My Love Story

My Love Story
Bab 50



Setelah cukup lama dalam perjalanan, mobil yang dikendarai Rangga memasuki halaman kediaman keluarga Saguna, berhenti tepat di depan rumah.


Tanpak Rangga turun lebih dulu, membuka pintu mobil buat nyonya dan tuannya.


"Terima kasih" ucap Alin setelah berhasil keluar dari mobil dengan bantuan suaminya.


Sementara Nicholas dan Sarah tanpak berjalan masuk lebih dulu


"Sama-sama nyonya" sahut Rangga sedikit menundukan kepala.


"Ma" pangil Arsenio.


Alin yang tadinya berjalan masuk, menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap putranya.


"Aku mau ke kantor" ucap Arsenio.


"Ngak masuk dulu?" tanya Alin dan Gibran hampir bersamaan.


Arsenio mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ada beberapa dokumen yang memerlukan tanda tanganku. Jadi harus segera ke kantor" jelas Arsenio.


"Hmm, baiklah. Kamu hati-hati ya!" ucap Alin.


Arsenio lagi-lagi mengganguk sebagai jawaban, tatapannya beralih pada ayahnya.


"Pa aku pergi ya" ucap Arsenio lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Iya, hati-hati!" sahut Gibran yangasih dapat di dengar oleh Arsenio.


Alin dan Gibran kembali melangkah masuk ke dalam rumah, sementara di luar Rangga kembali melajukan mobilnya menuju kantor.


Di saat yang bersamaan, tanpak Rany berjalan keluar dari kamarnya, Ana yang menyadari itu segera berbalik menatap ibunya.


"Ibu ngak ke kantor?" tanya Ana lalu kembali menggatur beberapa makanan di atas meja makan.


"Hmm, hari ini mama belum masuk kantor" sahut Rany sambil berjalan menghampiri Ana, menarik salah satu kursi di sana lalu duduk.


"Kenapa?, mama sakit ya?" tebak Ana menatap ibunya.


"Mama ngak apa-apa hanya sedikit pusing" ucap Rany.


"Bagaimana tidak apa-apa?, wajah mama pucat loh. Apa kita pergi ke dokter aja?" ucap Ana khawatir.


Rany mengelengkan kepalanya lalu menjawab.


"Tidak perlu!. Hanya sedikit pusing, istirahat dikit pasti juga sembuh".


"Mama yakin?, tidak perlu ke rumah sakit" tanya Ana memastikan. Sementara Rany menggagukan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya udah, kalau begitu cepat makan terus minum obat!" ucap Ana lalu mengambilkan beberapa sendok nasi dan juga lauk untuk ibunya.


"Semalam kamu tidur sama Kana ya?" tanya Rany menatap putrinya.


Ana yang mendengarnya pun diam sejenak, lalu meletakan piring yang telah berisi makanan tepat di depan ibunya.


"Iya ma" sahut Ana ragu.


"Hmm, terus jam berapa pulang?. Ko mama ngak tau kalau kamu sudah pulang?" tanya Rany.


"Kalau jawabnya jam 04.00 pagi pasti mama akan bertanya kenapa pulangnya sepagi itu. Tapi aku juga sudah banyak berbohong pada mama" gumam Ana dalam hati.


"Jam 04.00?" tanya Rany tak percaya.


Ana pun mengaggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa pulangnya sepagi itu?, kalau di jalan ada begal gimana?, siapa yang akan menolongmu?" ucap Rany khawatir.


"Mama tidak perlu khawatir, toh sekarang Ana baik-baik aja. Di jalan juga ramai, mana ada begal di tempat ramai" ucap Ana.


"Pokonya mama ngak mau tau, mau jalannya ramai atau tidak, mama ngak mau dengar lagi kamu pulang di jam seperti itu!" ucap Rany serius.


"Iya ma" sahut Ana sambil menarik kursi lalu duduk.


Keduanya pun menikmati makan siang bersama.


Selang beberapa menit, mereka pun menyelesaikan ritual makannya, Ana kembali merapikan meja makan dan mencuci beberapa piring yang telah selesai di gunakan.


"Mama jangan lupa di minum obatnya!" ucap Ana mengingatkan.


"Iya, ini obatnya baru mau mama minum" sahut Rany lalu meminum obatnya.


Ana pun melepaskan celemeknya setelah selesai mencuci piring, berjalan menghampiri ibunya yang masih duduk di meja makan.


"Udah mama masuk kamar aja terus langsung istirahat!, Ana mau siap-siap ke kampus" ucap Ana.


"Ya udah sana kamu siap-siap!, sebentar lagi mama ke kamar" ucap Rany.


Ana yang mendengarnya pun berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap.


Selang beberapa menit Ana keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, menatap ke arah meja makan mendapati ibunya masih duduk di sana sambil termenung, ia pun berjalan menghampirinya.


"Mama belum masuk ya?" tanya Ana setelah sampai, hal itu membuat Rany segera menap ke arahnya.


"Ini baru mau masuk, kamu udah mau ke kampus ya?" ucap Rany lalu bangkit dari duduknya.


"Iya ma. Mama ngak apa-apa jika aku tinggal?" tanya Ana.


"Ngak apa-apa, kamu ke kampus aja!. Hati-hati kalau bawah mobilnya!" ujar Rany.


Ana pun menggaguk sebagai jawaban lalu berjalan keluar sementara Rany tanpak berjalan masuk ke kamarnya.


***


Jarum jam menunjukan pukul 03.00 sore, tanpak sebuah mobil berhenti tepat di depan kediaman Ana.


Seorang pria keluar dari mobilnya lalu berjalan masuk.


Tok... Tok.


Ketuk pria itu.


"Sebentar!" sahut Rany dari dalam, berjalan menuju pintu.


"Siapa?" tanya Rany sambil membuka pintu.


Seketika Rany membulatkan matanya, mentap pria yang kini berdiri berhadapan denganya.


"Kamu??" ucap Rany.