
Keesokan harinya, kediaman keluarga Saguna melakukan ritual yang dilakukan setiap pagi yaitu sarapan bersama.
Semua orang tampak menikmati sarapan mereka.
"Sayang" panggil Arsenio yang membuat semua orang di meja makan memandangnya.
"Hmm" sahut Ana yang juga menoleh ke arahnya.
"Setelah ini, aku langsung pergi ke kantor. Ada beberapa dokumen yang harus aku tanda tangani" Arsenio menjeda ucapanya.
"Di luar, sudah ada mobilmu. Kamu bisa menggunakannya kapan pun kamu mau" lanjut Arsenio.
"Ha?, apa mama datang kesini mengantarnya?" Ana menjeda ucapannya "Kalau mobilnya aku pakai terus mama pakai mobil apa?" lanjut Ana.
Alin tersenyum "Sayang, diluar itu mobil kamu. Bukan mobil mama Rany. Tuh suamimu yang membelinya untukmu" jelas Alin.
Ana terkejut "Mas, belikan aku mobil?" tanya Ana tak percaya.
"Benar mommy, mobilnya sangat bagus, aku sudah melihatnya tadi" jawab Avis.
"Tuh dengar kata anakmu" ucap Arsenio.
"Iss, anakmu juga kali" ucap Ana yang membuat semua orang tertawa.
"Ya, aku kan anak mommy dan juga daddy"
"Iya sayang kamu benar ko" ucap Arsenio menepuk lembut pucuk kepala Alvis.
"Makasih mas" ucap Ana.
Arsenio menatap istrinya "Sama-sama sayang" sahutnya sambil tersenyum.
"Ana.. " pangil Gibran.
Ana yang mendengarnya menoleh kearahnya
"Tuh, kamu sudah di belikan mobil oleh suamimu. Nanti kalau bawah mobilnya pelan-pelan jangan ngebut-ngebut!" ucap Gibran.
"Benar tuh kata papa, kamu harus hati-hati. Karena keselamatanmu lebih penting dari apapun" sahut Nicholas.
"Iya pa" sahut Ana.
Mereka kembali fokus menikmati sarapannya.
Di waktu yang sama, Tampak Kana berjalan masuk ke dalam lift, Ya masih sangat pagi untuk datang ke kantor. Namun karena beberapa pekerjaan yang seharusnya di selesaikan kemarin namun dia tidak lagi kembali ke kantor, makanya Kana memutuskan untuk datang lebih pagi untuk menyelesaikannya.
Lift bergerak naik ke atas, dan berhenti setelah sampai. Perlahan pintu terbuka, Kana pun keluar dari lift dan segera menuju meja kerjanya.
"Loh, kamu sudah datang juga ya?" tanya Kana setelah melihat Lastri yang juga sudah berada di sana.
"Iya" sahut Lastri dengan pandangan ke layar computernya.
Kana menarik kursinya lalu duduk "Kirain baru aku yang datang, eh taunya kamu lebih dulu datang" ucap Kana.
"Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani pak Reza pagi ini, dan ini aku baru saja selesai prin dokumen-dokumennya" kata Lastri.
"Oh gitu, aku juga sengaja datang lebih awal agar bisa menyelesaikan pekerjaan kemarin" ujar Kana.
"Oh iya soal kemarin, memangnya siapa pria yang mencarimu itu?, apa kamu mengenalnya?" Lastri menatap Kana.
Kana menggangguk "Ya, aku mengenalnya. Dia asisten pribadi tuan Arsenio" sahut Kana malas.
"What?, pria dingin yang selalu berada di samping tuan Arsenio?" Lastri terkejut.
"Benar. Sudalah ngak perlu di bahas lagi, ngak penting" ucap Kana lalu menyalakan layar computer yang ada di atas meja kerjannya.
Tring
Suara notifikasi pesan dari ponsel Kana.
"Kamu punya pesan tuh" ucap Lastri yang melihat Kana tidak segera melihat isi pesan.
"Paling pesan dari telkomsel" ucap Kana.
"Hayo, siapa nih yang sering dapat pesan dari telkomsel😂🤭"
"Ya kali dari telkomsel, sudah lihat dulu!, siapa tahu penting" ucap Lastri.
Kana menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya dari tasnya.
"Dia?, mau ngapain lagi sih?" batin Kana melihat nama pengirim pesan namun belum melihat isi pesan yang di kirimkan.
"Penting ngak?" Lastri menatap Kana.
Kana mengeleng lalu meletakan ponselnya di atas meja tanpa membaca isi pesan.
Kedua wanita itu tampak sibuk dengan kerjaanya masing-masing, beberapa menit kemudian beberapa karyawan lainnya terlihat berdatangan termasuk Fino.
"Eh sudah pada datang nih, sudah lama ya?" tanya Fino sambil menarik kusri lalu duduk.
"Ya, sudah dari tadi" sahut Kana dan Lastri bersamaan namun dengan pandangan terus ke arah computer.
"Permisi" ucap seseorang yang baru saja datang, hal itu membuat Fino melihat kearahnya namun tidak dengan Lastri dan juga Kana.
"Iya, ada yang bisa dibantu?" tanya Fino.
"Mba Kananya ada?" tanya wanita itu membuat Kana dan Lastri segerah menoleh ke arahnya.
"Ada, tuh yang ada di sebelah kananmu" jawab Fino menunjuk ke arah Kana.
"Maaf, saya tidak mengenali mba. Soalnya saya karyawan baru disini" ucap wanita itu.
"Oh iya ngak apa-apa. Ada perlu apa ya mencari saya?" tanya Kana.
"Sekarang?" tanya Kana tak percaya.
"Benar mba"
Sementara Lastri dan Fino diam dengan pikirannya masing-masing.
"Oh iya, makasih ya. Saya akan ke sana sekarang" kata Kana.
Wanita itu menggangguk sebagai jawaban dan berlalu pergi.
"Gays, aku ke ruangan pak Reza ya, titip tas" ucap Kana lalu bangkit dari duduknya.
"Iya" jawab Fino dan Lastri bersamaan.
"Kana... " pangil Lastri sambil merapikan beberapa dokumen.
"Sekalian ya, minta tanda tangan pak Reza" lanjut Lastri memberikan dokumen kepada Kana.
"Ko aku sih?" Kana mengambil dokumen di tangan Lastri.
"Kan sekalian Na"
"Iya... Iya, ngak usah cemberut gitu" ucap Kana sementara Lastri kembali tersenyum.
Kana berjalan menuju ruangan pak Reza sementara Fino dan Lastri kembali melanjutkan kerjanya masing-masing.
Tok.. Tok..
Kana mengetuk pintu setelah sampai.
"Siapa?" tanya Reza dari dalam.
"Saya pak" sahut Kana dari luar.
Reza yang mengenal suara itu segera bangkit dari duduknya lalu membukakan pintu buat Kana.
"Ayo masuk" ucap Reza.
Kana berjalan masuk mengikuti Reza yang kembali ke meja kerjanya.
"Ini pak, dokumen-dokumen yang memerlukan tanda tangan bapak" ucap Kana meletakan dokumen tersebut ke atas meja.
Reza menatap Kana "Bukankah ini tugas Lastri?"
"Benar pak, karena bapak memangil saya ke sini jadi sekalian saya bawah dokumennya" sahut Kana.
Reza menghela nafas "Ini nih, salah satu yang membuat saya suka padamu. Kamu orangnya baik dan banyak membantu orang tanpa berharab balasan ataupun imbalan" ucap Reza dengan pandangan ke arah dokumen yang akan di tanda tanganinya.
Kana yang mendengarnya diam, entah kenapa kata-kata Rangga kembali terngiang di telinganya.
"Apa benar pak Reza sudah menikah?, jika benar, kenapa ngak ada satu pun orang di kantor ini tahu? dan media pun tidak pernah memberitakan hal itu" batin Kana.
"Apa pak Rangga senggaja membohongiku, atau.... "
"Kana... " pangil Reza yang membuat Kana tersadar dari lamunannya.
"Ah iya pak, maaf" ucap Kana.
"Kamu kenapa?, ngelamunin apa?" tanya Reza yang telah selesai menandatangani dokumen yang Kana bawah.
"Saya ngak apa-apa pak. Oh iya pak, ada apa ya bapak memangil saya?" ucap Kana.
"Semoga, dia tidak menanyakan tanggapanku mengenai peresaannya. Karena sesungguhnya aku belum memikirkannya" batin Kana.
Reza bangkit dari duduknya, berjalan mengintari meja kerjanya dan berhenti tepat di depan Kana.
"Kana... " Reza meraih kedua tangan Kana.
"Aku benar-benar serius dengan perasaanku. Aku sangat berharap banyak kamu bisa membalas perasaanku kepadamu" ucap Reza.
"Ta.. tapi, waktu yang bapak berikan belum habis. Kalau ngak salah masih dua hari lagi" ucap Kana gugup.
Reza mengangkat kegua tangan Kana sejajar dengan wajawahnya lalu mengecupnya lembut punggung tangan Kana, hal itu membuat sih empuh segera menarik tanganya namun lebih dulu di tahan oleh Reza.
"Aku tahu, tapi aku sudah ngak sabar menunggu waktu itu. Tidak bisakah aku mendapatkan jawabannya sekarang?" ucap Reze menatap Kana serius.
"Ya tuhan, bagaimana ini, apa yang harus aku katakan" batin Kana.
"Kana... " pangil Reza.
"Bagaimana kalau besok?, aku janji akan memberitahu bapak jawabannya besok" ucap Kana.
Reza melepaskan tangan Kana lalu kembali duduk "Boleh, aku berharap jawaban baik darimu!" ucap Reza.
Kana meraih dokumen yang tadi dibawahnya lalu berpamitan pergi.
"Kalau begitu, saya pamit mau kembali bekerja" ucap Kana lalu berjalan keluar ruangan tak menunggu lagi jawaban dari Reza.
"Nih dokumennya" ucap Kana setelah sampai di meja kerja Lastri.
"Makasih say" ucap Lastri mengambil kembali dokumen dari tangan Kana.
Kana yang hendak kembali ke meja kerjanya pun segerah di tahan oleh Lastri.
"Tunggu!. Wajahmu kenapa?, kok merah begini?, kamu sakit ya? " tanya Lastri berurutan sementara Fino yang mendengarnya ikut melihat wajah Kana.
Kana meletakan kedua tanganya di masing-masing pipi "Aku ngak apa-apa, hanya sedikit pusing" sahut Kana asal.
"Ya udah aku mau lanjut kerja" sambung Kana dan berjalan kembali ke meja kerjanya.