My Love Story

My Love Story
Bab 125



Mobil terus melaju membela jalan yang nampak ramai, sementara Rangga terlihat fokus mengemudi.


Kana menatap Rangga dari samping sebelum kembali menatap lurus ke jalan "Apa maksudnya pak Rangga ngomong seperti itu di depan Pak Reza tadi?" pikir Kana.


"Kenapa?, mau tanya apa?" tanya Rangga yang sedari tadi memerhatikan kegelisahan Kana.


Mendengar itu, Kana segera menoleh menatap Rangga dari samping "Apa maksudnya bapak ngomong seperti itu di depan bos saya?" tanya Kana.


"Oh dia bos kamu ya?" ucap Rangga tanpa menoleh ke arah Kana.


"Ya, pak Reza adalah CEO di kantor dimana saya bekerja. Bapak seharusnya menjawab pertanyaan saya bukan malah balik bertanya"


Rangga diam, tak merespon ucapan Kana, sementara Kana tanpak menunggu jawaban dari Rangga.


"Pak, saya sedang bertanya loh, bapak harus menjawab pertanyaan saya" lanjut Kana.


Rangga yang mendengarnya tampak menghela nafas panjang lalu menjawab "Tidak bermaksud apa-apa"


"Ha?, tidak bermaksud apa-apa?" Kana menteringitkan dahi sementara Rangga tampak menggangguk.


"Bapak tahu tidak?, apa yang bapak ucapkan tadi itu sudah membuat pak Reza salah paham" pikir Kana kesal.


Kama menghela nafas panjang "Sabar Kana, sabar... " ucap Kana pelan sambil mengusap-usap dadanya.


Hal itu, tak luput dari pandangan Rangga namun ia memilih tetap diam dan pura-pura ngak tahu.


Pandangan Kana lurus menatap jalan, hatinya percampur aduk. Ingin rasanya ia memarahi Rangga yang telah asal bicara di depan bosnya, namun ia tidak punya nyali yang besar untuk memarahi seorang Rangga yang terkenal dengan sikap dinginnya.


Belum lagi memikirkan bagaimana caranya menjelaskan semuanya pada Reza.


Keduanya tampak diam, asik dengan pikirannya masing-masing sementara mobil terus melaju menuju rumah baru Arsenio dan Ana.


Karena jaraknya cukup maka mereka memerlukan waktu dua jam lebih buat sampai disana.


Kediaman Arsenio


Ana terlihat menuruni satu persatu anak tangga sambil melihat-lihat ke sekelilingnya yang tampak sibuk seperti sedang menyiapkan sesuatu.


"Bu.. " pangil Ana pada salah satu Art.


"Iya nyonya" sahutnya hendak berjalan menghampirinya namun segerah di cega oleh Ana.


"Ibu tunggu saja disitu, bias saya yang akan menghampiri ibu" ucap Ana yang langsung di ikuti oleh art itu.


"Saya lihat, semua orang terlihat sibuk. Ada apa ya?" tanya Ana setelah sampai.


"Maaf nona, saya tidak berani menjawab pertanyaan nona" jawab Art.


Ana mengeringitkan dahi binggung "Kenapa?"


"Sebaiknya nona tanya labgsung mengenai hal ini pada tuan" ucap Art.


"Hmm baiklah tidak apa-apa jika ibu tidak menjawabnya, saya akan menanyakan langsung padanya" ujar Ana.


Setelah itu, Art tampak berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya dan Ana berjalan hendak mencari keberadaan suaminya.


Karena belum terlalu menghetahui letak-letak ruangan yang ada di dalam rumah, Ana pada akhirnya berjalan sampai ke dapur, dimana terlihat beberapa orang di sana sibuk menyiapkan beberapa jenis masakan.


"Apakah ada yang melihat tuan Arsenio?" tanya Ana yang membuat semua orang melihat kearahnya.


Setelah tahu yang berdiri di sana adalah Ana secepatnya mereka sedikit menundukan kepalanya memberi hormat.


"Saya melihat tuan keluar menggunakan mobil" sahut salah satu dari mereka.


"Keluar?"


"Benar nona"


"Hmm, kenapa dia tidak memberitahuku?" pikir Ana "Apa tuan pergi bersama Alvis, anakku?" tanya Ana lagi.


"Benar nona"


"Baiklah, maaf telah menggangu waktu kerja kalian" ucap Ana sebelum pergi.


"Kemana dia membawah Alvis?" pikir Ana yang akhirnya memilih duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Jarum jam seakan berputar sangatlah cepat, jarum jam kini sudah menunjukan pukul 18.30 terlihat Ana masih setia menunggu suami dan juga putranya pulang.


Selang beberapa menit, tampak salah satu Art datang menghampirinya dengan sebuah tas belanjaan di tangan kanannya.


"Permisi nona" ucap Art yang membuat Ana menoleh kearahnya dan langsung bangkit dari duduknya.


"Iya, ada apa?" tanya Ana.


"Buat saya?" tanya Ana sambil menunjuk kearahnya.


"Benar nona, tuan meminta nona menggunakan baju ini"


"Kapan?" tanya Ana sambil mengambil tas belanjaan dari tangan Art.


"Sekarang nona" jawabnya.


"Baiklah, akan saya segera memakainya" kata Ana, setelah itu Art berpamitan untuk kembali bekerja.


Ana yang merasa penasaranpun segera melihat isi tas belanjaan, tampak sebuah kartu ucapan disana, Ana lebih dulu mengambil kartu itu lalu membukannya.


Sayang, bajunya di pakai ya!. Aku akan menunggumu. I love my wife


Ana tersenyum membaca kartu ucapan itu lalu meletakannya kembali di dalam tas belanjaan.


Ana bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di sana Ana meletakan tas belanjaan di atas meja riasnya dan segera menuju kamar mandi untuk membersikan diri.


Selang beberapa menit Ana pun keluar dengan menggunakan handuk yang panjangnya selutut. Berjalan menuju meja rias untuk melihat baju yang diberikan suaminya.


Ana mengeluarkan drees brokat berwana moca, panjangnya selutut dan memiliki ikat pinggang berupa pita.


Ana lagi-lagi tersenyum "Pandai sekali dia memilih baju" ucap Ana.


Tanpa menunggu waktu lama, Ana pun segera mengenakan baju yang di berikan suaminya. Setelah selesai Ana menatap pantulan dirinya di cermin.


"Cantik bajunya, apa dia yang memilihnya sendiri? Atau menyuruh orang membantunya untuk memilih" pikir Ana.


Ana duduk di depan meja riasnya, dan memilih menggunakan make up yang nampak natural dengan rambut yang di biarkan terurai.


Tok....tok


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Ana yang mendengarnya segera menoleh ke pintu.


"Sebentar" sahut Ana dari dalam lalu bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu dan membukannya.


"Waw, nona terlihat sangat cantik" ucap Art terpesona dengan kecantikan Ana.


"Terima kasih" ucap Ana sambil tersenyum.


"Sama-sama nona" sahut Art.


"Tuan Arsenio, memang tidak salah memilih istri" pikir Art.


"Ada apa ya bu?" tanya Ana yang akhirnya menyadarkan Art dari lamunanya.


"Ah itu nona, tuan sudah menunggu di bawah" ucap Art.


"Ya udah kita kesana sekarang!" kata Ana.


"Baik nona"


Art mempersilakan Ana berjalan lebih dulu dan dia mengikutinya dari belakang.


Ana mengerutkan dahi binggung melihat lampu di lantai dua padam dan hanya menggunakan lilin sebagai penerang.


Ana menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang "Bu, lampunya rusak ya?" tanya Ana.


"Ya, sepertinya begitu nona" jawab Art.


"Mommy" pangil Alvis sambil berlari menghampiri Ana dan langsung memeluknya.


"Sayang, dari mana saja kamu?, mommy mencarimu loh" ucap Ana sambil duduk berjongkok di depan putranya.


"Nanti saja Alvis jawab, sekarang mommy ikut Alvis ya! " ucap Alvis sambil menarik tangan Ana yang membuat Ana kembali bediri.


Alvis pun memegang tangan ibunya, berjalan menuju sebuah ruangan yang juga nampak gelap namun bedanya tidak ada lilin disana.


"Sayang disini lampunya mati loh, beritahu daddy kita pindah ke tepat lain saja" ucap Ana.


"Ngak usah mommy, kita sudah sampai ko" ucap Alvis lalu menghentikan langkahnya membuat Ana juga ikut menghentikan langkahnya.


"Sayang, kamu dimama?, jangan lepasin tangan mommy!" ucap Ana, namun tidaka da jawaban dari Alvis.


"Sayang.. kamu dimana?, mommy takut loh" ucap Ana.


Di detik berikutnya lampu pun menyalah.


"Surprise..." ucap Alvis, Arsenio, Rany, Sarah, Nicholas, Gibran, Kana dan juga Rangga secara bersamaan.