
Setelah cukup lama perjalanan Rangga pun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan.
"Kita sudah sampai, ayo turun!" ucap Rangga sambil membuka sabuk pengamannya.
"Aku harus secepatnya maafkannya, dengan begitu dia tidak perlu lagi datang-datang mencariku" pikir Kana.
Melihat Kana diam, Rangga berinisiatif untuk membuka sabuk pengaman untuk Kana.
"Mau apa?" Kana menyilangkan kedua tanganya di depan dadanya.
"Nih hanya mau buka ini" ucap Rangga sambil menunjukan sabuk pengan yang berhasil dibukannya.
"Pak" pangil Kana setelah Rangga hendak keluar dari mobil.
"Ada apa?" Rangga menoleh ke arahnya.
"Saya ingin bicara serius dengan bapak" ujar Kana.
"Aku pun ingin bicara serius denganmu. Tapi bukan disini, kita bicara aja didalam sambil makan" ucap Rangga lalu keluar dari mobil.
"Baiklah, ikuti aja maunya" gumam Kana dalam hati lalu hendak membuka pintu mobil namun lebih dulu dibuka oleh Rangga.
"Saya bisa sendiri" ucap Kana lalu turun sementara Rangga yang mendengarnya tampak diam.
Keduanya berjalan memasuki rumah makan dengan posisi Rangga berjalan di depan dan di susul oleh Kana dari belakang.
"Mba" pangil Rangga sementara yang di pangil segera datang dan membawa daftar menu makanan.
"Silakan" ucapnya sambil meletakan daftar menu makanan di atas meja.
Kana tampak mengambil menu makan tersebut lalu memesan makanan yang ingin di makannya begitu juga dengan Rangga.
Wanita itu kembali untuk menyiapkan makanan pesanan mereka sementara Kana tampak diam, bertepatan mereka memilih meja yang berdekatan dengan jendela, maka pandangan Kana terus tertuju ke jalan.
"Kana" pangil Rangga, hal itu membuat Kana menoleh ke arahnya.
"Iya pak" sahut Kana.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku atas apa yang aku lakukan padamu?" tanya Rangga.
"Aku akan melakukan apapun itu asalkan kamu mau memaafkanku" lanjut Rangga serius.
"Tidak perlu melakukan apapun pak!, saya sudah melupakan kejadian kemarin. Dan sekalipun saya masih mengingatnya saya pasti sudah memaafkan bapak" ucap Kana.
"Jadi kumohon setelah ini jangalah datang menemuiku, apalagi menemuiku di kantor" lanjut Kana dalam hati.
"Bagaimana bisa dalam waktu sekejam dia melupakan kejadian itu? yang bahkan aku sulit untuk melupakannya" batin Rangga.
"Bahkan bayangan itu terus saja muncul di dalam pikiranku dengan sangat jelas, dan itu sungguh membuat jantungku hampir keluar dari tempatnya" pikir Rangga.
"Kamu sungguh sudah memaafkanku?" tanya Rangga masih tak percaya.
Kana menggangguk "Ya, saya telah memaafkan bapak" jawab Kana sambil berusaha tersenyum.
"Lihat! bahkan senyum itu sudah berhasil membuat jantungku berdebar" pikir Rangga sambil memegang dadanya, hal itu tak luput dari pandangan Kana.
"Kenapa pak?, apa dadanya sakit?" tanya Kana dengan raut wajah khawatir.
Mendengar itu Rangga segera menurunkan tangannya "Ngak ko, aku baik-baik saja" sahut Rangga dengan mode cool.
"Rangga, kamu sebenarnya kenapa sih?. Berhentilah bersikap bodoh!. Sadarlah ayo sadarlah, aku tahu kamu bukan laki-laki yang bisa diluluhkan semudah itu oleh wanita!" gumam Rangga dalam hati.
"Bapak yakin ngak apa-apa?, apa kita ke rumah sakit aja?" tanya Kana yang masih terlihat khawatir.
"Ya, jangan khawatir aku baik-baik saja"
Kana menoleh menatap wanita yang tadi sementara berjalan kearah mereka dengan makanan pesanan mereka di tangannya.
"Mba, boleh cepat sedikit!" ucap Kana.
"Iya mba" sahut wanita itu lalu mpercepat langkahnya.
Setelah sampai, wanita itu segera meletakan makanan yang telah di pesan lalu mempersilakan mereka menikmatinya.
"Makasih mba" ucap Kana sambil tersenyum.
"Sama-sama" sahut wanita itu lalu pergi.
Kana beralih menatap Rangga "Ayo pak dimakan makanannya!, sepertinya maag bapak kambuh ya, karena telat makan siangnya?. Saya juga sering seperti itu"
"Maafkan saya, bapak jadi telat makan siangnya gara-gara menunggu saya" lanjut Kana.
Sementara Rangga yang mendengarnya terlihat senyum-senyum sambil menatap wajah Kana yang saat ini tidak melihat kearahnya.
"Entah mengapa aku suka dengan sikap Kana yang seperti ini" pikir Rangga.
"Pak" Kana melambaikan tangannya di depan Rangga.
"Helo pak"
"Maaf.. maaf, ada apa ya?" ucap Rangga tersadar dari lamunanya.
"Bapak kenapa?, Bukannya makan malah senyum-senyum ngak jelas" ucap Kana.
"Tuh, makanannya di makan pak, agar dadanya ngak sakit lagi" lanjut Kana.
"Iya, ini udah mau di makan" ucap Rangga.
Keduanya tampak menikmati makan siangnya bersama.
Diwaktu yang sama, Ana dengan Alvis yang berada di sampingnya dan kedua pria yang bertugas menjaga Alvis berada di belakangnya. Mereka tampak menuju lobi perusahaan.
"Permisi mba" ucap Ana kepada dua wanita yang bertugas di sana.
"Iya, ada yang bisa kami bantu?" tanya dua wanita itu hampir bersamaan.
"Tuan Arsenionya ada?" tanya Ana.
Kedua wanita itu saling berpandangan sebelum menjawab pertanyaan Ana.
"Ada" sahut salah satu dari wanita itu.
"Apa dia tidak sibuk?, saya ingin bertemu dengannya" ucap Ana.
"Maaf, apa mba sudah membuat janji sebelumnya?"
"Kenapa harus membuat janji jika... "
"Ssttt" ucap Ana menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebelum pak Benito menyelesaikan ucapannya.
"Belum" sahut Ana kembali menatap kedua wanita itu.
"Oh gitu ya" ucap Ana.
"Benar mba"
"Mommy" pangil Alvis yang membuat kedua wanita itu ikut melihat ke arahnya.
"Apa sayang?" ucap Ana.
"Kenapa mommy?, apa kita tidak di izinkan untuk bertemu dengan daddy?" tanya Alvis dengan kepala menengada agar bisa melihat wajah ibunya.
Mendengar pertanyaan Alvis kedua wanita itu terkejut, mereka saling berpandangan satu sama lain.
"What?, jangan bilang dia adalah istri dari tuan" bisik salah satu dari mereka.
"Ya tuhan jika itu benar, matilah kita😥"
"Ya, di depan saya adalah nona Ana istri dari tuan Arsenio dan di sebelah adalah putranya" ucap pak Surya yang sadar akan kecemasan kedua wanita itu.
"Maaf, maafkan kami nona, kami benar-benar tidak mengenali anda dan tuan kecil" ucap dua wanita itu dengan kepala ditundukan.
"Ngak apa-apa, aku tau ko. Santai aja" ucap Ana sambil terseyum.
"Apa sekarang saya bisa bertemu dengan tuan Arsenio?" lanjut Ana.
"Tentu saja nona. Silakan, nona bisa menggunakan lift yang ada di sebelah sana, dan ruangan tuan berada di lantai 20" jawab kedua wanita itu secara bersamaan.
"Terima kasih" ucap Ana sambil tersenyum.
Kedua wanita itu tampak sedikit menundukan kepala sebagai jawaban.
Ana menatap Alvis "Jum, ketemu daddy"
"Jum" ucap Alvis bersemangat.
Keduanya pun berjalan menuju lift tak lupa pak Surya dan pak Benito juga ikut bersama mereka. Sementara kedua wanita itu tampak menghela nafas lega.
Ana dan Alvis bergerak mengikuti intruksi kedua wanita yang berada di lobi, dan beberapa menit kemudian lift pun berhenti di lantai yang di tuju.
Perlahan pintu lift terbuka, Ana, Alvis, Pak Surya dan pak Benito keluar dari lift, seorang wanita yang melihat mereka segera menghampiri dan bertanya.
"Permisi, ada yang bisa saya bantu?"
"Tuan Arsenionya ada?" tanya Ana to the poin.
Wanita itu tampak diam sejenak berganti menatap Ana, Alvis, pak Surya dan pak Benito.
"Oh ada di ruanganya. Silakan, ruanganya ada di sebelah kanan saya" ucap wanita itu sambil tersenyum.
"Baik terima kasih" ucap Ana lalu berjalan menuju ruangan yang di maksud sementara pak Surya dan pak Benito menunggu di tempat wanita itu.
"Maaf pak, sepertinya nona akan sedikit lama. Sambil menunggu nona, bapak-bapak bisa duduk di sebelah sana" ucap wanita itu yang merupakan sekertaris Arsenio.
"Baik terima kasih" ucap Pak Surya dan Benito bersamaan.
Tok... Tok...
"Siapa?" tanya Arsenio dari dalam.
Ckrek
Suara pintu terbuka, membuat Arsenio yang tengah bersantai menoleh kearah pintu.
"Daddy..... " pangil Alvis berlari menghampiri Arsenio lalu memeluknya.
"Pelan-pelan sayang" ucap Ana.
"Ya ampun anak siapa ini?" ucap Arsenio lalu membalas pelukan Alvis.
"Anak daddylah" sahut Alvis lalu melepaskan pelukannya.
Sementara Ana berjalan dan duduk di samping suaminya.
Arsenio menatap Ana "Suaminya ngak mau di peluk?"
Tampa basa-basi Ana pun langsung memeluknya dan tak lupa pula mengecup pipi suaminya.
"Gitu dong, udah kangen ya sama aku, makannya datang kesini?" ucap Arsenio.
"Mana ada, tuh anakmu yang ingin sekali kesini" ucap Ana sambil menunjuk Alvis yang berada di samping kiri suaminya.
"Benarkah?"
"Hmm, kalau ngak percaya tanya aja langsung pada anakmu" ucap Ana.
"Iya.. iya aku percaya ko, ngak usah cemberut gitu!" ucap Arsenoi sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Aw... sakit tau"
"Ow sakit ya, sini aku cium biar sakitnya hilang" ucap Arsenio sambil mendekati Ana hendak menciumya, namun lebih dulu di cega oleh Ana.
"Mulai deh modusnya, ngak lihat tuh ada orang yang sudah cemberut" ucap Ana sambil melirik Alvis.
Sementara Arsenio segera menoleh menatap Alvis dan benar saja, bukan hanya cemberut bahkan sudah hampir menangis karena di acuhkan.
"Uduh.. Uduh anak daddy" Arsenio mengangkat Alvis dan membawahnya ke pangkuannya.
"Ngak boleh cemberut!, nanti gantengnya hilang diambil orang" lanjut Arsenio.
"Memang bisa gitu ya?" tanya Alvis dengan wajah cemberut.
"Iya bisa. Makanya kamu ngak bisa cemberut, ayo senyum agar gantengnya ngak hilang"
Alvis yang polos pun percaya dan akhirnya kembali tersenyum.
"Nah, gitu dong" ucap Arsenio.
"Nih, aku bawah makanan. Sengajah aku bawah lebih biar kita bisa makan siang bersama" ucap Ana sambil membuka rantang yang berisi beberapa menu makan siang.
"Wah, enak nih. Apa kamu yang masak?" tanya Arsenio.
Ana menggangguk "Iya dong, aku masak ini spesial buat suami dan anak tercinta" sahut Ana sambil tersenyum.
"Hmm, kalau begini makin sayang kita sama mommy, iya kan sayang?" Arsenio menatap Alvis.
"Iya dong, mommy kan paling best" sahut Alvis.
Ketiganya pun menikmati makan siang bersama.