
Sedikit cerita tentang Kana, Kana merupakan anak dari saudara pemilik rumah yang Kana tinggali saat ini, di usianya yang baru saja menginjak 6 tahun kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tungal yang membuat keduanya meninggal.
Sejak saat itu Kana di rawat dan dibesarkan oleh saudarah ayahnya yang bertepatan tidak memiliki anak. Kana selalu di manja oleh keduanya, apapun yang di ingikannya pasti dituruti, namun begitu Kana tumbuh menjadi seorang gadis yang mandiri dan juga pekerja keras.
5 tahun terakhir, paman dan juga bibi yang sudah dianggapnya sebagai ayah dan ibunya di pindahkan kerja ke kota lain, sejak saat itu dirumah Kana selalu sendiri hanya di temani oleh Art yang bekerja di rumahnya.
Paman dan bibinya akan mengunjunginya dua kali dalam setahun, namun Kana di izinkan untuk datang menemui mereka kapan saja jika dia merindukan sosok paman dan juga bibinya.
**
Di sebuah ruangan dengan dokorasi yang cukup memanjakan mata tampak sebuah jam dinding berbentuk bulat, jarum jamnya kini menunjukan pukul 18.30.
Di waktu yang sama pula tampak Kana mengeliat dari tidurnya, berusah untuk mengumpul kesadarannya sebelum benar-benar bangun dari tidurnya.
"Sudah bagun ya?" tanya Ana yang kini duduk ditepi ranjang dengan ponsel ditangan kanannya.
Mendengar suara Ana, Kana pun segera bagun dan menoleh ke arahnya.
"Loh, kamu masih disini?" tanya Kana.
Ana menggangguk "Ya, seperti yang kamu lihat. Aku masih disini" jawab Ana.
"Ya ampun, maafkan aku An. Aku benar-benar ketiduran sampai ngak ingat kamu ada disini" ucap Kana merasa bersalah.
"Udah ngak apa-apa. Aku sengaja ko membiarkan kamu tidur"
"Ngomong-ngomong soal tidur, bukankah tadi aku tidur di mobil?" tanya Kana yang baru menyadari.
Ana kembali menggangguk "Benar"
"Lah terus siapa yang membawahku ke kamar?, apa kamu yang memopongku kesini?"
Ana mengeleng "Mana ada aku memopong tubuhmu, mana mampu aku. Tuh aku minta tolongbl tukang kebun untuk membawahmu masuk" jawab Ana santai.
"Ha?, tukang kebun?" Ana menggangguk "Ya tuhan, malu baget. Pasti aku sangat berat" lanjut Kana menutup wajahnya dengan kedua tanganya.
Ana yang melihatnya pun tertawa "Tuh kan kamu saja menertawaiku, bagaimana dengan tukang kebun yang memopongku" ujar Kana.
Ana berhenti tertawa dan kembali serius "Mana ada kamu berat, toh aku lihat sendiri bagaimana santainya tukang kebun memopongmu dari mobil sampai kamar. Dia terlihat santai amat loh, itu artinya kamu ngak berat bagi dia" ucap Ana panjang lebar.
"Benarkah?" tanya Kana masih tak percaya.
"Ya, percayalah padaku" sahut Ana sambil mengganggukan kepalanya.
"Huff" Kana menghela nafas lega.
"Kana" pangil Ana.
"Hmm" jawab Kana menatap Ana.
"Apa aku boleh tahu, kamu kenapa seperti tadi?, kamu terlihat seperti orang yang ketakutan, apa seseorang telah mengganggumu?" tanya Ana.
"Bukan mengganggu sih, lebih tepatnya sikapnya kepadaku membuat aku takut" ujar Kana menundukan kepalanya.
Ana yang melihat itu segera mendekatinya, meletakan kedua tanganya di bahunya "Lihat aku!" pinta Ana yang membuat Kana mengangkat kepalanya menatap lurus Ana.
"Katakan padaku siapa orang itu dan kenapa dia bersikap seperti itu padamu!" lanjut Ana.
"Ceritanya panjang An" ucap Kana.
"Kalau begitu ceritakan padaku yang intinya saja" kata Ana.
"Kita itu keluarga. Jika kamu punya masalah, tolong cerita padaku!. Jangan di pendam sendiri!" lanjut Ana.
Kana yang mendengarnya pun memeluk Ana "Terima kasih An sudah mau mengangapku keluarga, aku hanya punya kamu selain paman dan bibiku" ucap Kana.
Ana membalas pelukan Ana dengan tangan kananya menepuk lembut punggung Kana.
Di menit berikutnya Kana memutuskan untuk menceritakan semua yang di alaminya pada Ana tanpa terlewati satu pun.
"Jadi begitu ceritanya An" ucap Kana di akhir ceritanya.
"Ternyata dia orang seperti itu, aku benar-benar sudah salah menilainnya" ucap Ana.
"Tidak perlu di pikirkan lagi, Tapi, jangan segan-segan memberitahu jika dia kembali mengganggumu" ucap Ana
"Dan kamu ngak perlu khawatir soal pekerjaan. Kamu bisa ko bekerja di perusahaan suamiku, nanti aku yang akan mengurusnya untukmu" lanjut Ana.
"Terima kasih An" ucap Kana sambil tersenyum.
"Sama-sama" sahut Ana membalas senyum Kana.
Dering ponsel Ana berbunyi membuatnya segera menatap layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Kana.
"Suamiku" jawab Ana "Sebentar ya aku angkat dulu" lanjut Ana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Kana.
📞"Halo sayang" ucap Arsenio setelah sambungan telefon terhubung.
📞"Iya mas"
📞"Kamu masih di rumah Kana kan?"
📞"Benar mas, dikit lagi baru aku pulang"
📞"Pulangnya sekalian aja, aku dan Alvis lagi di jalan mau menuju rumah Kana. Nih bentar lagi mau sampai" ucap Arsenio.
📞"Benarkah?"
📞"Iya sayang, nih anak kesayanganmu katanya mau ketemu aunty"
📞"Oh gitu ya, ya udah aku tunggu di sini ya mas"
📞"Ok sayang"
Sambungan telefon pun terputus.
"Kenapa?, apa tuan Arsenio menyuruhmu pulang?" tanya Kana.
"Ngak, dia telefon aku hanya ingin membetitahukan kalau mereka lagi di jalan mau ke sini. Dikit lagi sampai"
"Dengan Alvis kan kesini?" tanya Kana antusias.
"Ya, Alvis sendiri yang ingin ke sini katanya mau ketemu auntynya" jawab Ana.
"Syukurlah, aku memang sudah lama ngak bertemu dengannya. Pengen main dan makan es krim bersama" ucap Kana.
"Tunggu!" ucap Ana tampak mengingat-ngingat sesuatu.
"Ada apa?" tanya Kana menyeringitkan dahi binggung.
"Ya ampun aku lupa🤦. Habisnya aku serius dengar ceritamu makannya aku lupa" ucap Ana.
"Memangnya apa yang dilupa?" tanya Kana
"Aku lupa memberitahumu, kalau Pak Rangga menunggumu di ruang tamu"
"Ha?, Paka Rangga menungguku?" ucap Kana tak percaya.
"Iya Kana, dia sudah lama menunggumu. Ayo cepat bersikan dirimu lalu temui dia!. Aku akan turun lebih dulu sekalian mau jemput suamiku dan juga anakku" ucap Ana lalu bergerak turun dari tempat tidur
"Jangan lama-lama, kasihan dia!" ucap Ana sebelum keluar dari kamar Kana sementara Kana masih duduk di atas tempat tidur dengan rasa tak percaya.
"Masa iya dia menunggguku selama itu?, apa dia ngak punya kerjaan lain?" batin Kana.