
Flashback
Mobil yang di kendarai Rangga terus melaju. Karena jarak rumah Arsenio dengan kantor Kana cukup jauh, Kana pun memutuskan untuk tidur, karena tubuhnya terasah cukup lelah, maka tak perlu waktu lama dia pun tertidur.
Hal itu tak luput dari pandangan Rangga, namun tak ingin ambil pusing dia tampak fokus mengemudi.
Karena waktu sudah semakin sore dan sebentar lagi akan memasuki waktu magrib, jalanan tampak ramai di penuhi oleh para penguna jalan yang baru saja pulang dari bekerja, hal itu mebuat semua orang tidak terhindar dari kemacetan jalan termasuk Rangga dan juga Kana.
Rangga menatap lampu lalu lintas yang terletak jauh dari mereka, lampu tersebut saat ini menunjukan warna merah yang menandakan bahwa kendaraan yang berada di jalur tersebut berhenti untuk beberapa saat.
"Sial!, malah ke jebak macet" ujar Rangga sambil memukul kemudi mobil dengan menggunakan tangannya.
"Ngak bisa putar balik lagi" Rangga mengehela nafas panjang "Coba saja tadi mereka tidak saling berbicara, pasti kita sudah berada di depan sana dan sebentar lagi akan bebas dari kemacetan ini" lanjut Rangga kesal mengingat kembali saat Kana sedang ngobrol dengan bosnya.
Pandangan Rangga yang tadinya lurus ke depan kini beralih menatap Kana yang tampak tertidur lelap.
Rangga melihat itu segera berinisiatif untuk sedikit menurunkan kursi mobil agar Kana bisa tidur dengan nyaman.
Perlahan kursi bergerak turun, hal itu membuat Kana bergerak dan merubah posisi tidurnya. Yang awalnya menghadap lurus kedepan, kini menghadap kearah Rangga namun masih dengan posisi memejamkan matanya.
"Nah, kalau lagi diam begini dia tampak imut" gumam Rangga masih menatap wajah Kana.
"Iss, apa sih yang kamu pikirkan?" Rangga memukul kepalanya karena menyadari kalimat yang baru saja di ucapkannya.
Karena warna lamu lalu lintas kembali berubah warna yang awalnya warnah merah kini berubah menjadi warna hijau yang menandakan kendaraan di jalur tersebut bisa kembali berjalan.
Semua kendaraan tampak bergerak maju tak kerkecuali kendaraan Rangga namun, hanya dalam beberapa meter berjalan, lampu lalu lintas kembali berubah warna menjadi warna merah yang mengharuskan mereka kembali berhenti, hal itu cukup membuat Rangga frustasi.
"Kalau gini terus, kapan kita nyampenya" ujar Rangga sambil menggaruk kepalanya yang tak terada gatal.
Karena mobil kembali berhenti, entah bagaimana Rangga pun kembali menatap Kana namun kali ini Rangga menatapnya lebih dekat dari sebelumnya, sehingga dia bisa dengan jelas menatap wajah polos Kana saat sedang tidur.
Rangga pun terbelalak, saat menyadari betapa cantiknya Kana saat tidur, dengan ragu-ragu Rangga merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Kana.
Rangga pun tersenyum "Cantik"
Rangga terus menatap lekat wajah Kana, adegan dirinya saat mengaku sebagai pacar Kana di depan bos Kana beberapa menit lalu kembali melintas di pikirannya.
Jari telunjuknya perlahan menelusuri wajah Kana yang berawal dari alis Kana dan terus bergerak turun ke hidung, bergerak turun lagi tepat di atas bibir mungil Kana seketika jari telunjuknya berhenti di sana.
Rangga tampak menelan salivanya, sebagai laki-laki yang normal hal-hal seperti ini akan sulit dikendalikan.
Rangga terlihat kembali menekan tombol yang akan membuat kursi yang digunakan Kana perlahan kembali bergerak naik, setiap detiknya kursi bergerak naik akan memangkas jarak di antara wajahnya dan juga wajah Kana.
Sampai pada saatnya kursi tersebut berhenti bergerak naik dan percayalah saat ini jarak wajah Rangga dan Kana hanya berjalak beberapa senti saja, saking dekatnya Rangga bisa dengan jelas merasakan hempusan nafas Kana dan
Cup
Satu kecupan mendarat di b*bir mungil Kana, namun hal itu tidak membuat Kana terbagun dari tidurnya. Sementara Rangga yang melihat hal itu pun semakin gemas dengan Kana dan pada akhirnya dia kembali mengecup b*bir Kana yang kedua kalinya.
Namun kali ini cukup membuat Kana sedikit bergerak sebelum kembali tidur.
Rangga terseyum yang melihat itu dan entah mengapa Rangga seakan ketagihan dengan aksinya itu, karena itulah dia pun tidak menyadari bahwa lampu lalu lintas kembali berubah menajadi warna hijau.
Cup
Rangga kembali mengecup b*bir Kana yang ke tiga kalinya, namun kali ini lebih lama durasinya dari kecupan sebelum-sebelumnya.
Pip...pip.. Pip..............
Dari belakang mobil terdengar suara klakson dari beberapa mobil di belakang mereka, hal itu membuat Rangga terkejut, bukan hanya Rangga saja, Kana pun ikut terkejut dan segera membuka matanya dan Kana pun kembali di kejutkan oleh keberadaan Rangga yang baru saja menyudahi aksinya.
"Apa yang pak Rangga lakukan?" teriak Kana yang sontak menyilangkan kedua tanganya tepat di depan dada sebagai bentuk perlindungan.
Rangga pun segera memperbaiki posisi duduknya tanpa menjawab pertanyaan Kana, sementara dari arah belakang suara klakson terus berbunyi.
Rangga menurunkan sedikit kaca mobilnya lalu menoleh ke belakang "Maaf pak, ini sudah mau jalan" ucapnya.
"Ya udah buruan dong!"
"Iya pak" sahut Rangga sambil menaikan kembali kaca mobilnya lalu kembali melanjalankan mobilnya.
"Pak jawab!, apa yang baru saja bapak lakukan kepada saya?" ucap Kana sambil memukul-mukul bahu Rangga yang nampak diam tidak menghalangi Kana untuk tidak melakukan aksinya.
Menurutnya, dia pantas mendapatkan itu bahkan dia bisa mendapatkan hukuman lebih dari itu.
Rangga pun masih tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan barusan, semua tampak berjalan begitu saja "Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" pikir Rangga.
Sementara Kana terus mengulangi pertanyaan yang sama, sampai di mana kedua sudut matanya sudah menganak sungai, melihat itu Rangga pun segera menepihkan mobil dan mematikan mesinnya.
"Jawab pak!, apa yang bapak lakukan kepada saya?" ucap Kana.
Rangga melepaskan sabuk pengaman lalu menghadap ke arah Kana dengan kepala ditundukan.
"Maaf, maafkan saya" ucap Rangga yang pada akhirnya mengeluarkan suara.
"Maaf?" ucap Kana.
Rangga menggangkat kepala dan menatap wajah Kana yang kini sudah basah dengan air mata.
"Saya benar-benar minta maaf, semua berjalan begitu saja tanpa saya sadari" ucap Rangga sementara Kana yang mendernya terkejut.
"Semua berjalan begitu saja tanpa bapak sadari?. Helo pak, bapak pikir saya wanita bodoh?, mana bisa bapak mengatakan ngak sadar sementara bapak terlihat baik-baik saja, terlihat sakit pun tidak" ujar Kana dengan suara tinggi.
Rangga yang mendengarnya pun menyapu kasar wajahnya "Saya sudah menjawabnya sesuai dengan kenyataan, terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya" ucap Rangga mendeja ucapanya.
"Dan lagi satu, semua itu tidak akan terjadi jika tidak ada kesempatan" lanjut Rangga.
Kana terperanjat mendengarnya, tak percaya Rangga akan berkata seperti itu "Jadi maksud bapak sayalah yang salah?, karena tidur di mobil bapak gitu?" ucap Kana dengan kedua tanganya sudah dikepalkan.
"Ya bisa juga di bilang seperti itu, jika saja kamu tidak tidur pasti tidak ada kesepatan untuk melakukan hal itu" ujar Rangga berusaha menutupi kesalahannya.
"Gila ya bapak?, jelas-jelas bapak yang salah di sini tapi ngak mau ngaku malah balik menyalahkan orang yang menjadi korban"
ucap Kana dengan wajah memerah masih berusaha menahan emosinya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Kana membuka pintu lalu hendak keluar namun lebih dulu di cegah oleh Rangga.
"Mau kemana?, kita kan belum sampai" ucap Rangga.
"Lepaskan saya atau saya teriak!" acam Kana yang pada akhirnya Rangga melepaskan tangannya.
Kana bergerak turun dan menutup kembali pintu mobil dengan keras sementara Rangga tampak ikut keluar dari mobil.
"Bagaimana kalau nona Ana menanyakan soal ketidak hadiranmu?, saya harus menjawabnya dengan apa?" ucap Rangga.
Kana yang sudah berjalan pun menghentikan langkahnya dan melihat kesekeliling terlihat beberapa penguna jalan melihat ke arah mereka namun kali ini Kana tidak lagi memperdulikan itu, hatinya terlanjur sakit dengan apa yang di lakukan Rangga padanya.
"Itu urusanmu!, kenapa saya harus peduli?" ucap Kana menatap Rangga sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
Rangga mengehela nafas panjang dan pada akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanannya, di waktu yang sama pula Kana terlihat menghentikan sebuah taksi lalu masuk kedalam taksi.
Singkat cerita Kana tetap akan datang menghadiri acara ulang tahun sahabatnya itu namun tidak berarti dia akan satu mobil dengan Rangga setelah apa yang dilakukannya padanya.
Kana memberanikan diri meminta alamat rumah baru sahabatnya itu langsung dari suaminya dan tak perlu waktu lama dia pun berhasil mendapatkan alamat rumah tersebut dan pergi dengan menggunakan taksi.
Flashback Off