My Love Story

My Love Story
Bab 151



Flash Back


Di ruang tamu, semua orang tampak berkumpul di sana tak terkecuali Alvis, semuanya terlihat serius membicarakan sesuatu.


"Saya pikir, Rangga benar-benar serius dalam hal ini. Bagaimana denganmu?" tanya Arsenio menatap Kana.


Kana diam, kepalanya ditundukan dengan jari-jemari tangan yang terus di mainkannya. Dia tampak berpikir keras soal jawaban yang akan di berikannya pada Rangga.


Secara bergantian Ana menatap suaminya dan juga asisten suaminya "Mas, pak Rangga. Saya pikir kalian hurus memberi Kana waktu untuk berpikir" ucap Ana.


"Berapa lama saya akan mendapatkan jawabannya?" tanya Rangga yang juga mengeri kondisi Kana.


"Aku akan menjawabnya sekarang" ucap Kana sambil mengakat kepalanya agar bisa melihat denga jelas wajah satu-persatu dari mereka.


Semua orang yang mendengarnya menoleh ke arahnya.


"Kamu yakin Na?, akan menjawabnya sekarang?" tanya Ana ragu.


Kana menggangguk "Ya aku yakin An" jawabnya.


"Baiklah, apapun keputusanmu nanti, aku akan selalu berada di pihakmu" ucap Ana sambil tersenyum.


Pandangan Kana beralih pada Rangga yang duduk tak jauh darinya.


"Jawabanku adalah jawaban paman dan bibiku" ucap Kana.


Rangga mengerutkan dahi binggung "Maksudnya?"


"Kenapa otakmu loading sekali saat membahas soal beginian?. Silakan kamu hubungi paman dan bibinya untuk mendapat jawabannya!" ucap Arsenio sambil menyerahkan ponselnya pada Rangga.


"Sekarang tuan?" tanya Rangga.


"Ngak, nanti tahun depan" jawab Arsenio asal.


"Baik saya akan menghubungi mereka sekarang" ucap Rangga sambil mengambil ponsel tuannya.


Sementara Ana dan Kana menatap ke arah Arsenio.


"Bagaimana bisa mas punya kontak paman dan bibi Kana?" tanya Ana pada suaminya.


"Panjang ceritanya, nanti saja aku ceritakan.


Sekarang kita sama-sama dengar jawaban apa yang akan di berikan paman dan bibi Kana" ucap Arsenio.


Sementara Rangga dengan rasa gugup mencoba menghubungi paman dan bibi Kana.


Saat sambungan telefon terhubung semua orang tampak serius untuk mendengarkan namun tidak dengan Arsenio yang terlihat santai.


📞"Halo selamat malam tuan Arsenio" sapa seseorang dari seberang.


Kana yang sangat mengenal suara itu pun terkejut. "Wah itu benar-benar suara paman"batin Kana


📞"Ya halo, sebelumnya saya mohon maaf karena menelfon selarut ini"


📞"Iya, ngak masalah. Sepertinya ini bukan tuan Arsenio"


📞"Oh iya saya tahu, Rangga kan?"


📞"Benar pak"


"Paman mengenal Rangga juga?. Mati aku, bagaimana kalau paman menerima Rangga, apakah aku benar-benar akan menikah denganya" pikir Kana.


Rangga dan paman Kana sedikit mengobrol sampai dimana Rangga mengutarakan maksudnya dan jawaban pamannya sungguh di luar dugaan Kana sebelumnya.


📞"Tentu saja saya setuju, siapa sih yang menolak pria baik sepertimu" ucap pak Bayu yang bertepatan di dengar oleh Kana, Ana, Arsenio sementara Alvis sudah tidur di pangkuan ibunya.


Rangga yang mendengar jawaban itu segera menghela nafas lega.


📞"Kamu tidak perlu khawatir, aku pasti menyetujui kamu dengan Kana, asalkan kamu berjanji padaku untuk membahagiakan keponakanku yang sudah saya agap seperti anak sendiri" lanjut paman Kana.


📞"Saya perjanji akan membahagiakan, menjaga, menyayangi dan mencintai keponakan Bapak" ucap Rangga.


📞"Saya percaya kamu pasti bisa menepati janjimu"


📞"Terima kasih telah mempercayai saya untuk menjaga keponakan bapak"


📞"Ya Sama-sama" jawabnya.


Setelah meresa cukup, pangilan telefon pun diakhiri. Rangga segera menatap Kana yang nampak gugup.


"Bagaimana?, aku sudah mendapatkan jawaban dari pamanmu" ucap Rangga.


"Duh, bagaimana bisa paman begitu mempercayainya?, bahkan dia belum pernah bertemu denganya" pikir Kana.


"Kana, sepertinya kamu benar-benar akan menikah dengan pak Rangga" pikir Kana lagi.


"Kana.." pangil Ana menyadarkan lamunanya.


"Hmm" jawabnya menatap Ana, sementara Ana memberikan isyarat agar dia segerah menjawab apa yang di tanyakan Rangga padanya.


Kana tampak membuang nafas pelan seraya menatap Rangga yang juga melihat kearahnya.


"Ya seperti yang sudah saya katakan tadi. Jika itu jawab paman maka itulah jawabanku" ucap Kana pelan namun masih dapat di dengar oleh semua orang.


Mendengar jawaban Kana tampa sadar Rangga pun terseyum dan itu pertama kalinya di lihat oleh Kana.


Kana menoleh menatap Ana, sementara Ana yang sadar akan hal itu segera mengengam tangannya "Yakinlah, apa yang kamu pilih sekarang adalah pilihan yang benar" ucap Ana meyakinkan Kana.


"Aku juga berharap seperti itu" ucap Kana.


"Seperti yang di katakan Rangga beberapa menit lalu bahwa pernikahan kalian akan di langsungkan minggu depan. Maka dari itu saya ingin memastikan kembali kesiapan Kana" ucap Arsenio sedikit menjeda ucapannya.


"Apa kamu sudah siap?" lanjut Arsenio.


Kana menatap Ana dimana Ana tampak mengganggukan kepalanya, pandangan Kana beralih menatap Arsenio lalu berkata"Ya, saya siap"


Flashback off