
Di waktu yang sama, tampak Ana bergerak menuruni satu persatu anak tangga dengan terburu-buru sampai dimana langkahnya di hentikan oleh Art.
"Maaf nona, tuan Arsenio dan tuan muda sudah berada di ruang tamu" ucap Art.
"Oh mereka sudah sampai ya?"
"Benar nona"
"Ya udah saya ke sana sekarang, terima kasih bi" ucap Ana lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Ana berjalan setengah berlari menuju ruang keluarga dan berhenti setelah sampai.
"Sudah lama ya sampainya?" tanya Ana yang membuat Rangga, Arsenio dan Alvis melihat ke arahnya.
"Belum ko, kami baru saja sampai" sahut Arsenio.
"Mommy" pangil Alvis.
"Iya sayang"
Ana berjalan menghampirinya lalu duduk di samping suaminya dan memposisikan Alvis duduk di pangkuannya.
"Kana mana?" tanya Arsenio yang tidak melihat Kana datang bersama Ana.
"Masih di kamar, bentar lagi turun" sahut Ana.
Pandangan Ana beralih pada Rangga "Maaf ya pak, sudah menunggu lama. Soalnya Kana juga baru bangun sekarang" ucap Ana.
"Tidak apa-apa nona, saya justru senang menunggunya" jawab Rangga.
"Benarkah?" tanya Ana tak percaya.
"Benar nona"
"Ha?, jadi dari tadi kamu belum bertemu Kana, dan selama itu kamu menunggu di sini?" tanya Arsenio tak percaya.
Rangga menggangguk "Benar tuan" jawab Rangga.
"Wow gila, Kana harus tahu ini!, benarkan sayang? " ucap Arsenio.
"Ya, aku sudah memberitahunya. Semoga hatinya cepat luluh" ujar Ana.
"Ya aku juga berharap seperti itu nona" batin Rangga.
"Eh baru dibilang, orangnya sudah datang" lanjut Ana yang membuat Rangga menoleh ke arah yang di tatap oleh Ana dan diikuti oleh Arsenio dan juga Alvis.
"Wow, aunty sudah makin cantik. Padahal baru beberapa hari tidak melihat aunty eh tau-taunya udah makin canti aja" ucap Alvis yang membuat Kana senyum-senyum mendengarnya.
"Ya tuhan, lihat anakmu mas, dia bahkan sekarang di bisa berkata-kata seperti itu seperti orang dewasa aja" ucap Ana tak percaya.
"Biasa ngikut aku dia" jawab Arsenio sambil tetawa.
"Masa sih?, memanyanya mas dulu seperti itu?" ucap Ana.
"Tentu saja, kalau ngak percaya sana tanya mama!" kata Arsenio.
Sementara Rangga yang melihat Kana segerah bangkit dari duduknya, berjalan mengampiri Kana.
Arsenio dan Ana yang ikut mendengar segerah menoleh kearah mereka.
Kana yang sadar akan hal itu segera mengisyaratkan pada Rangga bahwa Ana dan Arsenio ada bersama mereka, namun Rangga tidak peduli dan tetap mengengam tangan Kana hendak menunggu jawaban darinya.
"Kalau di tanya itu dijawab dong, jangan diam aja" ucap Ana.
"Heheh iya, ini udah mau di jawab" ucap Kana.
Kana kembali menatap Rangga "Saya ngak apa-apa pak" jawabnya lalu melepaskan tanganya dari gengaman tangan Rangga.
"Permisi" ucap Art yang membuat semuanya melihat kearahnya.
"Makan malamnya sudah siap" lanjut Art.
"Oh iya, terima kasih bi" ucap mereka hampir bersamaan.
"Sama-sama" sahut Art sebelum berpamitan pergi.
"Ayo pak, tuan, Ana dan dede Alvis, meja makan ada di sebelah sana" ucap Kana menunjuk tempat yang di maksud.
"Ayo mas, nanti makananya keburu dingin" ucap Ana lalu bangkit dari dudukya, membawah Alvis dan suaminya lebih dulu menuju meja makan.
Kana yang hendak berjalan mengikuti Ana segera di cegah oleh Rangga.
"Tunggu!" kata Rangga sambil menahan tangan kanan Kana yang membuat Kana kembali menoleh ke arahnya
"Kana, aku benar-benar serius. Mohon beri aku kesempatan" ucap Rangga serius.
Kana yang mendengarnya pun diam dengan kepala sedikit di tundukan dan akan berbicara ketika Rangga bertanya padanya.
"Apa kamu mendengar apa yang aku ucapkan barusan?"
Kana menggangguk "Saya mendengarnya pak"
"Lalu apa tanggapanmu?"
Kana yang mendengar itu akhiranya memberanikan diri menatap Rangga.
"Apa saya bisa percaya kalau bapak benar-benar serius dengan persaan bapak terhadapku?" ucap Kana menjeda ucapannya.
"Bapak tahu sendiri, aku baru saja mengalami suatu peristiwa dan peristiwa itu cukup membuat saya ragu dengan keseriusan dari seorang laki-laki" lanjut Kana.
Rangga diam sejenak dengan tatapan penuh arti ditujukan pada Kana.
"Apa aku harus membuktikan keseriusanku soal perasaanku?, dengan begitu kamu akan mempercayai keseriusanku padamu" Rangga balik bertanya.
Kana menunduk sejenak lalu kembali menatap Rangga "Ya sepertinya saya membutukan itu" jawab Kana pelan namun masih dapat di dengar oleh Rangga.
"Baiklah aku akan membuktikannya" ucap Rangga sedikit menjeda ucapanya.
Rangga meraih kedua tangan Kana lalu digengamnya, tatapannya lurus kepada Kana dan dengan sedikit rasa gugup Rangga berkata.
"Menikahlah denganku minggu depan"