
Restoran dengan dekorasi yang indah, selalu memanjakan mata bagi setiap pengunjungnya. Kana, Ana dan Alvis tampak menikmati makan siang mereka, Fino dan Lastri memberi mereka waktu untuk melepas rindu setelah sekian lama berpisah.
"Ana..." pangil Kana di sela-sela makannya.
"Hmm.." jawab Ana.
Kana melepaskan sendok di tangannya lalu fokus menatap Ana yang sedang menikmati makan siangnya. "Dari mana kamu tahu aku bekerja di perusahaan itu?. Perasaan aku tidak pernah mempublikasikan dimama tempat aku bekerja," kata Kana.
"Ya aku tahu, bahkan semua tentangmu aku tahu" kata Ana yang terus menikmati makan siangnya.
Kana terkejut mendengar jawaban sahabatnya "Contohnya?"
"Aku tahu kamu kerja dimana, dekat dengan siapa sekarang, kamu kemana saja dengan doimu, aku tahu segalanya," jawab Ana santai.
Kana yang mendengarnya bersusah paya untuk menelan salivanya "Kamu memata-mataiku ya?" tebak Kana.
"Tidak juga," jawab Ana asal.
"Jika kamu benar-benar memata-mataiku, itu artinya kelama 4 tahun ini kamu berada di kota ini tidak ke luar negeri?" tanya Kana.
Alvis yang sedang menikmati makan siangnya menatap dingin ke arah Kana dan ibunya secara bergantian "Aunt...mommy....kalau lagi makan, jangan bicara dulu!".
Seketika Kana dan Ana merasa ditampar oleh perkataan seorang anak kecil, namun apa yang dikatakannya juga benar adanya.
"Maaf," ucap Ana dan Kana bersamaan.
"Nanti ceritakan setelah kita sampai di rumah," lanjut Ana yang kembali menerima tatapan dingin putranya.
Ketiganya kemudian fokus menikmati makanan mereka. Setelah menyelesaikan ritual makan mereka, mereka bertiga memutuskan untuk meninggalkan restoran.
"Aku antar pulang ya?" ucap Kana di sela-sela langkah mereka.
"Loh kamu kan harus balik ke kantor, aku dan Alvie bisa naik taksi kok" Ana menatap Kana dari samping.
"Alah gampang itu, tugas Fino dan Lastri itu. Ngak apa-apa kan sedikit melawan aturan?" ucap Kana.
"Ya ialah berani melawan aturan toh bosnya si doi" Kana yang mendengarnya langsung menutup mulut Ana "Jangan bicara keras-keras, bagaimana jika orang-orang mendengarmu?"
Kana yang merasa bajunya ada yang terus menariknya ia segera melihat ke samping.
"Aunt jangan di tutup mulut mommy! nanti mommy bisa meninggal!. Kalau mommy meninggal aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi" ucap Alvis.
Mendengar itu Kana segera menyingkirkan tangannya yang menutup mulut Ana.
"Aunt hanya bercanda kok" ucap Kana cepat "Iya sayang aunt hanya bercanda, lihat mama ngak apa-apa kan?" sambung Ana memberi pengertian. Alvis pun menggguk mengerti.
"Anakmu tuh loh ngak ada mirip-miripnya dengan kamu , semuanya sikapnya, cara menatapnya bahkan rupanya pun sama persis dengan suamimu" bisik Kana.
"Mantan suami!" ucap Ana meluruakan "Oh iya itu maksudnya.
Ana menghela nafas panjang "Tentu saja dia mirip, dia kan ayahnya" sambung Ana.
Ketiganya pun sampai di halaman parkir, Alvis masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi tengah mobi sementara Ana memilih duduk besampingan dengan Ana di depan, Kana terlebih dahulu meletakan koper milik Ana di bagian belakang mobil dan kemudian ikut masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju menjauh dari halaman perusahaan menuju rumah Ana.
"Mommy" Ana menoleh ke belakang "Iya sayang ada apa?"
"Sekarang kita pergi kemana?" tanya Alvis, Ana tersenyum mendengar pertanyaan anaknya "Kita pulang ke rumah, di sana oma sudah menunggu" jawab Ana sambil menepuk pelan puncak kepala Alvis.
"Di rumah ada opa juga ya?" tanya Alvis yang membuat Kana m yang ikut mendengarnya mengerutkan dahi binggungung.
"Opa ngak ada di rumah!, ingat sampai disana jangan pernah sebut atau menanyakan opa ya?" ucap Ana yang semakin membuat Kana binggung.
"Loh memangnya kenapa?" Alvis bertanya.
"Udah nurut saja sama mommy!, Alvis kan anak baik" ucap Ana terkesan memaksa sementara Alvie menggangguk mengerti.
"Ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab nantinya An" pikir Kana yang terus fokus mengemudi.
"Aunt..." pagil Alvis yang membuat Ana ikut menatapnya.
"Iya sayang" sahut Kana menatap Alvis melalui kaca spion. "Mobil aunt bagus loh, aku suka" ucap Alvis.
"Benarkah?" Alvis mengguk " Terima kasih sayang" ucap Kana sambil tersenyum.
"Sama-sama" jawab Alvis dengan eksperesi dinginya. "Aunt.... " Ana kembali menatap putranya semantara Kana melihatnya melalui kaca spion.
"Iya sayang" sahut Kana lagi "Aku kan sudah memuji mobil aunt, jadi aunt harus ajak aku jalan-jalan" ucap Alvis.
"Hmm, ajaran siapa nih?" ucap Kana sementara Ana yang mendengarnya pun tertawa.
"Sayang.... aunt" ujar Alvie "Uhhh mengemaskan" ucap Kana.
"Kamu benaran besok libur?" tanya Ana tak percaya "Iya aku libur besok, kenapa? Apa kamu juga mau ikut jalan-jalan?" ucap Kana sekali melirik Ana.
"Nanti lihat aja besok" ucap Ana.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, mereka pun sampai. kana menghentikan mobil tepat di depan gerbang rumah Ana.
"Baiklah kita sudah sampai" ucap Kana sambil mematikan mesin mobilnya.
Ana menatap rumahnya melalui jendela, tanpa sadar air matanya kembali menetes. "Terima kasih Na" ucap Ana masih dengan posisi yang sama. "Terima kasih untuk apa?"
"Kamu sudah mau menjaga ibuku selama aku pergi" Kana memegang kedua bahu Ana membuatnya berhadapan denganya.
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang sahabat. Menjaga ibumu selama kamu jauh darinya" jelas Kana. "Ayo kita turun, aku sudah tidak sabar melihat kebahagiaan tente saat melihatmu" lanjut Kana.
"Kamu masuk duluan!, aku mau ambil koper dan sekalian bawah Alvie keluar mobil" Ana menggangguk lalu beranjak keluar lebih dulu.
Ana perlahan berjalan melewati taman bunga di halaman rumahnya, dan akhirnya sampai dan berdiri tepat di depan pintu.
Ana mengembuskan nafas panjang sebelum mengetuk pintu.
Tok.... Tok..
"Sebentar!" mendengar suara yang telah lama ia rindukan, tanpa sadar kedua sudut matanya sudah menganak sungai.
"Siapa?" tanya Rany sambil membuka pintu.
Rany terkejut saat melihat sosok Ana kini berdiri di depannya sambil tersenyum namun air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Rany mengosok-ngosok matanya, dan kembali menatap wanita yang berdiri di depannya.
"Apa itu benaran kamu?" Rany mendekat memegang pipi Ana yang telah basah dengan air mata.
"Iya ma, ini Ana!. Ana kembali untuk mama" jawab Ana. Mendengar itu Rany pun langsung memeluknya dengan erat. Ana dapat merasakan tubuh ibunya gemetar.
Rany menangis sejadi-jadinya di pelukan Ana, "Kamu benaran kembali?, kamu benaran kembali...? Kamu benaran kembali?" entah berapa kali Rany terus mengulangi kata yang sama di selah-selah isak tangisnya.
Rany melepaskan pelukannya, menghapus air mata putrinya, "Kamu ngak ada yang luka kan? kalau ada yang luka beritahu mama bias mama obatin" Rany memeriksa tangan bahkan sampai kaki Ana ia periksa.
Ana berlutut di depan ibunya sambil memegang tangannya "Ma Ana sungguh menyesal telah meninggalkan mama"
Melihat itu Rany segera mengajak Ana kembali berdiri "Kamu tidak salah, mama yang salah.
Ayo masuk pasti kamu sangat lelah, apa kamu lapar?, mau makan apa? biar mama masakin atau kamu haus?, bilang mau minum apa biar mama ambilin" tanya Rany berurutan.
Melihat tingkah ibunya membuat Ana semakin merasa bersalah karena meninggalkan ibunya, Ana memeluk ibunya lagi, ia masih merasakan tubuh ibunya gemetar. Ana terus memeluknya enggan untuk melepaskannya.
Sementara tidak jauh dari mereka ada dua pasang mata yang memperhatikan itu, ya mereka adalah Kana dan juga Alvie.
“Aunt..” panggil Alvie membuat Kana segera menyeka air matanya lalu berjongkok di depan Alvie “iya sayang, ada apa?”
"Apakah wanita yang mommy peluk itu oma Alvie?" Kana mengangguk "Ya sayang dia oma Alvie" jawab Kana.
Ana melepaskan pelukannya menyeka air mata ibunya, “Ana baik-baik saja, Ana sengaja mengirim surat. Ana sengaja mengirim surat itu, karena Ana tidak ingin Mama terus mengkhawatirkan Ana, Ana ingin Mama tahu bahwa Ana baik-baik saja di luar sana " Jelas Ana panjang lebar.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, kamu harus berjanji pada mama untuk tidak pernah pergi lagi!" kata Rany. "Ana, aku berjanji tidak akan pernah pergi lagi, bahkan jika Ana pergi, mama harus ikut dengan Ana!" kata Ana.
Mereka berpelukan lagi untuk kesekian kalinya. Kali ini, tatapan Rany terfokus pada sosok anak kecil yang terus menggenggam tangan Kana.
"Siapa anak kecil itu?" Rany bertanya sambil melepaskan pelukannya, Ana menoleh ke belakang "Sayang sini!" kata Ana, Alvie berjalan mendekat.
"Sayang beri salam sama oma!" pinta Ana
"Hay oma, oma apa kabar?" ucap Alvie sambil mencium punggung tangan Rany.
"Ini cucu mama?" tanya Rany tak percaya "Iya ma" jawab Ana sambil menggangguk.
Rany segera berjongkok lalu memeluk Alvie "Ya ampun cucu oma, oma sangat rindu" ucap Rany. "Aku juga rindu oma, makanya mommy pulang" ucap Alvie.
"Ya ampun anak siapa ini yang pintar?" Rany melepaskan pekukannya berganti menatap Alvie.
"Anak mommy, cucuk oma" sahut Alvie.
"Ya ampun gemasnya" Rany mencium pipi kiri dan kanan Alvie.
"Ayo masuk, oma punya es krim di kulkas, kamu mau?" Alvie menggangguk "Mau oma"
"Ya udah kita masuk ya" Rany menatap Ana dan juga Kana.