
Kendaraan terus melaju, melewati jalan-jalan kota yang tampak sibuk. Setelah satu jam 15 menit, mereka akhirnya tiba.
Sopir turun lebih dahulu dari mobil dan langsung disusul oleh Pak Rudi.
Keduanya terlihat membukakan pintu mobil untuk ketiga wanita yang duduk di jok tengah.
Ana turun melalui pintu yang dibukakan oleh sopir sedangkan Melinda keluar melalui pintu yang dibukakan oleh suaminya.
"Terima kasih pak" ucap Ana pada supir.
"Sama-sama nona"jawabnya seraya sedikit menundukan kepalanya.
Dan yang terakhir turun dari mobil adalah Kana yang tentunya dibantu oleh Ana karena panjangnya gaun yang dikenakannya membuatnya sedikit sulit untuk beranjak keluar.
Setelah berhasil keluar, sopir kembali masuk ke dalam mobil untuk memarkirkan mobilnya ke tempat yang seharusnya diparkir.
Rudi melihat jam yang melingkari tangan kirinya, dimana jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.45.
Sementar dari kejauhan, seseorang keluar dari gedung dan melangkah ke arah mereka.
"Selamat pagi" ucapnya setelah sampai.
"Pagi" jawab semua orang secara bersamaan.
"Acaranya akan segera dimulai, jadi di persilakan pengantin untuk memasuki gedung" ucapnya dengan suara lembut.
"Ya, kita akan segera masuk" jawab Rudi "Apa kamu sudah siap Nak?" lanjut Rudi menatap Kana.
Sementara Kana tampak terdiam, perasaan gugup mulai menyelimuti hatinya, jantungnya berpacu dengan cepat, dengan jemarinya mulai terasa dingin.
"Kana, pamanmu sedang bertanya" kata Ana sambil menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Kana, itu membuat Ana menatapnya.
"Tidak apa-apa," kata Ana pelan, mengerti bahwa sahabatnya saat ini sedang diliputi kegugupan.
Setelah mendengar kata-kata Ana, Kana kembali melihat lurus ke depan.
Kana terlihat membuang nafas pelan lalu menjawab "Ya, aku siap paman"
"Ya udah, kita jalan sekarang" ucap Rudi.
Rudi, Melinda, Kana dan Ana perlahan melangkah masuk ke dalam gedung tempat para tamu undangan sudah menunggu kedatangan calon pengantin.
Setelah tiba di depan pintu, kedua pria itu segera membuka pintu, perlahan memperlihatkan banyaknya orang di sana, dengan dua sosok pria berdiri di depan.
Sepertinya semua mata tertuju pada sosok mempelai wanita yang terlihat cantik dan anggun, hal itu justru membuat kegugupan Kana semakin bertambah.
"Tenang Kana, semuanya akan terlewati" gumamnya dalam hati.
Rudi, Melinda, Kana dan Ana kembali melanjutkan langkah mereka melewati karpet yang terbentang hingga ke tempat di mana kedua pria itu tampak berdiri.
"Wahh, Aunty sangat cantik aku bahkan hampir tak mengenalnya dan lihat daddy!, bukankah mommy juga terlihat sangat cantik?" ucap Alvis menunjuk ke arah ibunya.
"Iya sayang, mommy terlihat sangat cantik.
Ternyata daddy ngga salah pilih istri" ucap Arsenio.
Arsenio menarik tangan istrinya setelah Ana melangkah sejajar dengan kursi yang mereka duduki. Sementara Rudi, Melinda dan Kana terus berjalan dan berhenti setelah mereka sampai.
"Wah, apakah ini benar-benar istriku?" kata Arsenio terpesona dengan kecantikan istrinya.
"Sangat mengemaskan," lanjut Arsenio sambil mencubit kedua pipi Ana, membuat sang empu meringis kesakitan.
"Oh maaf sayang, sini aku cium biar sakitnya hilang" ucap Arsenio sambil bergetak mencium istrinya.
Namun, sebelum bibirnya menyentuh pipi istrinya, Ana lebih dulu mencegahnya menggunakan tangannya.
"Malu mas, dilihatin banyak orang," kata Ana sementara Arsenio tampak mendengus kesal.
Ana menatap Kana yang kini berada di depan, sedangkan Arsenio yang melihatnya langsung menyempatkan diri untuk mencium istrinya.
cup
Ana membulatkan matanya dan langsung menoleh menatap suaminya yang tampak tersenyum penuh kemenangan.
"Mas!, apa yang mas lakukan?" Ana memegang tempat dimana Arsenio melayangkan kecupannya.
"Jangan marah!, hanya sekali kok. Terus nggak ada tuh yang melihatnya" ucap Arsenio.
Ana kemudian membuang napas pelan seraya duduk di kursi barisan depan, sementara Arsenio dan Alvis tampak mengikuti Ana yang duduk dengan mata terfokus ke depan.
Di depan kini, hanya ada Rangga Kana dan pendeta, paman dan bibi Kana telah kembali dan duduk di barisan depan bersama Arsenio, Ana dan Alvis.
Setelah melalui beberapa tahapan acara, akhirnya sampai pada tahap pemberkatan pernikahan, dimana Rangga dan Kana harus mengucapkan janji pernikahan yang telah dihafalkan oleh keduanya.
Pengucapan janji pernikahan diawali dengan Rangga dan kemudian akan dilanjutkan oleh Kana.
"Kana, saya mengambil engkau menjadi istri saya untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai dengan selama- lamanya. Pada waktu susah mau pun senang, pada waktu kelimpahan maupun lekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai sampai maut memisahkan kita" ucap Rangga dengan suara lantang.
Setelah itu, giliran Kana yang mengucapkan janji pernikahan. Dengan rasa gugup yang masih menyelimutinya, Kana perlahan mengucapkan satu per satu kata yang sama dengan yang diucapkan Rangga.
Setelah acara pemberkatan usai, dilanjutkan dengan acara pemasangan cincin dimana Rangga memasangkan cincin di jari Kana dan Kana juga demikian.
Satu per satu agenda telah dilalui, sampai dimana tahap pernyataan resmi pasangan suami istri dan dilanjutkan dengan doa penutup.
Seluruh rangkaian acara selesai, para tamu satu per satu mengucapkan selamat kepada pengantin yang baru saja resmi menjadi suami istri. Dan itu berlangsung cukup lama karena banyaknya tamu undangan.
Hal itu membuat kaki Kana terasa lelah karena menggunakan high hils yang lumayan tinggi. Dan hal itu tak luput dari pandangan Rangga, Rangga langsung memberi isyarat kepada seseorang untuk membawakan sepasang sepatu yang telah ia siapkan.
Rangga duduk berjongkok di depan Kana, yang membuat Kana terkejut.
"Mau apa pak?" tanya Kana.
"Udah diam saja, aku hanya ingin mengganti high hilsmu dengan ini" Rangga menunjukkan sepatu di tangannya. "Kakimu pasti sangat lelah," lanjutnya.
Dari kejauhan ada dua pasang mata yang juga menyaksikan itu "Hmm, pengertian sekali Rangga" ucap Ana sambil tersenyum melihat pemandangan indah itu.
Arsenio yang mendengar itu, menoleh kearahnya "Nggapain senyum-senyum?, memangnya aku kurang perhatian kepadamu?"
Ana menoleh seraya menteringitkan dahi binggung "Mas kenapa sih?, akhir-akhir ini sensitive baget. Aku kan hanya kagum saja melihat Rangga yang seperhatian itu pada Kana dan aku senang melihat itu" ucap Ana.
"Ini pada kenapa sih?" ucap Nicholas yang entah sejak kapan berdiri disana.
"Nih, mas Arsenio. Akhir-akhir ini Sensitive baget, nggak boleh lihat aku begini dan begitu pasti selalu ditegurnya" jawab Ana cemberut.
"Arsenio...Nggak boleh gitu, kasihan kan istrimu, jika kamu terus bersikap seperti itu" ucap Sarah.
"Biasalah, paling dia bersikap seperti itu karena sedang cemburu" ucap Gibran sementara Rany dan Alin yang mendegarnya pun tertawa.
Di atas pangung, seorang wanita yang berprofesi sebagai Mc dengan hormat mengundang keluarga Saguna dan kedua keluarga mempelai untuk melakukan foto bersama kedua mempelai.