
Selang beberapa menit dokter pun datang, Rangga yang sudah menunggunya di depan pintu pun segera menyuruhnya masuk.
"Silakan masuk dok, tuan ada di dalam" ucap Rangga pada dokter pribadi keluarga Saguna.
Dokter menggangguk lalu melangkah masuk ke kamar Ana dimana Arsenio terbaring di atas tempat tidur "Permisi" ucap dokter.
Ana yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya begitu juga dengan Rany dan juga Kana "Ayo masuk dok!, lihat suami saya dari tadi belum sadarkan diri" ucap Ana panik.
"Nona tenang dulu, saya akan memeriksa keadaan tuan terlebih dahulu" Dokter pun mengeluargan beberapa alat untuk memeriksa keadaan Arsenio.
Kana menatap Rany dari samping "Tante"
"Hmm" sahut Rany sambil menatap Kana.
"Sebaiknya tante ganti baju dulu, takutnya tante masuk angin karena bajunya basa" ujar Kana.
Sementara Rany pun melihat baju yang Ia pakai "Kamu benar, tante harus ganti baju dulu" kata Rany.
"Oh iya, kamu beritahu juga Ana. Bajunya juga lumayan basa, suruh dia ganti bajunya mumpung dokter masih memeriksa keadaan suaminya" ucap Rany sebelum pergi.
"Iya tante" Kana pun berjalan mendekati tempat tidur "An, bajumu basah. Sebaiknya kamu ganti bajumu dulu" ucap Kana pada Ana.
Ana menoleh menatap Kana "Tapi Na, aku ingin menjaga dia di sini" kata Ana.
"Iya aku tahu, tapi kamu harus ganti pakaianmu dulu, lihat semuanya basah begini!.
Kamu bisa masuk angin jika terus seperti ini" ujar Kana.
"Kalau sampai itu terjadi, siapa dong yang menjaga suamimu?" lanjut Kana.
Ana tampak berpikir "Udah ngak perlu banyak mikir!. Sana ganti bajumu dulu" pinta Kana.
"Kamu tolong jaga dia, sebentar saja aku ngak akan lama" ucap Ana dan langsung mendapat anggukan kepala dari Kana.
Ana pun bergerak turun dari tempat tidur, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian lalu pergi ke kamar Alvis untuk mengganti pakaiannya.
Rangga yang melihat itu pun berjalan masuk dan berhenti tepat di samping Kana, sementara Kana melirik sebentar sebelum kembali menatap Arsenio yang sedang di periksa oleh dokter.
Setelah selesai memeriksannya, dokter pun merapikan peralatanya dan kembali memasukannya ke dalam tasnya.
"Bagaimana keadaan tuan Arsenio?" tanya Kana dan Rangga bersamaan yang membuat dokter bergantian menatap mereka.
"Bisa samaan gitu ya?" ucap dokter tersenyum.
"Pak Rangga saja yang ikut-ikutan" ucap Kana sambil menunjuk Rangga yang berada di sampingnya.
"Loh ko saya sih?"
"Lah terus siapa?, ngak mungkin kan saya pak?" ucap Kana.
Rangga diam menatap Kana "Pak Rangga mengalah saja" ucap dokter.
"Tuh dengar pak kata dokter!" ujar Kana yang membuat Rangga mengerutkan dahi.
"Karena berdebat dengan perempuan itu tak akan pernah ada habisnya" lanjut dokter.
Rangga menghelah nafas panjang lalu berganti menatap dokter pribadi keluarga Saguna "Bagaimana keadaan tuan dok, apa ada masalah yang serius?" ucap Rangga.
Dokter mengelengkan kepalanya "Tidak ada masalah serius, Tuan hanya masuk angin. Saya sudah memeberinya obat nanti jika sudah siuman silakan menyuruhnya meminum obatnya dan satu lagi sebelum obatnya di minum beri tuan makan terlebih dahulu" jelas dokter.
"Baik dok" ucap Kana dan Rangga lagi-lagi bersamaan sementara dokter tampak tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit, mau balik ke rumah sakit" kata dokter.
"Iya, mari saya antar di depan" ujar Rangga lalu bersamaan berjalan keluar.
"Terima kasih dok" ucap Rangga setelah mereka sampai di depan rumah dan dokter hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Sama-sama. Awas jangan telalu di benci nanti suka" ucap dokter sambil tersenyum.
Dokter pun masuk ke dalam mobil dan mobilnya melaju keluar dari halaman rumah Ana meninggalkan Rangga di depan rumah yang tampak diam mematung.
"Doktenya sudah pulang ya?" tanya Rany yang saat ini berdiri di depan pintu.
Rangga yang mendengarnya pun segera menoleh ke arahnya "Sudah nyonya" sahut Rangga.
"Hmm, ya udah ayo masuk saya sudah buatkan teh hangat buatmu" ucap Rany.
"Nyonya tidak perlu repot-repot" kata Rangga berjalan menghampiri Rany.
"Ngak repot ko, hanya buat teh aja ko repot" ucap Rany.
Keduanya kembali masuk, Rangga tampak duduk di ruang tamu dengan segelas teh yang telah berada di atas meja.
"Terima kasih nyonya" ucap Rangga menggangkat segelas teh yang hendak di minumnya.
"Iya sama-sama. Saya tinggal sebentar ya, mau lihat keadaan Arsenio" ujar Rany.
"Iya nyonya, silakan" jawab Rangga
Rany berjalan menuju kamar Ana sementara Rangga menikmati segelas teh buatan Rany.
"Apa kata dokter?" tanya Rany setelah sampai.
"Kata dokter Mas Arsenio hanya masuk angin ma" Sahut Ana yang sudah diberitahu oleh Kana.
Rany yang mendengarnya pun menghela nafas lega "Syukurlah, mama ikut lega mendengarnya" ujar Rany sambil berdiri di samping Kana.
"Baju kamu juga basah loh" ucap Rany memegang sebagian baju Kana.
Ana yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya "Kamu ganti baju juga nanti masuk angin. Ambil saja di lemari sebelah sana, ada beberapa baju yang belum pernah aku pakai" ucap Ana menunjuk lemari yang di maksudnya.
"Ngak apa-apa, ini sudah mau pulang. dirumah saja aku ganti bajunya" sahut Kana.
"Kamu sudah mau pulang?" tanya Rany yang langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Di luar masih hujan loh, kenapa ngak besok saja pulangnya?" ujar Ana.
"Benar kata Ana, malam ini kamu tidur saja disini tuh temani Alvis tidur di kamarnya" sambung Rany.
"Aku harus pulang tante.. An, karena besok aku ada kegiatan pagi di kantor dan mobilku aku tinggal dirumah karena lagi di perbaiki oleh pak Rehan" ujar Kana.
Rangga yang sudah selesai minum tehnya pun beranjak dari duduknya untuk berpamitan pulang.
"Permisi" ucap Rangga setelah sampai, Ana, Kana dan Rany pun menoleh ke arahnya.
"Karena keadaan tuan sudah baik-baik saja, saya izin pamit kembali ke apartment" ucap Rangga bergantian menatap Rany, Kana dan juga Ana.
"Oh iya terima kasih ya, maaf sudah merepotkan" ucap Rany.
"Tidak apa-apa nyonya, karena ini sudah menjadi tugas saya" ucap Rangga.
"Tunggu!" ucap Ana pada Rangga hendak melangkah pergi.
Alhasil Rangga kembali menoleh kearahnya "Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Kamu bawah mobil kan?" tanya Ana, Rangga menggangguk "Benar nona" sahut Rangga.
"Bisa ngak sekalian antar Kana pulang, dia lagi ngak bawah mobil" ucap Ana.
"Eh ngak perlu An, aku bisa ko naik taksi" ucap Kana cepat.
"Ini sudah cukup larut, ngak baik perempuan naik taksi apalagi sendirian. Bisa kan Rangga antarin Kana pulang?" ucap Rany menatap Rangga.
Rangga menatap Kana yang terus memberikan isyarat agar tidak menuruti keinginan Rany dan juga Ana.
"Tentu saja bisa nyonya" sahut Rangga.
"Kenapa malah diiakan sih😑" pikir Kana.
"Kamu ngak keberatan kan antar teman saya pulang?" ucap Ana.
"Tidak nona, saya bahkan sangat senang bisa membantu nona" sahut Rangga.
"Baiklah, tolong antarkan dia sampai rumah ya, dia tipe anak sedikit cerewet jadi kalau dia banyak tanya makslumi aja" ucap Ana.
"Ana...!🙄" ucap Kana.
"Lah memang kenyataannya begitu, aku hanya beritahu pak Rangga lebih awal agar dianya ngak kaget nantinya" ucap Ana asal.
"Ya udah, kalian hati-hati yang di jalan!" ucap Rany yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rangga.
"Pak Rangga tolong pastikan teman saya sampai di rumahnya dengan selamat!"
"Baik nona" sahut Rangga.
"Tante.. An aku pamit ya" ucap Kana sebelum pergi.
"Iya, hati-hati ya" ucap Rany dan Ana bersamaan.
Rangga dan Kana pun berjalan keluar bersama dengan posisi Rangga berjalan lebih dulu dan di susul oleh Kana dari belakang.
Sesampainya di depan rumah Kana pun menghentikan langkahnya.
"Pak saya naik taksi saja ya?"
Rangga menoleh ke arahnya "Saya telah di tugaskan oleh nona dan nyonya untuk mengantar anda pulang. Jadi mohon kerja samanya!" ujar Rangga.
"Aku janji ngak akan bilang ko sama mereka asalkan biarkan saya pulang naik taksi" bujuk Kana.
"Mau masuk ke dalam mobil atau saya beritahu nona dan nyonya kalau anda tidak mau saya antar pulang?" ucap Rangga dengan eksperesi dinginya.
Kana mendengus kesal "Iya.. iya saya masuk" ucap Kana berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalam mobil, Kana memilih untuk duduk di belakang.
Melihat itu, Rangga pun segera ikut masuk dan melajukan mobil keluar dari halaman rumah Ana.
Selama perjalanan tidak ada percakapan sama sekali, suasana mobil tampak hening hanya deru kendaraan yang dapat terdengar.
"Haaaacuuw" Rangga yang mendengarnya pun melirik Kana melalui kaca spion sebelum kembali fokus menyetir.
"Haaacuuw" Kana terus saja bersin hingga beberapa kali.
Rangga menggambil tisu yang berada di sampingnya lalu memberikannya kepada Kana dengan tapan lurus ke jalan.
"Apa ini?" tanya Kana.
"Tissue lah, ngak lihat apa?" ujar Rangga masih belum menatap Kana.
"Iya saya juga tahu kalau ini tissue, maksud saya untuk apa bapak memberikan ini kepada saya?"
"Ya siapa tahu saja anda membutuhkannya" sahut Rangga.
Kana pun diam, menggambil tisu yang di berikan Rangga padanya.