
Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Kana dan juga Rany, Rany secepatnya mengeluarkan ponselnya dari tasnya.
"Dari siapa tante?" tanya Kana sekilas menatap Rany sebelum kembali menatap jalan.
Rany mengerutkan dahi saat menatap layar ponselnya "Sarah, neneknya Arsenio" sahut Rany.
"Tante angkat saja siapa tahu saja penting" ucap Kana.
"Hmm iya" Rany menekan tombol berwarna hijau lalu meletakan ponselnya di telingahnya.
📞"Halo?" ucap Rany
📞"Rany lagi di mana?" tanya Sarah.
📞"Lagi di jalan!"
📞"Pas sekali, kamu harus secepatnya kesini nanti saya share lokasinya"
📞"Tapi saya lagi.... "
📞"Ini penting sekali, Ana masuk rumah sakit" ucap Sarah sebelum Rany menyelesaikan ucapannya.
Rany yang mendengarnya pun terkejut 📞"Baik silakan share lokasinya saya kesana sekarang"
📞"Ok, saya tunggu!" ucap Sarah sebelum mematikan sambungan telefon.
Kana yang melihat perubahan di wajah Rany pun segera bertanya "Ada apa tante?"
"Kana kita putar balik saja" ucap Rany sambil menatap layar ponselnya.
"Loh, memangnya kenapa?. Apa kita ngak jadi pergi mencari Ana?"
Sarah menatap Kana "Ana masuk rumah sakit, ini nenek Arsenio baru saja share lokasinya" jawab Rany.
Kana yang mendengarnya pun menginjak rem mobil, seketika membuat mobil berhenti.
"Masuk rumah sakit?" tanya Kana tak percaya. Rany mengangguk "Iya sayang, tante juga ngak tahu kenapa Ana bisa masuk rumah sakit. Tapi nenek Arsenio baru saja menelfon dan memberitahuku"
"Ya udah kita putar balik sekarang!" ucap Kana lalu kembali menjalankan mobil.
"Kenapa lama sekali nenek Arsenio share lokasinya" ucap Rany khawatir.
"Mungkin sebentar lagi tante" ucap Kana.
Suara notifikasi masuk, membuat Rany segera membuka "Nah lokasinya sudah ada. Kalau di lihat dari maps, lokasinya ngak jauh dari sini" ucap Rany.
"Sini biar Kana lihat" Rany pun memberikan ponselnya pada Kana.
"Oh iya benar, Kana tahu rumah sakit ini"
"Ya udah kita kesana sekarang!" ucap Rany.
"Iya tante" sahut Kana mengembalikan ponsel milik Rany lalu kembali fokus menyetir.
Rumah sakit
Sarah kembali duduk setelah share lokasi mereka.
"Mama habis terfonan ya?" tanya Alin. Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Habis telfonan dengan siapa?" tanya Alin penasaran. "Seseorang!" sahut Sarah lalu menatap cucunya yang berdiri di depan pintu kamar di mana Ana di rawat.
Sarah dapat melihat dengan jelas kekhawatiran cucunya, ia tampak gelisa sesekali menggaruk kepalnya sekalipun tidak gatal.
Beberapa menit kemudian mobil Kana berhasil parkir di halaman parkiran rumah sakit. Kana dan Rany segera keluar dari mobil berjalan memasuki rumah sakit.
"Apa nenek Arsenio memberitahukan dimana Ana di rawat?" Kana menatap Rany dari samping.
"Tidak, dia tidak memberitahukannya" sahut Rany.
"Kalau begitu, kita mampir disitu sebentar untuk bertanya" ucap Kana sambil menunjuk arah di maksudnya sementara Rany terlihat mengagguk setuju.
"Permisi" ucap Kana setelah sampai.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita yang bertugas di sana.
"Apa bisa saya tahu diruangan mana Ana dirawat?"
"Bisa di sebutkan nama lengkapnya ?, biar saya cek" ucap wanita di depan mereka.
"Larissa Putri Hana" sahut Kana.
"Sebentar ya, saya cek dulu" Kana dan Rany pun mengagguk setuju.
Wanita itu tampak sibuk mencari nama yang di sebutkan Kana. Setelah menemukannya wanita itu kembali menatap Kana dan juga Rany.
"Dimana ya?" tanya Rany.
"Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tahu kalian siapannya nona Ana?. Soalnya tuan Arsenio membatasi orang-orang yang ingin menjenguk istrinya" ucap wanita di depannya.
Kana dan Rany yang mendengarnya pun saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan wanita di depan mereka.
"Saya ibunya Ana dan di samping saya ini saudaranya" sahut Rany.
"Iya ngak masalah, sekarang cepat katakan diruangan mana anak saya di rawat?" ujar Rany.
"Nona Ana berada di ruangan VVIP nomor 1" sahut wanita itu.
"Terima kasih" ucap Rany dan Kana bersamaan wanita di depannya menggangguk sebagai jawaban.
Setelah mendapatkan informasi dimana Ana di rawat, mereka secepatnya berjalan menuju ruangan tersebut.
Setelah cukup lama mencari ruangan tersebut akhirnya mereka menemukannya.
"Tante lihat, itu Arsenio kan?" ucap Kana.
Rany mengikuti arah yang di tunjuk Kana "Benar, itu Arsenio" Rany menarik tangan Kana dengan langkah setelah berlari Rany dan Kana menghampiri Arsenio.
Sementara Arsenio yang melihat itu pun terkejut, segera kembali berdiri tegak "Mama" ucap Arsenio.
Rangga, Sarah, Nicholas, Alin dan Gibran yang juga ikut mendengarnya pun menoleh kearah Rany dan juga Kana.
Alin yang melihatnya segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Gibran lalu duduk di sampinya sambil mengengam tangan kanan suaminya.
"Benar kan dugaanku, nyonya Sarah pasti menelefon ibu nona Ana" pikir Rangga.
"Dimana anak saya?, saya ingin melihatnya!" ucap Rany setelah sampai.
"Iya tuan, dimana Ana kami ingin melihatnya?" sambung Kana.
Arsenio diam "Kenapa diam?, ayo jawab dimana anak saya!" ucap Rany lagi.
Kana menatap pintu yang ada di belakang Arsenio tidak lebih tepatnya melihat nomor yang tertera di sana.
"Di sini ruangannya tente" ucap sambil menunjuk pintu yang di maksud.
Melihat itu Rany segerah menyingkirkan Rangga "Menepih!, saya mau lewat!"
Arsenio segera menahan mertuanya "Maaf ma, saat ini Ana belum bisa di jengguk" ucapnya.
Rany dan Kana yang mendengarnya pun kembali menatap Arsenio.
"Kenapa?, memangnya Ana sakit apa?" tanya Rany dengan suara yang mulai meninggi.
"Apa yang telah kamu lakukan pada anakku, sampai dia masuk rumah sakit?" Rany memukul-mukul dada bidang Arsenio, Rangga yang melihat itu dengan sigap ingin menahan Rany namun dengan satu tatapan dari Arsenio membuatnya berhenti melangkah.
"Cepat jawab apa yang kamu lakukan!" pekik Rany, kedua sudut matanya sudah menganak sungai.
"Maaf" saat ini kata itulah yang bisa di ucapkan Arsenio.
"Kamu tuh, ngak ada puas-puas menyakiti anak saya. Memangnya salah anak saya apa?, sampai kamu tega terus-terusan menyakitinya, dia anak yang baik loh kamu ko tega menyakitinya"
"Tente, tante tenang dulu!, kasihan Ana jika ribut di sini" ucap Kana sambil mencoba menahan tangan Rany agar tidak terus- menerus memukuli Arsenio.
Sarah pun bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Rany "Sebaiknya kamu duduk dulu, tenangkan dirimu setelah itu aku akan menjawab semua pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Kasihan Arsenio dia juga ngak ingin Ana seperti ini" ucap Sarah.
"Kasihan?, dia kasihan?" Rany menunjuk Asenio dengan tatapan tertuju pada Sarah, sementara sarah menggangguk sebagai jawaban.
"Seharusnya anak saya yang perlu di kasihani, semenjak anak saya menikah dengan cucumu ini, hidupnya tidak tenang, selalu saja tersakiti, dan siapa orang menyakitinya?, tentu saja dia adalah Arsenio cucuk kesayanganmu" ucap Rany.
"Jaga ucapanmu!" ucap Alin lalu bangkit dari duduknya.
Semua yang mendengarnya pun melihat kearahnya tak terkecuali Rangga.
"Mama!" ucap Arsenio menatap Alin agar tidak ikut campur.
"Ngak sayang, mama harus beri pemahaman pada wanita ini!. Justru anakku yang menjadi korban di sini, tidak bukan hanya anakku yang menjadi korban, kami sekeluarga pun menjadi korban dari segala perbuatan anakmu itu"
"Cukup Alin!. Bisa ngak kamu tidak manambah masalah" bentak Gibran menurunkan Alvis dari pangkuannya.
"Uncle... Alvis takut" Alvis berlari menghampiri Rangga, hal itu membuat Rangga terkejut sekaligus tak percaya.
Alvis mengakat kedua tanganya berharap Rangga segera memeluknya, Rangga yang melihat keadaan saat ini, dia tidak punya alasan untuk tidak menuruti keinginan anak tuannya itu.
Rangga pun memeluk Alvis "Tidak apa-apa, kan ada uncle di sini" ucap Rangga.
"Oh sekarang kamu ingin membela wanita itu, kenapa?, karena wanita itu mantan istrimu?" ucap Alin.
"Cukup Alin, ini bukan saatnya membahas itu. Saya mohon kamu kembali duduk dan diam!, jangan membuat masalah semakin rumit!"
"Permisi" semua yang mendengarnya menoleh kearah suara.
Seorang dokter, berdiri tak jauh dari mereka.
"Mohon pengertiannya, ini rumah sakit, banyak pasien yang terganggu apalagi di ruangan VVIP nomor satu pasien tersebut membutuhkan istirahat yang lebih" ucap doketer.
"Jika ada masalah, tolong selesaikan diluar rumah sakit!" lanjut dokter.
"Iya maafkan kami, kami tidak akan mengulanginya lagi" ucap Arsenio.
"Baik terima kasih" ucap dokter dan berlalu pergi.
"Tante, benar kata nenek Sarah, kita duduk dulu dan tenangkan diri" ucap Kana.
Rany pun menggangguk setuju dan membiarkan Kana membimbingya menuju tempat duduk. Dan yang lainnya pun kembali duduk kecuali Arsenio dan Rangga yang terus berdiri.