
Ana berjalan menghampiri Kana lalu duduk di sampingnya, ikut menatap layar ponsel milik Kana.
"Siapa yang membuat ini?" Ana membulatkan matanya karena terkejut.
Dalam waktu sekejab beberapa artikel mengenai dirinya telah viral di media sosial.
"Bagaiamana ini?, apa yang harus aku lakukan?, sehingga semua berita tentangku hilang dari sosial media" Ana berdiri dari duduknya, berjalan kesana-kemari dengan tangan kana terus meremas ujung baju yang dia kenakan.
Kana yang melihat sahabatnya itu pun ikut khawatir tentang masalah yang menimpah sahabatnya.
"Kamu tenang dulu!, jika kamu panik seperti ini mana bisa memikirkan cara menyelesaikan masalah ini" Kana bangkit dari duduknya mencega Ana agar tidak terus-terusan berjalan kesana-kemari.
"Bagaiamana aku bisa tenang Na?, dalam waktu sekejab telah banyak artikel terbit mengenai diriku. apalagi artikel itu melibatkan statusku sebagai menantu Keluarga Saguna"
Kana terdiam mendengar ucapan Ana. Menurutnya apa yang di ucapkan sahabatnya benar, bagaiaman dia bisa tenang, kini dirinya telah di banjiri berbagai hujatan.
"Bagaiaman jika keluarga Saguna juga ikut melihat artikel yang membawah nama keluarga besar mereka?" Ana tampak frustasi.
Dari kejauhan tampak seorang mengeluarkan ponselnya dari tasnya, jari jemarinya menari di atas keyboard menakan beberapa angka lalu menghubungi nomor tersebut.
📞"Bagaimana?, apakah kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan?"
📞"Tentu saja!, semua yang di perintahkan sudah aku laksanakan sesuai perintah. Dan sepertinya berita ini segera trending di beberapa jam ke depan"
📞"Bagus, silakan lanjutkan tugasmu!"
Sambungan telefon terputus, dia tampak tersenyum puas dengan hasil kerja orang suruhannya.
Di waktu yang bersamaan, tampak Arsenio sibuk menandatangani beberapa berkas, dia tampak serius sehingga suara notifikasi dari ponselnya tidak dia pedulikan.
Rangga yang berada tak jauh darinya mendengus kesal menatap layar ponselnya.
"Siapa lagi yang membuat masalah?" Rangga menatap tuannya yang masih fokus dengan beberapa tumpukan kertas di meja kerjanya.
"Jangan sampai tuan muda melihat berita ini!"
Rangga bangkit dari duduknya berjalan mendekati meja kerja tuannya.
Arsenio tampak melihat kearahnya lalu kembali fokus ke pekerjaannya.
Rangga segera meraih ponsel tuannya memasukannya ke dalam sakunya.
"Benar sebaiknya kamu ambil hp itu, dia terus-terusan membuat kebisingan. Itu akan membuat fokusku terganggu. Aku harus segerah menyelesaikan pekerjaan ini" ungkap Arsenio dengan pandangan masih pada tumpukan kertas.
"Baik tuan" Rangga berbalik melangkah kembali ke tempat semula.
Menekan salah satu tombol ponselnya yang membuat layarnya kembali menyala, segera mencari aplikasi kontaknya lalu menekan salah satu dari sekian banyaknya nama kontak untuk di hubungi.
📞"Hallo selamat siang pak" sapa sorang pria setelah sambungan telefon terhubung.
📞"Siang. Saya pikir kamu telah melihat artikel yang lagi ramai di perbincangkan. Saya minta secepatnya kau hapus semua artikel itu!, jangan sampai artikel itu di baca oleh salah satu anggota keluarga Saguna!"
📞"Baik pak"
📞"Lakukan kerjamu dengan baik" Rangga memutuskan sambungan telefon. Dia kembali menatap layar ponselnya terus memantau kerja orang-orang kepercayaannya.
Tiga puluh menit kemudian, Tampak Arsenio menyandarkan tubuhnya ke kursi ya saat ini dia duduki, menghela nafas lega karena berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
"Syukurlah semuanya selesai" Arsenio menatap langit-langit ruanganya.
📞"Pekerjaan semudah itu kau tidak bisa atasi?, bukankah kau akhili dalam hal ini?, kenapa belum juga membersikan semuanya" Rangga dengan suara membentaknya.
Arsenio yang mendengar itu segera memperbaiki duduknya lalu menatap asistenya itu.
📞"Maaf pak, saya telah menghapus hampir semua artikel yang muncul di media sosial namun, selalu saja ada akun-akun baru yang terus mengeluarkan berbagai berita yang sama, seakan-akan mereka mengetahui kalau kita sedang menghapus artikel itu" jelas orang kepercayaan Rangga.
📞"Lakukanlah apa yang bisa kaulakukan!, dan segera lacak siapa-siapa pemilik akun-akun itu!, saya tidak akan segan-segan membuat perhitungan pada mereka" ucap Rangga frustasi.
📞"Baik pak"
Rangga memutuskan sambungan telefon, meleparkan ponselnya ke atas meja yang berada di depannya. Menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tangan kanan berlahan memijat lembut kedua alisnya.
"Ada masalah apa?" Arsenio menatap Rangga serius.
Rangga yang bendengarnya segera bangkit dari duduknya lalu menatap lurus tuannya.
"Hanya masalah kecil tuan" sahut Arsenio.
"Masalah kecil?" Arsenio mengeritkan dahi.
"Benar tuan. Tuan tidak perlu khawatir saya akan secepatnya menyelesaikan masalah ini"
Rangga terdiam, pikirannya kacau, bagaimana tidak, jika Arsenio mengambil ponselnya dan melihat artikel yang lagi viral, yakin dan percaya dia akan marah besar.
"Hey, apa kau tidak mendengarnya?, sini berikan hp saya!" ucap Arsenio mulai kesal.
"Maaf tuan, saya antarkan sekarang!" Rangga mengeluarkan ponsel tuannya lalu berjalan menuju meja kerjanya dan memerikannya pada Arsenio.
"Kamu kenapa sih?, malah begong di sana" Arsenio mengambil ponselnya lalu mengaktifkan layarnya.
Sementara Rangga tampak diam, pasrah dengan apa yang nantinya akan terjadi jika Arsenio melihat berita itu.
"Banyak sekali pesan yang masuk, apa kau tidak memeriksannya?" Arsrnio menatap layar ponselnya.
"Tidak tuan" sahut Rangga cepat.
"Berita apa ini?" Arsenio menatap Rangga yang berdiri tegap di depan meja kerjanya.
Belum sempat Rangga menjawanya, Arsenio lebih dulu membuka berita yang lagi viral.
Arsenio membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Apa ini yang kau maksud masalah kecil?" pekik Arsenio dengan tatapan membunuh di tunjukan pada asisten pribadinya.
"Maafkan saya tuan" ya hanya kata maaf yang kini bisa di ucapkan Rangga saat ini.
Arsenio menatap tajam Rangga, rahangnya mengeras dengan gigi bergemelatuk.
"Kenapa kau biarkan berita seperti ini ada di media sosial dalam waktu yang lama?"
"Maaf tuan, saya telah menyuruh orang kepercayaan saya tapi..."
"Tapi apa?, tapi mereka tidak bisa melakukannya?. Dasar ngak berguna!" teriak Arsenio menghambur tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya semuanya tampak melanyang dan satu-persatu jatuh ke lantai.
Arsenio menyapu kasar wajahnya, kembai meliha layar ponselnya.
Deg.
Arsenio membulatkan matanya, kali ini berita mengenai Ana dan juga Roby yang dilihatnya, Arsenio meramas jari-jemari, raut wajahnya memerah dengan rahang mengeras melihat video yang dikrimkan oleh nomor tak di kenal itu, adegan Roby mencium istri sanggat jelas terlihat dalam video itu.
Belum selesai video itu dilihatnya, Arsenio segera membanting dengan keras ponsel miliknya ke lantai membuat benda kecil itu terpisa menjadi beberapa bagian.
Arsenio beralih menatap Rangga yang sedari tadi diam dengan posisi merunduk tidak punya keberanian menatap lurus kearahnya.
"Siapkan mobil!, akan kubakar kampus itu sekalian dengan orang-orang yang ada di dalamnya!"
"Baik tuan"
Arsenio melangkah keluar lebih dulu dari Rangga, berjalan memasuki lift yang akan membawah mereka ke lantai bawah. Tampak Rangga menghubungi seseorang untuk segerah menyiapkan mobil buat tuannya.
Pintu lift kembali tebuka, Arsenio berjalan dengan setengah berlari, tampak beberapa karyawan memberikan hormat dengan cara sedikit menundukan kepanya, hal itu sama sekali tidak di pedulikan olehnya.
Rangga berlari lalu membuka pintu untuk tuanya, setelah Arsenio masuk, Rangga mengililingi mobil lalu masuk dan duduk di depan kemudi, menyalakan mesin mobil dan mobil berlahan melaju.
Deru mesin kendaraan membawa mereka jauh dari halaman kantor yang akan menunju kampus.
"Kana, bangamana ini?, sudah setengah jam berlalu kita belum menemukan solusinya" Ana berjalan kesana-kemari mengililingi salah kursi yang ada di taman.
"Bagaiaman jika pak Arsenio tahu?, dia bisa-bisa membunuhku karena masalah ini!" kedua sudut mata wanita berambut panjang dengan dres berwarna coklat sudah menganak sungai.
Kana berjalan menghampirinya menahan Ana agar tidak terus berjalan kesana kemari.
"Jangan takut!, aku janji akan tetap berada di sampingmu apapun yang akan terjadi" Kana menatap seduh merasa kasih pada sahabatnya, tanganya mengengam erat tangan Ana, dia bahakan dapat merasakan tangan Ana yang gemetar.
Dari ke jauhan tampak mobil yang di kendarai Rangga memasuki halaman kampus, semua yang melihat itu segera melihat kearahnya.
Arsenio keluar lebih dulu, tidak lagi menunggu Rangga membukakan pintu untuknya.
"Apa yang kalian lihat?" pekik Arsenio pada beberapa orang di sana.
Rangga segera keluar, memberikan isyarat agar segara menjauh dan tidak menatap tuan muda. Arsenio berjalan melewati koridor kampus dengan langkah setengah berlari dan Rangga terus berada di tepat di belakangnya.
"Ana, sepertinya suamimu telah datang" Kana menatap lurus kearah koridor tempat dimana Arsenio lewat bersama Rangga asistenya.
Ana segera menoleh, melihat apa yang di katakan Kana, seketika raut wajahnya pias, seluruh tubuhnya gemetar, kakinya seakan egan untuk menopang tubuhnya lagi sehingga membuatnya terduduk.
Kana yang melihat itu segera membantu Ana berdiri.
"Ana..., kamu baik-baik saja kan?, tolong bicaralah padaku!" ucap Kana panik.