My Love Story

My Love Story
Chapt End | 043



-Masih Di Waktu Yang Sama-


"Sudahlah, Ran. Apa maksud kamu bicara seperti itu?


Sekarang jawab, siapa itu Hajime, apakah dia pacar kamu?" "Untuk apa kau tanyakan hal itu? Penting, ya?" tanya ku.


Kamazaki diam tak menjawab. Kutahu dia tidak memi liki jawaban terbaik. Barangkali, dia menyesal karena telah meninggalkanku. Kini, saat dia mendengar nama laki-laki lain yang dekat denganku meskipun statusnya bukan pacar, dia tampak cemburu. Huft, laki-laki memang makhluk paling aneh!


"Setidaknya, aku tahu kau sekarang punya pacar atau tidak," jawab Kamazaki. Dalam hati, aku ingin sekali menangis karena kenangan manis demi kenangan manis yang telah kami lalui bersama.


"Kalau punya, memangnya kenapa? Penting ya buat mu?" tantangku lagi.


Kamazaki mendesahkan napas berat. Sepertinya, ia mulai lelah menghadapi sikapku kali ini. Dan obrolan kami pun terhenti, sebab seorang dokter keluar dari ruang ICU.


Tanpa permisi, Kamazaki meninggalkanku dan menemui pasukan dokter dan suster itu. Penasaran, aku pun meng ikuti Kamazaki.


"Dok, bagaimana?" tanya Kamazaki terburu-buru, kalimatnya tidak selesai. Namun, tanpa menyelesaikan kalimat itu pun, aku yakin dokter sudah mengerti maksud pertanyaan Kamazaki.


"Pacar Anda membutuhkan pendonor darah, kebetulan persediaan darah di sini kosong," kata dokter mengabarkan, dan seketika Kamazaki membasuh wajah paniknya.


Kamazaki sempat menoleh ke arahku, kulihat tatapan matanya penuh penyesalan. Kini, tak ada yang bisa disembu nyikan lagi dariku. Dengan mata dan telingaku sendiri, aku mengetahui Kamazaki telah memiliki pacar lagi.


"Penderita leukemia tidak akan bisa bertahan lama jika darah terus-menerus keluar dari lukanya. Setelah dijahit, kita harus mengganti darah yang keluar dari tubuhnya," sambung dokter, dan aku iba mendengar pacar Kamazaki terkena penyakit mematikan, leukemia. Meski sakit, karena ternyata Kamazaki pulang demi pacar barunya, bukan untukku, bukan juga untuk Timnas Jepang, aku ikut berempati dengan nasib pacarnya Kamazaki.


Dering telepon di tasku menyebabkan obrolan antara dokter dan Kamazaki terganggu, aku menyingkir demi menjaga privasi. Ternyata, Akira yang menelepon!


"Kak Ran, kau di mana sekarang? Lekaslah pulang, Ayah dan Ibu sudah ada di rumah! Mereka sengaja tidak memberi kabar karena ingin membuat kejutan. Dan tampaknya, mereka sukses membuatku terkejut dan menangis bahagia!" Akira menjerit kegirangan mengabarkan kepulangan orang tua kami.


"Lekaslah pulang, Kak Ran!" seru Akira. Dari nada bica ranya, kutahu anak itu bahagia. "Kak Ran, mimpimu untuk bertemu Kamazaki benar-benar akan terwujud. Ayah mengajak kita berlibur ke Manchester selama satu pekan!"


"Baiklah, tunggu aku! Aku segera pulang."jawabku,


Pura pura tidak tahu rencana ayah ibuku yang akan mengajak kami berlibur ke Manchester. Tanpa Akira tahu, tanpa ke Manchester pun, aku sudah bertemu dengan Kamazaki. Detik pun berlalu, saat telepon kusudahi, pasukan


dokter sudah enyah. Tinggallah Kamazaki seorang diri


sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri.


"Ran, maafkan aku...," ungkap Kamazaki penuh sesal. "A...aku...."


Dengan jari telunjuk yang kutekankan ke bibir, aku mendiamkan Kamazaki, "Sudahlah, Kamazaki. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sekarang kau urus saja pacar kamu, ya? Temani dia, pasti dia butuh kamu. Aku mau berlibur ke Manchester bersama keluargaku."


"Ke Manchester?" tanya heran.


"Iya, memangnya cuma kamu yang bisa ke Manchester!?" balasku. Kali ini, aku menang atas Kamazaki. "Meskipun aku bukan pemain sepak bola sepertimu, aku juga bisa ke Manchester."


..._____________________________ ...


...^^^~*End~^^^...


Thanks You Guys Buat Yang Udah Mampir Ke Novel Pertama Ku Yang Gajelas Ini Makasih Karena Masih Setia Nungu Upnya ;v


Untuk S2 Pikir Pikir Dulu Aku-nya ;v*