surat yang aku tulis saat ayah datang menjengukku, karena aku mendapat laporan dari orang-orang kepercayaannya ayah kamu dan juga ibu terus mencari keberadaanku, kalian telihat sangat khawatir dan aku tidak ingin itu berlangsung lama"


"Karena itu aku meminta ayah membawah suratku pulang dan memberikannya sama ibu, tapi ayah tidak berani memberikannya secara langsung, ayah menyuruh orang-orang kepercayaannya yang membawah suarat itu kesini"


"Dan aku dapat kabar baru dari orang-orang kepercayaannya ayah, kamu dan juga ibu sudah dapat menerima keputusanku dan aku sangat-sangat legah mendengar kabar itu"


"Singkat cerita, saat ayah datang menjengguk aku dan juga Alvis baru-baru ini, aku meminta izin untuk kembali dan ayah menyetujuinya. Bahkan ayah semua yang mengurus keperluan kita berdua hingga sampai disini dengan selamat" jelas Ana panjang lebar.


"Kalian lagi ngomong apa sih?, kok serius amat" ucap Rany yang kini sudah berdiri di depan pintu sambil memeluk cucunya.


Ana dan Kana yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya. "Biasalah Ana lagi mendengar curhatanku sudah lama kan dia tidak mendengar curhatanku?" jawab Kana.


"Oh lagi curhat ya?" Ana dan Kana menggangguk sebagai jawaban.


"Tapi di luar cuacanya dingin loh, mendingan kalian cuehatnya di kamar saja. Biar malam ini Alvi tidur bang oma, benar kan sanyang?"


Rany meminta persetujuan Alvis.


"Iya oma" sahutnya bersemangat.


"Baiklah mama duluan saja nanti kita nyusul" ucap Ana.


Rany dan Alvis pun kembali masuk, karena Alvis sudah mulai ngantuk Rany membawahnya masuk ke kamarnya.


"Hmm, pantas saja waktu di mobil Alvis menanyakan soal opanya. Ternya opa Gibran selalu menemaninya" ucap Kana.


"Benar, namun Aku masih butuh waktu untuk memberitahukan hal ini sama mama, kamu tahu sendiri kn bagaimana mama membenci ayahku. Jadi sepertinya aku harus cari waktu yang tepat untuk memberitahukan hal ini sama mama" ujar Ana.


"Aku juga setuju" sahut Kana. "Ya udah ayo masuk!" lanjut kana.


Keduanya pun melangkah masuk "Terima kasih sudah menjagaku" ucap Kana di sela-sela langkah mereka.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena telah menjaga ibuku selama aku pergi" ucap Ana.


"Berarti seimbang dong, kita sama-sama saling menjaga" ucap Kana sambil tersenyum.


"Hmm kamu benar" sahut Ana "Tapi kamu curang!" Kana menatap Ana "Curang?, maksudnya?" tanya Ana bingung.


"Ya ialah kamu curang. Kamu biasa mengatahui semua tentangku sementara aku, mana ada tahu tentang kamu di sana" ucap Kana cemberut, Ana yang mengerti makasud ucapan sahabatnya pun tersenyum.


"Tenang saja aku di sana ngak dekat dengan siapa-siapa kok, jadi tidak perlu merasa di curangi. Ya mana sempat aku dekat dengan orang-orang aku kan fokus kuliah dan juga merawat keponakanmu" ucap Ana.


"Benar nih ngak ada?, awas ya kalau sampai bohong!" ucap Kana.


"Benar, apa perlu aku bersumpah?" Kana mengeleng "Ngak perlulah, aku percaya kamu" ujar Kana, keduanya pun saling melempas senyuman.