My Love Story

My Love Story
Bab 94



Seketika Rangga dan Arsenio kembali berpandangan, raut wajah Arsenio berubah seketika kedua tanganya diremas, rahanya mengeras dengan tatapan tajam tertuju pada mobil tersebut.


"Semuanya silakan lihat rekaman cctv di jam 10:05 sekarang juga!" pekik Arsenio.


"Baik tuan"


Beberapa pria yang juga berhadapan dengan computer segera memerikasa rekaman cctv dengan waktu yang telah di sebutkan.


Tidak perlu memerlukan waktu lama mereka pun menemukannya "Silakan amati mobil Ferrari dan kedua mobil di depannya, lihat kemana mereka akan pergi. Jangan sampai hilang dari pandangan kalian!" pinta Arsenio.


"Baik tuan"


Semuanya tampak sibuk memperhatikan kemana perginya mobil tersebut. Sementara Arsenio berbalik badan memposisikan pria-pria itu berada di belakangnya.


"Jika dia benar-benar pelakunya saya tidak akan melepaskannya" ucap Arsenio masih mengepalkan kedua tangannya.


Beberapa menit kemudian "Tuan mobilnya hilang!"


Arsenio berbalik menatap pria yang bersuara.


"Benar tuan mobilnya hilang!" sambung yang lainnya.


"Kenapa bisa hilang?, apa kalian tidak memperhatikannya dengan teliti!" bentak Arsenio.


Semuanya terdiam, melihat Arsenio mulai tersulut emosi "Kenapa kalian diam?, Ayo jawab!. Kenapa bisa hilang?"


"Sepertinya mobil tersebut sudah memesuki daerah B yang jalanannya sudah tidak terdapat cctv" ucap Rangga.


Arsenio menatap Rangga "Tidak terdapat cctv?"


"Benar tuan" ucap Rangga membenarkan.


"Kenapa kau tidak memasang cctv di sana ha?, lihat kita kehilangan jejak mobil itu" ucap Arsenio dengan suara keras.


"Ya ampun tuan, untuk pemasangan cctv jalanan kan bukan tugas aku tuan😑. Gini nih kalau urusannya sudah bersangkutan dengan nona, selain suka marah-marah kepintarannya juga tidak berfungsi dengan baik" pikir Rangga.


"Jangan mempercepat rekamannya!, terus perhatikan dengan teliti, aku yakin mobil itu akan kembali" ucap Rangga.


"Baik pak"


"Lain kali kau harus memasang semua jalan dengan cctv, saya ngak mau kejadian seperti ini terulang lagi!" ucap Arsenio.


"Baik tuan" sahut Rangga.


"Mari ikuti saja maunya, jika itu bisa membuatnya tenang" pikir Rangga.


Rangga terus fokus menatap layar computer, dan benar saja selang beberapa menit mobil tersebut kembali melewatj jalan tersebut.


"Itu mobilnya, semuanya tolong perhatikan dengan teliti jangan sampai hilang" ucap Rangga.


"Baik pak"


Arsenio yang mendengarnya segera ikut menatap layar computer.


Setelah beberapa menit memperhatikan mobil tersebut akhirnya mereka menemukan lokasi yang menurut mereka Ana berada di sana.


"Cukup!, semuanya kita ke lokasi itu sekarang, Periksa setiap rumah yang ada di sana jangan sampai ada yang terlewati!" perintah Arsenio.


"Baik tuan" semuanya pun berdiri dan bergegas pergi begitu juga dengan Arsenio dan juga Rangga.


Rangga berjalan lebih dulu dan membukakan mobil buat tuannya dan kemudian gilirannya masuk ke dalam mobil.


Mobil yang di kendarai Rangga melaju menyusul dua mobil di depannya, yang merupakan orang-orang kepercayaannya.


"Dia mencoba bermain-main denganku?, saya akan buat perhitungan padanya!" ucap Arsenio.


Rangga diam dan sesekali melirik kaca spion memperhatikan tuannya dari situ.


"Kamu benar-benar sudah melewati batas!. Sepertinya kamu bermain-main dengan orang yang salah😏" pikir Rangga yang juga ikut mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.


Ketiga mobil terus melaju, menuju daerah yang menurut mereka Ana berada di sana.


Dua jam kemudian, selama itu pula mereka mengendarai mobil menuju titik pencarian keberadaan Ana. Setelah melewati perjalanan jauh mereka pun sampai di titik tersebut.


Arsenio keluar dari mobil bersamaan dengan Rangga dan orang-orang kepercayaannya, mereka tampak memperhatikan lingkungan sekitar mereka.


"Sepertinya aku pernah ke sini" ucap salah satu dari beberapa pria kepercayaannya Arsenio dan Rangga.


"Tempat ini di miliki oleh seorang pengusaha, dia sengaja menggizinkan beberapa masyarakan untuk ikut tinggal di sini, karena mereka adalah karyawan di salah satu perusahannya yang ada di kota ini" lanjut pria itu mengatakan pada teman-temannya.


Namun, perbincangan mereka pun ikut di dengar oleh Rangga.


"Siapa nama penggusaha itu?" Rangga berjalan mendekati mereka.


Pria itu diam, ia tampak berpikir "Ah aku ingat" ucapnya.


"Pak kalau tidak salah namannya tuan Albern. Beliau seorang pengusaha luar negeri yang mempunyai salah satu cabang perusahaan di sini" jawab pria itu.


"Tuan Albern?" pria itu menggangguk "Benar pak"


"Tapi, untuk cabang perusahannya yang di sini itu di pegang oleh putranya" lanjut pria itu yang membuat Rangga kembali menatapnya.


Arsenio tersenyum sinis menatap layar ponselnya "Kerja sama yang baik" pikir Arsenio.


"Cari rumah yang paling besar di sini dan tentu saja ketat penjagaannya!" ucap Arsenio yang ternyata ikut mendengar percakapan Rangga dan orang-orang kepercayaannya.


Semua berbalik menoleh ke arahnya termasuk Rangga.


"Jika sudah di temukan, silakan kepung rumah itu jangan biarkan orang-orang di dalamnya punya kesempatan keluar dari sarangnya!" lanjut Arsenio yang kini berdiri dengan gaga di depan mereka.


"Baik tuan" jawab mereka lalu segera bergerak untuk mencari rumah yang di maksud tuannya.


Sementara Rangga berjalan menghampiri tuannya "Tambahkan jumlah orang-orang itu, saya ingin rumah tersebut terkepung dengan baik!" ucap Arsenio pada Rangga.


"Baik tuan" Rangga sedikit memberi jarak, mengeluarkan ponselnya lalu menelfon, setelah selesai ia kembali mendekati tuannya.


"Sebentar lagi mereka akan datang tuan" ucap Rangga.


"Kamu tahu kan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" ucap Arsenio.


Rangga mengguk "Tahu tuan"


"Bagus!"


Bukan persoalan yang sulit untuk menemukan rumah yang di maksud tuannya, mereka hanya membutukan waktu 5 menit menemukan rumah tersebut dan mereka segera melaporkan hal itu pada Arsenio dan juga Rangga.


Arsenio menatap Rangga "Lakukan tugasmu!, kau tahu?, saya tidak suka kegagalan!" ucap Arsenio menatap Rangga.


"Baik tuan. Hati-hati tuan" sahut Rangga.


Arsenio masuk di salah satu mobil orang-orang kepercayaannya, melajuhkan mobil tersebut menuju rumah yang di maksudnya.


Sementara Rangga pun tampak memasuki mobilnya dan juga ikut melaju meninggalkan satu mobil di sana.


Karena jaraknya cukup dekat, Arsenio pun sampai, ia pun keluar dari mobil setelah mematikan mesin mobilnya.


Dua pria yang bertugas menjaga pintu pagar segera bangkit dari duduknya setelah melihat kedatangan Arsenio.


Sebelum keluar mobil Arsenio telah membuka jas dan juga dasinya, menggunakan kameja putih dan celana hitam lengkap dengan sepetunya.


Arsenio berjalan menghamiri dua pria yang berada di balik pintu pagar yang menjulang tinggi.


"Anda siapa?, dan apa keperluanmu datang kesini?" tanya salah satu pria tampa membuka pintu pagar.


Arsenio diam sejenak menatap kedua pria di depannya "Apa benar ini rumah tuan Albern?" tanya Arsenio seramah mungkin.


Kedua pria itu diam mereka saling berpandangan dan pada akhirnya kembali menatap Arsenio.


"Bukan, tapi ini rumah putranya" sahut kedua pria itu hampir bersamaan.


"Oh gitu ya?, kalau begitu apa saya boleh bertemu dengan anak dari tuan Albern?"


"Tidak bisa!. tuan muda tidak bisa menerima tamu di rumah ini" ucap salah satu dari pria itu.


"Sebaiknya anda pergi dari sini!, jika anda ingin bertemu tuan muda silakan buat janji dan bertemu di perusahaan bukan disini" ucap pria di sebelahnya.


Arsenio melirik kiri dan kanan, tatapannya terhenti pada sosok Rangga yang memberikan isyarat dengan menggunakan tanganya.


Arsenio kembali menatap kedua pria di depannya "Justru kedatangan saya kesini atas perintah tuan muda, apa perlu saya telefon dan memberitahunya jika kalian tidak mengijinkan saya masuk?"


Kedua pria itu diam mereka tampak berpikir "Baik kami akan mengizinkan anda masuk, tapi silakan tunggu di pos, kami akan memberitahukan hal ini pada tuan muda"


Tanpa ragu Arsenio pun menggangguk setuju. Salah satu pria itu membuka pintu pagar dan mempersilakan Arsenio masuk dan pria yang satunya menelfon tuannya.


"Kalau boleh lakukan pangilan video agar tuan biasa melihatku!" ucap Arsenio dengan nada dinginnya.


"Kami tidak berani melakukannya. Bahkan kami tidak diizinkan untuk membawa masuk orang-orang tak di kenal" ucapnya.


"Terlat!" ucap Arsenio membuat kedua pria itu berbalik menatapnya.


"Apa maksud ucapan Anda barusan?"


"Maksudku kalian telat, orang-orangku telah berhasil masuk dan mengepung seluruh rumah ini" ucap Arsenio dengan senyum sinis.


"Kamu!. Kamu siapa?" ucap kedua pria itu.


Bruk...


Dalam hitungan detik orang-orang kepercayaan Arsenio telah berhasil membuat dua pria itu tak sadarkan diri.


"Masuk!, geleda semua ruamah ini dan temukan keberadaan istriku!" titah Arsenio.


"Baik tuan"


Di waktu yang sama, seorang memukul keras mejanya, tatapan tajam di tunjukan pada layar computernya "Sial!, mereka berhasil mengepung rumah ini. Aku harus secepatnya keluar dari sini"