
"Apakah anak kecil itu putramu?" tanya pria itu melihat ke arah Alvis.
Arsenio menatap Alvis sekilas sebelum kembali menatap pria itu.
"Langsung ke intinya saja, apa yang membuatmu datang mencariku?" Arsenio dengan mode serius.
"Jika dia benar putramu, bukankah dia cucukku?" ucap Albern.
Ya pria itu adalah Albren, yang merupakan ayah Roby.
"Jika anda tidak mengatakan maksud anda datang kemari maka silakan anda keluar!" ucap Arsenio tegas.
"Baik, kamu tenang dulu!. Aku akan mengatakan tujuanku datang menemuimu" ujar Albern.
"Aku pikir kamu sudah tahu maksud kedatang aku ke sini" ucap Albern sementara Arsenio menatapnya curiga.
"Aku sebelumnya tidak pernah meminta apapun kepadamu, untuk kali ini saja aku mohon turutilah permintaanku!" ucap Albern serius.
"Ngak!. Tidak ada kebebasan untuk seorang yang telah membuat istri saya mengalami masalah mental!" ucap Arsenio yang mengerti ke arah mana maksud pembicaraan Albern.
"Tapi dia saudaramu" ujar Albern.
"Siapa bilang saya punya saudara?, hanya saya yang lahir dari rahim ibuku, itu artinya saya tidak punya saudara" ucap Arsenio yang mulai tersulut emosi.
Albern diam kepalanya sedikit di tundukan dan itu berlangsung untuk beberapa menit.
"Kalian benar-benar bersaudara. Karena kalian memiliki ayah yang sama yaitu aku" ucap Albern sambil menujuk dirinya.
Arsenio tersenyum sinis "Oh ternyata saya punya ayah juga seperti orang-orang pada umumnya?. Ko saya baru tahu ya?"
"Seseorang yang telah meninggalkan anaknya sejak kecil dan kembali mencari anaknya ketika dia sudah dewasa itu pun hanya karena menginginkan sesuatu darinya. Apakah sosok seperti itu pantas disebut seorang ayah?"
Albern kembali terdiam, sementara Alvis yang sudah menyelesaikan ritual makannya datang menghampiri ayahnya dan duduk tepat di tengah-tengah Arsenio dan juga Albern.
"Sudah dihabiskan makanannya?" tanya Arsenio yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alvis.
Alvis menatap sekilas Albern sebelum kembali menatap ayahnya "Aku boleh ngak pinjam hp daddy?, mau main game" ucap Alvis pada Arsenio.
"Tentu saja boleh, tuh hp daddy ada di atas meja sana 'menunjuk kearah meja kerjanya' kamu bisa mengambilnya disana" ucap Arsenio.
"Bagaimana kalau aku main disana aja?" tanya Alvis lagi.
"Boleh sayang boleh" ucap Arsenio sambil tersenyum.
"Terima kasi daddy" ucap Alvis lalu bergerak turun dan berjalan menuju meja kerja Arsenio.
"Dia sangat mirip denganmu" ucap Albern yang membuat Arsenio kembali menatapnya.
"Tentu saja, dia kan anakku" ucap Arsenio.
Keduanya kembali diam untuk beberapa saat sebelum Albern kembali berbicara.
"Aku benar-benar mengaku salah, meninggalkan kamu dan juga ibumu. Dengan kesalahan terbesarku itu, aku tidak memaksamu untuk mengakuiku sebagai seorang ayah, dan juga mengakui Roby sebagai saudaramu" ucap Albern menjeda ucapanya.
"Aku benar-benar meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan Roby padamu dan juga istrimu. Aku sudah memperingati Roby untuk berhenti mendekati Ana, karena Ana sudah berstatus istri orang dan lagi orang itu adalah kamu"
"Namun, dia benar-benar mencintai Ana segala usaha dia lakukan untuk mendapatkan Ana. Namun usahanya selalu gagal, hal itu membuatnya stres yang berujung menggagu mentalnya"
"Aku tahu, apa yang dilakukan Roby pada istrimu benar-benar suatu kesalahan dan pantas mendapatkan hukuman, namun dengan kondisinya seperti itu aku benar-benar merasa kasihan padanya"
"Maka dari itu aku datang kesini untuk memohon kepadamu agar mencabut tuntutanmu padanya. Aku berjanji akan membawa Roby pulang ke kota kami dan aku juga menjamin dia tidak akan pernah menggaggu rumah tangga kamu dan juga Ana, kalian bisa hidup bersama tampa gangguan darinya" ucap Albern mode serius.
Arsenio diam, dia tampak berpikir keras sebelum kembali berbicara.
"Apakah anda yakin dengan ucapan yang baru saja anda lontarkan?" tanya Arsenio ragu.
"Tentu saja aku yakin dengan apa yang sudah aku katakan!"
"Bagaimana jika anda ingkar dengan janji yang telah anda buat?" tanya Arsenio lagi.
"Beri saya waktu untuk berpikir!. Jika asistenku datang menenmuimu itu artinya saya menyetujuinya dan tentu saja tidak sembarang menyetujuinya. Akan ada suatu perjanjian diatasnya" ucap Arsenio.
"Aku akan menunggu kabar baik darimu" ucap Albern.
Albern berpamitan lalu berjalan keluar ruangan, sementara Arsenio tanpak menghampiri putranya yang nampak serius dengan game kesukaannya.
Di waktu yang sama, tampak mobil yang di kendarai Rangga berhasil sampai di depan rumah Kana.
Rangga mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Kana, sementara di kamar Kana tampak terbaring di atas kasur dan Ana setia menemani di sampingnya.
Ana dikagetkan dengan dering ponsel Kana yang tiba-tiba berbunyi, karena takut menggaggu tidur Kana, Ana pun segera mengambil ponselnya dan melihat pangilan dari siapa. Melihat itu adalah Rangga, Ana pun segerah menerima pangilan telefon.
📞"Halo Na, aku sudah di depan rumahmu. Boleh ngak aku masuk?" ucap Rangga setelah sambungan telefon terhubung.
📞"Kananya lagi tidur, jadi saya yang mengangkat telefonnya karena takut menggaggu tidur Kana" ucap Ana.
📞"Maaf,,maaf nona, saya benar-benar tidak tahu jika nona yang akan mengangkat telefonya" ujar Rangga.
📞"Iya ngak apa-apa, kamu ingin bertemu dengannya ya?"
📞"Benar nona, itu pun jika diizinkan" sahut Rangga.
Ana menghela nafas 📞"Maaf ya, boleh ngak jangan sekarang?, saya tahu kamu sangat menghkawatirkan Kana. Tapi Kana masih butuh istrahat, kamu boleh bertemu dengannya jika dia sudah bangun" ucap Ana.
📞"Maaf nona, apakah saya bisa tahu kapan saya bisa bertemu denganya?" tanyq Rangga.
📞"Hmm, mungkin malam" sahut Ana.
📞"Baik saya akan menunggunya" ucap Rangga.
Ana yang mendengarnya pun terkejut "Hey!, kau boleh pulang dulu kali, dari pada menunggu di luar" batin Ana.
📞"Ya udah, saya tutup telefonya ya"
📞"Iya nona"
Sambungan telefon pun terputus, Ana menatap layar ponsel Kana "Apa aku suruh dia masuk aja?, dia kan bisa menunggu di ruang tamu sambil nonton tv" gumam Ana.
Setelah cukup lama berpikir Ana pun bergerak turun dari ranjang, berniat untuk menyuruh Art untuk membukakan pintu buat Rangga.
"Bi.. " pangil Ana setelah berhasil keluar dari kamar Kana.
"Iya nona" sahut Art lalu berjalan kearahnya.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Art setelah sampai.
"Bi, diluar ada asisten suami saya. Boleh ngak saya minta tolong di bukakan pintu pagarnya dan biarkan dia masuk" ucap Ana dengan suara lembut.
"Baik nona, saya akan pergi membukakan pintu pagarnya sekarang"
"Dan satu lagi, suruh dia tunggu di ruang tamu ya, dan buatkan sekalian minum untuknya" lanjut Ana.
"Baik nona"
"Sebelumnya terima kasih, maaf sudah merepotkan" ucap Ana.
"Ngak apa-apa nona, ini kan sudah menjadi tugas saya" ucap Art sementara.
"Iya, tapi saya tetap harus berterima kasih pada bibi"
"Iya sama-sama nona, kalau begitu saya permisi mau ke depan bukain pintu untuk asisten tuan Arsenio" ucap Art.
"Ya sialakan" jawab Ana.
Ana kembali masuk ke kamar sementara Art berjalan keluar untuk menjalankan tugasnya.