My Love Story

My Love Story
Bab 96



Setengah jam telah berlalu, Arsenio masih saja terus berjalan kesana-kemari di depan ruangan IGD, sementara Rangga hanya bisa menyaksikan itu tanpa berkomentar.


Dering ponsel membuat Rangga segera mengeluarkan benda kecil itu dari sakunya, menatap layar ponsel yang ternyata milik tuannya.


Pandanggannya beralih pada Arsenio "Kasih tahu atau ngak ya?" pikir Rangga.


Arsenio yang terus-terusan mendengar dering ponsel itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rangga.


"Siapa yang menelfon? dan kenapa tidak di angkat?" tanya Arsenio berurutan.


Rangga bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri tuannya "Maaf, telefon dari tuan" sahut Rangga memberikan ponsel pada pemiliknya.


Arsenio meraih ponsel miliknya, menekan tombol berwarna hijau lalu meletakannya ke telinga.


📞"Halo" ucap Arsenio.


📞"Kamu kemana aja sih?, kakek mencarimu di kantor, namun sekertarimu mengatakan kamu lagi ngak ada di kantor"


Arsenio diam tidak merespon ucapan kakeknya


📞"Ar!, kamu dengar ngak apa yang kakek ucapkan barusan?"


📞"Iya aku mendengarnya. Ada hal apa kakek mencariku?"


📞"Kakek hanya ingin mengingatkanmu bahwa besok hari pernikahanmu dengan Clarissa dan lagi satu pernikahanmu di majukan menjadi besok pagi. Jadi kamu harus pulang malam ini juga!"


📞"Baik"


"Ha apa aku ngak salah dengar?, dia tidak lagi berdebat seperti biasanya" pikir Nicholas.


📞"Jika sudah tidak ada lagi yang ingin kakek bicarakan aku akan menutup telefonnya" lanjut Arsenio.


📞"Kakek pikir sudah tidak ada lagi yang ingin di bicarakan" sahut Nicholas.


Tut... tut, sambungan telefon terputus, Arsenio mengembalikan ponsel miliknya pada Rangga.


Selang beberapa menit dokter pun keluar, Arsenio yang melihatnya segera menghampiri dokter.


"Dok bagaimana keadaan istri saya?"


"Bisa keruangan saya?, saya akan menjelaskannya di sana" ucap dokter.


"Tapi istri saya..."


"Istri tuan sudah di pindakan ke ruang VVIP nomor 1, tuan bisa menemuinnya nanti" ucap dokter.


Arsenio yang mendengarnya menghela nafas lega.


"Mari" ajak dokter.


Arsenio menggngguk dan dokter pun melangkah pergi, sementara Arsenio berbalik menatap Rangga.


Rangga yang melihat itu segera berjalan menghampirinya.


"Tolong jaga istri saya!, dia berada di ruangan VVIP nomor 1, saya akan menyusul nanti"


Rangga menggangguk "Baik tuan"


Rangga berjalan menuju ruangan yang di maksud tuannya, sementara Arsenio menyusul dokter ke ruangannya.


"Silakan duduk" dokter mempersilakan.


"Terima kasih" Arsenio menarik kursi lalu duduk.


"Mohon maaf, apa istri tuan baru saja mengalami sesuatu yang buruk?" tanya dokter mengawali pembicaraan.


Arsenio menggguk "Benar dok"


"Jadi begini, istri tuan mengalami taruma psikologis"


"Trauma psikologis?"


Dokter menggangguk "Benar tuan, pengalaman traumatis tersebut kerap membuat pengidapnya harus berjuang keras mengontrol emosi dan ingatan yang buruk serta kecemasan yang mungkin sulit di hilangkan"


"Tampa penanganan yang tepat, peristiwa traumatis ini bisa menyebapkan stres dan cemas yang berkepanjangan hingga berakhir pada masalah mental" jelas dokter.


Arsenio diam sejenak "Aku tidak akan melepaskan siapapun yang terlibat dalam peristiwa itu. Akan aku pastikan mereka akan menyesali perbutannya sepanjang sisa hidupnya!" pikir Arsenio.


Yakin dan percaya saat ini tanganya gemetar berusaha menahan emosinya.


Arsenio mengangkat kepalanya menatap lurus dokter yang duduk bersebrangan dengannya "Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan istri saya!" ucap Arsenio.


"Kami akan berusaha memberikan penangganan yang tepat pada istri tuan" sahut dokter.


"Terima kasih, kalau begitu saya permisi ingin melihat istri saya" ucap Arsenio.


"Silakan tuan"


Arsenio bangkit dari duduknya berjalan keluar dari ruangan dan akan menuju ruangan dimana Ana di rawat.


Menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar nomor 1. Menghela nafas panjang sebelum meraih daun pintu.


Ckrek..


Pintu perlahan terbuka, Rangga yang berdiri di samping hospital bed pun melihat ke arah pintu. Sementara Arsenio berjalan masuk tatapannya lurus pada sosok wanita yang terbaring lemah di atas hospital bed.


Rangga yang melihat itu segera bergerak mundur dan hendak beranjak keluar namun langkahnya terhenti saat mendapat perintah.


"Baik tuan" sahut Rangga yang memilih berdiri di dekat pintu.


Arsenio menghentikan langkahnya saat tubuhnya hampir menyentuh tepi hospital bed, menatap lekat wajah pucat wanita di depanya, perlahan tanganya merapikan rambut yang sedikit berantakan.


Cup.


Satu kecupan lembut mendarat tepat di alis Ana namun itu tidak membuat Ana bergerak.


Arsenio menarik kursi lalu duduk, dengan hati-hati ia meraih tangan Ana dan dikecupnya punggung tangan istrinya.


"Maafkan aku, aku benar-benar bodoh biarkanmu pergi menjemput Alvis sendiri!"


Arsenio menatap pergelangan tangan Ana yang terlihat membiru akibat bekas tali yang terus melingkar dengan erat di pergelangan tanganya.


"Tapi aku janji, akan memberi pelajaran yang setimpal pada orang-orang yang telah membuatmu seperti ini!"


"Cepat puling sayang, aku akan menebus semua kesalahan-kesalahanku padamu!, aku janji akan menuruti apapun yang kau inginkan!" lanjut Arsenio.


Arsenio membaringkan kepalnya di samping tangan Ana, dengan posisi tangan kananya terus mengengam tangan istrinya lalu mejamkan matanya.


Karena seharian ini ia terus mencari keberadaan Ana, seluruh tubuhnya tersa lelah, tanpa menunggu waktu lama Arsenio pun masuki alam mimpi.


Rangga yang melihat itu segera berjalan menuju sofa dan duduk disana, sambil sesekali mengamati keadaan Ana.


Selama berjam-jam Rangga tetap dengan posisi duduknya, ia terlihat sibuk dengan ponselnya bahkan sesekali ia terlihat menerima pangilan telefon.


Jarum jam sudah menunjukan pukul 19.00, Arsenio tampak mengeliat dan perlahan ia bangun dari tidurnya, menatap istrinya yang belum juga ada tanda-tanda siuman.


Rangga yang melihat itu segera menghampiri Arsenio "Tuan, makan malamnya sudah saya pesan"


Arsenio menoleh kearahnya "Terima kasih" ucapanya lalu kembali menatap istrinya.


"Sebaiknya tuan makan dulu, takutnya tuan jatuh sakit jika hal itu terjadi, siapa yang akan menjaga nona" ucap Rangga.


Arsenio diam "Apa yang di katakan Rangga benar, aku harus makan walaupun cuma sedikit" pikir Arsenio.


Arsenio bangkit dari duduknya berjalan menuju sofa, di atas meja terdapat beberapa jenis makanan pesanan Rangga.


"Kamu sudah makan?" Arsenio menatap Rangga yang berdiri dekat hospital bed.


"Belum tuan" sahut Rangga.


"Ya udah sini makan saja bersama saya!" ucap Arsenio.


"Ini perintah!" lanjut Arsenio karena belum melihat pergerakan Rangga.


Rangga yang mendenganya pun berjalan mendekati meja mereka menikmati makan malam bersama-bersama.


Setelah beberapa menit mereka pun menyudahi ritual makannya, Rangga tampak merapikan meja dan membuang beberapa sampah di tempat sampah. Sementara Arsenio tampak berjalan menghampiri istrinya.


Dering ponsel kembali berbunyi, memecahkan kesunyian di dalam ruangan, Rangga sedikit berlari menghampiri ponsel tersebut menekan salah satu tombol agar suranya sedikit mengecil dari sebelumnya.


"Siapa menelfon?" Arsenio menatap Rangga.


"Telefon dari tuan" sahut Rangga.


"Biarkan saja!, kalau perlu nonaktifkan hp saya dan hp milikmu juga"


"Baik tuan" Rangga pun menuruti perintah tuannya untuk menonaktifkan ponsel miliknya dan juga milik tuannya.


Keduanya terus menjaga Ana dan sesekali menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Ana.


Jarum jam sekan berputar sangatlah cepat, Mereka telah menjaga Ana sepanjang malam tampa tidur. Arsenio menatap menda kecil yang melingkar di tangan kirinya.


"Jam 05.00 pagi" batin Arsenio.


Arsenio bangkit dari duduknya, Rangga yang melihat itu pun ikut berdiri.


"Mendekatlah!" tita Arsenio.


Rangga berjalan lebih dekat memangkas jarak di antara mereka.


Arsenio tampak bicara sesuatu yang serius, sementara Rangga terlihat sesekali menggagguk.


"Baiklah saya pikir kamu sudah mengerti" ucap Arsenio.


"Tolong perintahkan mereka agar menjaga istriku dengan baik!" lanjut Arsenio.


"Baik tuan"


Arsenio kembali mendekati istrinya, lalu mengecup lembut alisnya "Sayang, aku tinggal sebentar ya!, aku akan cepat kembali" bisik Arsenio pada istrinya yang belum juga sadarkan diri.


Setelah itu Arsenio pamit pada Rangga dan berjalan keluar ruangan.


Sementara di dalam ruangan Rangga tampak menelfon seseorang. Dan dalam hitungan menit dua pria berjas hitam mengetuk pintu dan masuk setelah Rangga mempersilakan mereka masuk.


"Saya pikir kalian sudah tahu tugas kalian apa disini, apa perlu saya jelaskan lagi!" ucap Rangga menatap serius dua pria yang berdiri di depannya.


Kedua pria itu mengelengkan kepalanya secara bersamaan.


"Bagus kalau kalian sudah tahu. Ingat kalian harus menjaga nona dengan baik sebagaimana kalian menjaga nyawa kalian masing-masing!"


"Baik pak"


Rangga yang mendengar itu pun berjalan keluar dari ruangan meninggalkan kedua pria yang di tugaskan untuk menjaga Ana.