
Arsenio berjalan menghamiri keluarganya yang berada di ruang keluarga. Kehadiranya dan juga orang yang bersamannya berhasil mengejutkan semuanya orang di sana termasuk Clarissa.
"Loh anak itu bukan anak yang bersama Kana kemarin?, kenapa dia bisa bersama Arsenio" batin Clarissa.
"Aduh, kenapa Alvis bisa bersama Arsenio?. Apa Ana tahu soal ini?" batin Gibran.
"Semua perkenalkan ini Alvis...."
"Opa..... " Alvis melepaskan genggaman Arsenio lalu berlari menghampiri Gibran dan langsung memeluknya.
Hal itu lagi-lagi membuat orang-orang terkejut, kali ini Arsenio ikut terkejut.
"Opa apa kabar?, aku kangen loh sama Opa" lanjut Alvis yang kini berada di pelukan Gibran.
"Opa?. Apa kamu mengenalnya? " tanya Rany binggung.
"Tentu saja, dia kan Opaku" jawab Alvis.
"Kenapa anak ini sangat mirip dengan Arsenio?" batin Sarah.
"Opa baik-baik saja, kamu apa kabar?. Baik ya?" Alvis menggangguk sebagai jawaban
"Uhhh anak pintar" ucap Gibran sambil mencubit lebut pipi Alvis.
"Siap anak ini?" tanya Nicholas menatap Arsenio "Dan kenapa Anak ini bisa mengenalmu?" lanjut Nicholas beralih menatap Gibran.
Gibran diam, sementara Arsenio juga ikut diam
"Kenapa Alvis bisa kenal papa?, apa mungkin selama ini papa tahu dimana keberadaan Ana?" batin Arsenio.
"Hey!....apa kalian berdua tuli?, gak dengar aku sedang bertanya?" bentak Nicholas.
Hal itu membuat Alvis segera menutup kedua telingganya mengunakan tanganya.
"Kakek kalau bicara itu pelan-pelan kasihan dia!" ucap Arsenio.
"Nak, nenek boleh tahu siapa nama ibumu?" tanya Sarah pelan, "Maksud nenek mommyku?" Sarah menggangguk"Iya sayang" ucapnya lembut sementara semua yang berada di sana berganti menatap Alvis.
"Dia anakku!" ucap Arsenio sebelum Alvis menjawab.
"Anakmu?" ucap Sarah, Alin, Nicholas dan juga Clarissa bersamaan.
"Hmm, ternyata dia sudah tahu kalau Alvis adalah anaknya" pikir Gibran.
"Ya benar, apakah kalian tidak lihat dia begitu mirip denganku!" sambung Arsenio.
"Gak!" teriak Clarissa berhasil mencuri perhatian semua orang.
"Dia pasti bukan anakmu, bisa jadi kan ini hanya akal-akalanmu saja agar membuat hatiku sakit kan?" lanjut Clarissa.
"Uncle... apa benar uncle adalah ayahku?" tanya Alvis serius.
"Sunggu dia benar-benar mirip dengan Arsenio" pikir Sarah sedari tadi terus bergantian memandangi Alvis dan juga Arsenio.
"Iya sayang, apa mommymu tidak memberitahukanmu?" ucap Arsenio.
"Tidak!" jawab Alvis.
"Apa-apaan ini!, tolong jelaskan siapa anak ini dan kenapa kamu menyebutnya dia anakmu?" ucap Nicholas mulai kesal.
"Dia anak aku dengan Ana!" ucap Arsenio serius.
Deg
Alin, Nicholas dan Clarissa yang mendengar itu pun terkejut, berbeda halnya dengan Sarah dan juga Gibran.
"Jadi benar ini anak kamu dengan Ana?, uh ya ampun sayang, sini sama Eyang" ucap Sarah sambil mengambil Alvis dari Gibran.
"Ya ampun kamu benar-benar sangat mirip dengan ayahmu" lanjut Sarah.
"Lalu Ana mana?, kenapa tidak membawahnya sekalian?" tanya Sarah pada Arsenio.
"Cukup mama!" teriak Alin dan Nicholas bersamaan. Sementara Clarissa tampak diam kedua sudut matanya sudah menganak sungai.
"Bi Lila..!" pagil Alin.
"Iya nyonya" sahut Bi Lila sambil berlari menghampiri Alin.
"Tolong bawah anak ini keluar dari rumah ini!. Saya tidak ingin melihat anak perempuan m**a*an itu ada di rumahku!" pinta Alin.
"Baik nyonya" sahut Bi Lila lalu hendak mengambil Alvis.
"Selangkah lagi kamu mendekati anak saya, akan ku pastikan kamu akan menyesali perbutanmu!" ucap Arsenio, kedua tanganya digenggam dengan erat matanya merah dan rahangnya mengeras.
"Apa-apaan kamu!, mama kamu benar, anak itu tidak pantas masuk di rumah ini!. Kamu sungguh membuat Kakek malu jika hal ini sampai di telinga keluarga Clarissa" ucap Nicholas.
"Aku tidak perduli!, bahkan lebih bagus mereka tahu agar tidak ada pernikahan di antara aku dan juga Clarissa"
"Arsenio cukup!, kamu sadar tidak ucapanmu barusan sudah membuat hati Clarissa sakit" ucap Alin.
Sarah tampak diam-diam berjalan mundur, menjauhkan Alvis dari pertengkaran yang semakin panas.
"Oh hati Clarissa sakit hati ya? dan mama perduli akan hal itu?. Lalu apa kabar denganku?, apa pernah mama sedikit saja memikirkan perasaanku?, tentu tidak"
"Ma, aku ini manusia!, bukan boneka yang bisa mama atur ini dan itu. Aku juga punya perasaan. Rasa sakit yang di rasakan Clarissa sama sekali tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan"
"Mama dan kakek menekan aku agar segera menceraikan Ana, dan aku dengan bodohnya mengikuti permintaan itu. Asal kalian tahu saat itu Ana sedang hamil anakku. Apa mama dan kakek tahu seberapa sakitnya hatiku saat mengetahui hal itu?"
"Rasanya sakit sekali ma.. kek, dan kalian tidak pedulikan hal itu. Terus memaksaku menerima perjodohan yang telah direnacanakan tanpa sepengetahuanku. Kalian melakukan semua itu sesuka hati seolah-olah aku ini boneka yang ngak punya hati" ucap Arsenio mendeja ucapanya.
"Pokoknya dalam waktu dekat ini aku akan bertemu orang tua Clarissa dan membatalkan perjodohan itu!" lanjut Arsenio.
"Tidak!, kakek tidak akan pernah mengizinkanmu membatalkan perjodohan kalian, kamu tetap harus menikah dengan Clarissa, dia anak baik dan tidak pernah sekingkuh di belakangmu seperti halnya yang di lakukan Ana kepadamu dulu" ucap Nicholas.
"Cukup kek, aku sudah muak dengan segala keegosian kakek dan juga mama. Berhentilah mengatur hidupku!. Aku tetap akan membatalkan perjodohan itu dan meminta rujuk pada Ana. Aku ingin Alvis membunyai keluarga yang lengkap" ucap Arsenio.
"Gak mama ngak setuju!" bentak Alin.
Arsenio menatap lekat ibunya "Maaf, tapi aku tidak butuh persetujuan mama atau pun kakek!" ucap Arsenio.
Arsenio berjalan menghampiri neneknya mengambil Alvis darinya, dan berjalan keluar.
"Berhenti disana!" teriak Nicholas. Namun Arsenio terus melanjutkan langkahnya tidak memperdulikan ucapan kakeknya.
Nicholas yang melihat itu pun terjatuh, kedua tanganya terus memegang bagian dadanya.
"Papa... " teriak Alin berjalan menghampiri ayahnya.
"Mas tolong cepat hubungi ambulas sekarang!" pinta Alin pada Gibran.
"Iya sayang" jawab Gibran lalu dengan cepat Gibran menghubungi ambulas.
Alin dan Sarah yang melihat kondisi Nicholas pun semakin panik.
Di sementara Bi Lila mencoba menyusul Arsenio dan memberitahukannya.
"Tuan, sepertinya penyakit tuan besar kambuh" ucap bi Lila.
Bukannya kembali masuk, Arsenio malah masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menjauh dari halaman rumahnya.
Bi Lila yang melihat itu menghela nafas panjang "Sepertinya tuan sudah benar-benar marah" pikirnya lalu kembali masuk.
"Uncle..." pangil Alvis. "Iya sayang, mau apa?" tanya Arsenio sesekali melirik Alvis.
"Aku mau pulang sama mommy, aku ngak mau sama uncle lagi!" ucap Alvis.
"Loh memangnya kenapa?"
"Pokonya aku ngak suka sama uncle, maunya pulang sama mommy" Alvis terus mengulangi kata yang sama.
"Maafkan Daddy. Daddy harus membawahmu, hanya ini satu-satunya cara agar mommymu mau kembali pada daddy" batin Arsenio.
Diwaktu yang sama Ana turun dari mobil sambil merapikan bajunya, "Maaf Bu, saya sedikit telat menjemput anak saya, soalnya saya lagi banyak pekerjaan" ucap Ana pada salah satu guru.
"Loh bu, didalam sudah tidak ada lagi anak-anak. Semuanya sudah pulang" ucap ibu guru.
"Loh, tapi saya belum menjemput anak saya, dia kan ngak mungkin pulang sendiri" ucap Ana mulai panik.
"Tapi semua anak-anak tadi di jemput orang tuanya" ucap ibu guru.
"Kalau begitu, siapa yang jemput anak saya?"
"Kalau boleh tahu, anak ibu siapa ya namannya?"
"Alvis" jawab Ana cepat "Oh Alvis murit baru itu"
"Iya benar, apa ibu tahu siapa yang datang menjemputnya?"
"Kalau Alvis sih tadi di jemput oleh ayahnya" jawab ibu guru.
"Ya tuhan, pasti mas Asenio sudah tahu dimana aku menyekolahkan Alvis" pikir Ana.
"Ya udah makasih ya bu, permisi" ucap Ana lalu kembali masuk ke dalam mobil. Mobil melaju membawahnya jauh dari halaman sekolah Alvis.
"Masa iya dia bisa lupa kalau suaminya telah menjemput anaknya" gumam ibu guru sambil menatap mobil Ana yang berlahan hilang dari pandanganya.