
"Tolong kalian jawab pernikahan mana yang kalian maksud?" tanya Ana lagi yang belum juga mendapat jawaban dari suaminya mau pun ibunya.
"Tanyakan saja pada suamimu, apa yang dia lakukan saat kamu terbaring di rumah sakit" kata Rany yang pada akhirnya membuka suara.
Ana yang mendengarnya segera menoleh menatap suaminya "Kenapa diam mas?, ayo jawab!" ucap Ana dengan suara yang tidak bersahat lagi.
"Bagaimana ini?, jika aku jawab sekarang, kemungkinan besar Ana pasti akan marah, dan itu akan membuatku sulit mendapat maaf darinya" pikir Arsenio.
"Mama yakin media sosial juga mengetahui itu" lanjut Rany.
Arsenio yang mendengar itu pun terkejut, sementara Ana mencari keberadaan ponselnya.
"Tidak apa, jika kamu tidak menjawabya, aku bisa melihat lagsung di media sosial" ucap Ana sambil membuka kode di ponsel miliknya.
"Aku akan menjelaskannya, tapi aku mohon tolong jangan percaya apa yang ada di sosial media" ucap Arsenio hendak berjalan mendekati Ana.
"Berhenti disana!" ucap Ana yang membuat Arsenio berhenti melangkah.
"Sayang, aku akan menjawab pertanyaanmu mengenai pernikahan itu, kamu tidak perlu lagi melihatnya di media sosial"
"Ssstttt!, berhentilah berbicara!" ucap Ana.
Arsenio menghela nafas panjang, ia telihat pasrah, membiarkan istrinya melihat berita mengenai dirinya yang menjadi topik pembicaraan di media sosial.
Dan benar saja ada banyak artikel mengenai pernikahan, Ana memilih membuka salah satu artikel yang berada paling atas.
Deg.
Raut wajah Ana berubah memerah, dadanya terasa sesak, tangannya gemetar, ponsel yang berada di tanganya pelan-pelan jatuh dari tanganya, air mata yang tampa izin perlahan keluar dari sudut matanya.
Ana mengangkat wajahnya menatap lurus sosok suami yang berdiri di depannya, rasa tak percaya masih menyelimuti hatinya namun secepatnya menepis jauh rasa itu saat melihat apa yang seharunya ia ketahui.
"Aku terlalu bodoh!, menaruh harapan kepada orang yang tidak mencintaiku, jika aku tidak berharap kepadamu pasti hatiku takan sesakit ini" gumam Ana dalam hati.
"Sayang, dengar penjelasanku dulu. Kamu jangan percaya begitu saja apa yang ada di artikel itu, tidak semua yang tertulis di sana benar. Aku bisa menjelaskannya tolong dengarkan aku dulu!" ucap Arsenio panik.
Ana diam, jari telunjuknya diletakan di depan bibirnya, tatapannya kosong dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya.
"Sebaiknya kamu keluar sekarang" ucap Rany.
"Tapi ma.., aku belum menjelaskan hal yang sebenarnya, tolonglah beri aku waktu sebentar saja untuk menjelaskan kesalapahaman ini. Pernikahan itu hanyalah.."
"Keluar!" teriak Ana.
Arsenio yang melihat itu pun terkejut, suara Ana bahkan sampai terdengar oleh Kana, Rangga dan Alvis yang berada di luar.
"Keluar sekarang! saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu" lanjut Ana.
Kana, Alvis dan Rangga segera membuka pintu dan masuk dengan buru-buru .
"Mommy... " pangil Alvis sambil berlari, naik ke atas hospital bed lalu memeluka Ana, sementara Ana segera membalas pelukan Alvis.
"Mommy.. Mommy kenapa nangis?" Alvis mengangkat wajahnya menatap wajah Ana yang nampak lembap, karena air mata yang terus saja keluar.
"Mommy ngak apa-apa sayang" Ana memlepas pelukannya memlosisikan Alvis menghadap kearahnya.
"Alvis harus janji ya sama mommy. Alvis tidak akan meninggalkan mommy" ucap Ana menatap lekat wajah anaknya.
Alvis menggangguk "Iya mommy, Alvis janji. Tapi mommy janji ya jangan nangis lagi" ujar Alvis.
Ana menggangguk dan menarik Alvis kembali dalam pelukannya.
"Sebaiknya tuan keluar dulu, biarkan Ana tenang dulu" ucap Kana pelan.
Kana berjalan mendekati Ana, dan memeluknya "Kana aku tidak ingin melihatnya, tolong suruh dia pergi!" ucap Ana dengan isak tangis.
Rangga berjalan menghampiri tuannya "Tuan, sebaiknya kita harus pergi, beri nona Ana waktu untuk menenangkan dirinya"bisik Rangga.
"Maafkan aku" kata itu lah yang akhirnya keluar dari mulutnya.
"Kamu pergi sekarang atau kamu tetap diam disini dan membuat rasa tarauma Ana bertambah" ucap Rany memberi pilihan.
"Aku akan pergi" sahut Arsenio.
Arsenio yang hendak berjalan mendekati Ana untuk berpamitan namun lebih dulu di cegah oleh Rany.
"Tidak perlu!" ucap Rany.
Rangga yang melihat itu pun segera berpamitan dan membawa Arsenio secepatnya keluar dari ruangan tempat Ana di rawat.
Di waktu yang sama, dua mobil berwarna hitam berhenti di depan kediaman Ana, beberapa orang tampak turun dari mobil.
Mereka adalah Gibran, Alin, Sarah dan juga Nicholas bersama beberapa orang kepercayaannya serta beberapa Art yang juga ikut bersama mereka.
"Cepat turunkan semua barang-barangnya!, atur semuanya sesuai rencana!" tata Nicholas.
Pintu pagar yang terkunci membuat mereka berhenti di dan berbalik menoleh ke arah tuannya.
"Maaf tuan, pintu pagarnya terkunci" ucap salah satu dari mereka.
"Aduh bagaimana ini?, kita tidak bisa masuk jika pintu pagarnya terkunci" ucap Nicholas.
"Apa kita hancurkan gemboknya saja?, nanti kita ganti dengan gembok yang baru" usul Alin.
"Aku setuju" sahut Sarah, yang membuat Gibran dan lainnya menatap kearahnya.
"Kita harus secepatnya membawah semua barang-barang ini dan mengaturnya di dalam" lanjut Sarah.
"Ya udah, hancukan saja gemboknya!" tita Nicholas.
"Baik tuan" sahut mereka.
Salah satunya mengambil sebuah besi dari bagasi mobil yang akan di gunakan untuk menghancurkan gempok pagar rumah Ana.
Baru saja salah satu pria hendak memukul gembok tersebut, Gibran segera berteriak mencegahnya.
"Berhenti!" ucap Gibran yang membuat pria itu menghentikan aksinya.
Alin, Sarah dan Nicholas melihag kearahnya.
"Kenapa?" tanya Alin, Sarah dan Nicholas bersamaan.
"Bagaimana kalau mereka marah?" ujar Gibran.
Semuanya terlihat diam, apa yang di katakan Gibran ada benarnya.
"Terus, apa yang harus kita lakukan?. Mereka sebentar lagi datang loh" kata Sarah bergantian menatap Alin, Gibran dan juga suaminya.
"Bagaimana caranya bilang ke mereka kalau aku punya kuncinya tanpa membuat mereka curiga dan berpikir macam-macam?" pikir Gibran.
Gibran tampak berpikir keras mengenai hal itu, hingga saatnya satu ide melintas di pikirannya
.
Gibran berjalan mendekati pintu pagar, membuat beberapa pria dan art yang di sana segera menepi, memberinya jalan.
Gibran meraih gembok dan melihat dengan seksama gembok pagar tersebut dan di menit kemudian Gibran menoleh ke melakang tidak lebih tepatnya menatap mertunya dan juga istrinya.
"Sepertinya gembok pagar ini sama persis dengan gembok gudang yang di kantor" ucap Gibran.
"Kamu yakin?" tanya Nicholas ragu.
Gibran menggangguk "Aku yakin pa, gembok ini sama persis dengan yang di gunakan pada pintu gudang" sahut Gibran berusaha meyakinkan mertuannya.
"Apa kita suruh CS untuk mengantar kuncinya kesin" ucap Sarah.
"Mana sempat, keburu mereka datang" ujar Alin.
"Minggu kemarin tuh, aku sempat masuk ke gudang itu, mencari beberapa dokumen dan salah satu CS disana memberiku kunci" ucap Gibran menjeda ucapannya.
"Ya aku ingat kalau ngak salah kuncinya aku masukan ke gantungan kunci mobil. Biar aku periksa dulu siapa tahu aku belum mengembalikannya pada CS itu" lanjut Gibran.
"Tunggu apa lagi? buruan di cek kuncinya!" ucap Sarah sementara Alin yang mendengar itu sedikit curiga.
"Iya ma, aku cek sekarang" sahut Gibran.
Gibran berjalan melewati art dan lainnya hendak menuju mobil. Sesampainya di dalam mobil dengan cepat ia membuka dompetnya mengeluarkan satu buah kunci dan memasukannya ke gantungan kunci mobil.
"Nah selesai" ucap Gibran sambil melirik istrinya yang sedari tadi terus memperhatikannya.
"Semoga dia tidak curiga" ucap Gibran dan kembali membawah keluar kunci mobil.
"Bagaimana?, apa kuncinya masih ada?" tanya Nicholas.
Gibran mengangkat gantungan kunci, menunjukan pada semua orang "Ya kuncinya masih ada" jawabnya.
"Syukurlah 'Sarah menghela nafas lega' ya udah cepat sana buka gemboknya" ucap Sarah.
"Baik ma" Gibran berjalan menuju pintu pagar dan membukannya.
Semuanya terlihat senang saat pintu berhasil di buka, namun berbeda dengan Alin, masih terus menatap curiga suaminya.
"Ayo bawah masuk barang-barangnya, ingat letakan semua sesuai yang kita rencanakan tadi" perintah Nicholas.
"Baik tuan"
Nicholas menatap Sarah dan Alin "Ayo masuk!, kalian harus lihat mereka memasangnya, jangan sampai ada yang salah" ucap Nicholas.
Sarah dan Alin pun berjalan masuk. Dan langsung di susul oleh Gibran serta Nicholas.