
Kana yang sedang berjalan pun seketika menghentikan langkahnya "Loh, dia masih ada di sini?" ucap Kana terkejut menatap Arsenio yang masih berdiri di sana.
Kana mengucek-ngucek matanya berharap dia salah melihatnya "Loh benar, dia masih ada disini, aku ngak salah melihatnya" kata Kana.
Tanpa menunggu lama Kana pun bergegas masuk, dan mendapati Rany dan Alvis berada di depan tv.
"Tante" pangil Kana.
Rany dan Alvis pun menoleh ke arahnya "Eh Kana, ayo sini duduk!. Lihat filmnya seru loh" ucap Rany.
Kana pun menuruti dan duduk di samping Rany "Tante, itu di luar tuan Arsenio masih ada loh" bisik Kana.
"Ha, berarti dia belum pulang ya?" tanya Rany terkejut.
"Sayang kamu tunggu sebentar ya" ucap Rany menatap Alvis lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Ya ampun, tante pikir dia sudah pulang, eh taunya masih di sini"
"Apa sebaiknya aku telfon pak Rangga untuk datang menjemputnya?"
"Iya benar, telfon kamu dia sekarang!" ujar Rany.
"Baik tante"
Rany berjalan menghampiri Arsenio "Arsenio" pangil Rany yang membuat Arsenio menoleh ke arahnya.
"Sudalah, sebaiknya kamu pulang dulu. Besok kamu boleh ko datang ke sini lagi" bujuk Rany, ia juga tak tega melihat Arsenio yang terus menunggu Ana yang tak kunjung keluar kamar.
"Tidak ma, aku akan tetap menunggu Ana di sini" sahut Arsenio.
"Bagaimana caranya agar dia berhenti berdiri di sini?" batin Rany.
“Pastinya kamu belum makan seharian, bagaimana kalau kamu ikut mama ke dalam?. Mama akan menyiapkan makanan untukmu” kata Rany.
Arsenio menggelengkan kepalanya, dia melihat kembali ke jendela kamar Ana dengan tirai tertutup rapat.
Mendengar keputusan Arsenio, Rany pun memutuskan untuk kembali "Bagaimana?, apa kamu sudah menelefon asistennya?" tanya Rany pada Kana.
Kana menggangguk "Sudah tante, dia akan secepatnya datang ke sini" jawab Kana.
Kana dan Rany berdiri di depan rumah, pandangan mereka sama, yaitu menatap lurus Arsenio yang setia berdiri di sana.
"Ngak cape apa terus berdiri seperti itu?" ucap Kana.
"Tante sudah memberitahunya kalau Ana ngak akan keluar, tapi dia tetap ngotot menunggu istrinya" ucap Rany.
"Tante juga sudah menyuruh Ana untuk menemui suaminya namun Ana masih tetap tidak mau menemuinya" lanjut Rany.
"Oma... aunty... " pangil Alvis.
Rany dan Kana pun menoleh, menatap Alvis yang kini berdiri di depan pintu.
"Oma dan aunty ngapai berdiri di luar?" tanya Alvis.
Namun belum sempat di jawab oleh Kana atau pun Rany tatapan Alvis sudah tertuju pada sosok ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Lo itu kan daddy" ucap Alvis.
"Daddy...." Alvis berlari menghampiri Arsenio.
"Alvis... jangan kesana!" ucap Rany namun itu tidak membuat Alvis menghentikan larinya.
Sementara Arsenio yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya.
"Loh, kenapa kamu keluar sayang?. Sudah malam loh, ngak baik anak-anak keluar malam-malam" ucap Arsenio yang kini memilih duduk berjongkok agar bisa menggimbanggi tinggi putranya.
"Aku lihat daddy di sini, makanya aku keluar" sahut Alvis.
"Terus daddy ngapai berdiri di sini?, kenapa ngak masuk?" tanya Alvis.
"Daddy lagi olaraga malam ya?" lanjut Alvis sebelum Arsenio menjawab pertanyaannya.
"Ya daddy lagi olaraga malam" sahut Arsenio membenarkan tebakan anaknya.
"Ya udah, Alvis masuk ya?, nanti masuk angin" lanjut Arsenio.
"Terus daddy ngak masuk?, nanti masuk angin loh"
Arsenio tersenyum "Kamu duluan aja, nanti daddy nyusul" sahut Arsenio.
"Baik daddy"
"Gitu dong" Arsenio menepuk lembut kepala Alvis sebelum Alvis kembali masuk.
"Sini sayang" ucap Rany sementara Alvis perlahan berjalan ke arahnya.
"Kana, kamu bawah Alvis masuk ya?, biar tante yang akan menunggu Rangga di dini" lanjut Rany.
"Iya tante" sahut Kana "Ayo sayang kita masuk, di luar dingin apalagi dikit lagi mau hujan" ucap Kana pada Alvis.
Sementara Alvis yang mendengar itu pun setuju, keduanya kembali masuk ke dalam rumah.
Selang beberapa menit hujan pun turun, hal itu tak membuat Arsenio bergerak dari tempatnya, sementara Rany terus memanggilnya untuk masuk namun lagi-lagi tidak di pedulikan oleh Arsenio.
Melihat itu Rany segera masuk dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan payung di tangan kananya.
Langkah Rany berhenti saat hendak menghampiri Arsenio, tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah.
Seorang pria turun dari mobil tersebut dengan payung di tangan kananya "Ayo Rangga cepat!" ucap Rany, ya pria itu adalah Rangga.
Rangga yang melihat tuannya pun segera berlari menghampri tuannya. Sementara Rany pun ikut menghampiri Arsenio.
"Singkirkan payungmu!" titah Arsenio.
"Tapi tuan"
"Saya bilang singkirkan payungmu sekarang!" bentak Arsenio.
Mendengar itu Rangga pun menyingkirkan payung yang digunakannya untuk memayung tuannya.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini?. Tolonglah sedikit saja bersikap dewasa, kamu seperti ini tidak dapat menyelesaikan masalah bahkan malah menambah masalah baru" ucap Rany.
Arsenio diam tak bergeming sedikit pun dari tempatnya, Sementara Kana yang telah berhasil membujuk Alvis tidur pun segera keluar melihat Arsenio yang masih dengan keputusannya menunggu Ana di luar.
Kana pun terkejut melihat Arsenio membiarkan tubuhnya di basahi oleh air hujan "Sepertinya, aku harus membujuk Ana" ucap Kana lalu kembali berjalan masuk.
"Ana, ini aku. Boleh masuk ngak?" ucap Kana dari luar.
"Iya sebentar" sahut Ana dari dalam.
Ana berjalan menuju pintu kamarnya dan membuka pintu.
"Ayo masuk!" ucap Ana mempersilakan.
"Kamu kapan datangnya?, sudah ketemu Alvis belum?" tanya Ana berurutan.
"Sudah cukup lama sih, ini baru selesai membawah Alvis ke kamarnya untuk tidur" sahut Kana sambil menari kursi yang ada di meja rias Ana lalu duduk sementara Ana memilih duduk di atas tempat tidur.
"An..." pangil Kana.
"Hmm"
"Di luar hujan loh. Dan dia masih tetap di sana" ucap Kana to the poin.
"Aku sudah menyuruhnya pulang, dia tetap berdiri disana itu pilihannya" ujar Ana.
"Kamu ngak mau temui dia?" tanya Kana.
"Ngak" sahut Ana singkat.
"Tapi dia dari siang loh berdiri di sana, dan belum makan juga" ucap Kana.
"Aku ngak peduli, dia mau berdiri dari siang sampai besok pun aku tidak peduli!" ucap Ana.
Kana diam, dia sangat memgenal Ana, Ana termasuk tipe orang yang susah merubah keputusannya.
Maka dari itu Kana memutuskan untuk diam.
Namun dia juga tidak tega jika membiarkan Arsenio terus berada di luar dengan hujan yang deras.
Satu jam telah berlalu, selama itu pula hujan terus turun membasahi bumi. Ana masih dengan keputusannya, sementara Kana yang mulai gelisah memikirkan Arsenio yang berada di luar pun memutuskan untuk melihatnya melalui jendela kamar Ana.
Kana pun terkejut melihat Rany dan Rangga juga ikut bediri di sana namun bedahnya mereka menggunakan payung sementara Arsenio tidak.
Kana secepatnya menutup kembali horden dan berjalan menghampiri Ana.
"An.... " pangil Kana lalu duduk di samping Ana, sementara Ana yang menatapnya dari samping.
"Aku tahu, hatimu hancur saat mengetahui pernikahan itu. Akan sangat sulit memaafkan Arsenio. Tapi sungguh aku dapat melihat ketulusan cinta Arsenio padamu" ucap Kana.
"Cinta? 'Ana tertawa' Dia cinta sama aku?" Kana menggangguk.
"Ngak mungkin!" ucap Ana.
"Jika dia benar mencintaiku, dia tidak akan pergi menikah dengan wanita lain saat aku sedang di rawat di rumah sakit" lanjut Ana.
"Kamu tahu?, Hatiku benar-benar sakit!" ujar Ana, perlahan kedua matanya sudah menganak sungai.
kana yang melihat itu pun langsung memeluk Ana "Maafkan aku. Aku janji tidak akan memaksamu untuk bertemu dengannya lagi" ucap Kana.
Ana melepaskan pelukan Kana "Aku belum bisa bertemu dengannya" ucap Ana.
Kana menggangguk "Aku mengerti, tapi...." Kana menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Ana.
"Kamu bisa membiarkan Arsenio berada di luar sana, tapi tidak tante bukan?" ucap Kana.
"Maksumu?" Ana mengerutkan dahi binggung.
"Tante berada di luar besama dengan Arsenio" jelas Kana.
"Apa?, mama ada di luar?" Ana bangkit dari duduknya berjalan menuju jendela dan melihatnya.
Seketika Ana membulatkan matanya, melihat ibunya pun ikut berada di luar ya walaupun menggunakan payung tapi hujan sanggatlah deras itu cukup membuat sebagian tubuh ibunya basah.
Ana berlari keluar dan langsung di susul oleh Kana.
"Mama...., ayo masuk! ngapain berdiri di luar?" ucap Ana setelah berhasil keluar dari pintu depan.
Rany yang mendengarnya pun menoleh ke arahnya.
"Tuan... " teriak Rangga melepas payungnya dan menahan tubuh Arsenio agar tidak jatuh menyentuh tanah.
Mendengar itu Rany kembali menoleh menatap Arsenio yang telah pingsan.
"Ya ampun, Rangga tahan dia jangan sampai jatuh" ucap Rany panik.
Kana dan Ana yang juga ikut melihatnya pun terkejut, dan berlari menghampiri mereka.
"Tuan...tuan., tolong bertahanlah" ucap Rangga.
"Tunggu apa lagi, ayo bawah masuk!" ucap Ana setelah sampai.
"Baik nona" sahut Rangga.
Mereka pun secepatnya membawah Arsenio masuk dan membaringkannya di sofa.
"Kana tolong pergi ke kamarku, ambilkan baju di lemari!" pinta Ana.
Tanpa menunggu lama Kana berlari ke kamar dan di menit berikutnya ia pun krmbali dengan membawa sepasang baju di tanganya.
"Ini bajunya" ucap Kana.
Ana menatap Rangga "Pak tolong bantu ganti bajunya!"
Rangga menggangguk, Kana langsung memberikan baju tersebut pada Rangga.
Sementara Ana, Kana dan Rany membalikan badan memposisikan Rangga dan Arsenio berada di belakang mereka.
Setelah selesai Rangga menganti pakaian tuannya, ia pun membawah Arsenio masuk ke kamar Ana dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Ana naik ke tempat tidur dan duduk tepat di samping suaminya, sementara Rangga keluar untuk memanggil dokter.
Kana dan Rany bergantian menatap Arsenio dan Ana, mereka bisa dengan jelas melihat kekhawatiran di wajah Ana.
"Mas...mas bangun" ucap Ana sambil menepuk-nepuk pelan pipi Arsenio.