
Setelah beberapa menit, Rangga dan Kana pun menyelesaikan ritual makannya.
Suasana kembali canggung, karena Kana memilih menatap layar ponselnya sementara Rangga terlihat bersusah paya mencari topik pembicaraan.
"Kana.. " pangil Rangga.
"Hmm" sahut Kana menatap kearahnya tak lupa meletakan ponselnya di atas meja.
"Aduh bagaimana nih?, ko jadi buntu begini" pikir Rangga.
Kana menyeringitkan dahi bingung, karena melihat Rangga yang tidak melanjutkan ucapanya dan hanya menatapnya.
"Helo pak, apa bapak mau ngomong sesuatu?" tanya Kana.
"Ah iya aku ingat" ucap Rangga.
"Ingat apa pak?"
"Tadi, waktu di mobil, kamu mau bicara apa sama saya?" ucap Rangga.
"Oh itu, saya kan sudah ngomong tadi" ucap Kana.
"Yang mana, ko aku ngak tahu?" Rangga megerutkan dahi bingung.
"Saya tuh cuma mau bilang sama bapak, kalau saya sudah memaafkan bapak. Jadi bapak tidak perlu lagi merasa bersalah. Dan lagi, kejadian itu pun sudah saya lupakan. Jadi bapak bisa kembali bekerja dengan hati yang tenang" jelas Kana.
"Ha?, apa Kana tahu aku sedang ambil cuti?" pikir Rangga.
Kana menatap jam yang melingkar di tangan kirinya "Waduh harus cepat kembali nih, aku sudah telat" gumam Kana dalam hati.
Pandangan Kana beralih menatap Rangga "Pak, karena semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi malah di antara kita. Maka dari itu saya pamit mau kembali bekerja" ucap Kana lalu bangkit dari duduknya.
"Tunggu!" Rangga menahan tangan Kana dan juga ikut berdiri.
"Aduh, apa lagi sih?, aku bisa dimarahin karena telat kembali" pikir Kana.
"Aku mohon tolong dengarkan aku dulu!" ucap Rangga.
Kana kembali menoleh menatap Rangga.
"Mungkin, kamu biaa saja ngak percaya sama aku. Tapi sesungguhnya apa yang aku katakan ini adalah sesuatu yang benar" ucap Rangga.
"Hal apa itu?" tanya Kana serius.
Rangga melepaskan tangan Kana lalu kembali duduk "Kamu bisa duduk dulu, aku akan memberitahumu sesuatu" ucap Rangga.
Kana tampak berpikir sejenak lalu akhirnya duduk kembali "Apa yang ingin bapak beritahu ke pada saya?" tanya Kana yang juga merasa penasaran.
"Aku tahu kamu menyukai bos kamu itu. Saran dariku, kamu tidak perlu mempercayai apa yang di katakan bos kamu itu!, apalagi menerima peryataan cintanya"
Kana yang mendengarnya pun terkejut "Kenapa dia bisa tahu, apa dia sedang memata-mataiku?" pikir Kana.
Kana bangkit dari duduknya "Bapak memata-mataiku kan?. Apa maksud bapak melakukan itu padaku. Apa Ana yang menyuruhmu atau tuan Arsenio yang menyuruhmu?" ucap Kana dengan nada suara sedikit meninggi.
Rangga menoleh ke sekeliling, terlihat beberapa orang melihat kearah mereka.
"Bukan, aku tidak di suruh oleh siap-siapa, dan lagi aku tidak memata-mataimu. Tolong kamu jangan salah paham dulu!" ucap Rangga.
"Terima kasih sarannya. Tapi, saya tahu mana yang baik untuk diri saya dan mana yang tidak baik untuk diri saya. Saya permisi pak" ucap Kana pergi.
Rangga bangkit dari duduknya "Kamu menyukai seseorang yang sudah mempunyai istri" ucap Rangga tak peduli beberapa pengunjung ikut melihat kearahnya.
Kana yang mendengarnya menghentikan langkahnya, menatap sekelilingnya yang juga ditatap oleh beberapa pengunjung.
Tak mau dianggap sebagai seorang pelakor, Kana pun kembali menoleh menatap Rangga.
"Maaf, kali ini anda salah pak. Orang yang bapak maksud, sama sekali belum menikah apalagi mempunyai istri. Bahkan semua media tahu hal itu. Jadi bapak jangan membuat-buat cerita yang kebenarannya masih di ragukan!" ucap Kana dengan suara lantang tak perduli orang-orang melihat kearahnya.
Rasa kesalnya terhadap Rangga semakin memuncak, karena mengetahui Rangga telah ikut campur dengan urusan pribadinya.
Kana berjalan keluar dari rumah makan dengan beberapa orang terlihat sedang berbisik-bisik.
Melihat itu Rangga segera mengejar Kana tak lupa meninggalkan sejumlah uang di atas meja.
"Kana...., tolong percayalah padaku!" teriak Rangga saat Kana bergerak masuk ke dalam taksi.
"Jalan pak" ucap Kana.
"Baik neng" sahut supir taksi.
Taksi melaju menjauh dari pekarangan rumah makan meninggalkan Rangga yang masih terus berdiri menatap kearah taksi yang bergera semakin menjauh di setiap detiknya.
Kana menyandarkan tubuhnya ke kursi, mejamkan mata dengan tangan kanan di letakan ke atas dahinya.
"Dia benar-benar sudah keterlaluan. Masuk campur dengan urusan pribadiku" gumam Kana dalam hati.
"Lastri?" ucap Kana saat menemukan pesan yang di kirimkan oleh Lastri padanya.
Karena penasaran, dia pun membuka pesan tersebut.
"Na, kamu dimana sih?, pak Reza terus saja menayakan keberadaanmu"
Begitu kiranya pesan dari Lastri. Tanpa menunggu lama, Kana pun membalas pesan Lastri lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Pak" pangil Kana.
"Iya neng" sahut supir taksi menatap Kana melalui kaca spion.
"Saya ngak jadi ke kantor, mau langsung pulang. Ke jalan yx ya!" ucap Kana.
"Baik neng" jawab supir taksi.
Kana kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi sementara taksi terus melaju menuju arah rumahnya.
Di waktu yang bersamaan, tampak Ana, Alvis dan Arsenio menyelesaikan ritual makannya.
Alvis meminjam ponsel ayahnya untuk dipakainya menonton film kesukaannya.
Sementara Ana terlihat merapikan kembali rantang makanan yang akan di bawahnya pulang ke rumah.
"Mas" pangil Ana.
"Iya sayang" sahut Arsenio dengan pandangan terus menatap beberapa kertas yang di pegangnya.
"Aku boleh meminta sesuatu?" Ana menatap Arsenio begitu juga dengan Arsenio yang.
"Tentu saja boleh. Katakan!, aku akan memenuhinya untukmu" jawab Arsenio.
Ana tersenyum "Benarkah?, kamu yakin akan memenuhi keinginanku?"
"Tentu sayang, katakan saja apa yang kamu inginkan" sahut Arsenio yang kini kembali menatap lembaran kertas di tanganya.
"Baiklah mas dengar baik-baik ya apa yang aku inginkan" ucap Ana.
"Hmm"
"Aku ingin menjenguk Roby dan juga Clarissa" ucap Ana.
Arsenio melihat ke arahnya "Boleh kan sayang?" ucap Ana lembut
"Tidak bisa!"
"Aku bisa saja memenuhi apapun permintaanmu namun tidak dengan itu!" ucap Arsenio tegas.
"Loh kenapa mas?, aku kan hanya ingin melihat bagaimana keadannya. Dia temanku, jadi tidak ada salahnya aku sekali-sekali menjenguknya" ucap Ana.
"Teman?" ucap Arsenio.
Ana menggangguk "Iya dia temanku" sahut Ana.
"Kamu mengganggapnya sebagai teman namun dia tidak. Oh aku tahu, atau sekarang kamu sudah menyesal ya?, karena tidak menerima dia" ucap Arsenio yang mulai kesal.
"Loh, ko mas ngomongnya gitu sih?. Aku hanya ingin menjenguknya tidak lebih dari itu mas" ucap Ana.
"Alah omong kosong" Arsenio membanting kertas yang di pegangnya ke atas meja lalu bangkit dari duduknya.
"Mau kemana mas?" Ana menahan tanganya.
Arsenio menepis tangan Ana "Tidak usah perdulikan aku, Pergi sana jenguk lelaki pujaanmu di penjara sana!" ucap Arsenio lalu menghampiri Alvis dan memeluknya.
"Sayang kamu ikut daddy ya!" ucap Arsenio lalu membawah Alvis keluar. Alvis yang ngak tau menau pun setuju-setuju aja.
"Mas..., mas tunggu!" ucap Ana.
"Aduh, ko jadi seperti ini sih?, memang salah ya kalau aku ingin mejenguk Roby dan Clarissa?" Ana berjalan keluar ruangan menyusul Arsenio yang entah mau ke mana.
Arsenio memasuki lift yang langsung di ikuti oleh pak Surya dan pak Benito meninggalkan Ana yang tak sempat ikut masuk.
"Daddy, ko mommy di tinggal?" tanya Alvis.
"Udah, biarin aja" sahut Arsenio.
Sementara Ana tampak menghampiri sekertari suaminya untuk bertanya "Mba, tangga daruratnya ada di sebelah mana ya?"
"Oh ada di sebelah sana nona" menunjukan arah yang di maksudnya.
"Oh iya, terima kasih ya" ucap Ana lalu berlari menuju tangga darurat sementara sekertaris Arsenio hanya bisa mengeleng-ngelengkan kepalanya melihat tingkah suami istri itu.