My Love Story

My Love Story
Chapt | 034



Akibat yang terjadi adalah munculnya rasa minder yang berlebihan. Apalagi saat melihat Hajime berkelompok dengan teman-teman latihannya, tentu saja aku semakin inferior, malu, selalu merasa ada yang kurang pada penampilan, dan sebagainya. Dan, rasa minder itu akhirnya mendorongku berbuat sesuatu yang irasional. Aku berlari kencang saat Hajime mengetahui pengintaianku. Aku tidak ingin dia tahu aku mencarinya. Padahal, aku memang benar benar sedang mencarinya. Aneh, bukan? Tapi, itulah cinta dengan segala tindakan irasionalnya.


Kini, aku hanya bisa menyesali semua yang sudah terjadi. Hajime mengalami kecelakaan serius akibat menolongku dari tabrakan mobil yang melaju kencang,


Melalui jendela kaca yang tirai-tirainya terbuka, saat ini aku hanya bisa menangis tersedu melihat sosok Hajime terbujur lemah di atas salah satu ranjang ruang ICU yang serba hijau. Bahkan, pakaian pasien yang saat ini dikenakan oleh Hajime juga hijau, hijau tua tepatnya.


Kedua kakiku harus jinjit untuk bisa melihat Hajime di dalam ruang ICU. Saat ini, tidak seorangpun boleh menjenguk Hajime. Ruang ICU ini steril dari segala jenis kuman dan bakteri yang kemungkinan dibawa oleh pengunjung rumah sakit sepertiku. Melihat Hajime tak berdaya begitu, apalagi


Penyebabnya adalah diriku sendiri, hatiku serasa hancur berkeping keping Tuhanku! Selamatkanlah Hajime, dan aku akan berbuat apa saja untuk menebus kesalahanku jika ia sembuh seperti sedia kala. Aku janj Tuhan!


Lagi, air mataku menetes di kedua pipi dan aku mengusapnya.


"Sudahlah, Kak Ran. Jangan menangis terus. Kita doakan saja Kak Hajime bisa melewati masa-masa ini, dan bisa kembali bersama kita." Akira datang dan mengusap pundakku dengan penuh kelembutan. Aku tahu adikku ini datang untuk menawarkan dada dan pundaknya untuk aku bersandar.


"Akira.... panggilku lirih dan parau.


"Ini semua salah Kak Ran, Akira," ungkapku penuh se sal, kurobohkan wajah dan kepalaku di dada Akira. Cekat an, saudaraku satu-satunya ini meraih kepala dan membelai rambutku penuh kelembutan, seketika aku teringat sosok ayah yang suka membelai rambutku ketika aku menangis. Kalau tidak ada Akira yang menggantikan sosok Ayah. barangkali hidupku di kota Tokyo sudah berakhir lantaran terlalu sering stres dan tidak ada yang memberiku kete nangan.


"Tidak ada yang perlu disesali, Kak Ran," balas Akira dengan nada dewasa, seolah dia kakak dan akulah yang menjadi adiknya. "Namun, kau harus berjanji kepada dirimu sendiri. Setelah Kak Hajime sembuh, kau harus bersikap tegas, akan menerima cintanya atau tidak. Kau tidak boleh berpikir seperti anak kecil, sebentar iya, sebentar tidak. Kau harus tegas, Kak Ran!"


Kepada Hajime, aku memang jahat. Kuakui itu! Dari pertemuan pertama, aku sudah memberinya lampu hijau supaya terus mendekati aku. Sudah dekat, tiba-tiba aku membelot, aku kembali teringat Kamazaki dan Hajime pun sempat kewalahan. Aku licin melebihi seekor belut sekalipun. Aku lincah melebihi seekor kancil yang usil. Lelaki mana yang tidak kesal menghadapi sikapku yang bisa kuibaratkan bagai air di atas daun talas? Sebentar-sebentar aku mencintai Hajime, sebentar-sebentar aku berharap Kamazaki kembali ke Tokyo dan kami berdua kembali memadu asmara.


"Cinta ini membuatku tidak bisa berpikir dan bertindak dengan rasional, Akira," tuturku dengan bibir dan lidah yang getir. "Aku harus bagaimana, Akira?"


_____________________________________


Bersambung~