My Love Story

My Love Story
Bab 110



Setelah beberapa menit, Rany pun kembali, Kana dan Ana yang melihat itu pun segera bertanya.


"Sudah selesai ya?, Cepat baget baliknya" ucap Kana dan Ana hampir bersamaan.


"Ya sudah selesai, Arsenio telah mengurus semuanya" Rany berjalan menghampiri mereka.


"Jadi dia sudah melunasi semua tagihan rumah sakit?" tanya Ana menatap ibunya.


Rany menggangguk "Benar" sahut Rany "Wanita yang bertugas disana bilang, Di telah melunasi semua tagihan rumah sakit" lanjut Rany.


"Waw hebat daddy" ucap Alvin yang membuat Kana, Ana dan Rany melihat kearahnya.


"Pasti daddy punya banyak uang" lanjut Alvis.


"Hmm kalau soal itu, tidak perlu diragukan lagi. Bahkan daddymu bisa saja membeli rumah sakit ini" pikir Kana sambil membelai lembut rambut hitam Alvis.


"Mommy" Alvis menatap Ana.


"Ada apa sayang?, mau tanya apa?" ucap Ana.


"Kata daddy, Alvis anak daddy, itu artinya daddy ayah Alvis dong" Alvis menjeda ucapanya.


"Iya benar" ucap Ana membenarkan.


"Tapi...."


"Tapi apa sayang?" tanya Ana


"Tapi kenapa daddy tidak tinggal serumah bareng aku, mommy dan juga oma?" tanya Alvis.


Ana terdiam, ia sama sekali tidak menduga Alvis akan bertanya seperti itu.


"Mommy kenapa diam?, aku sedang bertanya loh" Alvis bergantian menatap Ana dan juga Rany.


Melihat Ana dan Rany diam, Kana pun memuruskan menjawab pertanyaan Alvis.


"Sayang... sini sama aunty!" ucap Kana


Alvis pun bergerak mendekati Kana sementara Ana dan Rany ikut menatap Kana.


"Siapa yang bilang daddy ngak tinggal serumah bareng Alvis?" ucap Kana "Daddy Alvis tinggal ko serumah bareng Alvis, mommy dan oma. Hanya saja daddy Alvis masih sibuk, lagi banyak kerjaan di kantor"


"Nah, Karena rumah opa lebih dekat dari kantor maka daddy Alvis untuk sementara waktu tinggal tuh di rumah opa. Nanti kalau sudah ngak sibuk lagi pasti Daddy Alvis pulang ke rumah Alvis, mommy dan juga oma, iya kan mommy...oma?"


Alvis dan Kana bergantian menatap Ana dan Rany. Sementara Ana melirik ibunya berharap ia akan mengiyakan apa yang di katakan Kana.


"Benar sayang, daddy pasti akan pulang ke rumah kalau sudah ngak sibuk lagi" sahut Rany dengan senyum yang di paksakan.


"Tuh kan benar. Sekarang Alvis sudah mengerti, kenapa daddy Alvis ngak tinggal serumah dengan Alvis, mommy dan Oma?" ujar Kana.


Alvis menggangguk "Aku mengerti aunty" sahut Alvis.


"Bagus, Alvis memang anak yang pintar" ucap Kana sambil tersenyum.


Sementara Ana dan Rany hanya bisa saling berpandangan.


Ke esokan harinya.


Seperti yang telah di janjikan Rany, bahwa mereka akan pulang pagi hari. Suasana ruangan yang nampak sepi tampak Rany dan Kana sama-sama merapikan semua barang-barang yang akan di ikutsertakan saat pulang.


"Ok, semuanya sudah siap" ucap Kana.


"Iya benar, kita tinggal mengangkat semua barang-barang terus membawanya ke mobil" tambah Rany.


"Ko daddy belum datang?, mommy kan sudah mau pulang" ucap Alvis yang duduk di sofa dengan pandangan fokus ke layar ponsel milik Kana.


Mendengar itu seketika semua melihat kearahnya termasuk Ana. "Hal apa yang di perbuat Arsenio, sampai-sampai Alvis terus menanykan dirinya" pikir Rany.


Suara pintu terbuka membuat mereka segerah menoleh ke arah pintu, sementara di balik pintu munculah Arsenio dengan senyum manis setia menghiasi wajahnya.


"Selamat pagi" sapa Arsenio.


"Pagi" sahut Kana dan Ana pelan, sementara Rany hanya menatap tajam kearahnya tampa membalas salam dari Arsenio.


Alvis yang mendengar itu pun segera meletakan ponsel milik Kana yang di pinjamnnya ke atas meja dan berlari menghampiri ayahnya.


"Daddy..... " ucap Alvis.


Alvis berlari dan langsung memeluk ayahnya "Uduh uduh anak daddy, sudah kangen ya sama daddy?" ucap Arsenio yang juga memeluk Alvis.


Alvis menggangguk sebagai jawaban "Tadi, aku barusan bilang ko daddy belum datang?, eh tau-taunya daddy sudah datang" ucap Alvis girang.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rany yang membuat Arsenio dan Alvis menatap ke arahnya.


"Bukankah aku sudah memperigatimu agar tidak terus-terusan datang menjenguk Ana" lanjut Rany.


Kana yang melihat itu segera menghampiri Rany "Tante..., jangan gomong gitu dong. Kan Alvis ada di sini" ucap Kana sedikit berbisik.


Sementara Arsenio, berjalan menghampiri Ana, ia bersikap seakan tidak mendengar apa yang di ucapan mertuannya barusan.


Ana yang mendengarnya mengerutkan dahi binggung "Bagaimana bisa Alvis memberitahumu?, sementara semalam dia terus berada di sini dan tidak kemana-mana" pikir Ana.


"Mommy.., mommy ko diam?, daddy sedang bertanya loh" ucap Alvis menyadarkan lamunannya.


"Oh iya, mommy lupa menjawabnya. Mommy sudah baik-baik saja dan sebentar lagi akan pulang, benar kan Alvis?" ujar Ana.


"Ya benar daddy, daddy juga ikut pulang kan di rumah oma?" tanya Alvis.


"Tentu saja, daddy ikut pulang" sahut Arsenio tampa beban.


"Jangan asal menjawab mas!" ucap Ana menatap suaminya.


"Loh memang aku ngak asal menjawab, aku memang akan pulang bersama kamu, mama Alvis dan juga Kana" sahut Arsenio serius.


"Ngak bisa!" Rany berjalan menghampiri Ana, dan Arsenio, Kana yang melihat itu pun ikut serta menghampiri mereka namun tidak untuk ikut campur melainkan membawah Alvis menjauh dari mereka.


"Alvis sayang, ikut aunty ya" Kana mengambil Alvis dari pelukan Arsenio.


"Loh memangnya kita mau kemana aunty?" tanya Alvis yang kini sudah berada di pelukan Kana.


"Rahasia dong, pokoknya Alvis diam saja nanti juga akan tahu kalau kita mau ke mana" ucap Kana.


"Oh gitu ya?"


"Iya sayang" sahut Kana lalu berjalan keluar dari ruang rawat.


Saking buru-burunya Kana keluar, ia tidak sadar seseorang berdiri di depan pintu dan pada akhirnya ia menabraknya.


"Aduh!" regek Kana.


"Aunty jalannya hati-hati dong, tuh kan nabrak orang" ucap Alvis.


"Uncle?" Kana yang mendengarnya menatap pria di depannya.


"Ya ampun maaf pak, saya benar-benar ngak melihat bapak ada di depan saya" ucap Kana cepat.


"Udah selesai ngomongnya?" tanya Rangga dingin. Kana pun menggangguk "Sudah pak"


"Sekarang menyingkirlah saya mau masuk" ucap Rangga.


Mendengar itu Kana langsung menutup pintu dan menarik tangan Rangga sedikit menjauh dari pintu.


"Ngapain kau mengajak saya ke sini?" tanya Rangga.


"Sebentar ya pak, saya turunin Alvis dulu" Kana menurunkan Alvis dan menyuruhnya duduk di kursi yang bertepatan ada di belakang mereka.


Setelah itu Kana kembali menatap Rangga yang berdiri kokoh di depannya "Begini pak, di dalam itu lagi ada perbincangan serius antara tuan Arsenio bersama istri dan juga mertuannya, jadi saya pikir bapak menunda untuk masuk ke dalam" jelas Kana.


Rangga yang mendengarnya pun diam, dia hanya menatap Kana tanpa ekspresi.


"Saya ngomong serius loh pak, kalau bapak tidak percaya coba saja cek sendiri" ucap Kana.


"Memangnya saya ada ngomong kalau sayang ngak percaya apa yang kau ucapkan barusan?" ucap Rangga.


"Tau ah, susah kalau ngomong sama es balok" ucap Kana lalu duduk di samping Alvis.


"Kau bilang saya apa barusan?, es balok?"


Kana melihat kearahnya dan memaksa tersenyum "Saya ngak ngomong gitu ko, bapak pasti salah mendengarnya" ucap Kana sementara Alvis bergantian menatap mereka.


"Salah dengar gimana?, jelas-jelas saya dengar kau ngomong begitu" ucap Rangga pelan.


"Bodoh amat, nyesal aku ngomong sama kamu" pikir Kana.


"Uncle duduk dong, ngak cape apa berdiri terus? " ucap Alvis.


"Udah biarin saja, dia mah sudah terbiasa" ucap Kana.


"Wih, Kana darimana kamu dapatkan keberanianmu ini?. Apa kamu lupa dia seorang Rangga, hal apa yang tidak bisa ia lakukan coba?, bagaimana kalau dia menyuruh boss memecatku, matilah aku" gumam Ana dalam hati.


"Wanita ini, untung kamu teman baik nona Ana kalau tidak..., tau ah" pikir Rangga.


Di dalam ruangan.


"Sepertinya kamu ngak mengerti ya?, sini biar aku beritahu" Rany berjalan mendekati Arsenio.


"Kamu dan Ana akan bercerai, jadi kamu tidak perlu terus datang menjenguk Ana. Oh soal Alvis, kami tidak melarang kamu untuk sekali-sekali datang bertemu Alvis, ingat hanya Alvis bukan Ana!" ucap Rany serius.


"Ma.. "


"Cukup!, aku tidak mau dengar penjelasanmu lagi" ucap Rany sebelum Arsenio melanjutkan ucapannya.


"Ma..., kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik, tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya termasuk pernikahan itu ma" ucap Arsenio.


"Pernikahan?" Ana mengerutkan dahi bingung "Maksudnya pernikahan apa ini?" lanjut Ana bergantian menatap Arsenio dan ibunya.


"Tolong kalian jawab!, pernikahan mana yang kalian maksud?" tanya Ana lagi yang belum juga mendapat jawaban dari suaminya mau pun ibunya.