
Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00, mobil yang di kendarai Rangga pun memasuki halaman apartemen dan mobil berhenti di area parkiran.
Rangga turun dari mobil lebih dulu, dikarena Arsenio masih dalam pengaruh alkohol Rangga pun membantunya turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen miliknya.
"Ana....?" ucap Arsenio menatap Rangga dari samping.
"Saya bukan nona Ana tuan" sahut Rangga sambil membawa masuk Arsenio ke dalam apartemennya.
Arsenio yang mendengar itu segera mendorong Rangga, yang membuat dirinyalah yang terjatuh.
"Kamu!. Beri aku minumnya lagi, Berikan yang lebih banyak!" pinta Arsenio pada Rangga.
"Maaf tuan, saya tidak mempunyai minuman seperti itu di sini" ucap Rangga sambil membantu Arsenio berdiri.
Arsenio menepis tangan Rangga dari tubuhnya.
"Bohong!, bagaimana mungkin disini tidak ada, bukankah ini tempatnya?" ucap Arsenio sambil menunjuk Rangga yang berdiri di depannya.
"Oh apa kamu takut aku tidak mampu membayar semua minumanku?. Nih aku bayar! sekalian aku membeli tempat ini!" ucap Arsenio sambil mengeluarkan sebuah black card lalu mengambil tangan Rangga dan meletakan kartu itu itu di atas telapak tangannya
"Ayo cepat beri aku beberapa gelas lagi!" tita Arsenio.
Rangga memasukan black card ke dalam sakunya lalu berjalan mendekati Arsenio menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Tuan, saya akan mengantar tuan ke kamar untuk istirahat" ucap Rangga.
Arsenio yang mendengarnya pun menganggkat kepalanya menatap lurus Rangga.
"Rangga?" ucap Arsenio.
"Kenapa kamu bisa di sini? Dan kenapa kamu tampak buram" ucap Arsrnio sambil mengucek-ngucek matanya.
"Ana..mana?, kenapa tidak ikut bersamamu?. Bukankah Saya menyuruhmu pergi menjemputnya?. Saya ingin bertemu denganya!" ucap Arsenio lagi.
"Saya akan menggubungi nona Ana, tapi sebelum mengubungi nona Ana saya mengantarkan tuan terlebih dahulu ke kamar" sahut Rangga.
Arsenio pun mengganguk setuju, berlahan berjalan menuju kamar dengan bantuan Rangga.
Setelah berhasil membantu Arsenio Rangga berjalan keluar dari kamar, merogoh sakunya mengeluarkan ponsel miliknya lalu melakukan pangilan.
📞"Hallo" ucap Ana setelah sambungan telefon terhubung.
📞"Ya hallo, apa nona sedang sibuk?" tanya Rangga.
📞"Tidak, kenapa?" tanya Ana.
📞"Tuan muda sekarang berada di apartement saya, dan tuan muda sedang dalam pengaruh alkohol. saya takut tuan muda berbuat suatu hal yang membuatnya celaka. Bisakah nona datang menemuinya" ucap Rangga panjang.
Ana yang mendengarnya pun diam tidak merespon ucapan Rangga padanya.
📞"Hmm" sahut Ana.
📞"Kenapa pak Rangga tidak membawahnya pulang ke rumah?" tanya Ana.
📞"Maaf, tapi saya lagi berada di luar kota nona. Jadi tidak dapat membawah tuan muda pulang" ucap Rangga.
📞"Ke luar kota?" tanya Ana tak percaya
📞"Benar nona. Tuan muda mempunyai akses masuk ke apartemen saya" sahut Rangga berusaha meyakinkan.
📞"Bagaimana kalau saya hubungi bi lila untuk memberitahu tuan Nicholas?" ucap Ana.
📞"Jangan nona!, tuan akan marah besar jika mengetahui tuan muda sedang dalam pengaruh alkohol" ucap Rangga khawatir.
📞"Saya mohon nona, kali ini saja!" bujuk Rangga.
Setelah cukup lama berpikir Ana pun menyetujuinya.
📞"Ya saya akan kesana sekarang!, tolong krimkan alamat apartement milik bapak!" ucap Ana.
📞"Baik nona, saya akan krimkan alamatnya sekarang!" ucap Rangga.
Sambungan telefon pun terputus, tanpak Rangga menghela nafas panjang.
"Maafkan aku telah berbohong nona. Tapi jika tidak berbohong nona tidak akan datang menemui tuan muda" gumam Rangga dalam hati sambil mengirimkan alamat apartementnya melalui via Wa.
Di saat yang bersamaan Ana menerima pesan dari Rangga yang berisi alamat apartemennya. Ia pun segera bangkit dari duduknya, mengganti pakaiannya lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Ma, aku ke rumah Kana ya?" ucap Ana berdiri di depan pintu kamar ibunya.
"Malam-malam begini kamu ke rumah Kana?" tanya Rany dari dalam kamar.
"Iya ma, aku pergi ya" ucap Ana lalu berjalan menuju pintu.
Rany yang mendengarnya pun membuka pintu kamarnya lalu berdiri di depan pintu sambil menatap kearah putrinya yang kini berjalan menuju pintu keluar.
"Hati-hati ya!" ucap Rany.
"Iya ma" sahut Ana sambil mengambil kunci mobil yang berada di meja ruang tamu lalu berjalan keluar.
Mengendarai mobil menuju alamat yang di krimkan Rangga padanya.
"Maafkan aku ma telah membohongi mama" ucap Ana sambil fokus menyetir.
Ana pun merogo tasnya, mengeluarkan ponsel miliknya lalu dengan cepat mengirimkan pesan pada Kana, sebagai jaga-jaga ibunya menelfon Kana menanyakan keberadaannya.
Ana kembali fokus menyetir, melajukan mobilnya, tatapannya fokus ke depan, melewati ramainya jalan di malam hari.