My Love Story

My Love Story
Bab 54



"Kenapa?, apa kamu takut menatap suamimu sendiri?" tanya Arsenio lagi.


Ana mengganguk sebagai jawaban.


Arsenio yang melihat itu pun menghela nafas panjang, lalu meraih dagu istrinya.


"Sayang, tatap mataku!" pinta Arsenio lembut.


Ana yang mendengarnya pun menuruti perintah suaminya, seketika tatapan mereka bertemu, berlangsung hingga beberapa menit tanpa berbicara. Hal itu membuat denyut jantung keduanya berdebar tak menentu.


"Kenapa mas berbohong mengenai kehamilanku?" tanya Ana berusaha menggalihkan suasana.


"Hanya itu satu-satunya cara agar kita terhindar dari rencana perceraian" jawab Arsenio yang masih dengan posisi yang sama.


"Kenapa mas lakukan itu?, kenapa mas tidak menandatangani surat cerainya saja" ucap Ana sedikit menjeda ucapanya.


"Bukankah mas juga tau kalau kita tidak mungkin bersama!" sambung Ana.


"Kenapa kita tidak mungkin bersama?" bukanya menjawab Arsenio malah kembali bertanya.


"Ya..."


"Ya apa?" tanya Arsenio menatap lurus istrinya.


"Karena kita mempunyai ayah yang sama" jawab Ana.


Arsenio yang mendengarnya pun mencubit hidung istrinya yang membuat sih empuh merintih kesakitan.


"Aw.. sakit!" ucap Ana sambil memegang hidungnya.


"Itu hukuman, karena sembarangan menyimpulkan sesuatu" ucap Arsenio masih menatap istrinya.


"Sembarangan gimana?, kenyataannya begitu ko" ucap Ana cemberut dengan tangan kana masih memegang hidungnya.


Hal itu membuat Arsenio gemas ingin mencubit kembali hidung istrinya.


"Kata siapa kita punya ayah yang sama?" tanya Arsenio.


"Ya kata saya, saya kan yang baru saja mengatakan itu" jawab Ana polos.


"Kalau itu sih, aku juga tau😑" ucap Arsenio.


"Itu tau, kenapa masih nanya?" ucap Ana.


"Gini amat punya istri😪, untung sayang😚. Kalau tidak, sudah ku teriakin di telinganya agar mengerti" gumam Arsenio dalam hati.


"Begini deh, aku merubah pertanyaanku. Kenapa kamu bisa menyimpulakan bahwa kita punya ayah yang sama?" ucap Arsenio.


"Karena ayah mas, ayah saya juga, jadi kita punya ayah yang sama" jawab Ana.


"Gibran bukan ayahku" ucap Arsenio.


"Ha?".


"Aku bilang Gibran bukan ayahku!, jadi kita tidak mempunyai ayah yang sama. Sampai sini mengerti?" ujar Arsenio yang mulai kesal dengan kepolosan istrinya.


Ana mengganguk lalu menjawab.


"Ya saya mengerti".


"Bagus" ucap Arsenio sambil menepuk lembut kepala istrinya.


"Jadi kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi!" ucap Arsenio.


Sementara Ana diam memikirkan bagaimana cara ia menjawab kepada ibunya dan juga yang lainnya soal ke hamilan yang di maksud Arsenio.


Ana yang mendengarnya pun menatap suaminya.


"Bagaimana caranya saya menjawab pada mereka mengenai kehamilan yang mas maksud?, kan saya ngak hamil benaran" tanya Ana.


"Jawab aja 'iya' pada mereka, gitu aja susah" ucap Arsenio santai.


"Berbohong dong?" ucap Ana.


"Berbohongnya juga hanya sebentar" sahut Arsenio asal.


"Ko bisa gitu?" tanya Ana bingung.


Arsenio yang mendengarnya pun menyapu kasar wajahnya dengan menggunakan tangan kananya.


"Tentu saja bisa!. Aku akan membuatmu hamil benaran" jawab Arsenio.


Ana pun terkejut mendengarnya.


"Kenapa?, apa kita buat sekarang aja?. Dengan begitu kita tidak perlu berbohong lagi" ucap Arsenio lalu berjalan mendekati Ana, Ana yang melihat itu pun ikut berjalan mundur hingga tubuhnya menyentu dinding.


"Jangan!" ucap Ana sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya sebagai bentuk perlindungan.


Namun hal itu tak membuat Arsenio menghentikan langkahnya, terus melangkah memangkas jarang di antara mereka, lalu kedua tanganya bersangga pada didinding.


"Kenapa?, bukankah kita sudah pernah melakukanya?" tanya Arsenio.


"Stop!, jangan lakukan apapun!" ucap Ana gugup.


Arsenio pun sersenyum puas, karena berhasil menggoda istrinya. Ditariknya tangan istrinya, membawahnya kedalam pelukannya. Memeluknya dengan lembut dan sangat lama.


"Tetaplah bersamaku!, jangan pernah jauh-jauh dariku!" bisik Arsenio.


Ana diam sejenak lalu mengangguk setuju.


"Kenapa tidak memeluk suamimu?" ucap Arsenio.


Ana yang mendengarnya pun berlahan mengangkat kedua tanganya lalu memeluk suaminya, Arsenio yang mengetahui itu pun tersenyum dan terus memeluk istrinya seperti engan untuk melepaskannya.


Tok... Tok.


Arsenio secara bersamaan melepas pelukannya lalu berbalik menatap ke arah pintu.


"Siapa?" tanya Arsenio.


"Saya!" sahut seseorang dari luar.


"Mama" ucap Ana menatap suaminya.


Ana berjalan mendekati pintu, dan langsung di susul oleh Arsenio. Ana segerah meraih daun pintu lalu memutarnya, pintu berlahan terbuka, tanpak Rany berdiri tepat di depan pintu.


"Ayo kita pulang!" ucap Rany.


Ana yang mendengarnya pun menatap suaminya dari samping begitu juga dengan Arsenio.


"Aku ikut ya ma?, aku ingin menjaga Ana dan juga baby di dalam perutnya" ucap Arsenio menatap mertuanya.


"Untuk hal itu, nanti mama pertimbangkan!. Namun untuk saat ini Ana biar mama yang jaga" ujar Rany serius.


"Ayo!" ucap Rany menarik tangan putrinya agar segera ikut denganya.


"Mas, aku pergi ya" pamit Ana.


Rany dan Ana pun melangkah pergi, sementara Arsenio tanpak diam mematung, terus menatap istrinya sampai Ana hilang dari pandanganya.