My Love Story

My Love Story
Bab 155



15 menit kemudian, keduanya tampak menyudahi ritual makannya. Kana terlihat merapikan meja makan dan membawa piring yang yang telah digunakan ke dapur lalu mencucinya.


"Aku yang mandi duluan atau kamu?" tanya Rangga yang masih berada di meja makan.


Kana yang mendengarnya pun segera menoleh "Silakan bapak saja yang duluan, saya kan masih mencuci ini" jawab Kana sambil menunjuk beberapa piring kotor di depannya.


Rangga bangkit dari duduknya "Baiklah, aku mandi lebih dulu, setelah itu baru kamu" ucap Rangga lalu melangkah menuju kamar.


Kana yang sedang asik mencuci piring tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya menghentikan aktivitasnya.


"Tunggu!, setelah pak Rangga mandi maka giliran aku yang mandi. Itu artinya aku harus mengganti pakaian, aku kan ngga bawah baju, terus aku pakai baju apa dong" ucap Kana terlihat berpikir.


Kana tampak melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti, namun terus memikirkan soal pakaian yang akan dikenakannya nanti setelah mandi.


Beberpa menit kemudian, Rangga terlihat keluar dari kamar dengan pakai yang biasanya dia kenakan saat tidur.


"Aku sudah selesai" Kana yang mendengarnya menoleh menatap Rangga "Sekarang giliran kamu, kamarnya ada di sebelah sini" lanjut Rangga sambil menunjuk kamar yang dimaksudnya.


Kana berjalan mendekati Rangga dan berhenti setelah sampai "Pak, boleh nggak aku pulang ke rumahku. Tapi janji akan balik lagi ke sini" ucap Kana.


Rangga menyeringitkan dahi binggung "Mau nggapain?, ini kan sudah malam. Sangat berbahaya jika perempuan keluar rumah selarut ini" ucap Rangga.


Kana menunduk seraya memainkan kakinya "Saya nggak punya pakaian untuk di pakai, makanya saya bermaksud untuk pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya" ucap Kana tampa berani menatap Rangga.


Rangga yang mendengarnya tampak menghela nafas lega, karena sempat terlintas di pikirannya kalau Kana merasa tak nyaman tinggal di apartmentnya karena itulah dia meminta izin untuk kembali ke rumahnya, namun apa yang dipikirkannya salah.


"Sudah" Kana yang mendengar itu kembali menggangkat kepalanya menatap lurus Rangga "Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu" lanjut Rangga.


"Benarkah?" tanya Kana memastikan.


"Ya, semuanya ada didalam, silakan di lihat!. Aku mau ke ruangan sebelah untuk menggambil beberapa dokumen" ucap Rangga lalu melangkah pergi meninggalkan Kana yang nampak bengong.


setelah cukup lama diam, Kana pun bergerak menuju pintu kamar yang di tunjuk Rangga dan masuk ke dalam.


Kana memutar bola matanya, menatap hambir seluruh sudut rungan yang tampak rapi.


"Wah, sangat rapi" ucap Kana kagum.


"Mumpung pak Rangga lagi berada di ruang sebelah, sebaiknya aku harus cepat-cepat mandi" Kana tengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan kamar mandi.


"Nah itu dia" ucap Kana setelah menemukan apa yang di carinya.


Di waktu yang sama, tampak Rangga yang berada di ruangan sebelah sibuk mencari beberapa dokumen yang harus di bawah ke kamarnya untuk di periska.


Setelah mendapatkan dokumen yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, Rangga pun segera keluar dari ruangan tersebut dan hendak menuju kamarnya.


Langkahnya tiba-tiba berhenti saat hendak memasuki kamar.


"Dia sudah selesai mandi atau belum ya?" ucap Rangga tampak berpikir. "Mending tunggu di sini untuk beberapa saat" lanjut Rangga.


Setelah cukup lama menunggu di depan pintu Rangga pun memutuskan untuk masuk.


Rangga meraih daun pintu lalu memutarnya, perlahan pintu terbuka menampakan hampir seluruh ruangan, disaat itu pula pintu ruang ganti terbuka dimana terlihat Kana keluar dari sana dengan setelan baju tidur dan rambut yang dibiarkan terurai.


langkah keduanya terhenti, pangangan mereka mertemu untuk beberapa saat sebelum keduanya sadar dan saling memalingkan wajah.


"Duh, canggung banget" gumam Kana dalam hati.


Rangga kemudian berjalan menuju meja kecil yang sering di gunakannya saat sedang bekerja di kamarnya, meletakan semua dokumen yang di bawahnya seraya duduk dengan posisi membelakangi Kana yang tampak diam mematung.


"Istirahatlah, Kamu pasti sangat lelah!" ucap Rangga.


"Ya" sahut Kana lalu berjalan mendekati tempat tidur, diraihnya ponsel miliknya lalu naik ke atas tempat tidur.


Kana berbaring dengan selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya.


"Udah, bagusnya tidur sekarang, sebelum dia menuntut sesuatu dariku dan tentu saja aku belum siap akan hal itu" pikir Kana seraya menaikan selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Rangga terlihat membuang nafas pelan "Apakah setiap harinya tuan Arsenio melihat pemandangan indah seperti yang baru saja aku lihat?," ucap Rangga pelan.


"Kalau tau begini, mungkin aku yang lebih dulu menikah dari tuan Arsenio😌" lanjut Rangga.


Rangga kembali fokus ke pekerjaannya, ya walaupun Arsenio telah memberinya cuti namun bukan Rangga namanya jika tidak bekerja di selah-selah waktu cuti.


Jarum jam menunjukan pukul 11.00, terlihat Rangga meregangkan tubuhnya lalu bangkit dari duduknya karena pekerjaannya telah selesai.


Rangga tersenyum, menatap lurus ke atas tempat tidur "Apa dia nggak merasa kepanasan jika tidur seperti itu?" Rangga melangkah mendekati Kana.


Sesampainya di samping Kana, lalu dengan hati-hati Rangga menurunkan selimut yang menutupi Kana dan berhenti setelah merasa cukup.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku ketika saat itu kamu menolak menikah denganku" ucap Rangga.


"Kamu benar-benar berhasil masuk dalam pikiranku, membuat fokusku berkurang, membuatku terus mengingat wajahmu, terus mengingat seyum manis yang selalu menghiasi wajahmu dan semua itu tanpa mengenal waktu, aku selalu memikirkannya"


Rangga diam beberapa saat tampa memalingkan pandanganya dari wajah Kana.


"Dan di saat itulah aku baru sadar, bahwa aku benar-benar mencintaimu" lanjut Rangga.


Rangga bergerak mendekati Kana lalu mengecup lebut alis Kana "Tidur yang nyenyak sayang"


Setelah itu Rangga tampak bangkit dari duduknya, berjalan mengintari tempat tidur dan ikut berbaring di samping Kana.


Karena merasa cukup lelah, tak perlu waktu lama, Rangga pun segera menyusul Kana masuk ke alam mimpi.


**


Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk menembus gorden hijau, menerangi hampir setiap sudut kamar.


Rupanya tebalnya gorden tidak dapat menghalagi cahaya matahari masuk ke dalam kamar.


Tampak Kana mengeliat dari balik selimut, kesadarannya belum terkumpulkan penuh.


"Bantal gulingnya terasa hangat, seperti manusia" gumam Kana dalam hati.


"Tunggu!, Manusia?" Kana segera membuka matanya, betapa terkejutnya saat melihat sebuah tangan besar melingkar dengan baik di pinggangnya.


"Aaaaaaaa" teriak Kana seraya bangun dari tidurnya, kakinya spontan bergerak menendang Rangga yang membuat Rangga jatuh ke lantai.


"Siapa kamu?, kenapa tidur di sampingku? " Kana membuang bantal ke arah Rangga.


"Tenang Kana, ini aku, suami kamu" ucap Rangga seraya menangkis bantal yang di lempar Kana ke arahnya.


Kana terdiam "Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" gumam Kana.


"Kenapa di tendang sih?, jatuh kan jadinya" lanjut Rangga.


Mendengar itu Kana segera bergerak turun dan membantu Rangga berdiri.


"Sini biar saya bantu pak" ujar Kana.


"Maaf pak, aku benar-benar lupa kalau sudah bersuami" ucap Kana.


"Maaf pak, aku benar-benar minta maaf pak" ucap Kana tak henti-hentinya meminta maaf.


"Ya, nggak apa-apa. Aku mengerti ko" ucap Rangga dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Rangga yang dibantu Kana berdiri kini kembali ke atas tempat tidur dan akan kembali melanjutkan tidurnya.


"Maaf" ucap Kana lagi namun dengan suara pelan Rangga saja hampir tidak dapat mendengarnya.


Rangga membuang nafas pelan "Ya, aku maafkanmu" ucapnya.


Kana yang masih bersa bersalah, terus berdiri di samping ranjang, kepala di tundukan dengan jari-jari yang terus di mainkannya.


Rangga memperbaiki selimutnya "Kana"


"Iya pak" sahut Kana cepat.


"Boleh nggak?, berhenti memanggilku dengan sebutan pak atau bapak" tanya Rangga.


Kana tampak berpikir dan akhirnya kembali bertanya "Terus saya pangilnya dengan sebutan apa?" tanya Kana.


"Sayang" jawab Rangga pelan namun masih dapat di dengar oleh Kana.


"Ha?, sayang?" Kana terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Hmm" Rangga berdehem.


"Apakah ini serius?" tanya Kana namun tidak ada lagi jawaban dari Rangga.


"Pak?, helo pak. Saya sedang bertanya loh?" ucap Kana namun lagi-lagi tak ada jawaban.


Kana bergerak mendekati Rangga dan membuang nafas pelan saat tahu kalau Rangga telah kembali tidur.


"Ternyata sudah tidur, pantas aja nggak ada jawaban" ucap Kana lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersikan diri.