
Ana meletakan kembali ponselnya, memberanikan diri menatap suaminya.
"Mas, ayo bercerai" ucap Ana serius.
percayalah saat ini tanganya gemetar, melihat tantatapan suaminya saat mendengar ucapan yang di lontarkannya.
"Mau mati kamu!" pekik Arsenio dengan kedua tangan diremas, dengan secapat kilan kini ia telah berada di depan Ana.
"Coba saja jika kamu berani mengucapkan kata itu satu kali lagi!. Akan aku pastikan kamu akan menyesalinya!" sabung Arsenio dengan suara tinggi.
Ana berusaha mengumpulkan sisa keberanianya, berlahan bangkit dari duduknya lalu menatap suaminya.
"Kenapa?, kenapa tidak ingin melepaskanku?, Bukankah dulu ini yang mas inginkan?"
"Itu dulu Na!, ingat itu dulu tidak dengan sekarang apa kamu mengerti?"
"Apa bedanya dulu dengan sekarang mas?, bukankah sama saja, kita masih saja berpura-pura saling mencintai, bersikap selayaknya suami istri hanya di depan keluarga kita"
"Gila!, dari mana kamu dapatkan keberanian ini, sampai berani beraduh mulut denganya"
"Tolonglah, lepaskan aku mas. Aku hanya tidak ingin berlama-lama menyakiti hati mama" ucap Ana dengan suara melemah.
"Lantas bagaimana dengan perasaanku?,apa kamu tidak memikirkannya?"
Ana terdiam, berusaha menahan kedua lututnya yang gemetar agar mampu berdiri dengan kokoh.
"Kenapa diam?. Jawab aku!" pekik Arsenio yang membuat Ana bergerak mudur.
Ana mengakat kepalanya, menatap lurus suaminya.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Ana serius.
Arsenio terdiam, ia tidak pernah menduga Ana akan bertanya seperti itu padanya.
"Lihat bahkan mas tidak dapat menjawab pertanyaanku!. Lantas bagaimana bisa aku memikirkan perasaan mas, sementara mas sendiri tidak tahu perasaan mas terhadapku"
Ana mengeluarkan suarat cerai yang telah ia tanda tangani dan meletakannya di atas meja.
"Sudah larut malam aku harus pulang!" ucap Ana lalu berjalan keluar.
Arsenio menatap kertas di atas meja, mengambilnya lalu membacanya.
Pandanganya beralih pada pintu keluar meramas ketas yang di pegangnya dan membuangnya ke sembarang arah.
"Dasar bodoh!. Jika aku tidak mencintaimu ngapain aku bersusah paya memikirkan cara membatalkan perceraian kita"
Di dalam mobil.
Ana menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil, menghela nafas panjang dan berlahan memejamkan matanya.
"Ngapain masih bertanya seperti itu padanya?, jelas-jelas kamu tahu dia tidak mencintaimu, dasar bodoh!" gerutu Ana pada dirinya.
Memperbaiki posisi duduknya dan menatap lurus ke depan. Melajukan mobil keluar dari halaman Apartemen.
Tampak Rany berjalan kesana kemari sambil sesekali melihat ke luar melalu jendela.
"Kemana perginya anak itu, sudah jam begini belum juga pulang"
Suara mobil membuat Rany segera membuka pintu dan melihat ke luar, Ana menghentikan mobilnya di tempat bisanya ia parkir lalu turun dari mobilnya.
"Kamu kemana aja?, mama khawatir lo" Rany berjalan menghampiri putrinya.
Ana tersenyum lalu memeluk ibunya, menepuk lembut pundak ibunya.
"Aku baik-baik aja ma" melepaskan pelukannya berganti mengengam erat kedua tangan ibunya.
"Mama tidak lagi marah kan sama aku?" Ana menatap ibunya.
"Kenapa menagis?, kamu ngak apa-apa kan?, apa ada yang nyakitin kamu di luar sana?, bilang sama mama biar mama cari orangnya terus beri dia pelajaran" ucap Rany khawatir lalu kembali memeluk putrinya dan menepuk lembut bahunya.
"Aku ngak apa-apa ma, hanya terharu saja. Terima kasih sudah menjagaku selama ini" ucap Ana sambil menghapus air matanya.
Rany yang mendengarnya pun tersenyum.
"Ayo masuk!, di luar dingin" Rany menarik tangan putrinya membawahnya masuk ke dalam rumah.
Ke esokan harinya, tanpak Ana bersiap-siap berangkat ke kampus, di ambilnya tas dan beberapa bukunya lalu berjalan keluar kamar.
"Mau ke kampus ya?" Rany menatap kearahnya.
"Iya ma, mama ngak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" ucap Ana berjalan menghampirinya.
"Ngak apa-apa ko. Ingat di kampus jangan jajan sembarangan!, kasian dede bayinya"
"Oh iya, aku kan belum memberitahukan mamaš¤¦. Aku tunggu mas Asenio menandatangani surat cerainya, jika sudah dia tanda tangani baru itu aku beritahu ibu soal kehamilan pura-pura"
"Iya ma, aku pergi ya?" Ana menyalimi ibunya.
"Hati-hati bawah mobilnya!"
Ana mengangguk lalu berjalan keluar, masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil menuju kampus.
Suasana kampus tampak ramai seperti biasanya, Ana memarkir mobilnya lalu berjalan masuk.
"Hey, sudah datang ya?" sapa Ana lalu duduk.
"Seharusnya aku yang tanya begitu, aku kan selalu datang lebih awal" Kana terkekeh.
"Iya... iya aku sadar ko kalau datang selalu hampir telat" Ana cemberut.
"Idih gitu saja gambek" gelitik Kana.
"Hahaha, cukup Kana!, geli tau"
"Siapa suruh pasang wajah cemberut!" Kana menghetikan aksinya begantian menatap lekat Ana yang sedang mengeluarkan polpen dan alat tulis lainnya dari tasnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?, ada yang salah dengan penampilanku" ucap Ana yang sadar Kana terus menatapnya.
"Hmmm, kalau di lihat-lihat makain besar ya?" ucap Kana curiga.
"Apanya yang besar?" Ana menatap Kana dari samping.
"Tuh... " jawab Kana menatap bagian yang di maksudnya.
Ana menatap bagian yang di maksud Kana lalu kembali menatap Kana.
"Iya, aku juga binggung kenapa bisa gitu, sampai-sampai aku harus membeli bra yang ukuran lebih besar lo" ungkap Ana serius.
"Kenapa harus binggung?, lebih bagus kan begitu" Roby yang baru saja muncul dari belakang.
Kedua wanita itu pun berbalik menatapnya. Seketika raut wajah Ana beruba menjadi merah padam.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Kana tidak suka.
"Baru saja" jawab Roby santai.
"Kamu menguping ya?" tebak Kana.
Roby mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"Ngak tahu, apakah itu termasuk menguping atau tidak"
"Dasar mes*m!" ucap Ana dan Kana bersamaan melemparkan buku yang berada di atas meja mereka ke arah Roby.