My Love Story

My Love Story
Bab 98



Penteta pun mulai memimpin acara peneguhan nikah, dan di menit berikutnya sesorang berjalan masuk dari arah pintu lalu menghentikan langkahnya di antara para tamu undangan.


"Berhenti!" ucapnya dengan lantang.


Hal itu sontak membuat semua yang berada di dalam gedung tersebut melihat ke arahnya termasuk pendeta, Arsenio dan juga Clarissa.


Nicholas, Alin, Gibran dan Sarah bangkit dari duduknya dengan tatapan masih tertuju pada Rangga yang baru saja masuk.


Ya orang yang baru saja masuk dan yang membuat penteta menghentikan acara peneguhan nikah adalah Rangga.


"Apa-apaan ini?, apa maksudmu menghentikan acara ini?" tanya Nicholas dengan raut wajah memerah karena mencoba menahan emosinya.


Baru saja Nicholas menyelesaikan ucapanya dua orang polisi masuk dan berhenti melangkah saat mereka telah berdiri sejajar dengan Rangga.


Hal itu bukan hanya membuat keluarga perempuan bangkit dari duduknya, namun seluruh tamu undangan pun ikut berdiri.


"Pak silakan lakukan apa yang seharusnya bapak lakukan!" ucap Rangga.


"Baik pak" kedua polisi tersebut berjalan menghampiri Arsenio dan juga Clarissa yang berdiri di depan.


Melihat itu seketika raut wajah Clarissa memucat, tanganya gemetar bahkan Arsenio dapat merasakan itu.


"Rangga apa maksud semua ini?" Clarissa yang pada akhirnya mengeluarkan suara.


Rangga berjalan menyusul polisi "Biar polisi saja yang akan menjawab pertanyaanmu" lanjut Rangga.


Kedua polisi tersebut pada akhirnya berhenti melangkah setelah mereka telah berhadapan langsung dengan Arsenio dan juga Clarissa.


Nicholas dan Alin berjalan menghampiri Rangga "Apa-apaan ini?, kenapa membawah polisi ke sini?, memangnya siapa yang mau di tangkap?" tanya Nicholas berurutan.


Belum sempat Rangga menjawab pertanyaan Nicholas, polisi tampak mengeluarkan selembar kertas lalu menunjukan ke beberapa arah termasuk pada Clarissa dan keluarganya.


"Mohon maaf, kami datang kesini dengan tujuan menangkap nona Clarissa dan ini merupakan surat izin penangkapan" ucap salah satu polisi.


Arsenio melepaskan tangan Clarissa dari tanganya dan sedikit memberi jarak di antara meraka.


"Tidaaaak....!" Clarissa menjerit marah. "Aku tidak melakukan kesalahan, kenapa aku harus di tangkap?"


"Ngak, bapak jangan asal menangkap orang!. Memangnya anak saya salah apa?" Mbelina berjalan menghampiri putrinya.


"Nona Clarissa terjerat khasusus penculikan nona Ana, istri dari tuan Arsenio" sahut polisi.


Semua orang yang mendengarnya pun tercengang tak terkecuali Alin dan juga Nicholas.


"Silakan di tangkap pak!" ucap Arsenio dengan pandangan dingin ditunjukan pada Clarissa.


"Ngak, mama...papa tolong aku , aku ngak mungkin melakukan itu. Mama percara kan padaku?" teriak Clarissa histeris saat kedua polisi mendekatinya dan memegang kedua tanganya dan di borgol.


"Berhentih!" teriak ayah Clarissa lalu berjalan mendekati polisi.


"Lepaskan anak saya, dia tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu!" lajut ayah Clarissa.


"Mohon maaf pak, silakan bapak ikut kami ke kantor, kami akan menjelaskannya di sana"


Kedua polisi tersebut pun membawah Clarissa ikut bersama mereka.


"Ma... pa.... tolong aku!, aku ngak mau di penjara!" teriak Clarissa di selah-selah langkahnya.


"Ayo pa kita ke kantor polisi sekarang!" Mbelina menarik tangan suaminya.


Ayah Clarissa berbalik menatap Arsenio yang sedari tadi diam "Akan aku buat perhitungan denganmu atas apa yang kau lakukan pada putriku!"


Arsenio terseyum "Silakan, dengan senang hati aku menunggu waktu itu"


Ayah Clarissa yang mendengarnya pun mendengus kesal. Mereka pun segera menyusul putrinya yang telah di bawah oleh polisi.


Rangga menghela nafas lega "Akhirnya satu-persatu tugasku selesai" pikirnya.


"Saya sebagai mempelai laki-laki minta maaf yang sebesar-besarnya atas kekacauan yang terjadi. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa tidak ada pernikahan hari!, acara pernikahanya batal batal!" ucap Arsenio dengan suara lantang.


Semua yang mendengar itu pun saling berbisik-bisik dan tampak satu-persatu berjalan keluar dari gedung.


"Apa maksud semua ini?, mama benar-benar tidak mengerti" Alin menatap putranya.


"Ya benar, tolong jelaskan pada kami.


Sebenarnya apa yang terjadi" sambung Sarah.


"Ngak mungkin Clarissa melakukan hal itu!, pasti semua ini hanya akal-akalanmu saja untuk mengacaukan pernikahanmu dan membuat malu keluarga!" ucap Nicholas sambil berjalan mengililingin Arsenio.


"Bagaimana kakek dan mama bisa tahu apa yang di lakukan Clarissa di luar sana?, sementara kalian hanya sibuk memikirkan pernikahan yang tidak akan mungkin terjadi"


"Kamu!" Nicholas menunjuk Arsenio dengan tangan kanannya


"Terserah kakek mau ngomong apa, tapi kenyataannya memang seperti itu!. Saya juga tidak memaksakan kakek untuk mempercayainya" ucap Arsenio.


"Cuma satu yang kakek harus ingat!, aku tidak akan melepaskan orang-orang yang telah membuat istri trauma seperti sekarang ini!"


"Terus Ana ada dimana sekarang dan bagaimana keadaannya?" Gibran berjalan menghampirinya.


"Papa..... " teriak Alin marah. "Kenapa papa malah menanyakan soal wanita itu, papa lihat sekarang semua acaranya kacau, semua orang di luar sana pasti sedang membicarakan kita mau tatuh di mana muka kita coba!"


Gibran berbalik menatap istrinya "Cukup Alin!. Kamu tuh benar-benar egois mata hati kamu sudah di tutup oleh keegoisanmu!. Ana itu anakku sekaligus menantuku. Jika apa yang di katakan Arsenio benar adanya, akan aku pastikan orang-orang itu akan mendapatkan pelajaran yang setimpal tidak perduli siapapun orangnya!" ucap Gibran.


"Jaga ucapanmu!. Bagus ya sekarang, kamu sudah berani mengata-ngatai istrimu dan kamu melakukan itu di depanku" Nichols dengan nada suara tak kalah tinggi.


"Tidak usah membelahnya!, apa yang di katakan Gibran benar, kamu dan Alin itu sama-sama egois!, hanya memikirkan kepentingan kalian saja melakukan apapun demi meraih keinginan kalian, sekalipun harus mengorbankan orang-orang terdekat kalian rela melakukannya" Bentak Sarah yang sedari tadi sudah terbakar emosi dengan sikap suaminya dan putrinya.


"Aku suka heran, ada ya? orang-orang seperti kalian ini yang tingkat kegoisannya tinggi dan ketika salah masih saja masih tetap ngotot tidak mau disalahkan!" lanjut Sarah.


"Aku tuh sudah muak dengan semua siap kalian, kalian bahkan tidak lagi mendengarkanku" ucap Sarah.


Tubuhnya Gemetar berusaha membendung emosinnya namun kali ini sepertinya ia tidak lagi bisa, mengeluarkan semua unek-enek yang selama ini disimpannya rapat-rapat.


Arsenio berjalan mendekati neneknya merangkulnya dengan lembut "Sudahlah nek, percuma ngomong begitu pada mereka buang-buang waktu dan tenaga saja" kata Arsenio.


Sementara Alin dan Nicholas yang mendemgarnya diam mematung, tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut keduanya.


"Sekarang aku mau pergi menemui istriku, apa nenek mau ikut bersamaku?" lanjut Arsenio.


"Kamu mau bertemu Ana?" Sarah menatap cucunya. Arsenio menggangguk "Benar nek, apa nenek mau ikut?"


"Tentu saja, nenek ingin sekali melihat Ana" sahut Sarah.


"Aku juga ingin ikut bersama kalian" ucap Gibran membuat Arsenio, Rangga dan Sarah ikut melihat ke arahnya.


"Baiklah, tapi sebelum kita menemui Ana. Aku harus menjemput Alvis dulu, setelah itu kita akan sama-sama menjenguk Ana"


"Menjenguk?, memangnya Ana masuk rumah sakit?" tanya Gibran khawatir.


Arsenio menatap Ayahnya sekaligus ayah mertuannya "Benar pa, sekarang Ana berada di rumah sakit, dia masih perlu penangganan khusus atas apa yang baru saja di alaminya" sahut Arsenio.


"Ya udah kalau begitu kamu dan Rangga silakan jemput Alvis dulu, aku dan mama akan pergi lebih dulu ke rumah sakit kalian tinggal share lokasinya, bagaimana menurutmu?"


ucap Gibran pada Arsenio.


Arsenio diam sejenak lalu kemudian menjawab "Boleh, nanti Rangga tolong share lokasinya"


"Baik tuan" sahut Rangga.


Arsenio, Rangga, Gibran dan Sarah pun bergegas keluar dan masing-masing mengmapiri mobil dan masuk.


Kedua mobil secara bersamaan melaju keluar dari halaman gedung dan akan menuju ke tempat dimana telah di sepakati.