My Love Story

My Love Story
Bab 68



Jarum jam sudah menunjukan pukul 20.00, Kana berhasil memparkir mobilnya dengan rapi. Rany dan Kana secara bersamaan keluar dari mobil.


"Apakah benar ini hotelnya?" Rany menatap gedung yang tampak menculang ke atas.


"Benar tante, kami menyewa hotel ini saat datang ke sini" sahut Kana yang juga ikut menatap gedung tinggi di depannya.


"Ayo!" ajak Kana meraih tangan Rany lalu sama-sama berjalan masuk.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu" sapa resepsionis sambil tersenyum.


"Malam" sahut Kana dan Rany bersamaan.


"Mba, saya ingin bertanya" sambung Kana.


"Silakan mba, mau tanya apa?" tanya resepsionis masih tersenyum.


Kana mengeluarkan ponselnya dari tas lalu menunjukan foto Ana pada resepsionis.


"Apakah wanita ini pernah menginap disini?" tanya Kana.


Resepsionis mengerutkan dahi menatap foto itu "Mohon maaf sebelumnya, yang menginap di sini banyak mba, jadi saya tidak bisa mengingatnya satu-persatu, tapi saya bisa cek jika mba berkenan memberitahukan nama wanita yang ada di foto itu"


"Larrisa Putri Hana, itu nama anak saya" sahut Rany cepat.


"Baik, mohon tunggu sebentar saya akan mengeceknya terlebih dahulu" Rany dan Kana mengangguk "Iya silakan" jawab mereka serentak.


Lima menit telah berlalu, tampak resepsionis itu kembali berdiri.


"Mohon maaf mba, saya sudah cek untuk beberapa bulan terakhir sampai dengan saat ini, namun nama itu tidak terdaftar sebagai penggunjung di sini" jawab resepsionis.


"Mba yakin sudah mengeceknya dengan benar?" tanya Rany tak percaya. Resepsionis mengagguk "Maaf tapi saya telah mengeceknya lebih dari satu kali sebelum memberitahukan hal ini pada ibuπŸ™"


"Oh iya terima kasih mba" ucap Kana "Iya sama-sama" jawab resepsionis sambil tersenyum.


"Ayo tente!"


"Tapi Na, mungkin saja resepsionis itu tidak mengeceknya dengan teliti, kita harus menayakan kembali" ucap Rany.


"Tapi tante, tante kan juga dengar sendiri resepsionisnya bilang dia sudah mengeceknya lebih dari satu kali. Itu berarti Ana ngak datang ke sini" jelas Kana.


"Ya ampun Ana..., kamu di mana sih?" ucap Rany kembali panik.


"Tente tengang dulu, aku yakin Ana pasti baik-baik saja. Sekarang kita cari makan dulu, seharian tante belum makan loh" ucap Kana.


"Tapi tante ngak lapar Na, tante khawatir Ana kenapa-kenapa di luar saja, baru kali ini dia keluar sendiri tampa tante" ucap Rany sambil meremas ujung baju yang dipakainya.


Kana meraih kedua tangan Rany mengengamnya lalu menatapnya serius.


"Tante percaya sama Kana kan?" Rany mengangguk "Kana yakin Ana baik-baik saja di tempatnya sekarang!. Nah sekarang kita cari makanan dulu, tente harus makan, jika tante tidak mau makan nanti kalau tante sakit siapa yang bantu aku cari Ana?" ucap Kana serius.


"Kita cari makan dulu ya?, setelah itu baru kita lanjut cari Ana ke tempat lain" Akhirnya Rany pun setuju, keduanya pun kembali masuk ke dalam mobil. Mobil melanju menuju salah satu restoran yang terkenal di daerah itu.


Dering ponsel berhasil mencuri perhatian Kana dan juga Rany yang masih menikmati makan malamnya.


"Udah di angkat dulu siapa tahu penting" Rany menatap Kana, Kana memgagguk menekan tombol hijau lalu meletakan ke telingganya.


πŸ“ž"Iya hallo May" ucap Kana.


πŸ“ž"Kamu dimana sih?, kenapa ngak masuk kampus tadi?" Maya to the point.


πŸ“ž"Lagi ada urusan sedikit, makannya ngak kampus"


πŸ“ž"Kamu kan bisa minta izin dulu"


πŸ“ž"Ya ilah, baru sekali alpa juga ngak apa-apa kali"


πŸ“žHmm, ini nih orang-orang yang malas membaca, pasti kamu belum membaca aturan baru kampus kita kan?, makanya kamu dengan entengnya ngomong seperti itu"


πŸ“ž"Memangnya ada aturan apa? "


πŸ“ž"Udah cek saja sendiri!, biar tahu apa aturan barunya"


Maya memutuskan sambungan telefon. Sementara Kana menatap ponselnya binggung.


"Siapa?" tanya Rany, "Maya teman kuliah, katanya ada aturan baru di kampus dan dia ingin aku mengeceknya" sahut Kana lalu membaca aturan yang telah di sebarkan siang tadi.


"Apa?, aturan macam apa ini?" Kana membulatkan matanya mengetahui aturan baru.


"Kenapa?, memangnya aturanya apa?"


"Di mobil saja baru aku ceritakan, kita pulang sekarang!, besok aku ada kelas pagi" ucap Kana bangkit dari duduknya dan di susul oleh Rany.


Deru kendaraan membawah mereka jauh dari halaman restoran, Kana tampak fokus mengemudi.


"Maafkan aku tante, kita menunda pencarian Ana dulu. Habisnya aku sudah mendapat surat peringatan karena tidak masuk kampus dan jika aku masih melanggarnya akan terancam Do" jelas Kana merasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf, seharusnya tantelah yang harus meminta maaf karena kamu membantu tante mencari Ana kamu tidak masuk kampus dan mendapat surat peringatan" ucap Rany tak kalah meresa bersalah.


"Tente tidak perlu merasa bersalah!, toh aku sendiri yang ingin ikut mencari Ana"


"Aku janji akan membantu tante mencari Ana!" sambung Kana yang langsung mendapat anggukan kepala dari Rany.


Mobil yang di kendarai Kana terus melaju kembali ke kota.


**


Satu minggu telah berlalu, selama itu pula Kana dan Rany terus mencari keberadaan Ana namun mereka belum juga menemukan Ana.


Seperti biasanya Kana harus berhenti mencari Ana di karenakan Kana harus ke kampus.


"Kana" pagil Roby berhasil menghentikan langkah Kana. Roby yang melihat itu segera berlari menghampiri Kana.


"Ana mana?" tanya Roby. "Mana aku tahu!" sahut Kana kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas.


"Loh kamu kan sahabatnya, mana mungkin tidak tahu" ucap Roby berusaha menyeimbangi langkah Kana.


Kana menghentikan langkahnya, menatap tajam kearah Roby.


"Kamu sadar ngak? kamu itu sudah menyusahkan hidup Ana. Gara-gara kamu!, Ana harus menerima berbagai hujatan dari semua orang dan Ana juga harus menerima hinaan dari mantan keluarga suaminya. Sementara kamu hanya bisa berulah, terus menghilang tampa memberikan klasifikasi dan membiarkan Ana menanggung semua sendiri"


"Jika kamu masih punya rasa belas kasihan, tolong lupakan Ana!" sambung Kana lalu masuk ke dalam kelas, meninggalkan Roby yang diam mematung.


"Masih pagi loh, jangan dulu buat masalah!" ucap Clarissa melirik Kana.


"Siapa sih yang mau buat masalah?, punya mata dan telingga itu difungsikan sebagaimana fungsinya!, bisanya main asal ngomong saja" geruntu Kana.


"Kamu!"


"Kenapa?" ucap Kana menatap tajam Clarissa.


"Sudah.. Sudah, jangan berantem!, dikit lagi pak Arsenio datang loh ngak takut kalian?" ucap Maya, Kana dan Calarissa diam.


Sementara Roby tampak berjalan masuk dan langsung duduk ke tempatnya.


Dan benar saja, selang beberapa menit Arsenio berjalan memasuki kelas.


"Pagi" sapa Arsenio.


"Pagi pak"


Pandangan Arsenio langsung tertuju pada kursi dimana biasannya Ana duduk, seketika raut wajahnya beruba.


"Masih berani ngak masuk?, apa dia benar-benar ingin di keluarkan?" geruntu Arsenio dalam hati.


Arsenio berjalan menuju meja lalu meletakan buku dan juga lembtopnya di atas meja.


"Siapa yang tidak masuk hari ini?" tanya Arsenio.


"Ana pak" sahut Maya cepat. Calarissa memukul bahu Maya sampai sang empuh meringis kesakitan "Apa sih?, sakit tau" ucap Maya. "Itu hukuman buatmu, siapa suruh menjawab pertanyaan calon pacarku" ucap Clarissa kesal.


"Kali ini apa alasannya?" Arsenio menatap Kana seakan menyuruhnya yang harus menjawab pertanyaannya. Namun Kana diam, memilih menatap bukunya sambil memainkan polpennya.


Semua yang menyadari kemana arah pandangan Arsenio segera memberitahu Kana.


"Kana, pak Arsenio sedang bertanya" ucap salah satu dari mereka. Kana yang mendengarnya pun menatap Arsenio.


"Tampa keterangan" sahut Kana.


"Tampa ketarangan?" ucap Arsenio tak percaya, meremas jari-jemari tangannya dan rahanya mengeras berusaha menahan emosinya.


"Dia sudah dua kali tidak masuk di perkuliahan saya, apa dia tidak tahu dia bisa terancam di keluarkan dari kampus?"


Semuanya diam tak ada satu pun orang yang berani menjawabnya, hal itu membuatnya semakin frustasi.


"Kana!" pekik Arsenio sambil memukul meja dengan keras, hal itu membuat semuannya terkejut kecuali Kana dan juga Roby.


"Dia kenapa sih?" geruntu Kana dalam hati.


"Bertingkah sok cool😏" gumam Roby.


"Ada apa pak?" tanya Kana santai.


"Apa kau tidak mendengar jika saya sedang bertanya?" Arsenio dengan tatapan dingin.


"Oh bapak bertanya sama saya?, maaf saya tidak mendengarnya. Bisa bapak ulangi? "


"Sudah lupakan!" ucap Arsenio, Roby yang melihat itu pun tersenyum sinis.


"Bagus Kana" gumam Roby.


Arsenio memulai pelajarannya hingga jam pelajaran berakhir. Sebelum mengakhiri pelajaran Arsenio kembali menatap Kana yang tampak cuek.


"Kana ikut saya keruangan!" tita Arsenio lalu mengakiri pertemuan hari ini.


"Baik pak" sahut Kana.


"Apa sih maunya dosen ini?" geruntu Kana.


"Habislah kamu Na🧟" ucap Maya pelan yang masih dapat di dengar oleh Kana. Namun Kana nampak cuek tidak memperdulikan ucapan Maya.


Arsenio keluar lebih dulu dan langsung di susul oleh Kana, semua yang melihat itu kembali berbisik-bisik.


"Sepertinya pak Arsenio belum bisa move on" ucap salah satu dari mereka.


"Hmm, mulai deh!, ngak takut kalian jika tuan muda mendengarnya?" ucap Maya.


"Alah biar dia dengar memangnya kenapa? toh apa yang di ucapkan dia benar" sambung Roby lalu bangkit dari duduknya. Ucapan Roby berhasil mencuri perhatian teman-temannya.


"Alah kalian berdua sama saja, belum bisa move on dari Ana" sahut Maya.


"came on, wanita itu masih banyak kali, ngapain sih menyukai wanita yang sama?" sambung Maya.


"Kamu benar, wanita masih banyak. Namun tidak semua wanita seperti Ana!" ucap Roby lalu melangkah keluar.


"Idih memangnya apa bagusnya Ana?, sampai dia bisa ngomong gitu😏" ucap Clarissa kesal.