
Setelah cukup lama berbincang-bincang, keluarga saguna pun perpamitan untuk kembali ke rumah.
"Sayang perbanyaklah istirahanya, jangan dulu banyak berpikir. Ingat kesehatanmu lebih penting dari segalanya" ucap Alin sebelum beranjak pergi.
"Iya ma, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai kabarin ya?" ucap Ana sambil tersenyum.
"Iya sayang" sahut Alin lalu berjalan keluar dan di susul oleh Sarah dan juga Nicholas.
Gibran berjalan menghampiri Ana "Kamu istirahat dulu, biar cepat pulihnya" ucap Gibran.
"Iya pa"
Gibran berganti menatap Rany yang sedari tadi memilih diam "Kabari aku jika kalian membutukan tenaga laki-laki" kata Gibran.
Rany menghela nafas panjang "Tidak perlu repot-repot, kita bisa ko menyewa jasa laki-laki jika kami membutuhkannya" ketus Rany.
"Mama, ko ngomongnya gitu?" ucap Ana menatap ibunya.
"Kenapa?, toh selama ini memang seperti itu" ujar Rany.
"Tapi mama ngak bisa ngomong gitu" lanjut Ana.
"Udah, papa ngak apa-apa. Ingat ya perbanyak istirahat!" kata Gibran yang lansung mendapat anggukan kepala dari Ana, sementara Rany pergi begitu saja tampa bicara lagi.
"Pa, omongan mama barusan jangan di masukan ke hati ya?, mama memang suka gitu kalau lagi banyak pikiran" ucap Ana.
"Iya sayang"
Tatapan Gibran beralih pada sosok Arsenio yang diam mematung menatap lurus kearah mereka
"Kamu ngak pulang?" tanya Gibran. Ana Kana dan juga Alvis ikut melihat ke arahnya.
Arsenio mengeleng "Belum pa, aku masih ingin disini" jawab Arsenio.
Ana yang mendengarnya mengerutkan dahi "Mau ngapain?, tuh Rangga sudah menunggu" ucap Ana.
Mendengar itu, semua orang pun menatap Rangga termasuk Arsenio. "Terima kasih untuk hari ini, kamu sudah bisa kembali" ucap Arsenio.
Rangga sedikit menggangguk "Baik tuan" sahut Rangga lalu berjalan keluar.
"Loh ko di suruh pergi sih?" ucap Ana.
Gibran yang melihatnya hanya tersenyum "Ya udah, papa pamit pulang, kasiah mama sudah menunggu di mobil" ucap Gibran.
"Iya pa, hati-hati" ucap Ana.
"Aunty" pangil Alvis.
"Iya kenapa sayang?" tanya Kana.
"Mataku terasa berat, ingin sekali tidur" jawab Avis.
"Oh ingin tidur ya? 'Alvis menggangguk' ya udah aunty antar ya ke kamar" kata Kana.
"Iya Aunty"
Kana beranjak dari duduknya begitu juga dengan Alvis.
"Mommy.. Daddy Alvis masuk dulu, soalnya mata Alvis sudah berat ingin cepat-cepat tidur"
"Iya sayang" sahut Arsenio dan Ana bersamaan.
Kana dan Alvis pun berjalan menuju kamar Alvis, sebelum sampai Kana menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang lebih tepatnya menatap Ana.
"An, setelah Alvis tidur aku langsung pulang ya" ucap Kana.
"Kenapa ngak tidur disini aja?, biasanya juga kamu nginap" ucap Kana.
"Aku ada urusan sedikit di kantor, jadi nginapnya lain kali saja" ucap Kana lalu melanjutkan langkahnya.
Sementata Arsenio yang mendengarnya pun tersenyum "Pengertian sekali Kana" pikir Arsenio.
Arsenio menarik tangan Ana untuk kembali duduk "Udah ngak usah di liatin terus!. Toh orangnya sudah pergi" ucap Arsenio.
Ana bergerak memberi jarak di antara mereka "Ngak ada orang lain di sini, jadi sudahi saja aktingmu itu" ucap Ana.
"Berhentilah bertingkah bahwa hubungan kita sedang baik-baik saja dan tolong jangan beri harapan pada keluargamu dan juga keluargaku kalau kita akan kembali bersama" ucap Ana lalu bangkit dari duduknya.
"Janganlah berkata seperti itu! 'Arsenio ikut bangkit dari duduknya dan menatap Ana serius' kamu tahu?. Hatiku sakit jika mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu" ucap Arsenio.
Ana berbalik menatap Arsenio "Berikan alasan kenapa aku harus peduli dengan hatimu?" tanya Ana.
"Ya memang seharusnya seperti itu, aku kan suamimu"
"Kalau soal itu aku bisa jelasin" ucap Arsenio.
"Cukup mas!" teriak Ana.
Ana berjalan mendekati Arsenio memangkas sedikit jarak di antara mereka "Kamu tahu?, Sakit yang mas rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan"
"Sebaiknya mas kembali pulang, percuma mas berada di sini karena itu tidak akan merubah keputusanku" lanjut Ana.
Ana yang hendak melangkah pergi namun secepatnya di cega oleh Arsenio.
"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, tolong beri aku kesempatan, aku ingin mempertahankan pernikahan ini" ucap Arsenio.
Ana melepaskan tangan Arsenio yang memegang pergelangan tangannya "Tapi tidak denganku, aku pikir mas tahu dimana pintu keluar" ucap Ana lalu pergi.
"Pernikahan itu bukan keinginanku, plis percayalah padaku" teriak Arsenio namun hal itu tidak membuat langkah Ana berhenti.
Arsenio yang melihatnya mengacak-ngacak rambutnya frustasi, tak lama dari itu Kana keluar dari kamar Alvis, karena sudah perpamitan sama Ana tadi, Kana punemutuskan untuk langsung pulang.
Sesampainya di luar Kana di kejutkan oleh Arsenio yang berdiri tak jauh dari jendela kamar Ana.
"Aku tidak akan pernah pergi sebelum kamu mendengar penjelasanku" teriak Arsenio berharap Ana dapat mendengarnya.
Kana yang melihat itu pun menghela nafas panjang "Sisahkan satu laki-laki yang seperti tuan Arsenio" ucap Kana.
Kana yang tidak ingin masuk campur urusan rumah tangga mereka pun memutuskan untuk pulang.
Waktu seakan perputar sanggat cepat, jarum jam kini menunjukan pukul 18.00. Tampak Arsenio masih dengan posisi yang sama, ia terus berdiri tak jauh dari jendela kamar Ana.
Rany yang melihat itu segera menghampirinya "Kamu sudah berdiri di sini berjam-jam dan Ana belum juga keluar. Kamu pasti lelah, sebaiknya kamu pulang" ucap Rany.
"Maaf ma, tapi aku tidak akan pernah pergi dari sini sebelum Ana mau mendengar penjelasanku" sahut Arsenio.
"Bagaimana kalau Ana ngak pernah keluar sampai besok?" tanya Rany.
"Aku akan tetap disini menunggu Ana sampai mau memdengar penjelasanku" jawab Arsenio.
Rany yang mendengarnya menghela afas panjang "Ana tidak akan keluar menemuimu, jadi sebaiknya kamu pulang" ucap Rany.
"Aku tetap dengan pilihanku, akan menunggu Ana sampai mau mendengar penjelasanku" sahut Arsenio.
"Ah terserah kamu saja" ucap Rany lalu kembali masuk.
"Oma dari mana?" tanya Alvis saat melihat Rany yang baru saja masuk.
"Dari luar sayang. Lagi main apa nih?" Rany duduk di samping Alvis.
"Nih lagi main ular tangga" sahut Alvis.
"Oh iya oma, mommy di mana ya?, ko aku ngak lihat mommy d rumah"
"Tuh di kamar lagi istirahat, Alvis main sama oma saja ya"
"Boleh?"
"Tentu saja boleh" sahut Rany.
Rany pun memilih untuk menemani cucunya bermain.
Waktu terus berjalan jarum jam sudah kini sudah menunjukan pukul 20.00, Ana, Alvis dan Rany tampak menikmati makan malamnya.
"Sebaiknya kamu temui suamimu, dari siang loh dia berdiri di luar" ucap Rany di selah-selah makannya.
"Biarkan saja!, kalau sudah cape pasti dia akan pulang" sahut Ana. Mendengar itu Rany memutuskan untuk diam.
Setelah beberapa menit mereka pun menyelesaikan ritual makannya. Ana memutuskan untuk kembali ke kamar sementara Rany dan Alvis duduk diruang keluarga sambil menonton tv.
Di luar sebuah taksi berhenti di depan rumah, seseorang keluar dari mobil tak lupa membayar ongkos taksi.
"Ini pak" ucap Kana memberikan selembar uang merah.
"Loh neng, saya ngak punya uang kembaliannya" ucap supir taksi.
"Udah ngak usah, buat bapak saja" sahut Kana.
"Oalah, terima kasih neng" Kana mengangguk sebagai jawaban.
Supir taksi kembali melajukan mobilnya sementara Kana berjalan masuk melewati pekarangan rumah Ana.
"Duh, sepertinya sebentar lagi turun hujan" ucap Kana menatap langit yang nampak gelap tiada berbintang.
Kana yang sedang berjalan pun seketika menghentikan langkahnya "Loh, dia masih ada di sini?" ucap Kana terkejut menatap Arsenio yang masih berdiri di sana.