My Love Story

My Love Story
Bab 129



Malam semakin larut, Semua orang tampak tertidur dengan nyenyak namun itu tidak berlaku dengan seseorang , yang terlihat berbaring di atas tempat tidur namun tidak untuk tidur, pandangannya menatap langit-langit kamar dengan tangan kanan diletakannya ke atas dahi.


"Aku kenapa sih?, ngapain coba berbuat seperti itu padanya?" gerutu Rangga pada dirinya.


"Aku yang sekarang seperti bukan diriku sebenarnya" lanjut Rangga memikirkan sesuatu yang terjadi sore tadi.


Rangga menyapu kasar wajahnya lalu segera bagun, duduk dan pandanganya menatap pintu "Apa aku minta maaf sekaraang ya?" ujar Rangga.


"No... no..no, kalau aku minta maaf padanya. Secara langsung aku mengakui apa yang aku lakukan kepadanya"


"Isssst dasar bodoh... bodoh" Rangga memukul kepalanya.


Rangga telihat tidak bisa tidur, bayang kejadian sore itu terus terputar dengan jelas di pikirannya.


Karena terus-terusan memikirkan hal itu pada akhirnya dia tidak tidur semalaman.


Dia di kagetkan oleh benda kecil di sakunya yang berbunyi. Tanpa menunggu lama dia pun segera mengangkatnya.


πŸ“ž"Halo tuan" ucap Rangga.


πŸ“ž"Hmm, apa kamu sudah bagun? atau bangun karena telelefon dariku?" tanya Rangga.


"Sebelum tuan menelfonku aku sudah bangun bahkan ngak bisa di sebut bangun tidur,karena apa? Karena semalaman aku memang ngak bisa tidur" pikir Rangga.


πŸ“ž"Maaf, saya terbangun karena pangilan telefon dari tuan" jawab Rangga bohong.


"Maafkan aku tuan" batin Rangga.


"Mas, langsung ke intinya aja, nanti Kana bisa telat loh" terdengar suara Ana dari seberang dan itu juga didengar oleh Rangga.


"Iya sayang, iya. Ini sudah mau bilang" ucap Arsenio.


πŸ“ž"Halo Rangga"


πŸ“ž"Ya tuan"


πŸ“ž"Saya pikir kamu sudah bisa mengantar Kana pulang, agar istriku tidurnya bisa tenang" ucap Arsenio.


"Iss ko ngomonya gitu sih?" terdengar suara Ana lagi.


"Ya memang kenyataannya seperti itu, bahkan kamu menolaku untuk melakukan itu karena terus-terusan memikirkan sahabatmu itu" ucap Arsenio.


"Mas!. Sambungan telefon masih terhubung loh!" ucap Ana.


πŸ“ž"😲" Rangga.


"Pikiranku ternodaiπŸ˜₯" pikir Rangga.


"Biarin aja!, toh dia sudah besar. Jika dia iri tinggal nikah aja sama Kana, terus mereka bisa melakukan hal yang sama, gitu aja ko susah" ucap Arsenio yang langsung mendapatkan satu pukulan melayang di bahunya.


Sementara Rangga yang ikut mendengarnya pun terkejut "Pembahasan macam apa ini?, kenapa aku yang jadi korbanya?" pikir Rangga


"Cepat langsung matikan saja telefonnya!" pinta Ana.


"Baiklah"


πŸ“ž"Rangga"?"


πŸ“ž"Ya tuan"


πŸ“ž"Kamu ke kamar diamana Kana tidur!, bangunkan dia dan antar dia pulang ke rumahnya!" tita Arsenio.


πŸ“ž"Maaf tuan, tapi saya tidak tahu dimana kamar yang di tempati nona Kana"


πŸ“ž"Tuh, ada di sebelah kamarmu. Saya sengaja memberikan kamar yang berdejatan agar memudahkan kalian" sahut Arsenio.


"Memudahkan kalian?, makasudnya apa ini? kenapa kata itu terdengar begitu ambigu" batin Rangga.


πŸ“ž"Baik tuan" Rangga menjawab


πŸ“ž"Ingat, jangan kamu apa-apakan sahabat istriku!"


Deg


"Apa maksudnya ini?, apa tuan mengetahui kejadian kemarin sore? apa Kana sudah melapurkan hal ini pada mereka?" gumam Rangga dalam hati.


πŸ“ž"Rangga?, apa kamu mendengar ucapanku barusan?" tanya Arsenio yang belum mendapat jawaban daru Rangga seperti biasanya.


πŸ“ž"Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik" ucap Arsenio.


πŸ“ž"Baik tuan" sahut Rangga.


Sambungan telefon pun terputus, tampak Rangga menghela nafas panjang sambil menatap nama kontak di ponsel miliknya.


"Nona Kana"


Ya itulah nama kontak Kana yang tersimpan di ponsel Rangga.


"Telefon atau langsung di samperin ke kamar?" Rangga tanpa berpikir keras.


Selang beberapa menit akhirnya dia memutuskan untuk langsung menghampiri Kana ke kamar dimana dia tidur.


Di depan pintu kamar Kana, terlihat Rangga hendak mengetuk pintu namun sebelum dilakukannya pintu kamar lebih dulu terbuka.


"Aaa" teriak Kana dengan cepat bergerak mundur.


"Tenang!, ini saya bukan hantu" ucap Rangga dan pada akhirnya Kana diam namun memilih tidak menatap Rangga.


"Saya bisa pulang sendiri!" ucap Kana dengan kepala di tundukan.


"Tapi...."


"Saya bilang, saya bisa pulang sendiri!" tegas Kana sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya.


"Bagaimana kalau nona Ana tahu?, saya pasti akan kenah marah"


"Karena itu jangan katakan apapun pada Ana!" ujar Kana.


Rangga yang mendengarnya tampak diam.


"Ya tuhan, pertahankan rasa keberanian ini" gumam Kana dalam hati.


"Maaf" satu kata itulah yang pada akhirnya keluar dari mulut seorang Rangga.


Kana tampak sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat dengan jelas wajah Rangga sebelum dia kembali menundukan kepalannya.


"Satelah saya pikir-pikir, saya memang salah karena waktu itu telah.. "


"Cukup!" Kana menatap Rangga.


"Saya pikir bapak tidak perlu membahasnya lagi dan biarkan saya pulang sendiri!" ucap Kana lalu berjalan keluar.


"Tapi Kana...."


"Kana... " Rangga segera menyusul Kana.


Karena langkah Rangga teramat panjang, tidak perlu memerlukan waktu lama, Rangga pun berhasil menyusul Kana dan segera menahan tangan Kana.


"Kana"


Kana berhenti lalu menoleh kearahnya "Lepaskan tangan saya pak!, atau saya akan teriak" ucap Kana.


"Ya, saya akan melepaskan, tapi tolong dengarkan saya dulu" ucap Rangga.


Melihat Kana diam, dan sepertinya mengizinkannya berbicara, Rangga pun segera melepaskan tangan yang mengengam pergelangan tangan Kana.


"Nona Kana, saya benar-benar meminta maaf atas kejadian sore itu"


"Semua terjadi begitu saja tanpa saya sadari. Bahkan saat itu, saya merasa bukan saya yang sebenarnya, saya yang sebenarnya pasti tidak akan melakukan hala seperti itu" jelas Rangga.


Kana yang mendengarnya pun terkejut, amara yang sedari tadi dia tahan akhirnya keluar juga.


Kana sedikit mengangkat kepalanya agar bisa dengan jelas menatap wajah pria yang di depannya, kedua tanganya di gegangamnya erat dengan raut wajahnya memerah.


"Sedari awal kejadian bapak tetap dengan pendirian bapak, yaitu tidak melakukan apapun walaupun sebenarnya bapak melakukannya"


"Dan sekarang bapak datang untuk meminta maaf tapi masih tetap dengan pendirian bapak yaitu tidak ingin mengakui perbuatan bapak. Dan sekarang bapak seolah-olah bersikap memiliki dua kepribadian"


"Helo pak, saya sadar saya hanya perempuan biasa yang jauh dari kata sempurna, namun saya masih punya harga diri, saya tidak akan menggoda seorang pria seperti halnya yang bapak tuduhkan kepada saya sore itu"


"Dan lagi satu!, saya sudah berusaha keras untuk melupakan kejadian itu, saya pikir ke depannya tidak ada lagi pembahasan mengenai hal ini" ucap Kana lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.