My Love Story

My Love Story
Chapt | 040



"Kemarilah, Akira!" Supaya terlihat dewasa, aku harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa dengan diriku. Takut kalau-kalau air mataku masih membasahi pipi, kuusap segera dengan telapak tangan.


"Ayolah, Akira! Peluk Kakak!" pintaku dengan perasaan haru.


Kurentangkan kedua lengan, siap membenamkan Akira ke dalam pelukan.


"Aku dikhianati pacarku, Kak Ran," isak Akira cengeng, ia merobohkan tubuhnya ke pelukanku. Aku ingin tertawa sebab baru kali ini aku melihat adikku menangis karena patah hati. Namun, demi menjaga perasaan Akira, aku tidak sampai hati melakukan penghinaan terhadapnya.


Kubelai-belai rambut Akira yang wangi. la terus


menangis di pelukanku.


"Dengan mata dan kepalaku sendiri, aku melihat Shizuka bermesraan dengan Yakusugi, Kak Ran," ujar Akira mengadu. "Saat kuhampiri mereka, Shizuka justru bangga dengan status perselingkuhan yang sedang dijalaninya."


"Yakusugi pemain musik itu, bukan?" potongku me nyela, kuingat kembali saat aku dan Shizuka bertemu di lorong gedung Bunkyo Football Academy tempo hari.


Saat itu, dua orang teman Shizuka sempat menggoda Shizuka dan menyebut nama Yakusugi. Ternyata benar! Kini semuanya sudah terbukti, Shizuka memang playgirl yang memiliki kegemaran yang ganjil, yakni gonta-ganti pria tampan!


"Benar sekali, Kak Ran!" sahut Akira membenarkan. Nada bicaranya masih sangat childish. Demi Tuhan, baru kali ini aku melihat Akira kekanak-kanakan seperti ini hanya gara-gara wanita. "Aku juga tidak lolos seleksi ke Manchester, Kak Ran! Padahal aku yakin bisa lolos. Tapi, ternyata aku harus kecewa. Bukan aku yang lolos dalam seleksi ketat itu, melainkan Kak Hajime yang lolos. Hanya dia seorang. Bukan aku. Bukan yang lainnya. Awalnya, kukira aku dan Kak Hajime sama-sama lolos. Sudah lama sekali kami merencanakan belajar di Manchester bersama."


Mendengar kota Manchester, hatiku terasa ditusuk duri-duri besi yang panas, sakit dan perih rasanya! Salah satu kota di Inggris itu telah mengubur mimpi-mimpiku bersama salah satu pemain sepak bola berbakat asal Jepang, yakni Kamazaki. Kini, mendengar Akira bersedih karena tidak lolos di Manchester Football Academy sementara Hajime yang lolos ke sana, hatiku terasa semakin perih. Kenapa harus kota itu yang menjadi biang masalah? Gara gara ingin berlatih sepak bola di sana, Kamazaki telah meninggalkanku. Kini, gara-gara tidak lolos seleksi berlatih di sana, Akira ingin mengakhiri hidupnya. Sungguh, aku heran!


Mahnya


pidemi.


hidup.


"Aku ingin sekali berlatih sepak bola di Manchester, Kak Ran. Tapi kenapa harus Kak Hajime yang lolos, sementara kita tahu saat ini dia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kenapa bukan aku saja yang lolos? Kenapa??!!" lanjut Akira berkeluh.


"Sssssttt.... Sudahlah, Akira, sudah!" ucapku lembut, memotong kalimat Akira. Kuusap-usap rambut hingga punggungnya. Kubenamkan lagi wajah Akira di pundakku. Kuingin ia menumpahkan seluruh kesedihannya di sana. "Kak Ran yakin, tanpa harus ke Manchester, kau juga bisa menjadi pemain terhebat di Tokyo dan dunia!" pungkasku persuasif. Akhirnya, harus kusimpulkan bahwa tidak selamanya cinta berakhir dengan manis.


Kau tidak boleh bersikap seperti itu, Ran! serang Ayumi begitu tahu aku menjauhi Hajime, bahwa aku ingin mundur, menyerah mendapatkan cinta Hajime.


Sementara itu, Hajime belum juga sadarkan diri pasca


kecelakaan.


Saat ini, aku dan Ayumi berada di perpustakaan sekolah. SMA Gakushuin memiliki perpustakaan yang modern koleksi buku yang lengkap. Mulai dari buku-buku pelajaran sampai buku bacaan seperti manga dan novel pun tersedia. Aku ke sini bukan untuk meminjam buku, aku hanya menemani Ayumi yang sedang mencari buku matematika.


"Cinta itu perjuangan, dan tidak ada satu pun cinta yang mudah dilalui tanpa adanya perjuangan," lanjut Ayumi, terkesan mengguruiku. Aku masih diam dan pura-pura sibuk mencari buku di antara rak-rak yang berjejer. "Kalau kau benar-benar cinta sama Hajime, kau harus berani memperjuangkannya, Ran! Buktikan bahwa kau memang tulus untuknya, bahwa kau tulus mencintainya! Jangan menyerah dan mundur sebelum mendapatkan apa yang kau impikan!"


"Hajime sudah memiliki calon istri, Ayumi," ujarku tanpa menoleh. Pandangan mataku terpaku pada cover buku matematika.


"Apa?!" pekik Ayumi terkejut, wajah dan matanya men jadi buruk. "Hajime sudah mempunyai calon istri? Yang benar saja!" Bibir, mata, dan kerutan dahi Ayumi menun jukkan ketidakpercayaan pada kebenaran berita yang kusampaikan.


"Aku serius, Ayumi. Hajime memang sudah mempunyai calon istri. Aku dan Akira bertemu calon istrinya itu di rumah sakit," kataku seraya mengambil salah satu buku yang terselip di antara buku-buku yang lain. "Awalnya, aku juga sulit percaya. Tapi, untuk apa juga aku mengingkarinya? Malu sendiri kalau gadis itu benar-benar calon istri Hajime."


Ayumi diam. Tampaknya ia sedang berpikir, mencari ide untukku.


"Tapi, Hajime belum memberimu konfirmasi apa pun kan, Ran?" tanya Ayumi, masih dengan sepasang bibir yang terpelongo. Kutahu, sangat sulit baginya untuk percaya bahwa Hajime telah mempunyai calon istri. Secara, kami masih sangat belia. Sementara itu, kebiasaan menikah muda mulai ditinggalkan oleh orang-orang Jepang


"Hajime masih belum sadarkan diri sejak kecelakaan itu, Ayumi," jawabku santai. "Kau sungguh bodoh, Ran!" cela Ayumi jengkel "Harus


gadis itu cuma mengaku ngaku pacar Hajime."


"Mengaku pacar?" tanyaku mengerutkan dahi


"Ran, Hajime itu pemain sepak bola profesional yang digemari banyak wanita," ujar Ayumi seraya mendaratkan tangannya di pundak kananku. Hatiku berdesir karena ternyata sahabat seperti Ayumi lebih mengerti daripada kekasih seperti Kamazaki atau Hajime. Lagi-lagi, aku harus mengiyakan perkataan orang bahwa memiliki sahabat dapat menenteramkan hati dan mengusir kegalauan. Bagiku, saha bat adalah orang kedua setelah keluarga. "Tidak mustahil


Gadis itu hanya berbohong. Bisa jadi dia tidak ingin melihat gadis-gadis pesaingnya, ya seperti kamu ini, berada di samping Hajime. Singkatnya, dia tidak ingin ada gadis lain yang ikut memperebutkan Hajime."


"Jadi aku mesti bagaimana, Ayumi?"


Ayumi tidak langsung menjawab. Dia mengajakku duduk terlebih dahulu.


"Ran, aku masih belum percaya gadis itu adalah calon istri Hajime," lanjut Ayumi setelah kami berdua duduk berhadap-hadapan. Terlihat, Ayumi menjatuhkan buku buku yang akan dipinjamnya di hadapan kami.


"Bagaimana kalau kenyataannya memang seperti itu, Ayumi?"


Ayumi tersenyum, dan aku semakin bingung dibuat


nya.


"Ran, untuk apa Hajime mendekatimu kalau ternyata dia sudah memiliki kekasih? Bahkan calon istri? Menurut ceritamu, kalian bertemu dalam keadaan sama-sama me nunggu seseorang, kan? Kau menunggu Kamazaki, semen tara Hajime menunggu kekasihnya. Iya, kan?" ujar Ayumi.


"Waktu itu Hajime bukan menunggu seseorang, Ayumi. Melainkan datang ke tempat itu untuk mengenang masa masa indah bersama kekasihnya," kataku, berusaha meralat kalimat Ayumi


"Ya, maksudku juga begitu, Ran!" elak Ayumi ngotot. "Maksudku, pada intinya, saat itu Hajime memiliki seorang kekasih, kan?"


"Orang yang kuceritakan itu telah meninggalkan Hajime untuk selama-lamanya, Ayumi. Jadi, saat itu Hajime tidak menunggu siapa-siapa. Dia hanya ingin mengenang masa masa indah bersama kekasihnya," lanjutku lagi.


"Ooooo.... Aku kira waktu itu Hajime menunggu sese orang."


"Bukan, Ayumi!" tandasku.


"Maksudku, kalau saat itu Hajime menunggu kekasih nya sebagaimana kau menunggu Kamazaki yang menghilang tidak jelas, bisa jadi Hajime bernasib seperti dirimu, ditinggal kekasih ke Manchester."


Mendengar kota Manchester disebut, aku teringat Kamazaki. Ah, Kamazaki lagi..., Kamazaki lagi! Entah daya magnet seperti apa yang ada pada dirinya, sehingga aku selalu tertarik untuk mendekat padanya.


"Lantas apa hubungannya dengan gadis yang mengaku calon istri Hajime itu, Ayumi?" tanyaku tak mengerti, bukan pura-pura bodoh.


"Maksudku begini, Nona Ran Ogoro," ungkap Ayumi. "Andai saat itu Hajime bernasib sama sepertimu, ditinggal kekasih, bukankah berarti kalian serasi? Kalian berdua dikhianati, kemudian dipertemukan oleh Tuhan dalam kesempatan yang sangat ajaib dan langka. Kalau bukan serasi, lantas apa lagi namanya?"


"Sayang sekali bukan seperti itu kejadiannya, Ayumi," timpalku cepat. "Hajime ditinggal mati kekasihnya, bukan ditinggal ke luar negeri seperti diriku."


"Iya, aku tahu itu, Ran." Ayumi melepas kacamatanya, dan berusaha membersihkan sudut-sudut matanya. "Maksudku, anggap saja kalian bernasib sama, dan ternyata gadis yang mengaku calon istri Hajime itu adalah gadis yang telah mengkhianati Hajime. Barangkali Hajime tidak akan menerima kehadiran gadis itu, karena dia telah terpikat sama kamu, lanjut Ayumi, kini ia tanpa kacamata.


Mendengar kalimat Ayumi tidak keruan itu, aku jadi bingung sendiri. Kalimat Ayumi tidak memiliki inti kalimat yang jelas, terlalu bertele-tele. Namun pada intinya, kutahu Ayumi sangat mendukung hubunganku dengan Hajime.


_____________________________________


Bersambung~