My Love Story

My Love Story
Bab 122



Ana dan Arsenio tampak berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah mereka, semua nampak indah dan tertata dengan rapi.


"Bagaimana sayang?, apa kamu menyukainya?" tanya Arsenio di selah-selah langkah mereka.


"Ya, aku menyukainya" sahut Ana.


Arsenio menghetinkan langkahnya tepat di depan pintu kamar, hal itu membuat Ana ikut berhenti.


"Sini kamar kita, apa kamu sudah siap untuk melihatnya?" tanya Arsenio sambil menatap Ana. Ana pun mengganggukan kepala sebagai jawaban.


"Ayo bukalah, dan lihatlah kamar kita!" ucap Arsenio mempersilakan.


Mendengar ini Ana perlahan berjalan lebih dekat dengan pintu, meraih daun pintu lalu memutarnya, perlahan-lahan pintu terbuka menampakan hampir sebagian dari kamar tersebut.


"Waah, besar sekali kamarnya, bisa muat satu keluarga nih" gumam Ana dalam hati.


Ana berjalan masuk dan Arsenio menyusulnya dari belakang, Ana memutar bola matanya menatap seluruh kamar yang telah di lengkapi berbagai jenis fasilitas di sana.


"Jika ada yang perlu kamu tambah atau pun di ubah katakanlah, aku akan mengubahnya atau menambahnya untukmu" ucap Arsenio yang berdiri tepat di belakang istrinya.


"Sepertinya ini sudah lebih dari cukup" ucap Ana sambil menoleh menatap suaminya.


Tampa menunggu lama Ana segera memeluk erat suaminya, yang langsung di balas oleh Arsenio.


"Terima kasih, aku benar-benar menyukainya" ucap Ana dengan posisi menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


"Apa kamu senang?" tanya Arsenio.


Ana mendongkakan kepalannya agar bisa menatap wajah suaminya "Ya, bahkan aku sangat senang" jawab Ana sambil tersenyum.


Tatapan mereka kemudian bertemu untuk beberapa saat sampai tiba di mana Ana lebih dulu cepat memalingkan wajahnya namun segera di hentikan oleh Arsenio.


"Kenapa?, kenapa tidak menatapku lebih lama lagi?" tanya Arsenio dengan posisi kedua tanganya di letakan ke pipi kanan dan kiri Ana.


"Aku ngak bisa" sahut Ana berusaha melihat ke arah lain, berharap Arsenio tidak melihat wajahnya yang kini telah memerah karena malu.


Sementara Arsenio yang melihatnya pun tersenyum, gemas dengan tingkah istrinya.


"Sayang" pangil Arsrnio.


"Hmm" sahut Ana yang akhirnya kembali menatap Arsenio.


"1 2 3" hitung Arsenio dalam hati dan


Cup


Satu kecupan mendarat di bi*ir Ana, Arsenio menarik Ana agar lebih dekat dengannya, sampai dimana ia dapat merasakan detak jantungnya.


Sementara Ana tampak menikmati itu, ini kali pertamannya ia tidak menolak aksi suaminya, bahkan Ana tampak sesekali membalas ciuman suaminya hal itu membuat Arsenio engan untuk menyudahi aksinya.


Tok... Tok..


Suara ketukan pintu berhasil menyadarkan Ana, membuatnya segera mendorong Arsenio lembut agar segera menyudahi aksinya.


Arsenio mendengus kesal "Siapa sih?, mengganggu saja!" ucap Arsenio dengan tatapan tertuju pada pintu.


"Udah di buka aja dulu, siapa tahu penting" ucap Ana.


"Tunggu sebentar sayang, aku lihat dulu" ucap Arsenio lalu berjalan menuju pintu.


"Dasar bodoh!, Aku kenapa sih ngak bisa menolaknya? malah menikmatinya sih" gerutu Ana pada dirinya.


Arsenio meraih daun pintu lalu memutarnya, pintu perlahan terbuka menampakan sosok pria berdiri tegak di depan pintu.


"Mohon maaf menggaggu waktunya tuan" ucap pria itu.


"Ada masalah apa kau datang ke sini?" tanya Arsenio dingin.


"Itu tuan, tuan muda, sedang menangis meminta makan. Art sudah membujuknya makan, namun tuan muda ingin makan bersama tuan dan juga nona" ucap pria itu yang merupakan salah satu dari pria yang menjaga Alvis di taman mainnya.


"Ada apa?" tanya Ana yang juga ikut menyusul Arsenio ke pintu.


Arsenio yang mendengarnya pun segera menoleh "Alvis, ia ingin makan bersama kita" sahut Arsenio.


"Ya ampun🤦 , aku lupa. Ini kan sudah siang Alvia kan belum makan siang" ucap Ana yang baru mengingatnya.


"Terus ada dimana anakku?" tanya Ana pada pria itu.


"Duh dibagian mana meja makannya ya?, tadi sih sempat lihat tapi udah lupa dimana letaknya" pikir Ana.


"Pak tolong tunjukin dimana meja makannya ya!" ucap Ana.


"Baik nona" sahut pria itu.


"Ayo mas, kamu juga pasti belum makan" Ana menarik tangan Arsenio.


Ketiganya sama-sama berjalan menuruni tangga.


Setelah cukup lama berjalan mereka pun sampai, tampak Alvis duduk di salah satu kursi di meja makan sambil menangis.


"Mommy" pangil Alvis sambil turun dari kursi dan berlari menghampiri Ana.


"Ya ampun sayang, maafkan mommy. Mommy lupa kalau kamu belum makan" ujar Ana sambil memeluk Alvis.


"Ya udah kita makan sekarang ya mommy akan menyuapmu" ucap Ana melepaskan pelukannya.


Sementara Arsenio menatap dingin Art dan kedua pria yang bertugas menjaga Alvis.


"Kalian bisanya apa sih?, apa kalian ingin membuat anakku kelaparan ha?" bentak Arsenio.


Art dan kedua pria itu diam, semuanya tampak merunduk tidak punya keberanian menatap lurus Arsenio.


"Hanya mengurus anak kecil saja ngak bisa. Terus kalian bisanya apa?" lanjut Arsenio tampa menurunkan nada suaranya.


Ana berdiri lalu mendekati Arsenio "Sudah, mereka ngak salah ko, pasti mereka sudah bersusah paya membujuk Alvis, tapi kamu tahu?, Alvis tipe anak yang ngak mempan dibujuk oleh orang-orang yang baru di temuinnya"


"Aku tahu mas juga lapar, ayo kita makan siang bersama!" lanjut Ana.


Arsenio pun menghela nafas panjang "Kali ini kalian saya maafkan. Tapi ingat jika hal seperti ini terjadi lagi, kalian pasti tahu apa yang akan saya lakukan" ucap Arsenio.


Arsenio berganti menatap Alvis yang telah berhenti menangis "Ayo sayang, kita makan.


Tuh sudah ada banyak makanan disana" ucap Arsenio duduk berjongkok di depan putranya.


Sementara Alvis tampak menggangguk sebagai jawaban, Arsenio yang melihat itu pun langsung mengendongnya dan membawahnya kembali ke meja makan.


Arsenio memposisikan Alvis duduk dia antara meraka. "Mau makan apa sayang?, biar daddy ambilin" tanya Arsenio.


"Daddy?"


"Iya sayang" Ana pun ikut menatap putranya yang kini memilih menatap ayahnya.


"Daddy jangan marah lagi ya sama mereka, mereka sudah susah paya memasak makanan sebanyak ini mereka juga tadi sudah membujuk aku agar mau makan. Tapi aku ngak mau" kata Alvis sedikit menjeda upannya.


"Dan aku menangis tadi bukan karena aku lapar, melainkan aku takut pada dua pria itu" ucap Alvis sambil menunjuk orang yang di maksudnya sementara Ana dan Arsenio pun ikut melihat ke arah yang di tunjuk Alvis.


"Mereka terus saja mengikutiku kemana pun aku pergi, dan lihat!, mereka terus-terusan dengan eksperesi seperti itu ngak pernah senyum" jelas Alvis.


"Ya ampun sayang, kenapa ngak bilang sama daddy?, daddy kan jadi khawtir kamu kenapa-kenapa karena telat makan" ucap Arsenio, sementara Ana tampak menahan tawanya karena mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, ya walaupun dia juga sempat merasa khawatir.


Arsenio berganti menatap kedua pria yang di maksud putranya "Kalian dengar kan apa kata anakku"


"Iya tuan" sahut mereka bersamaan.


"Maka dari itu, kalian sekali-sekali terseyum kepadanya, kalian juga bertampilan seperti serang ini jika berada di luar saja, jika di lingkungan rumah kalian berpenampilan bisa saja agar anak sayang tidak takut" jelas Arsenio.


"Baik tuan" sahut kedua pria itu bersamaan.


Arsenio kembali menatap putranya.


"Mereka itu memang segaja daddy tugaskan untuk menjaga anak daddy dan mommy makanya mereka terus mengikutimu" ujar Arsenio sambil menyentu hidung Alvis dengan jari telunjuknya.


"Jadi, Alvis ngak boleh takut ya, sama mereka. Mereka orang baik ko" lanjut Arsenio.


"Baik daddy" sahut Alvis.


"Ya udah, sekarang Alvis mau makan apa?, nanti mommy ambilin.


"Aku mau makan itu mommy" ucap Alvis sambil menujuk makanan yang dimaksud.


Setelah memberikan makanan yang di inginkan putranya Ana melanjutkan mengambilakan makanan untuk suaminya dan yang terakhir mengambil untuknya.


Ketiga tampak menikmati makan siang bersama.