My Love Story

My Love Story
Bab 134



Sambungan telefon pun terputus, Ana dan Arsenio kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


"Mas" pangil Ana, sementara Arsenio menatapnya dari samping.


"Sepertinya mama dan yang lainnya sudah pulang deh" ucap Ana di selah-selah langkah mereka menuruni satu-persatu anak tangga.


"Kita kan belum melihatnya, mana bisa kamu menyimpulkan seperti itu" ucap Arsenio.


"Ini sudah hampir jam 9 loh, bukankah mereka akan pergi bekerja?" ucap Ana, sementara Arsenio yang mendengarnya diam.


"Ya ampun" ucap Ana sambil menghentikan lanhkahnya yang membuat langkah Arsenio pun ikut berhenti.


"Ada apa sayang?" tanya Arsenio.


Ana menatap suaminya "Mas, ini sudah hampir jam sembilan loh dan Alvis, apa dia sudah berangkat ke sekolah?" ucap Ana panik.


Arsenio yang mendengarnya meletakan kedua tangannya ke bahu Ana "Tenang sayang"


"Bagaimana aku bisa tenang mas?, sementara Alvis belum berangkat ke sekolah, dia pasti marah dan tidak menutup kemungkinan dia akan menangis jika sampai telat" ucap Ana.


"Mas, kamu duluan aja sarapannya nanti aku nyusul. Aku mau lihat Alvis ke kamarnya" lanjut Ana.


"Sayang...,hey dengarkan aku dulu!" ucap Arsenio yang membuat Ana diam sambil menatapnya.


"Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu sayang, kan ada pak Surya dan pak Benito. Mereka pasti sudah mengantar anak kita ke sekolah dan bukan hanya mengantarnya, mereka bahkan menunggu sampai Alvis pulang" jelas Arsenio.


Ana yang mendengarnya pun tampak menghela nafas lega "Kenapa mas ngak ngomong dari tadi sih?, kalau mas ngomong lebih dulu, aku kan tidak perlu sepanik tadi" ucap Ana melanjutkan langkahnya.


"Bagaimana mau ngomong?, kamu mana ada memberiku waktu untuk bicara" ujar Arsenio mengikuti langkah istrinya.


"Tau ah, mau cepat-cepat ke meja makan. Cacing-cacing di perutku sudah pada laper" Ana mempercepat jalannya membuat Arsenio sedikit tertinggal.


"Sayang tunggulah aku, hanya karena masalah sepeleh kita jadi marahan" ucap Arsenio mempercepat langkahnya, sementara Ana yang mendengarnya menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahnya.


"Masalah sepeleh?, mas pikir masalah Alvis adalah masalah sepeleh?"


"Bukan begitu juga maksudku sayang"


"Terus apa maksud mas ngomong seperti itu?. Mas ngak tahu saja betapa pusingnya aku memikirkan cara untuk membujuk Alvis agar tidak marah, mas ngak pernah tahu bagaimana susahnya menjaga anak makannya mas dengan mudah mengatakan itu adalah masalah sepeleh" ucap Ana yang mulai tersulut emosi.


"Iya, iya aku ngaku salah, ya aku yang salah dalam hal ini. Maka dari itu aku minta maaf, plis jangan marah lagi" ucap Arsenio.


"Sudah tau salah, masih sempat-sempatnya membela diri" batin Ana dalam hati.


Arsenio meraih kedua tangan istrinya "Sayang, maafkan aku. Aku janji ngak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama"


"Janji ya, ngak diulangi lagi?" Arsenio mengggangguk "Iya sayang, aku janji"


"Ya udah ayo kita sarapan" ucap Ana kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara Arsenio masih berdiri di tempatnya "Tapi kamu sudah maaf aku kan sayang?" tanya Arsenio.


"Ya, sudah ku maafkan" sahut Ana tanpa menghentikan langkahnya.


Arsenio menghelela nafas lega "Kenapa dia baperan gini orangnya?, apa karena kita baru habis melakukan itu?" ucap Arsenio sambil tersenyum.


Ana yang tidak merasakan keberadaan suaminya di belakangnya pun kembali menoleh dan mendapati Arsenio masih belum juga bergerak dari tempat berdirinya.


"Ngapai senyum-senyum mas?, ayo cepat nanti sarapannya keburu dingin" ucap Ana.


"Iya sayang, aku kesana sekarang" Arsenio dengan setengah berlari mengejar istrinya.


Keduanya pun sampai di meja makan terlihat beberapa Art yang juga berada di sana "Yang lain udah pada sarapan ya?" tanya Ana pada Art.


"Sudah nona. Tuan dan nyonya juga menitip pesan, permintaan maaf karena tuan dan nyonya sudah sarapan lebih dulu dan juha sudah pamit pulang karena tuan dan nyonya harus berangkat ke kantor" jelas Art panjang lebar.


Ana yang mendengarnya menatap suaminya "Tuh kan mereka sudah pulang, ini semua gara-gara mas!" ucap Ana cemberut.


"Udah, mending ngaku salah aja, dari pada berdebat lagi. Jika hal itu terjadi, bisa-bisa aku ngak dapat jata" pikir Arsenio.


"Mas, malah ngalamun!, aku sedang ngomong loh"


"Iya sayang, aku mendengarnya. Maafkan aku, aku yang salah dalam hal ini" ucap Arsenio menjeda ucapannya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ana.


Wajah Ana memerah, sementara Arsenio menarik salah satu kusri lalu duduk.


"Ngapai masih berdiri?, ayo sini duduk" ucap Arsenio menepuk kursi yang ada di sampingnya.


"Mana ada aku seperti itu, mas kali yang menikmatinya" ucap Ana lalu duduk di samping suaminya.


Arsenio menatap istrinya "Tentu saja aku menikmatinya, rasanya itu loh, luar biaaasa" ucap Arsenio.


"Hmm, bagaimana setelah ini kita ulangi sekali lagi?" lanjut Arsenio.


Plak.


Ana memukul bahu suaminya yang membuat si empuh meringis kesakitan.


"Aw, kenapa di pukul sih?" tanya Arsenio dengan tangan kanan diletakanya ke tempat yang di pukul Ana.


"Ingat kamu, harus ke kantor!" ucap Ana.


"Jadi sepulang dari kantor bisa kan di ulang lagi?😉"


Art "😲Pembahasan macam apa ini?"


"Iss dasar mesum!. Sana makan sarapannya nanti keburu dingin" ucap Ana.


Arsenio bergerak mengambil satu sendok lauk "Biarin aja, yang penting mesumnya sama istri sendiri, iya kan bi?" ucap Arsenio menatap Art yang ada di dekat mereka sementara Ana pun ikut menatapnya.


"Benar tuan"


"Tuh, di benarkan oleh bibi" ucap Arsenio tersenyum penuh kemenangan.


Sementara Ana diam dan memilih untuk menyantap makanannya.


Di waktu yang sama, terlihat Kana berjalan kesana kemari di depat ruang metting, jelas terlihat rasa khawatir di raut wajahnya.


Terlihat Fino dan Lastri keluar dari ruangat tersebut "Bagaimana?, apa sudah ada kabar dari pak Reza?" tanya Fino.


Kana menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka "Belum No, aku sudah menghubunginya beberapa kali namun tak ada jawaban" jawab Kana khawatir.


"Bagaimana?, apa kliennya masih mau menunggu?" tanya Kana.


"Alhamdulillah, mereka berhasil kita bujuk untuk menunggu beberapa saat lagi" jawab Lastri.


"Syukurlah" ucap Kana yang tampak menghela nafas lega. Ia terlihat kembali menghubungi pak Reza namun lagi-lagi tak ada jawaban darinya.


Selang beberapa menit sosok yang sabgat di kenali mereka pun datang dari arah pintu masuk.


"Gays, lihat itu pak Reza datang" ucap Lastri sambil menunjuk arah yang di maksudnya, sementara Fino dan Kana yang mendengarnya pun ikut menatap kearah yang di tunjuk oleh Lastri.


"Hufff, akhirnya dia datang juga" pikir Kana.


"Selamat pagi pak" sapa mereka bertiga.


"Pagi" jawab Reza "Bagaimana?, apa mereka masih menunggu di dalam?" tanya Reza.


"Benar pak, mereka masih menunggu bapak di dalam" jawab Kana.


"Ya udah kita masuk sekarang!, dan mulai mettingnya" ucap Reza.


"Baik pak" jawab mereka bersamaan


Reza berjalan masuk lebih dulu dan akan disusul oleh Kana, Lastri dan juga Fino.


"Gays, apa kalian tidak mencium wanginya bedak bayi?" tanya Lastri.


"Aku juga menciumnya, wangi itu datang bersamaan dengan kedatangan pak Reza bukan?" ucap Fino.


"Ya aku pikir juga begitu" ucap Lastri.


"Udah, nanti aja di bahas. Sekarang kita harus cepat masuk!" Kana menarik tangan kedua temannya dan membawah mereka masuk ke ruang metting.