My Love Story

My Love Story
Bab 139



Ana terus mengejar kemana perginya mobil suaminya.


"Pak, ikuti terus mobil itu. Jangan sampai hilang ya pak!" pinta Ana.


"Baik neng" jawab supir taksi.


Ana mencoba menghubungi suaminya namun pangilannya selalu di tolak.


"Apakah dia semarah itu?, sampai telefon pun tak mau di angkatnya" ucap Ana menatap layar ponselnya.


"Sungguh reaksinya di luar ekspetasi" lanjut Ana.


Taksi yang di tumpangi Ana terus melaju, Ana tampak bernafas lega, saat mengetahui kemana arah mobil suaminya.


"Ok pak, sini aja" ucap Ana.


"Baik neng" supir taksi segera menepikan mobilnya, Ana segera turun tak lupa membayar ongkos taksinya.


Ana berjalan melewati pintu pagar rumah kediaman keluarga Saguna.


Ya Arsenio pulang ke rumah orang tuanya.


"Ya tuhan, kalau tau akan seperti ini, ngak mau aku meminta izin padanya" batin Ana.


"Selamat datang nona" sapa pak satpam yang bertugas menjaga keluar masuk di rumah keluarga Saguna.


Sementara Ana menjawabnya dengan anggukan kepala dan kembali melanjutkan langkahnya.


Di dalam rumah.


"Sini sayang sama oma, kamu sih ngak beritahu oma kalau mau datang ke sini, kan oma bisa beliin banyak eskrim buat kamu" ucap Alin.


"Aku juga ngak tahu oma kalau kita mau ke sini, daddy ngak bilang-bilang tuh kalau mau ke sini" ucap Alvis berjalan menghampiri Alin lalu duduk di pangkuannya.


"Sayang, kamu sama oma dulu ya, daddy mau ke kamar" ucap Arsenio.


"Iya daddy" sahut Alvis.


Arsenio berlalu pergi sementara Alin terlihat sibuk bermain dengan cucunya.


Beberapa menit kemudian Ana masuk dan langsung di sapa oleh Art.


"Selamat datang nona" sapa mereka.


Alin dan Alvis yang mendengarnya segera menoleh "Sepertinya mommy ke sini juga" ucap Alvis.


"Benarkah?" ucap Alin. Sementara Alvis menjawab dengan anggukan kepala.


"Mama.. " pangil Ana lalu berjalan menghampiri Alin dan Alvis.


"Loh, kalian ko datang terpisah?. Kenapa ngak sama-sama aja?" tanya Alin.


"Ngak, aku ngak boleh beritahu mama, apa yang sebenarnya terjadi" pikir Ana.


"Itu ma, aku masih ada urusan sedikit makannya ngak datang bersamaan" sahut Ana.


"Oh gitu ya" ucap Alin.


"Iya ma, oh iya, mas Arsenio mana?" tanya Ana.


"Tadi katanya mau ke kamar. Wajahnya kaya kusut gitu, mending kamu susul dia ke kamar" ucap Alin.


"Ya udah ma, aku mau susul mas Arsenio ke atas" ucap Ana bangkit dari duduknya.


"Iya sayang. Oh iya, malam ini kalian tidur disini aja ngak perlu pulang. Mama masih mau main bareng Alvis" ucap Alin.


Tanpa pikir panjang, Ana pun menggangguk dan berlalu pergi.


Ana menghentikan langkahnya di depan pintu kamar.


Tok... Tok..


Ana mengetuk pintu.


Arsenio yang kini merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur setengah mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Arsenio.


"Aku mas" sahut Ana "Boleh aku masuk?"Ana kembali bertanya.


Ana menunggu jawaban dari dalam namun, beberapa menit telah berlalu belum juga ada jawaban. Melihat itu Ana memutuskan untuk masuk.


"Aku masuk ya mas" ucap Ana lembut dengan tangan kanan meraih daun pintu lalu memutarnya.


Perlahan pintu terbuka, pandangan Ana langsung tertuju ke arah tempat tidur. Dimana terlihat Arsenio menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Pasti dia marah baget, terus aku harus buat apa?, mana lagi aku ngak bisa membujuk" pikir Ana sambil menutup kembali pintu dengan pelan.


Ana perlahan berjalan menuju tempat tidur dan berhenti setelah sampai.


Sementara di dalam selimut, Arsenio tampak menunggu hal apa yang akan di lakukan istrinya.


"Mari kita lihat, sampai di mana keahlianmu untuk mendapat kata maaf dariku" gumam Arsenio.


Ana menghela nafas, ditariknya selimut yang digunakan Arsenio menutupi tubuhnya.


"Sayang" pangil Ana lembut "Aku mengaku salah, jangan marah lagi dong" lanjut Ana.


Arsenio diam, menarik kembali selimut ke keadaan semula.


"Mas, aku minta maaf" Ana bergerak naik ke atas tempat tidur.


"Jangan cuekin aku seperti ini dong. Mas ayolah" Ana menarik-narik selimut namun Arsenio terus menahanya.


Melihat tidak ada respon dari suaminya, Ana pun diam, dia tampak berpikir keras untuk menemukan cara agar suaminya ngak marah lagi dan mau memaafkannya.


"Ha?, hanya segitu usahamu untuk meminta maaf dariku😏" gumam Arsenio.


Setelah cukup lama diam akhirnya Ana menemukan cara yang menurutnya ampuh.


"Hmm, kita lihat. Sampai dimana kamu tidak akan tergoda olehku😜" pikir Ana.


Ana bergerak turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar ganti untuk mengambil beberapa baju.


Sementara Arsenio tampak mengintipnya di balik selimut "Mau ngapain dia?, apakah dia sudah menyerah membujukku?"


"Chii, benar-benar ngak punya usaha!😏" ucap Arsenio kesal.


Ana terlihat kembali melewati tempat tidur dengan beberapa baju di tangannya dan masuk ke kamar mandi tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, Arsenio segera keluar dari persembunyiannya.


"Benar ya!, ngak bisa apa dia membujukku lebih lama lagi" Arsenio melempar selimutnya ke sembarang arah.


"Awas aja, kalau kamu benar-benar pergi menemui laki-laki itu, akan ku buat perhitungan kepadamu" ucap Arsenio kesal.


Beberapa menit kemudian, suara air dari kamar mandi berhenti, hal itu membuat Arsenio cepat-cepat turun dari tempat tidur untuk mengambil kembali selimutnya dan kembali ke tempat tidur.


Cekrek


Pintu kamar mandi terbuka, Ana keluar dengan pakaian tidurnya,.


"Mas, ayo mandi!, setelah itu baru tidur" ucap Ana.


"Cihh, dia pikir aku sudah memaafkannya, tidak semuda itu sayang" ucap Arsenio dibalik selimut.


"Ya udah, kalau ngak mau mandi juga ngak apa-apa" Ana bergerak naik ke tempat tidur.


"Aku ngantuk mau istirahat" lanjut Ana menarik selimut dan ikut masuk ke dalam selimut.


"Mau ngapain sih kamu?" ucap Arsenio saat Ana melingkarkan tanganya ke pinggangnya.


Ana mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya "Mau tidur sayang" sahut Ana yang membuat Arsenio bergerak bangun dan membuka selimutnya.


Hal itu membuatnya dengan jelas menatap Ana yang kini menggunakan baju tidur yang berbahan lumayan tipis.


Arsenio tampak bersusah paya menelan salivanya "Kenapa mas?, mas ngak mau ya tidur bareng aku" ucap Ana lembut dengan tangan kanan terus memainkan ujung baju miliknya.


"Sial, dia berusaha menggodaku" pikir Arsenio.


Ana bergerak mendekati suaminya, kedua tanganya dilingkarkan ke leher suaminya lalu menatap lekat wajah suaminya.


"Sayang, kamu masih marah ya?, marahnya jangan lama-lama dong. Kasian akunya di cuekin mulu"


"Atau aku cari aja laki-laki lain, yang lebih berhatian dan tidak cuek?" lanjut Ana sontak mendapat tatapan tajam dari Arsenio.


"Jika kamu berani melakukan itu, akan ku pastikan laki-laki itu menghilang dari muka bumi ini!" gerutu Arsenio dalam hati.


Melihat tidak ada respon dari suaminya, Ana pun memutuskan untuk berhenti menggoda suaminya dan akan memikirkan cara lain.


Ana menghela nafas panjang, melepaskan tanganya yang melingkar di leher suaminya "Sudahlah, mungkin kehadiranku disini ngak dibutuhkan. Mas istirahat aja, aku mau pulang" ucap Ana lalu bergerak turun.


Arsenio yang melihat itu segera menarik tangan istrinya, membawahnya kembali ke tempat tidur, emposisikan Ana berada di bawah tubuhnya sementara Ana yang mendapat perlakuan itu pun terkejut.


"Mas?"


Arsenio tersenyum "Kenapa?, mau lari?. Kamu telat sayang" ucap Arsenio lalu mencium b*bi* istrinya dengan rakus.


Melihat Ana yang kesusahan mengatur nafas, membuatnya menghentikan sejenak aksinya, menatap lekat wajah istrinya dengan nafas memburu.


"Kamu yang mengodaku, jadi jangan salahkan aku jika aku menginginkanmu sekarang" ucap Arsenio.


"Tapi mas.." Arsenio kembali mencium b*bi* istrinya, perlahan ciumannya turun ke leher dan semakin turun ke bagian-bagian favoritenya, hal itu membuat Ana bersusah paya menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara.


"Jangan ditahan sayang!, bersuaralah sesukamu. Aku akan senang mendengarnya" ucap Arsenio dengan suara berat.


Ana yang mendengar itu, tidak lagi menahan untuk tidak m*nd*sah, sementara Arsenio terus memperlancar aksinya sampai dimana mereka larut dalam kenikmatan.