
"Apakah kamu tidak bisa menggangap Ana sebagai teman saja?" ucap Kana sedikit menjeda ucapanya.
"Kamu juga tau sendiri bahwa Ana telah menikah, ya walaupun dalam waktu dekat ini mereka akan bercerai. Namun, Sepertinya Ana belum bisa membuka hati untuk siapapun dalam waktu dekat ini" sambung Kana.
"Kalau soal itu sepertinya aku ngak bisa!. Sulit rasanya bagiku menggangapnya hanya seorang teman, dengan dia yang telah membuatku jatuh cinta" ujar Roby.
"Selama ini apapun yang aku inginkan selalu aku dapatkan, begitu juga dengan Ana!" sambung Roby.
Kana yang mendengarnya pun menghela nafas panjang.
"Terserah kamu!. Ya udah aku lagi buru-buru nih, aku duluan ya?" ucap Kana.
"Iya, hati-hati ya!" ucap Roby yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kana.
Kana berjalan mengelilingi mobil lalu masuk, mobil yang di kendarai Kana melaju keluar dari halaman kampus meninggalkan Roby yang masih berdiri disana.
***
Dua minggu telah berlalu, selama itu pula Arsenio dan Ana tak pernah bertemu, kedua sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kediaman Keluarga Saguna.
"Surat cerai kalian telah selesai di buat. Siang nanti Rendy akan membawahnya ke sini!" ucap Nicholas di meja makan.
Alin, Gibran, Sarah dan juga Arsenio yang mendengarnya pun menatap ke arahnya.
"Kamu tinggal menantadangani suarat cerai itu, dan semua masalah akan selesai!" sambung Nicholas menatap Arsenio.
Sarah yang menyudahi lebih dulu ritual makannya, menatap lurus suaminya.
"Jika siang nanti Arsenio akan menandatangani surat cerai mereka, aku berharap Ana juga ikut menandatangani surat cerai mereka di waktu dan tempat yang sama!" ucap Sarah.
"Ngak!, Surat cerai akan dikirimkan pada Ana setelah Arsenio menandatangani surat cerai mereka!. Jadi Ana tidak perlu datang ke rumah ini lagi! " ucap Nicholas menatap istrinya.
"Untuk kali ini aku sependapat dengan mama" ucap Alin yang membuat semua menatap kearahnya kecuali Arsenio yang memilih diam menatap piring makannya.
"Kita tinggal menggundang Ana datang kesini untuk menandatangani surat cerainya, dengan begitu kita semua ikut menyaksikan Arsenio dan Ana menandatangani surat cerai mereka" sambung Alin.
"Bagaimana apa papa menyetujuinya?" tanya Alin. Nicholas tanpak diam mendengar pertanyaan putrinya.
Tatapan Alin beralih pada putranya yang sedari tadi diam.
"Nak, tolong siang nanti kamu pulang ya!. Kamu dan Ana akan sama-sama menandatangani surat cerai kalian di rumah ini" ucap Alin sebelum mendapat persetujuan dari ayahnya.
"Ya tuhan, apakah rumah tanggaku dengan Ana benar-benar akan berakhir pada hari ini?" gumam Arsenio dalam hati.
Gibran yang melihat Arsenio belum juga merespon ucapan ibunya segera meletakan tangan kanannya tepat di pundak Arsenio yang membiat sang empu menatap ke arahnya.
"Mama sedang bicara denganmu" ucap Gibran.
"Sebisa mungkin kamu harus pulang siang nanti, kakek ngak mau dengar alasan apapun darimu untuk tidak pulang!" ucap Nicholas serius.
"Lihat aja siang nanti!" ucap Arsenio lalu bangikit dari duduknya dan berjalan pergi.
"Tuh lihat kan!, anak itu semakin membangkang. Semua itu karena menikah dengan Ana" ucap Nicholas kesal.
"Memangnya kita yang memaksakan Arsenio menikahi Ana?" ucap Sarah lalu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.
Nicholas diam mendengar ucapan istrinya, begitu juga dengan Alin dan juga Gibran.
Di saat yang bersamaan tanpak Ana sedang mencuci piring yang telah selesai digunakan dengan di bantu oleh ibunya.
"Kamu ngak ke kampus hari ini?" tanya Rany di selah-selah kerjanya.
"Ada ma. Siang nanti Ana ke kampus" sahut Ana.
"Oh kirain ngak masuk kampus" ucap Rany.
Tring...
Suara notifikasi berhasil mencuri perhatian Ana dan juga Rany, keduanya secara bersamaan melihat kearah ponsel yang terletak di atas meja makan.
"Sepertinya kamu menerima pesan, cepat sana lihat!. Siapa tau penting" tita Rany.
Ana pun berjalan menuju meja makan melap tanganya terlebih dahulu sebelum mengambil ponselnya.
Dibukannya pesan yang baru saja masuk.
"Nenek?" ucap Ana setelah melihat pesan yang baru saja masuk.
Ada perasaan gugup, setelah mengetahui siapa pengirim pesan.
"Pesan dari siapa?" tanya Rany berbalik menatap putrinya.
"Belum tau nih, baru mau lihat" ucap Ana bohong.
Rany yang mendengarnya segera berjalan menghampirinya lalu ikut menatap layar ponsel putrinya.
"Nenek?. Apa nenek yang di maksud ini adalah nenek dari suamimu?" tanya Rany yang juga ikut membaca.
Ana menggguk lalu menjawab.
"Benar ma".
"Ya udah, buka aja pesannya, biar kita baca bersama pesanya!" ucap Rany.
Ana pun membuka isi pesannya, keduanya tanpak serius membaca isi pesan yang cukup panjang.
Deg
Ada perasaan sakit yang tiba-tiba muncul setelah membaca isi pesan yang di krimkan Sarah padanya.
Ana menatap Ibunya begitu juga dengan Rany, seketika tatapan mereka bertemu.
"Apakah hubunganku dan mas Arsenio akan berakhir hari ini juga?" gumam Ana dalam hati.
"Bagaimana?, apa perlu mama temani kamu pergi?" ucap Rany pada Ana.
Ana diam sejenak, hatinya bercapur aduk, ada suatu hal yang terus menghantui pikirannya jika mereka benar-benar bercerai.
"Ya udah mama temani kamu pergi!, jangan takut!. Mama akan selalu berada di sampingmu" ucap Rany sebelum Ana merespon pertanyaannya.
Ana pun menggaguk setuju.
"Pagi ini mama ke kantor terlebih dahulu, memberikan surat resign kerja mama, lalu mama akan pulang dan menemani kamu ke rumah mereka" jelas Rany.
"Mama mengundurkan diri dari kantor?" tanya Ana tak percaya.
Rany pun mengaguk mendengar pertanyaan putrinya.
"Iya, kamu tau kan perusahaan tempat mama bekerja adalah salah satu cabang perusahaan tuan Nicholas, jadi cepat atau lambat mama akan di keluarkan dari sana, jadi sebelum hal itu terjadi mama memutuskan untuk menggundurkan diri lebih dulu" jelas Rany.
**
Jarum jam sudah menunjukan pukul 12.30, tanpak Ana dan Rany bersiap-siap berangkat.
Keduanya memasuki mobil dan mobil yang di kendarai oleh Rany melaju menuju kediaman Keluarga Saguna.
Setelah cukup lama dalam perjalanan, mereka pun sampai. Rany lebih dulu keluar dari mobil dan disusul oleh Ana.
Ana tanpak melihat kesekelilingnya mencari keberadaan mobil suaminya namun tidak ia temukan disana.
"Silakan masuk!" ucap Bi Lila mempersilakan.
Keduanya pun mengangguk secara bersamaan, Rany menatap Ana dari samping.
"Kamu sudah siap?" tanya Rany.
Ana menghela nafas panjang lalu menjawab.
"Sudah ma".
Rany mengulurkan tanganya pada putrinya, Ana yang melihat itu segerah meraih tangan ibunya dan mengengamnya dengan erat.
Keduanya masuk, dengan bantuan dan arahan Bi Lila, mereka pun sampai di depan sebuah ruangan.
"Silakan masuk!, nyonya dan tuan sudah menunggu di dalam" ucap Bi Lila.
"Terima kasih bi" ucap Ana sambil tersenyum.
"Iya sama-sama nona" sahut Bi Lila lalu pergi.
Ana memutar bola matanya menatap kesekeliling, rumah yang hampir satu bulan ia tinggalkan tak ada yang berubah sedikit pun.
"Ayo masuk" ucap Rany pada putrinya, sementara Ana mengguk setuju.
Tok... Tok.. Ketuk Ana.
"Silakan masuk!" pinta seseorang dari dalam.
Ana yang sangat mengenali suara itu pun segera meraih daun pintu lalu memutarnya.
Pintu pun terbuka, berlahan Ana dan Rany melangkah masuk dan langsung di sambut oleh Sarah.
"Ana..." ucap Sarah lalu berjalan menghampiri Ana dan memeluknya lembut.
"Nenek rindu, sudah lama tidak melihatmu" ucap Sarah.
"Ana juga rindu" ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Alin, Gibran dan Nicholas yang ikut menyaksikan itu pun diam.
Sarah melepaskan pelukannya lalu mengulurkan tanganya pada Rany untuk bersalaman.
"Ayo silakan duduk!, kita menunggu Arsenio sebentar" ucap Sarah pada Rany dan juga Ana.
Ana mengguk, lalu berjalan menghampiri Alin, Gibran dan juga Nicholas lalu menyalimi satu persatu sebelum ia duduk.
Setelah selesai Ana pun duduk tepat di samping ibunya, suasana ruangan seketika hening. Semunya tanpak sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Sesekali Nicholas mencoba menghubungi Arsenio namun tak ada jawaban, Nicholas mencoba menghubunggu Rangga asisten pribadi Arsenio namu sama halnya dengan Arsenio, tak ada juga jawaban.
Di saat yang bersamaan tanpak Arsenio duduk di sofa yang ada di ruangannya, meletakan tangan kananya pada kedua alisnya lalu memijatnya dengan lembut.
"Maaf tuan, tuan besar terus menghubungi saya dan juga tuan" ucap Rangga yang berdiri di samping Arsenio, bergantian menatap ponselnya dan ponsel Arsenio yang secara bergantian terus berdering.
"Jangan di angkat!" ucap Arsenio.
"Tapi tuan".
"Saya bilang jangan di angkat! ya jangan di angkat!" pekik Arsenio menatap Rangga.
"Baik tuan" ucap Rangga.
"Aaaaa" teriak Arsenio frustasi, menyapu dengan kasar wajahnya. Rangga yang menyaksikan itu hanya bisa diam.
Suara notifikasi berbunyi, Rangga yang mendengarnya pun hendak membuka isi pesan namun lebih dulu di cegah oleh Arsenio.
"Jangan baca pesan apapun yang masuk!" tita Arsenio.
"Baik tuan" sahut Rangga lalu kembali meletakan ponselnya.
Setelah cukup lama diam, Rangga pun mengingat sesuatu, dengan cepat meraih tasnya mencari keberadaan suatu benda. Hal itu tak luput dari pandangan Arsenio.
"Apa yang kau cari?" tanya Arsenio menatapnya dari samping.
"Kalung tuan" jawab Rangga sambil mencari kalung yang di maksudnya.
"Kalung?" ucap Arsenio.
"Iya kalung. Nah ketemu" ucap Rangga lalu mengeluarkan kalung itu.
Rangga menatap Arsenio lalu berkata.
"Ini kalung nona Ana yang tertinggal di apartement saya tuan" ucap Rangga lalu mengulurkan tanganya memberikan kalung yang di maksudnya pada Arsenio.
Arsenio menatap kalung itu lalu mengambilnya.
"Kenapa kalung istri saya bisa ada di apartementmu?" tanya Arsenio menatap Rangga curiga.
"Ets tuan jangan salah paham dulu" ucap Rangga cepat, mengerti maksud tatapan Arsenio padanya.
"Saya temukan kalung itu di kamar diamana malam itu tuan tidur. Mungkin nona Ana tidak tau jika kalungnya terjatuh" jelas Rangga.
"Jadi maksud kamu, Ana datang ke apartmentmu dan menjatuhkan kalung ini di sana?" tanya Arsenio binggung.
"Benar tuan, apa tuan tidak mengingatnya?? tanya Rangga curiga.
"Mengingat apa?, dan kenapa Ana bisa datang ke apartementmu?, tolong berbicaralah dengan jelas!" ucap Arsenio dengan suara yang mulai meninggi.
"Baiklah mungkin tuan tidak mengingatnya, karena malam itu tuan masih dalam pengaruh alkohol. Biar saya jelaskan tolong tuan jangan salah paham dulu!" ucap Rangga menjeda ucapannya.
"Jadi begini, malam itu saya membawa pulang tuan ke apartment saya, karena saat itu tuan masih dalam pengaruh alkohol saya tidak berani membawa pulang tuan ke rumah tuan".
"Udah langsung ke intinya aja!" ucap Arsenio tak sabar.
"Baiklah, sebelumnya saya minta maaf karena tanpa seizin tuan saya menelfon nona Ana dan memintanya untuk datang ke sini melihat kondisi tuan yang masih dalam pengaruh alkohol. Saya melakukan itu karena tuan terus saja memangil nama nona Ana bahkan tuan menyuruh saya untuk menjemput nona Ana dan mebawahnya kesini. Mungkin kalung itu jatuh saat nona Ana ingin pulang" jelas Rangga panjang lebar.
Arsenio diam, berusaha mencerna ucapan Rangga barusan.
"Jangan bilang yang aku anggap mimpi itu sebenarnya nyata" gumam Arsenio dalam hati.