My Love Story

My Love Story
Chapt | 036



Air mata yang terus menetes, lantas memandang wajah Akira dengan tatapan mata yang bingung. Gadis ini cantik sekali, pujiku dalam hati. Wajahnya mulus tanpa setitik jerawat atau bercak komedo sekali pun, sinar matanya juga bening laksana telaga, dan meski ia menangis sama sekali tidak mengurangi daya magis sepasang bibirnya yang mungil dan merah.


"Maaf, kau siapa?" tanya balik Magie kepada Akira Suaranya sangat lembut dan lirih. Aku saja sampai harus memicingkan mata dan menarik daun telinga supaya bisa mendengarnya.


Kepada Akira, Magie menatap dengan tatapan mata penuh curiga.


"Aku Akira Ogoro," ucap Akira seraya mengeluarkan


tangan kanannya dari dalam saku jaket, dan berusaha


menyalami Magie.


"Namaku Magie," sambut Magie ramah. Ia menerima uluran tangan Akira.


"Magie, apakah kau saudara Kak Hajime?" Akira meng


pertanyaan yang belum terjawab oleh Magie.


Sebelum menjawab, Magie sempat melirikkan matanya ke arahku. Ia mengamatiku sejenak, kemudian kembali kepada Akira. Kutahu ia menaruh rasa curiga terhadapku,


Aku yakin, hatinya mengiyakan bahwa aku memiliki


hubungan istimewa dengan Hajime. Tanpa merasa terbebani perasaan apa pun, aku diam berdiri seraya menyilangkan kedua tangan di dada.


Beberapa orang suster, juga dokter, melintas membelah kerumunan kami. Untuk kesekian kalinya, Magie harus menunda jawaban untuk pertanyaan Akira.


"Aku bukan saudara Hajime, melainkan calon istri untuk Hajime." Dengan raut wajah serius, Magie menjawab pertanyaan Akira beberapa detik kemudian. Tatapan Magie terhadapku menjadi aneh, ia bahkan sempat melirik ke arahku di tengah kalimat.


"Apa?!" potong Akira terkaget-kaget. "Kau calon istri Kak Hajime?" tanya Akira antara terkejut, tidak percaya, dan ingin mengingkari. Persis seperti yang kurasakan di dalam hati. Tidak mungkin Hajime sudah memiliki calon istri. Selama ini, dia terus mengejar ngejarku dan berusaha


mendapat simpati dariku. "Kau sedang bercanda, kan?" tanya Akira, masih ber usaha mengingkari.


Magie menarik napas dalam-dalam, lantas melirik dan menatap ke arahku beberapa detik lamanya. Kami semua terdiam, termasuk Akira. Dengan wajah panik, mungkin panik dengan kondisi kejiwaanku terutama setelah men dengar pengakuan Magie tentang hubungannya dengan Hajime,


Akira menatapku dengan penuh keibaan. Kulihat, Akira melipat bibir dan menghempaskan napas berat. Meski sakit, karena jujur saja aku mulai simpatik terhadap Hajime, aku bisa menerima kenyataan jika memang Magie dan Hajime berjodoh.


"Aku berkata jujur," ujar Magie setelah napasnya teratur. "Aku memang calon istri Hajime."


Kulihat, Akira kembali melirik ke arahku dengan tatap an keibaan. Kepada Akira, aku mengulas senyum tipis yang kurang lebih menandakan diriku baik-baik saja. Akira tak perlu mengkhawatirkan kondisi kejiwaanku saat ini, khususnya setelah mendengar Magie adalah calon istri untuk Hajime. Sekali lagi kubilang, adalah tidak masalah jika memang Magie dan Hajime berjodoh. Aku menerima.


"Bagaimana bisa Kak Hajime menyembunyikan semua nya dariku?" tanya Akira dengan kening dan urat-urat yang mengeriput, kutahu ia masih berusaha mengingkari kenyataan. "Aku adalah partner terdekat Kak Hajime, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Susah senang kami bersama, kami selalu melewati hari-hari di Bunkyo Football Academy seperti layaknya dua orang bersahabat yang tidak mungkin terpisahkan. Kak Hajime selalu bercerita tentang


Masalah-masalah yang sedang dihadapinya, namun dia tak pernah sekalipun bercerita tentangmu, tentang calon istrinya."


"Untuk apa aku berbohong kepada kalian?" Magie menyempatkan melirik ke arahku, dan dengan cepat aku menunduk guna menghindari hunjaman tatap matanya. "Mungkin Hajime tidak pernah bercerita kepada teman temannya, termasuk kalian ini, bahwa sebenarnya dia telah dijodohkan oleh orang tua kami. Kelak, tepatnya setelah kami menyelesaikan studi kami, kami akan menikah. Dan itu hal yang pasti, bukan mengada-ada. Baik keluargaku maupun keluarga Hajime telah mengadakan kesepakatan bersama."


Getir! Lidah ini tiba-tiba terasa begitu getir. Ibarat mengunyah butiran-butiran pasir, kabar dari Magie telah cukup membuatku kehilangan harapan hidup. Aku mengulas senyum getir ketika untuk kesekian kalinya Akira melirik ke arahku, kutahu ia semakin mengkhawatirkan kondisiku.


146"Kau tidak sedang main-main, kan? desak Akira, berusaha mengingkari kabar kenyataan yang disampaikan oleh Magie. "Kau tidak sedang membohongi kami, bukan? Atau, kau mungkin sedang mencari sensasi karena tahu Hajime adalah pemain sepak bola yang sangat populer dan diidolakan banyak gadis-gadis?"


"Tidak," sahut Magie kalem. "Aku tidak sedang main main dengan kalian. Aku serius. Aku dan Hajime memang sudah dijodohkan oleh orang tua kami. Memangnya kenapa? Apakah kau keberatan jika Hajime menikah denganku?"


Mendengar pertanyaan itu, aku seperti berada di pucuk bukit yang kanan dan kirinya jurang terjal. Bersamaan dengan itu, selalu kudengar bujuk rayu setan agar aku lompat kejurang untuk menemui ajal. Kehilangan Kamazaki telah membuat hidupku kacau-balau, bahkan saat itu aku sempat menganggap dunia akan berakhir. Kini, haruskah aku kembali kehilangan orang yang kusayang? Haruskah aku kehilangan Hajime, orang yang telah berhasil membuka kembali pintu kepercayaanku kepada seorang pria?


"Jika kalian tidak percaya padaku, kalian bisa mena nyakan semuanya kepada orang tua Hajime," imbuh Magie menambahkan, tatapan dan nada bicaranya terkesan sedikit pongah. Kutahu saat ini dia diuntungkan dengan posisi perjodohan antara dirinya dengan Hajime.


Kuhela napas panjang, kuhempaskan perlahan.


"Kalian bisa tanyakan hal ini kepada Hajime," imbuh Magie.


"Hingga detik ini, Hajime masih belum sadarkan diri, Nona," kataku menyela. Serempak, Akira dan Magie meng alihkan pandangan ke arahku.


"Maksudku, jika Hajime sudah sembuh," ralat Magie.


"Ya, kita doakan saja Kak Hajime lekas membaik," timpal Akira.


"Dan asalkan kau tahu, Nona," ucapku seraya berjalan mendekat ke arah Magie. "Tidak ada yang merasa dirugikan dari perjodohanmu dengan Hajime. Baik Hajime maupun dirimu, ataupun gadis-gadis yang menyukai Hajime, juga pria pria yang menyukaimu, adalah orang-orang merdeka yang bebas menentukan pilihannya sendiri. Termasuk Hajime, ia juga berhak menerima atau menolak perjodohan antara dirinya dengan dirimu."


Kulihat, kedua mata Magie memicing.


"Maksud Kak Ran, belum tentu Hajime menerima perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Hajime dan Magie, begitu?" timpal Akira menyimpulkan.


Calon istri untuk Hajime. "Aku sekadar mengingatkanmu. Ya sudah, lupakan saja apa yang pernah kau dengar dariku."


"Hei, jaga bicaramu, ya?" Magle yang awalnya lemah lembut, santun, dan ramah, menjelma menjadi gadis kasar yang dikuasai oleh emosi dan amarahnya. "Aku tidak suka cari ribut! Jadi, kumohon kau jaga perkataanmul Hajime bukan orang seperti yang kau kiral Hajime pria yang baik dan setia!"


"Kau tidak tahu dan tidak pernah melihat sendiri apa yang dilakukan oleh Hajime di sini, kan?" kataku tersengih. "Aku tidak bisa berkata banyak, karena aku juga bukan pemfitnah. Aku tidak mau dianggap penyebar berita yang tidak ada kebenarannya, Biarkan waktu berkata, seperti apa Hajime selama ini, selama jauh darimu."


"Kau memang kurang ajar!" umpat Magie, tangan. kanannya siap melayang menampar pipiku. Refleks, aku membuang wajah ke samping dan mengatupkan kedua kelopak mata. "Aku curiga, jangan-jangan kau yang selama ini menggoda Hajime. Iya, kan? Dasar wanita murahan penggoda pacar orang!"


"Hei, stop! Stop! Stop!" Terdengar suara lantang Akira bagai gelegar petir yang menakutkan, dengan hentakannya itu, ia berusaha melerai keributan antara aku dan Magie.


______________________________________


Bersambung~