
Jarum jam sudah menunjukan pukul 07.00. Perlahan Ana membuka matanya, tangan kanannya mengucek-ngucek matanya.
Tatapan Ana tertuju pada tangan besar suaminya yang setia melingkar di pingganya "Aduh berat sekali" ucap Ana pelan, menyingkirkan tangan Arsenio dari pinggannya.
Arsenio yang sudah bagun lebih dulu dari Ana pun kembali meletakan tanganya ke tempat semula bedahnya kini dia mempererat pelukannya.
Ana yang melihat itu segera menoleh kearahnya "Sudah bagun ya?" tanya Ana.
"Hmm"
"Terus ngapain ini masih di sini?" Ana menunjuk ke arah yang di maksud.
Arsenio sedikit mengangkat kepalanya melihat apa yang di tunjuk istrinya sebelum kembali meletakan kepalanya d bantal.
"Bukan apa-apa, hanya suka aja" sahut Arsenio santai.
Ana terperangah mendengar jawaban suamimya "Singkirkan tanganmu dari pinggangku!, berat tahu" ucap Ana bersusah payingkirkan tangan suaminya namun ia tampak kalah tenaga dengan suaminya.
Di luar tampak Rany sibuk meletakan beberapa menu makanan di atas meja.
Cekrek...
Suara pintu berhasil mencuri perhatiannya.
"Eh, cucu oma sudah bangun ya?" Rany berjalan menghampiri Alvis yang kini berdiri di depan pintu sambil mengucek-ngucek matanya.
"Iya oma" sahut Alvis.
"Alvis sudah cuci muka?" Rany duduk berjongkok di depan Alvis. Alvis mengeleng "Belum oma" sahutnya.
"Ya.., ko belum sih?" tanya Rany, namun Alvis tampak diam.
"Ya udah, Alvis cuci muka dulu ya?, nanti oma temanin" ucap Rany yang langsung mendapat anggukan kepala dari Alvis.
Rany memegang tangan Alvi, lalu berdiri. Keduanya tampak kembali masuk ke dalam kamar.
Lima menit kemudian, Rany dan Alvis pun keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan.
"Alvis sarapan dulu ya, oma sudah buatkan nasi goreng kesukaanmu" ucap Rany menarik kursi dan mempersikan Alvis duduk.
"Terima kasih oma" sahut Alvis lalu duduk.
"Sama-sama sayang" kata Rany sambil terseyum "Nih oma ambilin ya" Alvis menggangguk, Rany pun memasukin beberapa sondok nasi goreng ke piring Alvis.
"Oma.. " pangil Alvis.
"Iya sayang ada apa?" Rany menatap cucunya.
"Mommy mana?, biasa Alvis bangun mommy sudah ada di meja makan" ujar Alvis yang juga ikut menatap neneknya.
"Masih di kamar. Mungkin lagi tungguin daddy bangun" sahut Rany.
"Daddy?, maksud oma daddy Alvis?" tanya Alvis.
"Iya sayang" Rany mengambil beberapa piring yang kelebihan dan membawanya kembali ke dapur.
Alvis yang mendengar itu pun segera turun dari kursi, sementara Rany yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya.
"Loh, Alvis mau kemana?" tanya Rany.
"Mau ke kamar mommy" sahut Alvis sambil berlari menuju kamar Ana, sementara Rany yang melihatnya hanya bisa mengelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Alvis berhenti berlari setelah ia sampai di depan pintu. Diraihnya daun pintu lalu pelan-pelan di putarnya, walaupun demikian, suara pintu masih dapat di dengar oleh Ana dan juga Arsenio.
Keduanya secara bersama-sama, mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pintu.
"Mommy" teriak Alvis sambil berlari dan langsung naik ke atas tempat tidur. Hal itu membuat Ana dan Arsenio segera bangun dari tidurnya.
"Loh sayang, sudah bangun ya?" tanya Ana yang langsung di jawab dengan anggukan kelapa dari Alvis.
"Semalam daddy tidur di kamar mommy?. Tidur bareng mommy ya?" Alvis bergantian menatap Arsenio dan juga Ana.
"Iya sayang, daddy tidur disini bareng mommy" sahut Arsenio sambil mengusap-usap lembut kepala putranya.
"Kata mommy kalau sudah besar harus tidur sendiri. Lah daddy kan sudah besar kenapa masih tidur bareng mommy?" tanya Alvis.
Ana yang mendapat pertanyaan seperti itu pun langsung menatap Arsenio berharap dia yang akan menjawab pertanyaan putranya itu.
Sementara Arsenio yang mengerti tatapan istrinya pun segera menjawabnya "Daddy memang sudah besar, tapi daddy dan mommy kan sudah menikah, jadi tidurnya harus berdua" jelas Arsenio sambil terseyum.
"Hmm, jadi kalau sudah menikah bisa tidur berdua ya🤔?" tanya Alvis lagi.
"Iya sayang" lanjut Arsenio.
"Kalau begitu.... "
"Sudah-sudah, kita keluar sekarang Alvis belum makan kan?" ujar Ana sebelum Alvia menyelesaikan ucapannya.
Alvia menggangguk "Tadi udah mau makan, tapi oma bilang mommy lagi tidur dan ada daddy juga, jadi Alvis tinggal deh makanannya terus lari ke sini" kata Alvis.
"Ya udah kita sekarang keluar terus sarapan dan setelah sarapan kita siap-siap pergi ke sekolah" ucap Ana.
"Baik mommy" jawab Alvis lalu bergerak turun dari tempat tidur.
"Awas!, hati-hati jangan sampai jatuh" ucap Arsenio menatap putranya.
"Mommy, daddy aku duluan ya, takut nasi gorengnya dingin" ucap Alvis lalu berlari keluar kamar dan akan menuju meja makan.
Melihat itu Ana pun ikut bergerak turun namun dengan cepat Arsenio menahannya "Mau kemana?" tanya Arsenio.
Ana menoleh ke arahnya "Ya mau keluarlah. Ayo sarapan!. Mama pasti sudah menyiapkan sarapan buat kita"ucap Ana lalu melepaskan gengaman tangan Arsenio dan turun daritempat tidur lalu menuju kamar mandi untuk membersikan diri.
Sementara Arsenio kembali berbaring ke atad tempat tidur, tatapannya lurus keatas menatap hiasan langit-langit kamar istrinya.
Suara notifikasi ponselnya berhasil mencuri perhatiannya, Arsenio pun segera mencari keberadaan benda kecil itu, setelah berhasil menemukannya itu pun memeriksa pesan yang baru saja masuk.
Jari-jari tanganya tampak menari di atas keyboard ponsel miliknya, sesekali Arsenio tampak tersenyum seperti sedang membahas sesuatu yang indah.
Selang beberapa menit, pintu kamar mandi pun terbuka, Ana keluar dan mendapati Arsenio masih sibuk dengan ponselnya.
"Aku sudah selesai, sana giliran mas lagi terus setelah itu keluar sarapan" ucap Ana.
Arsenio yang mendengarnya pun meletakan ponselnya lalu melihat kearahnya "Bisa bantu aku turun?" ucap Arsenio dengan susah paya bersikap lemah.
"Ranjangnya kan tidak terlalu tinggi, bisa kan turun sendiri" ucap Ana.
"Aku baru sembuh loh, jadi badanku masih terasa lemas. Ngak ada salahnya kan di bantu?" ucap Arsenio.
Ana menghela nafas panjang "Ayo kita bantu si bayi kecil turun😏" pikir Ana berjalan menghampiri Arsenio.
Sementara Arsenio tersenyum penuh kemenangan namun tanpa sepengetahuan Ana.
"Sini tanganya" ucap Ana setelah sampai.
Arsenio pun menuruti keinginan istrinya, memberikan tanganya kepada Ana untuk membantunya turun.
Setelah berhasil turun Ana pun melepaskan kembali tangan Arsenio, karena Ana sedikit lebih pendek darinya ia pun sedikit membungkuk dan
Cup
Satu kecupan melayang ke pipi Ana, yang membuat si empu terkejut, sementara si pelaku dengan santainya berjalan menuju kamar mandi.
"Morning kiss" ucap Arsenio lalu masuk ke dalam kamar mandi tak lupa menutup pintunya.
"Mas bohongin aku ya?" ucap Ana sambil memegang pipinya.
"Hmm, bisa dibilang seperti itu" sahut Arsenio dari dalam kamar mandi.
Ana yang mendengarnya pun mendengus kesal "Dasar modus🙄" Ana berjalan keluar kamar dengan wajah cemberut.
"Loh, Arsenio mana?" tanya Rany sambil mencari-cari keberadaan menantunya.
"Dikamar" sahut Ana sambil menarik kursi lalu duduk.
"Masih sakit ya?, apa kita pergi ke rumah sakit aja?" tanya Rany berurutan.
"Ngak perlu ma, dia sudah sembuh. Sebentar lagi dia keluar" jawab Ana.
"Syukurlah kalau begitu" Rany tampak menghela nafas lega mendengar keterangan putrinya mengenai keadaan menantunya.
"Memangnya siapa yang sakit?" tanya Alvis di selah-selah makannya.
"Tuh, daddymu. Semalam badanya panas" sahut Rany.
"Kasian daddy, pasti masuk angin. Karena semalam daddy olaraga di luar" ucap Alvis.
"Ha olaraga?" Ana mengerutkan dahi binggung.
"Ya mommy. Mommy ngak tahu ya?, tadi malam aku lihat daddy di depan rumah, terus aku samperin dan aku tanya sama daddy. 'Daddy ngapai di luar?, lagi olaraga malam ya?' terus daddy jawabnya iya. Gitu ceritanya" jelas Alvis panjang lebar.
Sementara Ana yang mendengarnya pun bersusah paya menahan tawannya.
"Hemm hem, ada yang lagi ngomongin daddy nih" ucapa Arsenio sambil berjalan menuju meja makan. Semu yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya.
"Tuh lihat mommy ngak percaya kalau daddy tadi malam lagi olaraga malam" ucap Alvis.
Arsenio menarik salah satu kursi yang berada di samping Ana lalu duduk "Mommy ngak percaya ya?" Alvis menggangguk sebagai jawaban.
"Padahal daddy sampai sakit loh gara-gara terlalu bersemangat olaraganya" ucap Arsenio melirik Ana.
"Ngak ada juga yang suruh mas olaraga malam-malam, lihat jadi sakit kan?" ucap Ana.
"Maaf sayang, janji!, lain kali ngak buat lagi" ucap Arsenio dengan wajah di dekatkan kepada Ana.
"Hmmm" ucap Ana.
"Ya udah makan tuh sarapannya, sudah aku ambilin" lanjut Ana.
"Makasih sayang" ucap Arsenio tersenyum, mentara Alvis dan Rany diam dan sesekali bergantian menatap mereka.
Setelah beberapa menit, Arsenio pun menyudahi ritual makannya lebih dulu dari yang lainnya.
"Sudah selesai makannya?" tanya Rany yang membuat Ana dan Alvis ikut menatapnya.
"Iya ma, pagi ini aku ada metting bersama klien, tuh di luar Rangga sudah memunggu" jawab Arsenio.
"Loh, kamu kan baru sembuh, ngak apa-apa tuh langsung pergi ke kantor?" tanya Rany lagi.
"Ngak apa-apa ma, aku sudah merasa baikan ko"
Ana menoleh manatap istrinya "Sayang, aku pergi ya" ucap Arsenio lalu mengecup pipi Ana dan bangkin dari duduknya.
"Ma aku pergi ya" Arsenio menyalimi mertuanya.
"Ya, hati-hati" ucap Rany.
Arsenio pun berjalan menuju Alvis "Sayang daddy ke kantor dulu ya, jangan nakal ya!"
"Siap daddy" ucap Alvis sementara Arsenio yang mendengarnya pun tersenyum.
"Hati-hati mas" ucap Ana.
"Iya sayang" sahut Arsenio sebelum pergi.